
Tuan Lim Neo dan orang orangnya terus siaga dengan senjata jarak jauh dan alat teropongnya. Pandangan mereka terus ke atas. Dan kapal besar yang mereka tumpangi pun terus berlayar. Sesaat kemudian terdengar suara keras sebuah tembakan.
DORRR!
Satu buah peluru dilepaskan dari senjata jarak jauh satu orang anak buah kapal. Dan satu burung besar yang sedang terbang langsung terjatuh. Tuan Lim Neo yang melihat tersenyum senang.
Sementara itu anak buah Bang Bule Vincent yang sedang bertugas menjaga pos pos perbatasan terus memperketat pengawasan dan penjagaannya. Informasi dan perintah dari Richardo terus mengatakan jika kapal besar terus mendekat. Apalagi di salah satu pos jaga mendengar bunyi tembakan yang keras. Orang orang yang di pos jaga itu pun semakin waspada dan siap dengan senjata mereka termasuk menginformasikan pada Richardo jika terdengar suara tembakan.
Richardo yang berada di ruang kerja Vadeo tampak keringat di dahi sudah mulai keluar meskipun suhu udara di lokasi kawasan rumah Vadeo dingin.
“Padahal menurut informasi dari Bang Bule Vincent tadi pesawat sudah lepas landas satu jam an yang lalu.” Gumam Richardo yang sendirian di ruang kerja Vadeo. Tadi sebelum pesawat jet pribadi Vadeo lepas landas, Bang Bule Vincent sudah memberi tahu Richardo jam berapa pesawat akan terbang.
“Bagaimana kalau musuh menembak pesawat mereka.” Gumam Richardo dalam hati lalu tampak dia berpikir keras sambil jari jarinya sibuk dengan tuts tuts di layar key board lap top untuk mencari informasi darj aplikasi keamanan buatan Alexandria itu.
“Nyonya Alexa apa masih sakit lagi? Kenapa tidak ke sini lagi ya.. Apa yang bisa dilakukan dengan aplikasi ini jika kondisi semakin bahaya...” gumam Richardo masih mencoba coba mencari cari di menu aplikasi buatan Alexandria itu. Keringat dingin Richardo sudah mulai keluar dari seluruh permukaan kulit di tubuhnya.
“Kalau asal pencet malah salah salah bisa menimbulkan petaka..” gumam Richardo sambil mengusap keringat di dahinya. Saat Richardo masih terlihat bingung, pintu ruang kerja Vadeo itu terbuka dan muncul sosok Alexandria dan beberapa waktu kemudian Ixora pun juga turut masuk mengikuti langkah kaki Alexandria.
“Nyonya ada informasi sudah ada suara tembakan. Apa yang bisa kita lakukan dari sini. Seluruh petugas pos keamanan sudah saya perintahkan untuk waspada.” Ucap Richardo sambil menoleh ke arah Alexandria yang mulai duduk di sofa.
“Sini kalian lihat ini.” Ucap Alexandria yang kini sudah menguasai lap top yang tadi di tangan Richardo. Richardo pun dengan serius menatap layar lap top. Ixora yang sudah duduk di samping Alexandria pun juga ikut serius menatap layar lap top ikut. Memperhatikan menu menu yang ditekan tekan oleh Alexandria.
“Kalau sudah pasti nanti baru kita tekan ini dan selanjutnya tekan okey.” Ucap Alexandria selanjutnya.
“Kalau kita tekan okey sekarang semua akan meledak dan tidak efektif. Aku harap senjata otomatis itu bisa berfungsi baik. Sebenarnya aku dan Kak Deo tidak begitu berharap senjata ini digunakan akan tetapi jika sangat terpaksa karena menyangkut keselamatan kita ya bagaimana lagi.” Ucap Alexandria dengan ekspresi wajah sedih. Dia dan Vadeo sebenarnya tidak menginginkan senjata bom yang dipasang di bawah laut yang sudah dilengkapi dengan alat alat buatan oleh Alexandria itu digunakan sebab akibatnya tidak hanya musuh yang terkena, biota di dalam laut sekitar bom yang diledakkan juga akan mati.
“Kita pakai senjata dari atas daratan dulu. Yang ini adalah alternatif terakhir!” perintah Alexandria.
“Baik Nyonya.” Ucap Richardo yang kini tampak tenang dan kembali lagi menguasai lap top yang masih menampilkan aplikasi pemantau pulau Alexandria.
“Tadi hand phone ku ada notifikasi, aku cepat cepat ke sini. Aku khawatir kamu meledakkan semua bom yang ada.” Ucap Alexandria yang kini juga tampak tenang lalu dia pun menyandarkan punggungnya di sandaran sofa tempat duduknya.
“Hmmm aku berharap pesawat bisa mendarat dengan selamat. Dan mereka bisa segera sampai rumah ini dengan selamat.” Ucap Alexandria yang masih duduk sambil bersandar. Tangan Alexandria kini mengusap usap perut datarnya. Dan tiba tiba air liurnya keluar membayangkan pesanan ikan laut yang akan segera datang.
“Ix ayo kita ke dapur kita buat bumbu ikan bakar saus madu.” Ajak Alexandria pada Ixora yang masih serius ikut menatap layar lap top.
“Apa mereka dapat ikan laut dari sana Kak? Kota itu kan jauh dari pantai.” Ucap Ixora sambil menoleh kepada Alexandria yang sudah mulai bangkit berdiri.
“Kak Deo sudah mengatakan dapat. Meskipun jauh dari pantai pasti ada pedagang ikan laut.” Ucap Alexandria yang terus melangkah meninggalkan ruang kerja itu. Ixora pun juga cepat cepat mengikuti langkah kaki sang Kakak, sebab sudah dipesan oleh Bang Bule Vincent suaminya tidak boleh berada hanya berdua saja dengan Richardo dalam waktu lebih dari lima menit. Dan setelah Bang Bule Vincent tiba di rumah akan mengecek semua rekaman CCTV yang ada di dalam rumah Vadeo itu.
Sementara itu di atas udara, di dalam pesawat jet pribadi milik Vadeo. Tampak Valexa dan Deondria masih tertidur pulas di atas tempat tidur khusus mereka berdua. Dan tidak hanya mereka berdua saja yang tertidur pulas. Semua penumpang yang ada di dalam pesawat itu juga tidur dengan nyenyak. Bisa dimaklumi sebab mereka semua sudah bekerja berat dan tidak tidur semalaman. Hanya pilot dan kru pesawat yang terus berjaga.
Sesaat Sang pilot tampak panik sebab di layar navigasi ada alarm bahaya.
“Sial ada tanda bahaya di bawah.” Gumam Sang Pilot yang didengar oleh Sang asisten pilot. Ekspresi wajah sang pilot sudah mulai tegang dan panik.
“Bagaimana kalau kita balik arah saja Bos?” usul sang asisten pilot.
“Kita akan kehabisan bahan bakar sebelum sampai di daratan kalau kita balik ke bandara tadi.” Ucap Pak Pilot yang tampak berpikir pikir.
“Coba kita cari bandara mana yang paling dekat dari posisi kita sekarang Bos. Selain bandara pulau Alexandria tentunya.” Ucap sang asisten pilot sambil melihat layar navigasi.
Sesaat kemudian Pak Pilot semakin bertambah panik sebab ada suara informasi dari petugas di pantai Pulau Alexandria tempat tujuan pesawat mendarat. Jika ada sebuah tembakan mengarah ke atas.
“Benar pesawat kita dalam bahaya.” Ucap Pak Pilot yang kini tidak jadi menurunkan tingkat ketinggian pesawat, akan tetapi masih berputar putar di atas udara pada ketinggian yang aman.
“Bangunkan Tuan Vadeo dan Tuan Vincent!” perintah sang pilot pada sang asisten.
“Alternatif terakhir kita menurunkan pesawat di lautan yang aman, jauh pada titik yang membahayakan kita itu. Perintahkan semua penumpang memakai alat pelindung!” Perintah sang pilot selanjutnya dengan tegas. Semua kru pesawat pun terlihat mulai bergerak mengambil alat pelindung diri dan segera memakainya. Lalu mereka berjalan keluar dari ruang kemudi menuju ke ruang penumpang untuk menyiapkan alat alat pelindung buat penumpang dan membangunkan semua penumpang.
Pesawat masih berputar putar pada ketinggian yang aman sambil menunggu Vadeo dan Bang Bule Vincent bangun.