Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 234.


Waktu pun terus berlalu keluarga Justin sudah tinggal di rumah hadiah pernikahan mereka dari Vadeo. Justin pun diberi pekerjaan oleh Vadeo untuk mengurus kebun kelapa sawit di luar pulau jawa. Justin selama lima hari tinggal di luar pulau Jawa. dan saat hari jumat sore dia kembali pulang untuk tinggal bersama anak istrinya. Senin pagi pagi Justin akan kembali bekerja ke luar Jawa Ini memang disengaja oleh Vadeo untuk menguji kesungguhan dan kesetiaan Justin pada keluarga kecilnya dan juga pada keluarga besar Jonathan.


“Pa, sudah Papa pikirkan baik baik jika Justin lima hari jauh dari keluarga?” tanya Alexandria pada suatu malam hari di dalam kamar mereka berdua.


“Sudah Ma, aku tetap menyuruh orang mengawasi Justin di sana. Nanti kalau sudah terbukti Justin benar benar berubah dan bisa dipercaya. Justin bisa kerja di sini atau keluarga mereka yang dibawa ke luar pulau jawa. Biar mereka sendiri yang menentukan pilihan.” Ucap Vadeo yang masih sibuk dengan layar lap topnya.


Sedangkan di lain pihak, proses hukum Mr Le dan Riris pun juga sudah mendapatkan keputusan tetap. Mr Le dihukum mati dan Riris dihukum enam belas tahun. Mr Le dihukum mati karena dia sudah melakukan pembunuhan sebelumnya. Sedangkan Riris lebih ringan dari Mr Le meskipun dia yang menyuruhnya di kasus terakhir akan tetapi karena kasus terakhir belum terjadi pembunuhan dan Riris mengakui kesalahannya dan menyesali perbuatannya yang sudah berniat untuk membunuh Wika dan Boy. Sedangkan teman Riris hanya mendapatkan hukuman tiga tahun.


“Hiks... Aku sudah menyesali kenapa masih dihukum lama.” Ucap Riris yang menangisi nasibnya sebagian hidupnya lama berada di dalam penjara.


“Masih beruntung Ris kamu tidak dihukum mati seperti Mr Le..” ucap teman Riris.


“Aku lebih baik mati saja hiks... hiks....” ucap Riris sambil menangis tersedu sedu.


“Sabar Ris, kalau kamu bersikap baik kan nanti dapat remisi. Tapi kalau sudah keluar dari penjara jangan berbuat salah lagi, nanti kalau ditangkap hukuman lebih berat karena pernah di penjara.” Ucap teman Riris yang sungguh sungguh kapok membantu orang berbuat jahat.


Akan tetapi tiba tiba... Riris menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


“Hoek... hoek... “ Riris merasa perutnya mual mual dan dia pun berlari menuju ke bilik kamar mandi yang ada di ruang penjara itu.


“Hoek... hoek....” suara Riris di dalam bilik kamar mandi.


“Ris kamu kenapa? Masuk angin?” teriak teman Riris sambil melangkah mengikuti Riris menuju ke bilik kamar mandi dan kloset kecil yang ada di ruang lapas itu. Riris pun memuntahkan isi di dalam lambungnya.


Wajah Riris tampak pucat. Teman Riris pun membantu Riris keluar dari bilik kamar mandi itu. Lalu dibaringkan tubuh Riris di atas kasur tipis yang ada di ruang penjara itu. Dua tahanan perempuan lainnya yang berada di ruang itu hanya menatap mereka dengan dingin.


“Kepalaku pusing sekali.” Ucap lirih Riris yang tubuhnya tampak lemas dan dingin.


“Kamu panggil petugas lapas. Biar diperiksa secepatnya.” Ucap salah satu penghuni ruang penjara itu. Teman Riris pun berjalan meninggalkan tempat pembaringan Riris dan menuju ke tempat jeruji besi di ruang itu.


TENG TENG TENG TENG TENG


Teman Riris mengetuk ngetuk salah satu tiang besi dengan sendok makan yang ada di situ, untuk memanggil petugas lapas.


Tidak lama kemudian muncul satu orang wanita berpakaian seragam petugas lapas berjalan mendekat ke ruang tempat Riris dan temannya mendekam.


“Ada apa?” tanya petugas lapas itu.


“Teman saya sakit Bu. Mual mual dan pusing kepalanya. Tubuhnya dingin.” Jawab teman Riris dengan nada serius sambil sekilas menoleh ke arah Riris yang terbaring dengan lemas.


“Tunggu sebentar. Kamu pijat pijat dulu kaki dan pelipisnya.” Ucap petugas lapas itu lalu dia segera membalikkan tubuhnya meninggalkan ruang tempat Riris dan temannya berada.


Tidak lama kemudian petugas lapas tadi datang bersama satu orang tenaga medis. Petugas lapas membuka kunci pintu sel itu. Lalu petugas medis itu masuk ke dalam sel. Petugas lapas mengunci lagi dan dia masih menunggu di luar ruangan.


Petugas medis pun tampak memeriksa Riris dan sesaat kemudian.


“Kapan terakhir haid?” tanya petugas medis itu. Riris tidak menjawab akan tetapi semakin menangis tersedu sedu.


“Ris, kapan kamu terakhir haid?” tanya teman Riris.


“Hiks.. hiks.. lupa.. tapi saat masih di lapas.. hiks.. hiks... apa aku hamil... hiks... hiks... hiks... Aku hamil anak Mr Le yang hitam itu hiks... hiks....” ucap lirih Riris sambil masih menangis tersedu sedu.


“Benar ada kemungkinan Nona hamil. Saya kasih obat yang aman untuk orang hamil.” Ucap petugas medis itu lalu memberikan obat pada Riris.


“Gugur kan saja janin di dalam perutku mumpung belum besar.” Ucap Riris dengan nada tinggi.


“Tidak bisa Nona, itu dilarang oleh agama dan aturan kami. Nona harus menjaga janin ini sampai lahir. Jika Nona tidak sanggup membesarkan ada lembaga yang akan merawatnya.” Ucap petugas medis itu lalu dia bangkit berdiri.


“Hiks... hiks... hiks....” Riris terus saja menangis tersedu sedu.


“Anak adalah rejeki Ris, sudah terima saja.” Ucap teman Riris sambil mengusap usap kaki Riris.


“Hiks... hiks... Kamu bisa bilang begitu. Karena kamu tidak hamil anak Mr Le hiks.. hiks...” ucap Riris yang masih tersedu sedu.


“Belum tentu dia seperti Mr Le, siapa tahu dia yang akan melindungi dan memberi kebahagiaan buat kamu Ris. Menjadi tempat kamu bernaung nanti saat kamu tua.” Ucap teman Riris itu lagi.


“Hiks... hiks... hiks.. Justin semakin akan melupakan aku kalau aku punya anak dari laki laki lain.” Ucap Riris diantara isakan tangis nya.


“Sudah aku bilang lupakan Justin, dia juga punya anak dengan perempuan lain. Jadi kamu itu memang tidak berjodoh dengan Justin.” Ucap teman Riris.


“Iya, sudah besarkan saja janin di dalam perutmu itu. Kalau kamu tidak mau membesarkan aku juga mau bawa bayi kamu itu. Satu tahun lagi aku bebas.” Ucap penghuni ruang lapas itu lainnya yang sejak tadi mendengarkan ucapan Riris.


Riris pun tampak menoleh ke arah orang yang menyanggupi untuk merawat anak yang ada di dalam perutnya.


“Kenapa dia mau merawat anakku.” Gumam Riris dalam hati.


“Apa dia tidak tahu Mr Le, pembunuh bayaran yang kulitnya hitam dan wajahnya menakutkan.. hi.. kenapa benihnya tumbuh di dalam perutku.” Gumam Riris dalam hati lagi dan secara reflek tangannya ******* ***** perutnya.


“Ris.... jangan lakukan!” teriak teman Riris sambil menarik kedua tangan Riris.