
“Itu tadi peta tempat harta karun.” Ucap salah satu anak buah Tuan Njun Liong sambil jongkok sibuk membersihkan koper tua yang lumut an itu. Karena itu pun nanti nya juga bisa dijadikan uang.
Mendengar ucapan itu Richie melotot kaget dan langsung membalikkan tubuh nya dan berlari untuk menyusul Tuan Njun Liong.
“Aku harus tahu di mana letak harta karun yang sesungguhnya berada.” Gumam Richie sambil menaiki anak tangga dengan langkah cepat.
“Ternyata susah sekali mencari harta karun. Sudah jauh jauh ke tengah laut ternyata dapat nya cuma selembar peta.” Gumam Rchie lagi dan terus berjalan dengan cepat untuk menuju ke ruangan khusus Tuan Njun Liong.
Saat sudah sampai di depan pintu ruang khusus yang dituju, Richie segera memutar handel pintu dan mendorong daun pintu itu dengan keras akan tetapi pintu masih tertutup dengan rapat. Richie pun segera mengetuk ngetuk pintu itu.
TOK TOK TOK TOK
“Tuan.. Tuan... buka pintu nya!” Teriak Richie sambil terus mengetuk ngetuk pintu itu. Namun tetap saja pintu tertutup rapat.
Richie lalu menoleh ke ruangan terbuka di sebelah ruangan khusus Tuan Njun Liong, tempat wanita wanita penghibur duduk duduk santai sambil memandangi lautan biru di balik jendela kaca yang ada di kapal itu.
“Nona di mana Tuan Njun Liong kini berada?” tanya Richie dengan suara keras dan masih berdiri di depan pintu ruang khusus Tuan Njun Liong.
“Apa tidak ada di dalam ruangan nya ini?” tanya Richie lagi masih terus berdiri di depan pintu ruangan itu. Dan wanita wanita penghibur itu pun menoleh ke arah Richie.
“Aku ketuk ketuk tidak ada jawaban .” ucap Richie lagi sambil mengetuk ngetuk pintu itu.
“Mungkin sibuk atau Mungkin sedang du dalam ruang pribadinya tidak mau diganggu.” Jawab satu wanita penghibur itu sambil menatap Richie.
“Di mana ruang pribadi Tuan Njun Liong?” tanya Richie lagi yang tidak tahu letak kamar pribadi Tuan Njun Liong.
“Di atas tapi tangga ada di dalam ruangan itu.” Jawab salah satu wanita penghibur itu.
“Sudahlah Tuan Richie kita tunggu saja di sini sambil enak enak di sini.” Ucap salah satu wanita penghibur yang lain sambil mendorongkan dada nya dan memperlihatkan bagian tubuh nya yang menonjol ke depan itu semakin membusung indah di mata Richie apalagi hanya dilapisi oleh kain tipis minimalis.
Richie pun menelan air liur nya sendiri yang tiba tiba keluar melihat wanita penghibur yang telah menggoda nya itu. Melihat Richie yang mulai tergoda wanita penghibur itu pun bangkit berdiri dan berjalan mendekati Richie.
“Ayo lah Tuan, kalau Tuan Njun Liong sedang tidak mau diganggu percuma juga Tuan berdiri di sini.” Ucap wanita penghibur itu sambil menarik tangan Richie.
Sedangkan di dalam suatu ruangan pribadinya, Tuan Njun Liong, tetap fokus pada pekerjaan nya dan tidak mendengarkan suara ketukan pintu.
Tuan Njun Liong menaruh kertas kusam dan rapuh itu di atas meja dengan sangat pelan pelan dan hati hati. Lampu yang berada tepat di atas meja dia nyalakan untuk menerangi kertas kusam dan kumuh itu. Dengan hati hati dia buka lipatan kertas itu agar tidak rusak dan robek.
Tuan Njun Liong lalu mengambil satu buah kaca pembesar dan dengan kaca pembesar itu dia melihat apa yang tergambar dan tertulis di atas kertas itu. Dengan serius Tuan Njun Liong mengamati kertas kusam dan rapuh itu.
Tuan Njun Liong masih terus saja mengamati gambar dan tulisan di atas kertas kusam dan kumuh itu dengan bantuan kaca pembesar nya.
Sementara itu di belahan bumi lain di benua Asia, di negara Indonesia. Tepatnya di mansion Jonathan. Di kamar Vadeo dan Alexandria, keluarga kecil itu sudah memakai pakaian tidur semua.
“Sayang bobok di kamar kalian ya.” Ucap Vadeo membujuk pada kedua anaknya yang belum mau juga tidur di kamar mereka sendiri sejak kepulangan Alexandria. Vadeo duduk di tepi tempat tidur sambil menatap kedua anaknya yang sudah berbaring dengan Alexandria.
“Iya kan sudah kangen kangenan dengan Mama banyak hari.” Ucap Alexandria dengan lembut sambil mengusap usap paha kedua anaknya
“Macih tangen cama Mama he... he.. ( Masih kangen sama Mama he... he...).” jawab mereka berdua sambil memeluk tubuh Sang Mama yang berbaring di tengah tengah mereka.
“Katanya sudah besar dan pinter, kalau sudah besar tidur di kamar nya sendiri dong.” Ucap Alexandria dengan lembut sambil mengusap usap kepala kedua anaknya yang menempel pada tubuh nya.
“Talo atu tan Aya bobok di tamal tita cendili.. teyus Mama tacih tita adik? ( Kali aku dan Aya bobok di kamar kita sendiri.. terus Mama kasih kita adik)?” tanya Valexa sambil menatap Sang Mama.
“Iya dua, nanti satu satu biar kalian tidak berebut.” Ucap Vadeo sambil tersenyum menatap Alexandria.
“Yan cowok ya Pa.. ( yang cowok ya Pa...).” saut Deondria.
“Iya, ayo sekarang Aya dan Aca Papa antar ke kamar kalian.” Ucap Vadeo yang masih duduk di tepi tempat tidur.
“Awas tayo boong.. ( Awas kalau bohong).” Teriak mereka berdua lalu bangkit dari tempat tidur nya. Vadeo tampak tersenyum senang dan lega.
Valexa dan Deondria tampak menciumi Sang Mama untuk mengucapkan selamat malam dan selamat bobok. Lalu Vadeo menggendong kedua bocah itu untuk dibawa ke dalam kamar mereka.
Saat Vadeo membuka pintu kaca penghubung, tampak dua pengasuh Valexa dan Deondria sedang santai santai nonton siaran televisi yang berada di dalam kamar itu. Dua pengasuh itu pun segera bangkit berdiri dan siap menemani tidur Valexa dan Deondria.
Setelah mengucapkan selamat bobok pada kedua anak nya Vadeo kembali melangkah menuju ke kamar nya, siap untuk menuruti permintaan kedua anaknya, membuatkan adik bagi mereka berdua.
Valexa dan Deondria sudah berbaring di tempat tidurnya masing masing. Mata kedua anak itu sudah terpejam, akan tetapi hingga waktu terus berlalu, kedua anak itu tampak masih saja membolak balikkan tubuhnya. Mereka berdua tampak gelisah.
“Nona kecil kecapekan ya...” gumam pengasuh Valexa lalu dia tampak memijit mijit kaki mungil Valexa. Pengasuh Deondria pun melakukan hal yang sama.
Akan tetapi meskipun dua pengasuh itu sudah lama memijit mijit kaki kaki mungil Valexa dan Deondria. Kedua bocah itu masih juga membolak balikkan tubuhnya. Sampai sampai kedua pengasuh itu juga memijit mijit punggung kedua bocah itu.
“Seperti nya mereka belum juga nyenyak tidurnya.” Ucap pengasuh Valexa
“Iya, televisi juga sudah aku matikan, kaki dan punggung juga sudah aku pijitin.” Ucap pengaduh Deondria.
“Nona minum susu hangat ya... biar nyenyak tidurnya.” Bisik lirih pengasuh Valexa sambil mengusap usap kepala Valexa.
...