Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 167.


Aroma ikan asin di dalam kotak yang sudah dibuka itu langsung menguar dan tercium oleh hidung ibu pelayan saat membuka pintu.


“Ikan apa yang kamu bawa Pak?” teriak Ibu pelayan sambil mempercepat langkahnya menuju kotak. Sedang Pak Sopir masih ikut melangkah di belakangnya tidak menjawab pertanyaan Ibu pelayan, karena pasti ibu pelayan sudah tahu ikan apa itu.


“Lah kok ikan asin yang dibawa toh Pak. Sampeyan salah ambil. Mungkin ini dapur di guest house pesenan karyawan sana!” teriak Ibu pelayan saat sudah melihat isi di dalam kotak itu. Lalu menutup rapat lagi kotak itu agar aroma ikan asin tidak memenuhi dapurnya.


“Mana aku tahu Bu, itu ada di dalam bagasi mobil Tuan Vadeo.” Ucap Pak Sopir yang masih berdiri di dekat pintu.


“Kamu bawa ini ke gudang logistik sana. Aku kalau perlu ikan asin juga sedikit saja tidak sebanyak ini. Dan kamu cari di sana kotak lainnya yang mungkin diturunkan di sana kotak pesanan Nyonya Alexandria.” Perintah ibu pelayan. Pak Sopir pun berjalan mendekati kotak itu dan diangkat lalu dipanggulnya lagi kotak ikan asin yang berat itu.


“Padahal berat begini harus bolak balik.” Gumam Pak sopir sambil terus berjalan memanggul kotak ikan asin itu.


Sementara itu di ruang makan mereka semua makan dengan lahapnya kecuali Alexandria. Dia menunggu nanti akan makan banyak banyak dengan makanan yang diidam idamkan. Alexandria lebih banyak membantu Valexa dan Deondria yang duduk di samping kanan kirinya dengan kursi makan khusus untuk anak anak.


Saat Pak Sopir melewati ruang makan, Alexandria yang sekelebat melihat sosok Pak Sopir memanggul kotak ikan asin dari dinding kaca ruang makan tampak kaget.


“Mau dibawa ke mana itu ikan pesananku.” Ucap Alexandria lalu dia bangkit berdiri. Semua pun menoleh ke arah Pak Sopir. Alexandria terus melangkah sambil memanggil manggil nama Pak Sopir, Vadeo pun juga ikut bangkit berdiri dan mengikuti langkah kaki istrinya. Dan yang lainnya meneruskan makan siangnya yang tertunda.


“Pak mau dibawa ke mana itu barang. Aku tuh sudah tidak sabar menunggu itu barang datang.” Ucap Alexandria saat sudah berada di dekat Pak Sopir yang berdiri dan berhenti berjalan karena mendengar Alexandria memanggil dirinya.


“Salah angkut Nyonya, mau ke dapur guest house barang pesanan Nyonya mungkin dibawa ke sana. Karyawan pantai mungkin salah saat mengambil dari bagasi pesawat.” Jawab Pak Sopir yang masih terus memanggul kotak ikan asin itu.


“He... tidak ada barang lainnya ya itu pesanan istriku mana sempat belanja belanja buat yang lainnya dalam kondisi darurat.” Ucap Vadeo yang mendengar jawaban Pak Sopir dan kini dia pun sudah berdiri di samping Alexandria


“Hanya demi istriku tercinta aku sempat sempati mencarikan pesanannya.” Ucap Vadeo lagi sambil memeluk pundak Alexandria dari samping tidak lupa dia menoleh ke arah Alexandria sambil tersenyum. Sedangkan Pak Sopir semakin bingung karena kena marah sana sini.


“Nyonya Alexa pesan apa?” tanya Pak Sopir minta kejelasan dari Alexandria agar dia tidak lagi dimarahi oleh Ibu pelayan saat mengembalikan barang itu ke dapur lagi.


“Ikan laut.” Jawab Alexandria


“Ini isinya ikan asin Nyonya.” Ucap Pak Sopir dan tampak Alexandria menoleh ke arah Vadeo.


“Itu kan ikan laut juga Sayang...” ucap Vadeo sambil menatap Alexandria yang menatap dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Papa itu gimana sih jauh jauh datang malah yang dibawa ikan asin. Aku sudah menunggu sejak tadi tidak sabar ingin makan ikan laut bakar saos madu....” ucap Alexandria yang kini tampak matanya mulai memerah karena rasa kecewa dan kesal menjadi satu. Alexandria pun melangkah meninggalkan Vadeo.


Alexandria tampak berjalan menuju ke ruang keluarga lalu duduk di sofa. Kedua tangannya menopang wajahnya yang menunduk atau lebih tepat menutupi wajah cantiknya yang menunduk dan terdengar suara isakan tangis lirih Alexandria.


“Ma... “ ucap Vadeo yang kini duduk di samping istrinya. Vadeo pun memeluk tubuh Alexandria.


“Hmmm ini gara gara Bang Bule Vincent dan Pak Sopir.” Gumam Vadeo dalam hati.


“Ma, makan yang ada dulu ya jangan sampai perut Mama kosong kasihan anak anak kita yang di dalam.” Ucap Vadeo sambil mengusap usap pundak Alexandria.


“Bakar ikan air tawar dulu saja ya.. nanti aku yang bakarkan dech..” ucap Vadeo membujuk agar Alexandria mau makan.


“Tapi habis itu Papa carikan ikan laut segar bukan ikan laut yang sudah diawetkan.” Ucap Alexandria kini sudah melepas kedua tangannya yang menutupi wajahnya dan menatap suaminya.


“Iya Sayang... “ ucap Vadeo sambil menatap Alexandria dengan ekspresi wajah berharap Alexandria tidak berlanjut marahnya hingga malam nanti.


“Sudah sekarang Papa ke dapur minta ikan air tawar Ibu pelayan. Ikan air tawar yang tidak banyak durinya yang tebal dagingnya!” perintah Alexandria pada Vadeo suaminya.


Vadeo pun segera bangkit berdiri menjalankan perintah Sang istri tercinta, sedangkan Alexandria tampak masih duduk dengan lesu di sofa sambil menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


Sesaat orang orang yang tadi makan di ruang makan sudah selesai dan keluar dari ruang makan. Bang Bule Vincent yang sudah mendengar cerita dari Ixora tentang apa yang diinginkan oleh Alexandria, tampak bibirnya tersenyum dan dia berjalan mencari Vadeo, Bang Bule Vincent ingin menertawakan kasus yang menimpa sahabat sekaligus saudara iparnya itu.


Sedangkan Ixora dan Twins berjalan menuju ke tempat Alexandria.


“Kak, salah yang dibawa mereka ya..” ucap Ixora sambil duduk di samping Alexandria. Nada suara dan ekspresi wajah Ixora pun juga ikut kecewa.


“Kesel dech Ix, salahku juga tidak mengatakan dengan kalimat yang jelas. Harusnya aku bilang ikan laut segar bukan ikan laut yang sudah diawetkan.” Ucap Alexandria sambil geleng geleng kepala karena tidak menyangka yang dibawa suaminya ikan asin.


“Maaf ya Ma.. atu tan Aya caat itu tidul tidak tahu tidak dengal Mama teyepon.. (Maaf ya Ma.. Aku dan Aya saat itu tidur tidak tahu tidak dengar Mama telepon).” Ucap Valexa yang sudah duduk di samping Alexandria sambil mengusap usap perut Mamanya. Deondria pun juga melakukan hal yang sama.


“Iya Sayang kalian tidak salah, kalian sudah capek bekerja dan butuh istirahat cukup.” Ucap Alexandria sambil mengusap usap rambut kepala Valexa dan Deondria.


Dan sesaat kemudian kedua bocah itu berlari keluar dari ruang keluarga itu.