Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 19. Mencari Tahu Tentang si Kembar


“Apa mereka tidak membuat masalah?” tanya Vadeo saat panggilan video sudah diterima oleh Bang Bule Vincent dan Vadeo melihat Bang Bule sudah berjalan menuju ke pintu mobilnya.


“Mereka meminta aku yang jemput, padahal aku dan Ixora juga masih banyak pekerjaan.” Ucap Bang Bule sambil membuka pintu mobil nya.


“Bagus itu Bro, aku dan Mama Jo nanti jam istirahat mau ke tempat tokoh agama kenalan Mama Jo, kata Mama orang nya ahli spiritual mau menanyakan tentang mereka berdua.”


“Tapi bagaimana dengan pekerjaan ku dan Ixora. Ixora masih ada tugas di kampus nya.” Ucap Bang Bule sambil mendudukkan pantatnya di jok kemudi dan menutup pintu mobil.


“Ah kamu kan bisa delegasikan pekerjaan pada anak buahmu. Dan aku yakin Ixora pasti bisa melakukan multitasking.” Ucap Vadeo sambil tersenyum.


“Oya bagaimana dengan Richardo, apa klien mu itu mau jika Richardo diganti?” tanya Vadeo selanjutnya saat ingat belum ada kepastian tentang pengawal buat si kembar.


“Nah itu, aku juga akan menemui dia juga.” Ucap Bang Bule


“Ya sudah, atur aja. Okey thanks ya Bro.” Ucap Vadeo selanjutnya lalu memutus sambungan teleponnya.


Bang Bule lalu menyalakan mesin mobilnya dan menjalankan pelan pelan mobil itu keluar dari halaman play group tempat Valexa dan Deondria.


“Tak apa Bang, nanti kita atur pekerjaan kita. Itung itung belajar mengurus anak he... he...he...” ucap Ixora sambil tertawa kecil menatap Bang Bule.


“Maka kamu cepat lulus kuliah nya agar kita bisa segera diizinkan punya anak.” Ucap Bang Bule, karena mereka sudah menikah resmi tetapi acara resepsi dan diizinkan hamil jika Ixora sudah lulus kuliahnya. Ixora hanya menjawab dengan sebuah senyuman. Dan mobil terus melaju, Bang Bule menambah laju kecepatannya.


Sementara itu di tempat lain di gedung Jonathan Co. Vadeo lebih tenang dalam bekerja sebab kedua anak nya hari ini sudah ada yang mengantar jemput dengan aman.


Waktu pun terus berlalu, jam istirahat Vadeo pun sudah hampir tiba.


“Deo kamu yang jemput Mama apa Mama yang ke sini?” tanya Tuan Jonathan yang juga sudah tahu rencana isteri dan anak laki laki satu satu nya itu.


“Mama yang akan ke sini Pa.” Jawab Vadeo, dan baru saja Vadeo selesai menjawab terdengar suara bel di pintu ruang kerja Vadeo dan Tuan Jonathan itu. Pak Rio sang sekretaris yang juga ada di ruang itu pun segera membukakan pintu lewat remot kontrol dan setelah pintu terbuka tampak sosok Nyonya Jonathan di depan pintu dan segera melangkah masuk ke dalam ruangan itu.


“Ayo Deo, kita segera berangkat.” Ucap Nyonya Jonathan sambil melangkah menatap Vadeo yang baru saja menutup layar lap top nya.


“Mama kenapa tidak menyapa aku.” Ucap Tuan Jonathan merajuk. Pak Rio yang mendengar tampak senyum dikulum.


“Opa... apa kabar Opa?” ucap Nyonya Jonathan sambil menoleh menatap suaminya yang masih duduk di meja kerja nya.


“Opa kan sudah bilang bagi bagi tugas Opa yang selesaikan urusan di sini.” Ucap Nyonya Jonathan kini melangkah mendekati meja kerja suami nya. Baru saja Nyonya Jonathan berada di dekat meja kerja suaminya.


“Tinggal dulu ya Pa, demi cucu cucu mu.” Ucap Nyonya Jonathan sambil mencium pipi suaminya.


Nyonya Jonathan dan Vadeo pun segera berjalan keluar dari ruangan. Mereka segera melangkah menuju ke lift yang akan membawa mereka berdua ke lantai dasar tempat mobil Vadeo terparkir.


Beberapa menit kemudian Vadeo dan Nyonya Jonathan sudah berada di dalam mobil Vadeo. Vadeo menjalankan mobilnya dengan pelan pelan keluar dari halaman Jonathan Co. Dan saat sudah memasuki jalan raya Vadeo menambah laju kecepatan nya. Nyonya Jonathan sudah menunjukkan alamat yang akan mereka tuju.


“Mama tahu dari mana? Dia bukan tokoh spiritual yang kontroversial atau yang cari popularitas kan Ma?” tanya Vadeo yang sedikit khawatir jika mereka datang pada orang yang salah.


“Tidak Deo, dia membantu orang yang membutuhkan dengan tulus. Mama tahu juga dari istri mu.” Jawab Nyonya Jonathan


“Ha? Alexa?” ucap Vadeo dengan kaget akan tetapi dia tetap fokus pada laju kemudi mobilnya.


“Iya, Alexa tahu dari Ibu Sari pimpinan panti asuhan tempat dia dulu waktu latihan menyamar menjadi Sandra.” Jawab Nyonya Jonathan


“Jangan kamu kira aku dan Alexa sebagai perempuan tidak gelisah waktu Alexa tidak hamil hamil dulu itu. Maka aku datang ke tempat beliau, ya kami diberi nasehat harus sabar, usaha dan berdoa meminta pada Allah pencipta alam semesta.” Ucap Nyonya Jonathan dengan nada serius.


“Apa beliau meminta bayaran mahal Ma? Aku tidak bawa uang cash banyak.” Ucap Vadeo dengan nada serius.


“Tidak bayar sepeser pun. Kalau mau bayar disuruh kasih uang itu ke panti asuhan atau yayasan yayasan sosial yang membutuhkan.” Jawab Nyonya Jonathan


“Dan beliau sudah tahu kalau keluarga William menjadi donatur tetap panti asuhan. Mama pun juga.” ucap Nyonya Jonathan sambil tersenyum.


“Aku juga Ma, setelah kenal dengan Alexa...he... he...he...” ucap Vadeo sambil tertawa kecil karena teringat saat dia mencari cari Sandra sampai ke tempat panti asuhan Budi Luhur yang lokasinya sangat jauh.


Dan tidak terasa mobil pun sudah sampai di tempat yang dituju. Sebuah rumah dengan halaman yang agak luas dan ada beberapa pohon yang memberi nuansa teduh. Rumah yang sederhana namun tampak bersih dan asri. Di bagian depan rumah tampak semacam bangunan yang tanpa dinding yang biasa disebut pendopo.


“Aku kok deg deg an ya Ma..” ucap Vadeo setelah mematikan mesin mobilnya.


“Berdoa semoga semua baik baik saja.” Ucap Nyonya Jonathan. Mereka berdua pun lalu membuka pintu mobil dan segera turun dari mobil.


Vadeo dan Nyonya Jonathan terus melangkah menuju ke arah pendopo bangunan bagian depan rumah tersebut. Suasana tampak sunyi dan hening. Dan tidak lama kemudian tampak pintu rumah itu terbuka di saat Nyonya Jonathan menaiki anak tangga pendopo itu. Vadeo yang sangat penasaran pandangan matanya tertuju pada pintu yang baru terbuka itu.


Sesaat kemudian tampak sosok seorang perempuan paruh baya yang usianya lebih tua dari Sang Mama. Wajahnya tampak bersih bersinar namun tidak berminyak macam perempuan perempuan yang sedang memakai krim perawatan. Ekspresi wajah nya tersenyum damai dan orang orang yang melihatnya pun ikut terbawa menjadi damai hatinya.


Perempuan setengah baya itu terus melangkah keluar dari pintu dan berjalan menyambut Nyonya Jonathan yang juga masih berjalan, Vadeo pun berjalan di belakang Nyonya Jonathan.