
Vadeo melihat kedua anak nya yang sedang bersedih hati itu tidak tega untuk bertanya tanya.
“Sayang mandi yuk, Papa mandiin..” ucap Vadeo sambil menatap wajah kedua anaknya yang tampak masih sendu. Mereka berdua tampak menatap layar hand phone yang dipegang oleh Valexa menunggu ada panggilan masuk dari Sang Mama.
“Bro.” Ucap Bang Bule sambil menyikut pinggang Vadeo sebagai kode agar Vadeo segera menanyakan barang terlarang yang sudah kehilangan jejak.
“Sebentar, aku suruh mandi pada mereka agar mereka segar dan mood nya kembali baik.” Ucap Vadeo tanpa menoleh ke arah Bang Bule dia masih menatap wajah kedua anaknya yang menunduk sendu melihat hand phone nya.
Bang Bule tampak garuk garuk kepala dan berpikir mencari cara untuk membujuk kedua keponakannya agar melupakan sejenak kerinduannya pada sang Mama.
“Sayang kalian mau es krim? Pizza? Donat.....?” tanya Bang Bule sambil menatap kedua ponakan nya tampak kedua nya menggelengkan kepala dengan lemah.
“Ayo mandi ya, hand phone nya biar dibawa Uncle Vin dulu, nanti kalau Mama telepon biar Uncle panggil kita.” Ucap Vadeo sambil berusaha menarik hand phone nya.
“Udah maadi... “ jawab Valexa sambil mempertahankan hand phone yang dipegang nya.
“Sayang kamu tahu gak barang terlarang yang datang dari luar negeri?” tanya Bang Bule yang sudah tidak sabar sambil menatap kedua ponakan dan tangan Bang Bule mengusap usap kepala Deondria yang duduk di pangkuan Vadeo yang dekat dengan diri nya.
Wajah kedua anak itu tampak menoleh ke arah wajah Bang Bule dan mendadak terlihat ekspresi kedua wajah itu sangat serius. Hati Bang Bule Vincent pun mulai senang sebab kedua bocah itu tampak mulai bekerja.
Namun tiba tiba.....
Kedua bocah itu tampak mengeryitkan dahi nya dan....
“Pucing..... (pusing).” Ucap Valexa dan Deondria lalu menyandarkan kepala nya di dada bidang Sang Papa.
“Bobok dulu ya...” ucap Vadeo sambil mengusap usap kepala kedua anaknya.
“Bro...” ucap Bang Bule sambil menatap wajah Vadeo saat mendengar Vadeo menyuruh kedua anak nya itu tidur.
“Bul, anak anakku manusia bukan alat detektor atau robot. Mereka punya hati dan perasaan.” Ucap Vadeo sambil masih mengusap usap kepala kedua anaknya yang masih bersandar di dada nya.
“Aku mau membayar ganti rugi berapa pun tapi jangan paksa anak anakku. Aku tidak ingin mereka sakit gara gara kontrak kerja itu. Bukannya di kontrak kerja juga sudah ada tambahan point kesepakatan akan menjaga keselamatan Valexa dan Deondria.” Ucap Vadeo lagi.
“Bukan begitu Bro, aku juga tidak ingin Valexa dan Deondria sakit.” Ucap Bang Bule dengan nada menyesal.
“Ya sudah biar mereka tidur dulu. Biar mood nya membaik dulu.” Ucap Vadeo yang masih mengusap usap kepala Valexa dan Deondria.
Akan tetapi tiba tiba Bang Bule langsung bangkit berdiri dan melangkah dengan cepat keluar dari kamar Vadeo.
“Ini gara gara Mama Mertua membuat mood kedua keponakan ku memburuk dan tidak bisa bekerja dengan baik.” Gumam Bang Bule dalam hati sambil melangkah dengan cepat menuruni anak tangga.
Beberapa saat kemudian dia sudah sampai di dalam ruang keluarga. Tampak Richardo sedang duduk berbincang bincang dengan Dealova. Dan mata Bang Bule langsung tertuju pada paper bag yang tadi dia bawa.
“Syukur lah masih ada.” Gumam Bang Bule dalam hati lalu dia segera melangkah dengan cepat dan tangannya segera menyambar paper bag yang berisi satu set skin care itu.
“Bang...” teriak Dealova yang akan mengambil paper bag itu karena dia disuruh oleh Sang Mama untuk mengambilkan akan tetapi sudah kedahuluan diambil oleh Bang Bule. Dan Bang Bule pun segera melangkah meninggalkan ruang tamu itu. Dan terus melangkah menuju ke pintu utama Mansion dan dia akan secepat nya meninggalkan Mansion Jonathan. Berusaha mencari cara lain untuk mendeteksi barang terlarang yang tidak terlacak.
“Pa... “ ucap mereka berdua.
“Hmmm...” gumam Vadeo yang masih mengusap usap kepala kedua anak nya.
“Pa, ada bayang teyayang itu banak.... (Pa, ada barang terlarang itu banyak...).” ucap lirih Deondria.. dan Vadeo yang mendengar tampak kaget.
“Hah? Apa kalian pusing karena melihat ada barang terlarang yang banyak?” tanya Vadeo sambil menatap wajah kedua anak nya dengan serius.
Valexa dan Deondria hanya diam saja. Dan selanjutnya...
“Tapi na ada totat duda... (tapi nya ada coklat juga)” ucap Valexa sambil mengangkat kepala nya tidak lagi bersandar di dada Sang Papa dengan ekspresi wajah yang serius.
“Cokelat?” tanya Vadeo dengan menatap serius wajah kedua anaknya.. Kedua anaknya menganggukkan kepala nya.
“Banakkkk (banyak)” ucap kedua nya sambil kedua tangan mungil nya membentang sebagai kode kalau barang yang dilihat banyak.
“Ya sudah nanti Papa bilang ke Uncle Vin. Sekarang kalian istirahat.” Ucap Vadeo sebab kepala kedua anak nya sudah bersandar lagi di dada nya. Dan tangan Valexa masih memegang hand phone nya karena masih menunggu panggilan telepon dari Sang Mama.
Waktu pun terus berlalu dan di malam hari. Atikah di dalam kamar nya. Mendapat informasi dari orang rumah. Jika ada seseorang mengantar barang pesanannya.
“Hmmm memang jika didistribusikan langsung oleh orang orang sendiri lebih cepat dan aman.” Gumam Atikah dalam hati.
“Aku izin untuk mengambil atau menyuruh Zulfa yang mengambil ya...” gumam Atikah tampak berpikir pikir.
“Hmmm suruh Zulfa saja yang mengambil dan mengantar ke sini. Pasti dia akan senang.” Gumam Atikah lalu dia mulai mengusap usap hand phone nya untuk menghubungi Zulfa.
Sesaat sambungan hand phone nya sudah terhubung pada Zulfa.
“Zul tolong secepat kamu ke rumahku dan ambil paket pesanan ku. Lalu kamu bawa ke mansion Jonathan.” Ucap Atikah dengan suara pelan.
“Sudah malam, besok ya..” suara Zulfa di balik hand phone Atikah.
“Iya, tapi jangan kamu buka buka langsung saja kamu bawa ke Mansion Jonathan. “ ucap Atikah lagi. Dan Setelah Zulfa paham akan perintah nya. Atikah memutus sambungan teleponnya.
Akan tetapi tiba tiba ekspresi wajah nya tampak khawatir.
“Haduh di pos keamanan ada alat detektor tidak ya..” gumam Atikah dalam hati dengan ekspresi wajah cemas.
“Hmmm aku tanya Richie saja bagaimana caranya agar barang aman dari alat detektor. Bukti nya barang barang Richie sudah aman sampai di tempat Jhon.” Gumam Atikah dalam hati lalu dia mulai mengusap usap hand phone nya untuk menghubungi Richie.
Atikah dengan hand phone aslinya terus mencoba menghubungi nomor hand phone Richie akan tetapi berulang kali hanya terdengar nada sibuk di hand phone nya.
“Rich... kenapa hand phone mu sibuk terus...” gumam Atikah yang belum bisa menghubungi nomor Richie.