Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 183.


Sementara itu di lain tempat di mobil yang masih terparkir di dekat batu besar. Dua pengawal dan pak sopir itu memasukkan tubuh Nyonya Jonathan dan Nyonya William ke dalam mobil. Sang pengawal pun juga sudah masuk ke dalam mobil.


“Kita langsung bawa ke rumah sakit saja.” Ucap Pak Sopir sambil masuk ke dalam mobil. Pak Sopir pun segera menyalakan mesin mobil lalu menjalankan mobil untuk meninggalkan lokasi batu besar di bawah bukit itu.


“Aku matikan saja AC nya dan buka jendela agar udara segar masuk.” Ucap Pak Sopir itu selanjutnya dan pelan pelan kaca jendela mobil turun sedikit agar udara luar masuk ke dalam mobil. Mobil terus melaju dengan kecepatan penuh Pak Sopir pun juga was was jika bahan bakar habis sebelum sampai rumah sakit yang lokasi nya tidak jauh dari guest house , yang dulu merupakan klinik kesehatan. Dengan berjalannya waktu dan semakin banyak karyawan dan keluarga karyawan yang tinggal di pulau Alexandria maka klinik kesehatan sudah berubah menjadi rumah sakit yang bisa melayani para karyawan dan keluarganya.


Nyonya Jonathan dan Nyonya William tampak didudukkan pada jok di belakang kemudi, tampak kepala mereka berdua terkulai dan mata masih terpejam, bagai orang tidur saja.


Sementara itu di pantai Alexandria. Setelah mereka semua masuk ke dalam kamar mereka masing masing di Villa dan membersihkan tubuh mereka dari air laut, mereka segera berpakaian dan masuk kembali ke dalam mobil. Dua mobil tampak berjalan pelan pelan meninggalkan pantai kembali menuju ke rumah. Alexandria dan Vadeo duduk di jok belakang kemudi. Richardo duduk di jok depan di samping kemudi. Dia sejak tadi hanya diam di dalam kamar Villa. Sedangkan Valexa dan Deondria duduk di jok paling belakang. Kedua anak itu tampak duduk manis.


Wajah Alexandria terlihat masih kecewa, dan Vadeo masih terus saja menghibur mengatakan setelah memastikan Oma Oma sehat segera kembali lagi ke Villa Pantai.


“Nanti kita bakar ikan laut yang dibawa oleh Oma. Barang barang mereka kan sudah sampai di gudang logistik.” Ucap Vadeo sambil terus mengusap usap perut datar Alexandria. Akan tetapi tiba tiba, Vadeo tampak berpikir keras saat ingat sesuatu.


“Ma, aku harus mencari cara agar kita tidak kesulitan untuk masuk ke bangunan kerajaan di bawah tanah itu. Sungguh akan sangat kesulitan Oma Oma bisa sampai ke bangunan bawah tanah itu.” Ucap Vadeo dengan nada serius sambil menatap wajah Alexandria dengan serius pula.


“Kita rehab Pa.” Ucap Alexandria sambil menatap wajah suaminya.


“Iya tapi yang jadi masalah apa ular besar itu mengizinkan. Karena aku pun juga sepemikiran dengan cerita rakyat itu, jika ular besar itu jelmaan dari Raja Mahadiraja.. Kalau melihat ular besar itu sungguh sungguh ajaib bisa mengeluarkan sinar, bisa memasukkan barang barang yang kita butuhkan. Sangat membantu kita.” Ucap Vadeo dengan nada serius.


“Aca dan Aya nanti yang kita suruh tanya pada ular besar itu, apa boleh bangunan kerajaan bawah tanah itu direhab dan apa yang dilarang dan apa yang diizinkan jika boleh di rehab. Aku takut jika tidak ada izin akan membawa korban.” Ucap Vadeo dengan serius lagi. Vadeo lalu tampak menoleh ke arah belakang untuk melihat kedua anak anaknya. Valexa dan Deondria tampak tersenyum menatap sang Papa.


Akan tetapi tiba tiba terdengar dering suara hand phone di dalam saku kemeja Vadeo. Vadeo pun segera mengambil hand phone miliknya. Saat dilihat di layar hand phone miliknya tertera nama kontak Sang pengawal Mama Jo. Vadeo yang sejak tadi khawatir akan keadaan Sang Mama langsung menggeser tombol hijau.


“Ada apa?” tanya Vadeo setelah menggeser tombol hijau.


“Tuan bahan bakar mobil habis di tengah jalan.” Suara sang pengawal di balik hand phone milik Vadeo.


“Sial! Kenapa Pak Sopir tidak memakai perhitungan? kenapa tidak diisi penuh sebelum berangkat ke bukit!” ucap Vadeo nada suara dan ekspresi wajahnya tampak emosi dan panik.


“Maaf Tuan, kami tidak tahu kalau jauh letak bukitnya, juga tadi pakai salah jalan. Terus ini bagaimana Tuan?” suara sang pengawal lagi di balik hand phone milik Vadeo.


“Kamu hubungi petugas di pom bensin agar segera mengirim bensin ke lokasi kalian. Aku kirim nomor hand phone dia.” Ucap Vadeo lalu dia memutus sambungan teleponnya dan setelahnya mengirim nomor hand phone petugas pom bensin kepada nomor hand phone sang pengawal Nyonya Jonathan.


“Hmmm ada ada saja.. semoga Oma Oma baik baik saja.” Gumam Vadeo lalu memasukkan lagi hand phone miliknya ke dalam saku kemejanya. Dan di saat Vadeo akan menyandarkan punggungnya di sandaran jok dengan santai. Tiba tiba...


“Pak berhenti!” teriak Alexandria dan setelahnya dia menutup mulutnya. Pak Sopir pun segera mengurangi kecepatannya dan menepi lalu menghentikan mobil. Alexandria segera membuka pintu mobil dan dengan cepat dia keluar dari mobil dan...


Sesaat kemudian mobil yang ditumpangi oleh keluarga Bang Bule Vincent pun juga turut berhenti di belakang mobil yang ditumpangi oleh keluarga Vadeo. Bang Bule Vincent dan Ixora segera turun dari mobil. Ixora sudah membawa satu botol air mineral.


“Kakak mual lagi?” tanya Ixora sambil mendekat pada Sang Kakak lalu memberikan air mineral itu setelah Alexa selesai mengeluarkan isi lambungnya.


“Anakmu sepertinya protes Bro tidak mau pulang ingin di Villa pantai.” Ucap Bang Bule Vincent sambil menepuk pundak Vadeo.


“Iya sama kayak Papa dan Unclenya, pasti mereka juga kecewa gara gara Oma Oma nya itu.” Gumam Vadeo yang selanjutnya pinggangnya ditonjok oleh Bang Bule Vincent. Kedua laki laki muda itu pun tertawa.


“Kalian itu, ada yang mual mual malah bercanda.” Ucap Ixora sambil menatap suami dan kakak iparnya yang masih tertawa sementara Alexandria masih berkumur kumur.


Dan di saat Vadeo dan Bang Bule Vincent masih tertawa, menertawakan kegagalan rencana mereka enak enak di pantai. Hand phone milik Vadeo berdering lagi.


“Ini pasti masalah mobil mogok lagi.” Gumam Vadeo sambil mengambil hand phone dari saku kemejanya.


“Mobil siapa yang mogok?” tanya Bang Bule Vincent.


“Yang membawa Oma Oma itu, habis bensin.” Jawab Vadeo


“Alaaaamakkkk.” Ucap Bang Bule Vincent sambil menepuk jidat nya sendiri.


Akan tetapi saat melihat layar hand phone miliknya Vadeo ekspresi wajahnya mendadak tampak serius.


“Papa.” Gumam Vadeo sambil menggeser tombol hijau.


“Deo, mana Oma, aku hubungi hand phone Oma tidak diangkat malah dimatikan.” Suara Tuan Jonathan di balik hand phone milik Vadeo. Dan Vadeo pun tampak bingung untuk menjawabnya.


“Itu Pa... itu.. Mama sedang...” ucap Vadeo sambil garuk garuk tengkuknya yang tidak gatal.


“Itu itu apa? Mama sedang apa? Tidak mengabari sama Papa dihubungi malah hand phone dimatikan.” Suara Tuan Jonathan dengan nada panik bercampur penasaran di balik hand phone milik Vadeo.


“Mama sedang mual mual Pa...” ucap Vadeo lalu memutus sambungan teleponnya.


Hand phone milik Vadeo berdering lagi dan Tuan Jonathan menghubungi Vadeo lagi kini tidak hanya panggilan suara, akan tetapi panggilan video. Vadeo pun terlihat bingung dan ragu ragu untuk menerima panggilan video Sang Papa, Tuan Jonathan.