
Sementara itu di gedung Jonathan Co. Di jam istirahat makan siang dia bersiap siap akan ke rumah Bang Bule sebab Mama Mertua nya sudah menelepon dan lapor jika kedua cucu nya ke rumah Bang Bule dan belum pulang sampai sekarang padahal makan siang sudah di siapkan di ruang makan. Dan ditambah Nyonya William melaporkan jika ke dua cucu nya itu akan kerja di rumah Bang Bule.
“Pak Rio nanti kalau aku belum kembali ke sini, Pak Rio yang handel dulu tugas ku.” Ucap Vadeo sambil bangkit berdiri dari kursi kerja nya.
“Baik Tuan.” Jawab Pak Rio dengan sopan.
“Hmmm Bang Bule kenapa menambah pusing aku. Masalah Atikah belum selesai ditambah masalah Bang Bule memperkerjakan kedua anakku.” Gumam Vadeo dalam hati sambil terus melangkah keluar dari ruang kerja nya.
Vadeo terus melangkah menuju ke ruang lift yang akan membawa nya menuju ke lantai dasar tempat mobil nya terparkir.
Beberapa saat kemudian Vadeo sudah berada di dalam mobil nya, dia pun segera menjalankan mobil nya keluar dari lokasi gedung Jonathan Co menuju ke rumah Bang Bule Vincent.
Saat mobil masih melaju di jalan raya, tiba tiba hand phone di dalam saku jas nya berdering. Tangan kiri Vadeo pun segera mengambil hand phone milik nya yang masih berdering itu. Tampak di layar hand phone tertera nama kontak Mama William melakukan panggilan video, Vadeo pun segera menekan tombol hijau.
“Deo segera kamu jemput kedua anak mu itu.” Suara Nyonya William dengan nada serius, Vadeo tidak begitu melihat ke layar hand phone nya.
“Ya Ma, ini sedang on the way. “ jawab Vadeo sambil fokus pada kemudi mobil nya.
“Ya sudah cepat.” Suara Nyonya William lagi dan seterusnya sambungan telepon diputus nya. Vadeo pun lalu menaruh lagi hand phone milik nya ke dalam saku jas nya.
Mobil terus melaju menuju ke rumah Bang Bule, yang dikhawatirkan Vadeo bukan masalah makan siang akan tetapi laporan Sang Mertua yang mengatakan kedua anak nya akan kerja. Jika masalah makan siang, pasti Bang Bule atau pun Richardo bisa menyediakan apalagi jika ada Ixora pasti Ixora akan memberikan makan Valexa dan Deondria dengan menu sehat.
Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman rumah Bang Bule, Vadeo segera menjalankan mobil ke tempat parkir yang biasa dia pakai yang tidak ada mobil lain yang terparkir di sana. Dia melihat mobil yang dipakai untuk mengantar kedua anak nya masih terparkir manis. Pak sopir senior tidak terlihat di dalam mobil, kemungkinan sudah masuk ke dalam rumah inti Bang Bule atau ke gedung lain untuk istirahat makan siang.
Setelah mematikan mesin mobil nya, Vadeo segera melangkah keluar dari mobil dan ber jalan menuju ke rumah inti Bang Bule. Vadeo berjalan dengan langkah lebar nya dan kini sudah sampai di depan teras rumah Bang Bule.
“Aca, Aya...” teriak Vadeo sambil menaiki anak tangga teras rumah Bang Bule.
Tidak lama kemudian pintu rumah Bang Bule terbuka dan ada sosok Richardo berdiri di balik daun pintu.
“Di mana Aca dan Aya?” tanya Vadeo pada Richardo
“Di dalam kamar Bang Bule.” Jawab Richardo.
“Hmmm ini sudah jam makan siang.” Gumam Vadeo sambil terus melangkah menuju ke kamar Bang Bule, sedangkan Richardo kembali menutup pintu dan melangkah menuju ke ruang keluarga kembali.
“Aca, Aya ayo pulang ditunggu Oma Kucing di mansion!” suara Vadeo sambil memutar handel pintu akan tetapi daun pintu itu tidak bisa terbuka sebab di kunci dari dalam.
“Bul, cepat buka pintu!” teriak Vadeo lagi. Dan tidak lama pintu terbuka dan ada sosok Bang Bule Vincent di balik pintu yang tangannya masih memegang handel pintu.
“Sabar Bro. Kedua anak mu aman di sini.” Ucap Bang Bule Vincent. Vadeo yang sudah tidak sabar pun langsung menerobos masuk ke dalam kamar Bang Bule Vincent.
“Papa.” Ucap kedua bocah itu, ekspresi wajah Valexa dan Deondria tampak serius mereka berdua menghadap lap top Bang Bule dan di dekat lap top ada toples berisi kue kue yang tinggal separo isi nya sebab yang separo sudah masuk ke perut mereka berdua dan Bang Bule Vincent tentu nya.
“Kalian sedang buat apa?” tanya Vadeo sambil melangkah mendekati kedua anak nya yang duduk di kursi rotan panjang legendaris milik keluarga Bang Bule Vincent Van Jansen.
“Teja Pa.” Jawab mereka berdua lalu kedua tangan mungil itu segera menutup lap top Bang Bule Vincent agar Sang Papa tidak melihat nya.
“Bul, kamu jangan macam macam dengan kedua anakku.” Ucap Vadeo sambil menoleh menatap Bang Bule Vincent yang melangkah mendekati mereka.
“Tenang Bro, mereka aman , aku hanya berusaha untuk mengembangkan potensi mereka berdua agar bisa berkembang dan bermanfaat demi kebaikan.” Ucap Bang Bule Vincent sambil menepuk nepuk pundak Vadeo.
“Ayo duduk, aku jelaskan pada kamu.” Ucap Bang Bule Vincent kemudian. Mereka berdua pun lalu melangkah menuju ke kursi rotan panjang dan mendudukkan pantat nya di sana sambil memangku Valexa dan Deondria.
Bang Bule pun lalu menceritakan proyek baru yang baru saja dia terima. Vadeo tampak berpikir pikir dengan sangat serius sampai sampai dia memijit mijit pelipis nya.
“Pa ini ada taitan na cama coping bayu itu.” Ucap Deondria yang duduk di dalam pangkuan Vadeo sambil tangan mungilnya mengusap usap pelipis Sang Papa. Vadeo pun merasa syaraf syaraf nya agak rileks karena usapan tangan mungil anaknya.
“Papa toba tana pada Ante Pin.” Ucap Valexa yang di dalam pangkuan Bang Bule Vincent sambil menoleh ke arah Sang Papa.
“Bro, bagaimana apa ada orang yang bernama Atikah di sekolah kita?” tanya Vadeo selanjutnya sambil menoleh ke arah Bang Bule Vincent.
“Tidak ada, tapi aku tadi sudah memperlihatkan foto foto alumni sekolah kita, Valexa dan Deondria mencurigai pada satu orang.” Jawab Bang Bule dengan santai.
“Siapa?” tanya Vadeo dengan tidak sabar.
“Dia dulu memang sering memberi kamu bekal makanan dengan maksud dia akan menggantikan posisi Alexandria yang sedang kamu cari cari itu.” Jawab Bang Bule sambil menoleh menatap Vadeo.
“Bro jangan lama lama, cepat kamu kata kan siapa dia, aku lupa siapa saja cewek yang memberi makanan ke aku. Toh aku aku tidak makan semua makanan yang mereka berikan. Kamu yang makan semua nya itu.” Ucap Vadeo sambil memeluk Deondria karena tiba tiba dia sangat rindu pada Alexandria.
“Saat itu di dalam hati dan otak ku hanya ada nama dan wajah Alexa, gadis kecil yang tiba tiba menghilang.” Ucap Vadeo yang mata nya mulai berkaca kaca mengingat perjuangannya dulu dalam mencari Alexa dan akhirnya dengan tidak dia sangka sangka gadis yang dia cari datang dengan sendiri nya di saat dia sudah di ambang keputus asaan.