Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 225.


Dan saat Justin membuka pintu kamar itu. Muncul sosok tiga bocah yang berdiri di depan pintu dan di depan mereka banyak paper bag yang di taruh di atas lantai.


“Ante Justin bawa masuk ini dan berikan juga pada Enti Wika...” Ucap Deondria sambil menunjukkan paper bag paper bag itu pada Justin yang masih kaget ekspresi wajahnya.


“Cepat Ante Justin...” teriak Valexa sambil menerobos masuk ke dalam kamar. Deondria pun juga ikut masuk menerobos ke dalam kamar pengantin itu.


“Ayo Boy macuk... kata na kamu ingin ikut di kamal Papa dan Mamamu... (Ayo Boy masuk... kata nya kamu ingin ikut gabung di kamar Pak dan Mama mu).” Teriak Valexa dan Deondria secara bersamaan. Boy pun ikut berlari menyusul dua saudara kembar nya.


Sedangkan Justin tampak menoleh ke arah tiga bocah yang sudah menerobos masuk ke dalam kamar pengantin itu. Dia tidak bisa berbuat apa apa selain mau tak mau harus segera memasukkan paper bag paper bag itu ke dalam kamar.


Justin pun menutup pintu kamar pengantin itu dengan rapat. Tampak ketiga bocah itu sudah duduk di sofa. Valexa dan Deondria tampak tersenyum lebar sedangkan Boy tampak mengedarkan pandangan matanya ke seluruh sudut sudut kamar pengantin yang bisa terjangkau oleh pandangan matanya. Dia sedang mencari Sang Mama Wika.


“Twins di mana Mama ku?” tanya Boy selanjutnya karena tidak menangkap sosok sang Mama. Boy kini menoleh menatap pada Valexa dan Deondria yang masih duduk di sofa dengan kaki kaki mungil mereka yang menggantung dan bergerak gerak. Sedangkan Justin sudah melangkah menuju ke kamar mandi sambil membawa dua paper bag besar yang sudah dilihat terlebih dahulu isi di dalamnya.


“Tenang Boy cebental lagi Mama kamu akan datang... ( Tenang Boy sebentar lagi Mama kamu akan datang).” Ucap Valexa sambil tersenyum menatap Boy.


“Apa Papa Justin tidak menyakiti Mamaku?” tanya Boy tampak ekspresi wajahnya masih mengkhawatirkan Sang Mama Wika. Twins menggeleng gelengkan kepalanya sambil tersenyum menatap Boy.


Dan beberapa saat kemudian...


“Tuh, liyat.. ( tuh lihat..).” Ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan sambil menatap ke arah kamar mandi.


Tampak sosok Wika sudah tampak segar dan cantik dengan dress terusan casual yang dibawakan oleh Justin tadi.


“Mamaaaaaa....” teriak Boy lalu bangkit dari tempat duduknya dan berlari menuju ke sosok Wika yang sedang berjalan menuju ke arah sofa.


Boy memeluk kaki Wika dan Wika pun segera membungkuk dan menggendong tubuh mungil Boy, lalu menciumi wajah Boy dengan penuh kerinduan dan kasih sayang.


“Mama sangat rindu pada kamu Boy...” Ucap Wika sambil terus menciumi wajah Boy.


“Boy juga Ma, Boy sangat takut jika Mama sakit karena lapar atau dipukul Papa Justin.” Ucap Boy dengan mimik muka serius dan kata kata terakhir hanya suara bisik lirih sebab dia takut jika Papa Justin mendengar.


“Tidak Sayang... Jangan khawatir pada Mama, Mama tidak kelaparan di sini semua makanan lezat lezat dan banyak...” Ucap Wika sambil tersenyum lalu melangkah menuju ke sofa. Valexa dan Deondria tampak masih duduk dan tersenyum memandang Wika dan Boy.


“Enti Wika cudah jadi kelualga becal Jonathan cekayang, panggil caja aku Aca... (Aunty Wika sudah jadi keluarga besar Jonathan sekarang, panggil saja aku Aca..).” Ucap Valexa sambil tersenyum menatap Wika.


“Dan panggil aku Aya... “ sambung Deondria yang juga tersenyum menatap Wika.


Tidak lama kemudian Justin muncul daru arah kamar mandi, dia sudah tampil segar dengan tshirt dan celana bermuda. Dia pun melangkah menuju ke sofa.


“Apa kalian yang menyembunyikan baju baju kami?” ucap Justin sambil menatap wajah Valexa dan Deondria.


“Ha... Ha... Ha... cemua Ante Justin .. cemua oyang menembunyikan baju baju Ante Justin dan Enti Wika .. bial yukun... (Ha. . Ha... Ha... semua Uncle Justin ... semua orang menyembunyikan baju baju Uncle Justin dan Enti Wika... biar rukun).” Ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan, Justin pun lalu memangku tubuh mungil Valexa dan Deondria dan mengacak acak puncak kepala kedua bocah itu yang masih tertawa terkekeh kekeh. Wika tampak menunduk malu malu, sedangkan Boy tampak bingung menoleh ke kiri dan kanan memandang wajah semua orang di dalam kamar itu.


“Okey cemua... Aku dan Aya cetayang mau ke mencen utama... (okey semua ... Aku dan Aya sekarang mau ke Mansion utama).” Ucap Valexa lalu meloncat turun dari pangkuan Justin.


Deondria pun juga segera meloncat dari pangkuan Justin.


“Okey Boy, celamat berbahagia bercama Mama dan Papa kamu ya..” ucap Valexa dan Deondria secara bersama sambil menatap wajah Boy, Boy pun tersenyum senang.


“Hei.. apa maksud kalian?” tanya Justin yang kini tampak bingung.


“Boy malam ini tidul di cini Ante...” jawab Deondria dengan nada serius menatap Justin. Jawaban dari Deondria itu membuat hati Justin sedikit kecewa.


“Boy kamu sudah besar bisa kan tidur di kamar sendiri.” Ucap Justin sambil menoleh ke arah Boy. Boy yang masih takut takut pada Justin tampak mengangguk lemah.


“Tidak bica Ante kalian beltiga hayus tidul catu kamal... (Tidak bisa Uncle kalian bertiga harus tidur satu kamar).” Ucap Valexa sambil menatap tajam ke arah Justin. Justin pun tidak punya nyali lagi untuk menolak agar Boy tidur bersama dirinya dan Wika.


“Satu malam saja ya Boy.” Ucap Justin mencoba menawar pada Boy karena Justin tidak berani untuk menawar pada Twins. Boy tampak menatap pada Twins untuk meminta bantuan.


“Boy ingin belapa lama tidul cama Mama dan Papa Justin?” tanya Deondria sambil menatap Boy. Dan Boy pun mengangkat kedua tangannya sambil menunjukkan sepuluh jari tangannya.


“Okey... cepuyuh hayi Ante kaliyan beltiga tidul di cini.. (Okey ... sepuluh hari Uncle kalian bertiga tidur di sini...).” Ucap Deondria sambil menatap Justin Valexa pun tersenyum menatap Justin. Wika dan Boy juga menatap Justin namun tidak tersenyum.


“Tidak boleh menolak Ante.... bye... bye...).” Ucap Valexa dan Deondria lalu keduanya melangkah meninggalkan kamar pengantin itu yang kini sudah menjadi kamar keluarga baru Justin.