Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 89. Masih Penasaran


Vadeo pun segera mengambil hand phone dari dalam saku jas nya. Dia khawatir jika Sang istri menghubungi diri nya, sebab ikatan batin Alexandria biasanya begitu kuat, jika kedua anaknya sedang gelisah dan sedih Alexandria pun merasakan nya.


Akan tetapi saat dilihat layar hand phone nya bukan kontak nama sang istri yang sedang menghubungi nya, namun kontak nama ibu kepala pelayan. Vadeo segera menggeser tombol hijau.


“Tuan, makan siang untuk tamu sudah kami siapkan dan kami akan mengantar sekarang apa sudah diizinkan?” suara ibu kepala pelayan di balik hand phone Vadeo setelah Vadeo menggeser tombol hijau.


“Bawa sekarang.” Ucap Vadeo lalu memutus sambungan teleponnya.


Dan belum juga Vadeo menaruh lagi hand phone nya ke saku jas, hand phone berdering dan berkedip kedip, dan kini benar nama kontak Sang istri yang sedang melakukan panggilan video. Vadeo pun segera menggeser tombol hijau.


“Pa, di Mansion Jonathan sekarang? Bagaimana dengan anak anak?” tanya Alexandria saat Vadeo sudah menggeser tombol hijau.


“Mereka di Mansion utama, ini aku dengan Tuan Rangga sedang menerjemahkan manuskrip pulau kita.” Jawab Vadeo


“Kenapa anak anak tidak ikut? Biasanya mereka berdua begitu excited dengan hal hal yang berhubungan dengan pulau kita.” Ucap Alexandria selanjutnya


“Entahlah kata nya ada cerita sedih mereka tidak mau mendengarkan.” Ucap Vadeo


“Ma, ada hal penting yang ingin aku sampaikan tapi nanti saja saat kamu sudah pulang. Hati hati ya Sayang...” ucap Vadeo selanjutnya


“Iya Pa, ini juga ditunggu makan siang.” Ucap Alexandria dan selanjutnya sambungan teleponnya berakhir.


“Ada cerita sedih apa?” tanya Nyonya Jonathan dan Nyonya William secara bersamaan sambil menatap Vadeo yang sedang memasukkan hand phone ke dalam saku jas nya.


“Entahlah Ma, ayo kita ke mansion utama. Biar Tuan Rangga dan Juna istirahat makan siang. Dan Mama bisa tanya ke Aca dan Aya ada cerita sedih apa.” Ucap Vadeo sambil bangkit berdiri dan membawa tas kerja nya dan berharap kedua Mama nya juga segera pergi dan tidak ikut berada di dalam paviliun tamu.


“Ayo Bro.” Ucap Vadeo selanjutnya dan Bang Bule Vincent pun juga ikut bangkit berdiri. Mereka berdua melangkah keluar dari pintu paviliun tamu.


Sementara Nyonya Jonathan dan Nyonya William masih duduk dan masih penasaran dengan sosok Tuan Rangga.


“Apa Tuan juga yang menjual permata langka itu?” tanya Nyonya Jonathan sambil menatap Tuan Rangga. Sedangkan Tuan Rangga yang tidak mengetahui tentang seluk beluk permata langka itu hanya menggeleng gelengkan kepala nya.


Sementara itu, Vadeo dan Bang Bule Vincent masuk ke dalam mobil yang tadi mengantar Tuan Rangga. Mobil pun berjalan pelan pelan menuju ke mansion utama.


“Gara gara Mama datang jadi terhenti cerita nya, padahal lagi seru seru nya.” Ucap Vadeo dengan nada kesal


“Iya ya Bro, apa kerajaan Asasta kalah, terus kedua anak nya dibawa oleh Raja yang menyerang dan terus Raja Mahadiraja dibunuh.” Ucap Bang Bule Vincent mengira ngira kelanjutan dari cerita du manuskrip kuno.


“Kalau dibunuh kan kerajaan Abasta menjadi bagian dari kerajaan besar itu. Kalau menjadi bagian kerajaan besar itu ada kemungkinan di masa sekarang menjadi propinsi dan tidak menjadi pulau yang tidak berpenghuni.” Ucap Vadeo yang juga menduga duga.


“Mungkin setelah menjadi kerajaan bagian sumber daya dikuras habis habisan hingga rusak.” Ucap Bang Bule Vincent lagi.


Mobil sudah berhenti di depan teras Mansion utama. Vadeo pun segera turun dengan tidak lupa membawa tas kerjanya. Bang Bule Vincent juga turut mengikuti langkah Vadeo.


Sesaat mobil yang mengantar Nyonya William dan Nyonya Jonathan pun juga berhenti di belakang mobil yang mengantar Vadeo dan Bang Bule Vincent.


Nyonya William dan Nyonya Jonathan segera keluar dari mobil, dia ingin segera menjumpai kedua cucu nya, dan akan menanyakan tentang cerita sedih apa.


Mereka semua tampak segera masuk ke dalam mansion utama dsn segera menuju ke ruang makan untuk menjumpai Valexa dan Deondria.


Tampak Valexa dan Deondria sudah duduk di kursi makan nya kedua pengasuh mereka masing masing berdiri di dekat mereka berdua. Wajah kedua anak itu masih tampak sedih dan gerik gerik mereka berdua pun tampak tidak gesit dan ceria seperti biasanya.


“Sayang jangan sedih ya..” ucap Vadeo sambil mengusap usap kepala Valexa dan Deondria lalu duduk tidak jauh dari mereka.


“Ada Cerita Sedih apa sih.. ?” tanya Nyonya William sambil duduk di depan kedua cucu nya dan menatap wajah sendu Aca dan Aya.


Valexa dan Deondria tidak menjawab pertanyaan Sang Oma dan mereka berdua hanya saling pandang.


Lalu....


“Banak yan inin puna pulo itu... (Banyak yang ingin punya pulau itu..)” ucap Valexa


“Campe buat dahat.... (sampai buat jahat....)” sambung Deondria yang mata nya kembali memerah.


“Sudah sekarang Aca dan Aya makan dulu ya...” ucap Vadeo sambil membantu mengambilkan makanan buat kedua anaknya.


“Mama jangan tanya tanya dulu mereka. Tanyanya nanti saja setelah mereka berdua selesai makan.” Ucap Vadeo selanjutnya dengan maksud agar kedua anak nya bisa makan dengan mood yang bagus dan lebih dari pada itu karena rencana dirinya setelah makan siang akan melanjutkan mendengarkan Tuan Rangga menerjemahkan agar kedua Mama itu tidak ikut. Sebab dia tahu jika kedua anaknya itu bisa memfilter cerita apa yang harus dirahasiakan pada kedua Mama nya pengalaman dari perhiasan langka yang Valexa dan Deondria merahasiakan dari siapa barang itu.


"Kalau Mama tahu dulu ada kerajaan di pulau Alexandria bisa gawat. Belum saat nya Mama tahu sekarang...." gumam Vadeo dalam hati sambil mengambil makanan untuk dirinya sendiri setelah piring piring kedua anaknya sudah berisi makanan lengkap bergizi seimbang.


Sementara itu di belahan bumi lain, kapal Tuan Njun Liong pun terus berlayar menuju ke arah selatan ke arah Asia.


Tuan Njun Liong sudah menghabiskan waktu bersenang senang dengan wanita penghibur nya di dalam kamar.


“Kamu sekarang ke luar dari kamarku.” Perintah Tuan Njun Liong sambil bangkit dari tidur nya dan memakai kembali baju nya. Wanita penghibur itu pun bangkit dari tidurnya lagi meraih pakaiannya yang tercerai berai di atas tempat tidur. Setelah memakai kembali seluruh pakaian wanita penghibur itu melangkah meninggalkan kamar Tuan Njun Liong.


Tuan Njun Liong lalu mengambil hand phone nya yang sejak tadi terdengar banyak suara notifikasi yang masuk namun dia abaikan sebab masih menikmati pelayanan panas membara dari wanita penghibur nya.


“Hmmm apa Tuan Vadeo sudah membalas email ku ya.. pasti dia tergiur dengan penawaran ku sepuluh kali lipat itu ha... ha....” Gumam Tuan Njun Liong yang tertawa mulut nya dan tangan meraih hand phone nya di atas nakas.


....