Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 143. Rencana Si Kembar Datang Menyerang


Saat Bang Bule Vincent melihat layar hand phone miliknya, tampak nama kontak Eveline sedang menghubungi dirinya lewat panggilan suara. Bang Bule Vincent pun segera menggeser tombol hijau.


“Bang, keempat orang kita akan dijadikan korban perempuan tua itu di malam bulan purnama nanti.” Suara Eveline dengan nada serius di balik hand phone Bang Bule Vincent.


“Ya tujuh hari lagi...” ucap Bang Bule Vincent


“Bang Bule sudah tahu?’ tanya Eveline dengan nada heran.


“Tahu kalau tujuh hari lagi bulan purnama dari twins. Aku tidak begitu tahu bagaimana kekuatan mistik perempuan tua. Pesanku hati hati. Suruh mereka selalu membawa senjata rahasia dan serangkan saat nenek nenek itu akan menjamah mereka.” Ucap Bang Bule Vincent dengan nada serius.


“Baik Bang.” Suara Eveline di balik hand phone Bang Bule Vincent.


“Okey, nanti aku hubungi kamu kalau ada perintah dan informasi penting.” Ucap Bang Bule Vincent lalu mereka mengakhiri sambungan teleponnya.


“Tita te cana tujuh hayi yadi (Kita ke sana tujuh hari lagi).” Ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan, sebelum Bang Bule Vincent mengucapkan apa apa pada mereka berdua dan Vadeo.


“Sayang apa tidak membahayakan kita?” tanya Vadeo dengan nada khawatir


“Kita malah mendatangi musuh, bagaimana jika ada musuh lain yang datang ke sini Sayang?” tanya Vadeo lagi sambil menatap wajah kedua anaknya itu.


“Papa tenang caja.. tidak cemua datang te cana, anya tita tan bebeyapa oyang.. Mama dan Enti Icoya duda tidak ucah itut..( Papa tenang saja.. tidak semua datang ke sana, hanya kita dan beberapa orang.. Mama dan Aunty Ixora juga tidak usah ikut).” Ucap Valexa dengan nada serius sambil menatap Sang Papa.


“Cetayang Papa tan Ante Pin beyesi bayang bayang tita.. Atu tangen cama Mama.. (Sekarang Papa dan Uncle Vin beresi barang barang kita.. Aku kangen sama Mama...).” ucap Deondria sambil menatap Papa dan Uncle Vincent secara bergantian . Vadeo yang juga sudah sangat kangen dengan Alexandria, demikian pula Bang Bule Vincent yang sudah sangat rindu dengan Ixora, dengan semangat membara berapi api segera memberesi barang barang mereka.


Tidak lama kemudian semua barang sudah masuk ke dalam ransel besar dan siap dibawa oleh Bang Bule Vincent. Kamar yang mereka tempati pun sudah kembali rapi. Tampak Valexa dan Deondria berlari keluar dari kamar dan terus berlarian membuka pintu pintu penghubung dan akhir nya mereka sudah keluar dari pintu utama istana kerajaan. Tampak mereka berdua memanggil ular besar yang akan mengantar mereka keluar dari persembunyian. Jika tidak dengan Vadeo dan Bang Bule Vincent. Ular besar itu bisa membawa kedua bocah itu lewat jalan pintas.


Sesaat kemudian ular besar sudah datang dari jalan pintas. Di dalam tubuhnya tampak menggembung dan saat sudah di depan Valexa dan Deondria, barang yang di dalam tubuhnya dikeluarkan. Tampak buah buah segar yang bisa dimakan dan digunakan untuk bekal perjalanan. Valexa dan Deondria segera jongkok dan mengambili buah buah itu dengan riang gembira.


Sementara itu di lain tempat di rumah mewah Mamah Mimi, tepatnya di kamar mewah Mamah Mimi. Benar seperti yang diucapkan oleh Deondria. Mamah Mimi sedang jatuh cinta pada keempat pemuda tampan dan gagah utusan Bang Bule Vincent. Berkali kali Mamah Mimi melihat tampilan tubuh dan wajahnya di cermin yang lebar di dalam kamarnya.


“Hmmm padahal aku sudah selalu melakukan ritual, kenapa aku juga masih saja terlihat tua.” Gumam Mamah Mimi sambil melihat rambutnya yang sudah banyak ubannya dan garis garis keriput di wajah dan tubuhnya.


Saat Mamah Mimi masih melihat lihat wajahnya di pantulan cermin dengan gelisah. Tiba tiba hand phone miliknya yang ditaruh di atas nakas berdering. Mamah Mimi segera berjalan untuk mengambil hand phone nya. Saat di lihat layar hand phone nya nama kontak Nyonya Siu Lie sedang melakukan panggilan suara. Mamah Mimi segera menggeser tombol hijau.


“Mah, Dokter dan karyawan klinik bersedia untuk datang ke sini.” Suara Nyonya Siu Lie dengan nada senang, sebab dia pun juga sudah ketagihan untuk melakukan perawatan.


“Bagus lebih cepat lebih bagus. Tinggal tujuh hari lagi malam bulan purnama. Aku harus sudah cantik di malam bulan purnama itu agar ritualku sukses dan aku bisa melihat dua bocah nakal itu.” Ucap Mamah Mimi dengan serius. Dia masih saja merahasiakan jika dia melakukan hal itu karena demi menghadapi empat pemuda tampan dan tubuh kekar mereka sudah menggetarkan jantung Mamah Mimi hingga getarannya membuat tengkuknya ikut gemetaran.


“Mah, aku sudah kirim foto Mamah Mimi ke Dokter itu. Katanya untuk hasil yang bagus disarankan Mamah Mimi melakukan operasi plastik.” Suara Nyonya Siu Lie dengan nada serius pula.


“Terserah bagaimana dokter akan melakukan kepadaku yang penting aku bisa cantik dan muda.” Ucap Mamah Mimi yang tidak begitu paham tentang hal seluk beluk perawatan kecantikan modern, karena selama ini dia hanya melakukan dengan memakai ramuan ramuan dari resep leluhur.


“Tapi Mah kalau operasi plastik Mamah harus pergi ke Korea. Dan tidak selesai dalam waktu tujuh hari Mah.” Suara Nyonya Siu Lie lagi.


“Hah? Besok saja operasi plastik nya kalau kita sudah menguasai pulau keramat itu.. Ha.... Ha... Ha.... bagus bagus... Aku setuju aku akan melakukan operasi plastik ke Korea, dan aku akan tampil cantik seperti Ratu Kerajaan Pulau itu.. Ha.... Ha.... Ha.....” suara Mamah sambil tertawa bahagia. Matanya berbinar binar membayangkan dirinya akan menjadi cantik bak Ratu Kerajaan. Sesaat Mamah Mimi ingat akan sesuatu, lalu...


“Sudah Nyonya, aku putus sambungan teleponnya. Pokoknya segera suruh dokter dan karyawan klinik itu datang ke sini lengkap dengan alat alat dan obat obatnya.” Ucap Mamah Mimi lalu dia memutus sambungan teleponnya.


Mamah Mimi segera memakai penutup kepalanya, kain hitam yang dia balut balutkan pada kepalanya hingga tinggi. Rambutnya yang sudah beruban pun kini tidak terlihat karena sudah tertutup oleh kain hitam. Mamah Mimi segera melangkah meninggalkan kamar mewahnya. Saat keluar dari kamar tampak dua pemuda tampan dan gagah yang sedang berjaga kaget dan takut. Takut jika disuruh masuk dan disuruh melayani Mamah Mimi. Saat Mamah Mimi terus melangkah menjauh. Dua pemuda itu saling pandang dan tersenyum. Keduanya lalu mengelus dadanya masing masing...


“Aman...” gumam mereka dalam hati.