Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 69.


Ular besar itu tampak mengangguk kan kepalanya.


“Atu mau buah duyen yan ledat.... (aku mau buah duren yang lezat).” pinta Valexa pada Ular besar itu


“Atu mau buah apotat yan becal tan enyak... (Aku mau buah apokat yang besar dan enak).” pinta Deondria pada Ular besar itu juga.


Ular besar itu tampak menganggukkan kepalanya lagi dan selanjutnya pelan pelan menggeser tubuh nya meninggalkan Valexa dan Deondria yang masih duduk di kursi singgasana nya. Sedangkan Richardo yang sudah tidak takut pada Ular besar itu tampak tersenyum senang sebab ada harapan dia pun ikut menikmati buah buah yang enak luar biasa yang tidak bisa di dapat di pulau jawa.


Beberapa menit kemudian terdengar suara Nyonya William.


“Hahhhh capek juga, tapi bagus tempat nya, bisa melihat pemandangan indah di bawah.” Suara Nyonya William yang kini sosoknya pun sudah terlihat dan tampak dia memunggungi letak pohon asam untuk melihat pemandangan du bawah bukit.


“Iya Ma, dan segar sekali udara di sini.” Ucap Vadeo yang juga ikut menikmati pemandangan di bawah bukit.


Mereka berdua lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah lagi ke tempat pohon asam berada.


“Ha.. Ha... mereka lucu sekali duduk di kursi Singgasana nya seperti puteri puteri di negeri dongeng.” Suara Nyonya William saat melihat kedua cucunya duduk di kursi Singgasana dan Richardo duduk di tanah di bawah kedua bocah itu.


“Mama nanti juga disuruh mereka duduk di tanah di bawah mereka he... he...” ucap Vadeo sambil tertawa kecil..


“Tidak apa apa, namanya juga anak kecil biasa menghalu karena melihat dan mendengar cerita cerita tentang dongeng puteri kerajaan.” Ucap Nyonya William sambil terus melangkah mendekati tempat kedua cucu nya berada.


“Tapi Deo, aman kan di sini?” tanya Nyonya William dengan suara pelan.


“Aman Ma.” Jawab Vadeo


“Maksudku tidak ada yang horor horor gitu.” Ucap Nyonya William dengan suara setengah berbisik sambil m3mgusap usap lengannya sendiri karena tiba tiba bulu kuduk nya berdiri.


“Seperti tidak Ma. Hanya...” ucap Vadeo yang akan terus terang untuk mengatakan ada ular besar di bawah pohon asam. Karena pasti nanti sang Mama Mertua juga akan melihatnya, maksudnya jika diberitahu agar nanti tidak pingsan seperti dirinya dulu.


“Hanya apa?” tanya Nyonya William kepo.


Akan tetapi belum juga Vadeo menjawab Valexa dan Deondria sudah berteriak teriak.


“Papa.. Oma tepat mendetat tan duduk, cebental yadi ada hidangan enyak... (Papa.. Oma cepat mendekat dan duduk, sebentar lagi ada hidangan enak..).” teriak Valexa dan Deondria.


“Iya iya..” suara Vadeo lalu dia pun melangkah mendekati kedua anaknya dan duduk di tanah di bawah mereka.


“Bagaimana kalau Oma pingsan?” tanya Vadeo berbisik di telinga Deondria. Karena Vadeo kawatir ular besar akan datang dengan membawakan buah buahan permintaan ketua anaknya. Deondria tampak mengedipkan matanya sambil menatap sang Papa.


Sedangkan Nyonya William kini juga sudah mendekat dan turut duduk di dekat Vadeo. Nyonya William tampak tertawa kecil.


“He... he.. makanya kalian tidak mengajak yang lain sebab bermain drama di sini.” Ucap Nyonya William masih dengan tawa kecil nya.


“Om Yicado ambik di beyatang poon... ( Om Richardo ambil di belakang pohon..).” Perintah Valexa pada Richardo.


Richardo yang sudah paham pun lalu bangkit berdiri dan berjalan ke arah belakang. Nyonya William yang masih penasaran pun ikut berdiri dan mengikuti langkah kaki Richardo.


“Hah.. kok ada buah yang tampak enak sekali ini?” tanya Nyonya William dengan kaget.


“Siapa yang membawa dan mengambil nya?” tanya Nyonya William sambil mengedarkan pandangan matanya di sekitar lokasi itu.


Sedangkan Richardo langsung mengambil dua buah besar itu dan melangkah menuju ke tempat Valexa dan Deondria berada. Dan Nyonya William masih terheran heran, akan tetapi dia juga ikut melangkah mengikuti Richardo sebab dia sudah kemecer untuk ikut memakan buah yang aroma nya sangat harum itu.


Richardo lalu menaruh dua buah itu di atas tanah di depan Valexa dan Deondria. Richardo segera mengambil pisau lipat multi fungsi nya dari dalam saku celana cargo nya.


“Hmmm harum sekali.” Ucap Vadeo saat melihat buah duren yang begitu menggodanya itu. Vadeo dengan tangannya lalu membuka buah duren yang tampak ujung nya sudah terbuka itu. Sementara Richardo membelah buah apokat dan mengiris irisnya agar kedua bocah itu lebih mudah dalam memakannya.


“Deo apa ada tukang kebun di sini?” tanya Nyonya William yang masih kepo. Vadeo pun hanya menganggukkan kepalanya sambil menikmati buah durian yang super lezat.


“Ambik tan yadi buwat Mama... (ambilkan lagi buat Mama...)” suara lantang Valexa dan Deondria hingga terdengar gema nya. Nyonya William tampak kaget hingga mata nya melotot.


“Kalian berdua menyuruh siapa?” tanya Nyonya William yang tampak heran dan bingung.


Sesaat terdengar suara tleser tleser, karena ular besar itu menggerakkan tubuh nya akan keluar dari persembunyian guna melaksanakan perintah dari Valexa dan Deondria.


“Suara apa itu?” tanya Nyonya William dengan takut takut dan merapatkan tubuh nya pada Vadeo.


Akan tetapi belum juga ada yang menjawab sebab masih menikmati buah buah lezat. Terdengar hand phone di saku kemeja Vadeo berdering. Tangan kiri Vadeo pun segera mengambil hand phone nya. Dan terlihat nama kontak Alexandria sedang melakukan panggilan video. Vadeo segera menggeser tombol hijau.


“Hai... kalian sedang makan buah durian ya?” suara Alexandria karena melihat tangan kanan Vadeo yang masih memegang satu bagian buah durian.


“Iya Mama .. cama apotat.. (Iya Mama ... sama alpukat...)” suara Valexa dan Deondria sebab mulut Vadeo masih menikmati buah durian terlezat di seluruh dunia.


“Jangan lupa Mama dibawain ya...” pesan Alexandria karena sudah hafal buah buah dari bukit enak nya istimewa.


“Mana Oma, baik baik kan dia. Cepat pulang ya... jangan lama lama.” Ucap Alexandria lagi.


“Iya Mama... sebental yadi puyang.. (Iya Mama ... sebentar lagi pulang).” Suara Valexa dan Deondria.


“Aku baik baik Al.. Cuma heran siapa yang mengambilkan buah buah enak ini.” Ucap Nyonya William yang masih penasaran.


“Kan Oma bilang tukang kebun.” Ucap Vadeo yang kini sudah menelan buah durian di dalam mulut nya.


“Ya sudah aku tutup, cepat pulang ya...” ucap Alexandria di balik hand phone Vadeo dan sambungan teleponnya pun kini sudah terputus. Alexandria hanya ingin memastikan semua baik baik dan memperingatkan agar tidak berlama lama di bukit.


Setelah mereka semua sudah selesai menikmati buah buah lezat itu...


“Oma tan Papa tuyun yebih duyu.. (Oma dan Papa turun lebih dulu).” Perintah Valexa pada Oma dan Papa nya.


“Oma tan yama dayan na.. (Oma kan lama jalan nya..)” sambung Deondria.


...