Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 192.


Detik berganti detik menit berganti menit jam berganti jam hari berganti hari. Esok hari pun telah tiba.


Vadeo dan Alexandria sudah siap untuk pulang ke Jakarta dan harus kembali bekerja untuk Jonathan Co dan William Group.


“Apa Aca dan Aya sudah siap?” tanya Vadeo sambil menutup koper besarnya.


“Jika Nanny tidak melaporkan sesuatu dan tidak meminta bantuan kita pasti mereka berdua tidak membuat heboh dan membikin pusing Nanny.” Jawab Alexandria sambil mengecek tidak ada barang barang yang ketinggalan di kamar Villa.


“Sejak tahu mereka akan punya adik, mereka lebih manis tingkah lakunya. Dan lebih mandiri.” Ucap Vadeo lalu bangkit berdiri dan menarik koper besar itu dibawa keluar dari kamarnya. Alexandria pun juga turut keluar mengikuti langkah kaki sang suami.


Saat sudah berada di luar kamar tampak Nyonya Jonathan dan Nyonya William juga sudah siap dengan koper besar mereka berdua. Ekspresi wajah mereka berdua terlihat tidak bahagia.


“Oma kenapa ikut pulang. Santai santai di sini dulu juga tidak apa apa.” Ucap Alexandria sambil menatap dua Oma.


“Sepi Al, kalau tidak ada kalian.” Ucap Nyonya William dengan nada dan ekspresi wajah sendu, sebab dia merasa belum puas berlibur di pulau Alexandria.


“Mama kenapa kemarin tidak mengajak Dealova?” ucap Alexandria sambil berjalan menuju ke kamar anak anaknya. Karena kedua anaknya belum juga keluar dari kamar mereka.


“Sibuk pameran katanya.” Ucap Nyonya William agak keras agar didengar oleh Alexandria yang terus melangkah menuju ke kamar Valexa dan Deondria.


Sedangkan Vadeo terlihat berbicara serius dengan Nyonya Jonathan. Membahas Justin yang sudah akan bebas.


Sesaat kemudian Alexandria sudah keluar dari kamar Valexa dan Deondria. Dua bocah itu tampak berjalan digandeng oleh Alexandria di samping kanan dan kiri.


“Oma Oma di cini aja nundu Opa Opa... (Oma Oma di sini aja nunggu Opa Opa..).” Ucap Valexa dan Deondria sambil berjalan dalam gandengan tangan Sang Mama.


“Nunggu dalam ketidak pastian.” Gumam Nyonya William karena dia tidak tahu jika suaminya akan datang ke pulau Alexandria. Sementara Nyonya Jonathan tidak menghiraukan ucapan Valexa dan Deondria sebab sedang serius berbicara dengan Vadeo tentang Justin, Wika dan Boy anak mereka.


Sesaat kemudian muncul Bang Bule Vincent dan Ixora. Tampak wajah Ixora sangat pucat mungkin karena terlalu banyak sesi yang mereka lakukan. Nyonya William memandang dengan seksama wajah Ixora.


“Kamu sakit Ix?” tanya Nyonya William kepo.


“Enggak Ma.” Jawab Ixora sambil berjalan di samping Suaminya.


“Hanya capek berjuang keras Ma.” Ucap Bang Bule Vincent sambil tersenyum wajah Bang Bule Vincent terlihat segar dia sangat puas melakukan bersesi sesi tanpa gangguan. Dan berharap junior nya segera hadir di perut sang istri. Dia sudah kalah jauh dengan Vadeo.


Mereka semua akhirnya duduk di ruang keluarga yang cukup luas di dalam bangunan Villa itu sambil menunggu mobil yang akan membawa mereka ke tempat pesawat terparkir.


Sesaat salah satu Pak Sopir datang memberi tahu jika ketiga mobil sudah siap mengantar. Mereka semua pun langsung bangkit berdiri dan berjalan keluar dari bangunan Villa itu. Valexa dan Deondria berjalan sendiri tidak mau lagi digendong oleh Vadeo atau pun Bang Bule Vincent juga Richardo. Mereka segera masuk ke dalam mobil dan ketiga mobil pun segera berjalan menuju ke tempat pesawat yang terparkir dan siap mengudara untuk mengantar mereka.


Sementara itu di lapangan golf. Tuan Jonathan dan Tuan William juga sudah siap di mobil golf yang akan mengantar mereka menuju ke pesawat yang akan datang.


Tuan Rangga dan Juna cucunya pun juga sudah siap. Demikian juga tim dokter yang ditugaskan untuk menjaga kesehatan Tuan Rangga.


“Apa Opa Jo memberi tahu pada mereka kalau kita akan ke pulau Alexandria?” Tanya Tuan William yang tidak memberi tahu pada istrinya juga kedua puterinya.


“Tidak, buat surprise. Pasti mereka mengira kita akan menjemput mereka he... he... he.. “ ucap Tuan Jonathan sambil tertawa kecil.


Sesaat kemudian terdengar bunyi pesawat di atas lapangan golf. Dan mobil golf itu pun mulai berjalan menuju ke tempat biasanya pesawat mendarat.


Beberapa menit kemudian mobil golf sudah sampai dan berhenti di tepi pada jarak yang aman. Para pengawal pun menurunkan koper koper besar. Tuan Jonathan dan Tuan William turun dari mobil golf dengan pandangan mata tertuju pada pesawat yang sedang dalam proses mendarat.


Tidak lama kemudian pesawat pun sudah mendarat dengan sempurna. Pintu pesawat terbuka dan tangga untuk turun sudah siap sedia. Vadeo berjalan menuruni anak tangga dan di samping kiri dan kanannya Valexa dan Deondria yang dia gandeng tangan mungilnya.


“Opa.....” teriak Valexa dan Deondria lalu melepas gandengan tangannya dari Sang Papa dan kedua bocah itu berjalan dengan cepat menuruni anak tangga hingga Vadeo pun dibuat cemas hatinya.


Sesaat Vadeo terbelalak matanya saat melihat melihat Juna yang sedang mengatur kursi roda dan banyak koper besar berada di tempat itu.


Vadeo pun melangkah menuruni anak tangga dengan lebih cepat. Dan di belakangnya tampak yang lainnya juga sudah mulai bergilir menuruni anak tangga.


Valexa dan Deondria tampak sudah berada di depan Tuan Jonathan dan Tuan William. Kedua bocah itu tidak mau digendong oleh Opa Opa mereka.


“Atu cudah becal Opa ga ucah didendong... (Aku sudah besar Opa ga usah digendong)” ucap Valexa yang akan digendong oleh Tuan Willam


“Iya Opa atu cudah mau punya adik duwa... (Iya Opa aku sudah mau punya adik dua..).” ucap Deondria menambahkan.


“Ha... ha... kalian tetap gadis cilik Opa Sayang....” ucap Tuan William dan terus mengangkat tubuh mungil Valexa.


“Opa akan tetap gendong kalian selagi Opa masih kuat.” Ucap Tuan Jonathan yang juga tetap menggendong tubuh mungil Deondria.


Di saat Tuan Jonathan dan Tuan William masih menggendong Valexa dan Deondria sambil menciumi wajah kedua bocah itu. Vadeo sudah berada di dekat mereka


“Pa, ada apa ini kok banyak koper besar? Ada Tuan Rangga dan tim medis lengkap?” tanya Vadeo pada Sang Papa dengan nada serius dan ekspresi wajah penuh kekhawatiran.


“Kami akan gantian berlibur di pulau Alexandria. Tuan Rangga juga ingin menginjakkan kaki ehhh..” ucap Tuan Jonathan lalu terhenti kalimatnya ingat koreksi kalimat dari Sang besan.


“ingin datang ke pulau Alexandria, beliau yang sudah membacakan manuskrip kuno itu, mosok dia hanya membaca saja tidak melihat langsung pulau Alexandria.” Ucap Tuan Jonathan selanjutnya.


“Tapi Pa, perjalanan jauh. Kalau ada apa apa kita nanti disalahkan oleh anak anak beliau.” Ucap Vadeo dengan nada serius dan penuh kekhawatiran.


“Kamu tanya langsung saja pada Tuan Rangga.” Ucap Tuan Jonathan dengan nada datar.


“Pa, Tuan Rangga sudah sangat tua untuk perjalanan jauh. Resiko tinggi Pa.” Ucap Vadeo dengan nada dan ekspresi wajah yang sangat serius sambil menatap Tuan Jonathan.


“Aku bilang ke kamu. Tanyakan sendiri pada orangnya. Aku tidak memaksa.” Ucap Tuan Jonathan dengan nada serius sambil menatap Vadeo lalu menatap Tuan Rangga