
Bang Bule Vincent tampak membungkuk dan menghadapkan wajah nya pada wajah Ixora. Lalu tampak dia menciumi bibir Ixora. Sisa buah asam yang melekat di bibir Bang Bule Vincent pun masih terasa asam dan itu pun dirasakan oleh Ixora. Ixora pun akhirnya juga jadi bangun tersadar.
Bang Bule Vincent lalu membantu membangunkan Ixora dari posisi berbaring menjadi terduduk, dan dipeluk nya dengan posesif tubuh isterinya itu.
“Bahaya apa?” tanya Bang Bule Vincent sambil menatap Richardo lalu menatap kedua keponakan nya yang duduk di singgasana. Ixora pun juga menatap kedua ponakan nya itu.
“Mereka baik baik saja.” Gumam Bang Bule Vincent dan Ixora yang masih menatap Valexa dan Deondria. Kedua bocah itu pun merasakan jika dipandang oleh Uncle dan aunty nya lalu telapak tangan mungil kedua bocah itu melambai lambai ke atas dan ke bawah sebai kode agar Bang Bule Vincent dan Ixora mendekat. Salah satu dari mereka pun telunjuk jari nya menunjuk ke bawah untuk menunjukkan ada buah buahan lezat yang bisa dimakan oleh Uncle dan Aunty mereka. Bang Bule Vincent yang melihat wujud buah durian besar yang tampak kulitnya sudah ada yang merekah. Aroma harumnya pun tercium saat ada angin yang berhembus. Tiba tiba Bang Bule Vincent menelan saliva nya sendiri yang keluar.
CLEGUK
“Ayo Bang. Jalan kaki biasa tidak apa apa. Itu Tuan Vadeo sedang mendapat telepon dari pilot. Bang Bule Vincent tolong cek orang orang yang bertugas di perbatasan.” Ucap Richardo lalu bangkit berdiri dan melangkah untuk bergabung kembali pada keluarga kecil Vadeo. Bang Bule Vincent pun segera mengambil hand phone dari saku celana cargo nya dan menghubungi anak buahnya yang bertugas di perbatasan. Lalu segera mengajak istrinya untuk bangkit dan menyusul Richardo menuju ke buah durian yang sudah menggoda.
Sementara itu Vadeo sudah selesai berbicara dengan sang pilot lewat panggilan suara.
“Bahaya apa Bro?” tanya Bang Bule Vincent saat sudah berada di dekat mereka.
“Anak buah yang berjaga mengatakan kondisi aman tuh Bro.” Ucap Bang Bule Vincent kemudian sambil mendudukkan pantatnya di tanah di depan buah duren yang menggoda. Ixora pun juga duduk di dekat Kakak nya sesekali menatap kedua kedua ponakan yang duduk di singgasana.
“Mama Jo menelepon pilot minta dijemput besok pagi. Mau ikut ke sini. Apa tidak bikin heboh tambah pekerjaan kita.” Jawab Vadeo.
“Dan ini Bro, kunci kerajaan itu masih ada. Kata Aca dan Aya, ular besar itu minta kita mengikuti dia untuk ke bawah tapi jalan nya susah.” Ucap Vadeo sambil menatap Bang Bule Vincent yang akan membuka buah durian. Vadeo pun menunjukkan kunci kerajaan itu.
Mendengar ucapan Vadeo itu, Bang Bule Vincent langsung menoleh menatap Vadeo yang sedang menunjukkan kunci kerajaan. Melihat satu buah kunci yang berwarna emas berkilau kilau. Ekspresi wajah Bang Bule Vincent tampak kaget..
“Bul kamu jangan pingsan lagi.” Teriak Vadeo yang khawatir jika Bang Bule Vincent pingsan lagi saat melihat kunci kerajaan ada di tangannya.
“Bro, berarti harta karun itu memang ada di pulau ini.” Ucap Bang Bule Vincent dengan nada dan ekspresi wajah serius. Vadeo pun menganggukkan kepalanya. Vadeo lalu mendekati pada kedua puteri nya dan tampak mereka bercakap cakap dengan serius.
Setelah bercakap cakap dengan Valexa dan Deondria. Vadeo tampak membujuk Alexandria dan Ixora agar kembali ke tempat mobil yang terparkir dan mereka berdua pulang ke rumah. Karena Valexa dan Deondria mengatakan jika jalan untuk menuju ke bangunan di bawah tanah itu sangat susah akibat timbunan timbunan material alam yang sudah ratusaan tahun. Jalan itu terbentuk karena untuk keluar masuk ular besar.
Sementara itu, di tempat lain. Di mansion Jonathan. Nyonya Jonathan dan Nyonya William masih menunggu kabar dari Sang pilot. Mereka berdua sangat senang dengan kabar jika di pulau Alexandria itu dulu ada sebuah kerajaan yang menjadi rebutan.
“Jam berapa besok pesawat akan tiba?” tanya Nyonya William pada besan perempuan nya.
“Masih menunggu izin dari Vadeo.” Jawab Nyonya Jonathan sambil mengusap usap layar hand phone nya yang masih mencari cari informasi kerajaan Asasta dari mesin pencarian.
“Kenapa Oma Jo, tidak langsung saja menghubungi Vadeo.” Ucap Nyonya William sambil mengusap usap hand phone nya untuk menghubungi Vadeo akan tetapi terdapat nada sibuk.
“Hhhhm pasti tidak boleh. Perkiraanku ya... permata langka itu dia temukan di bukit yang biasa mereka datangi itu. Aku ingat betul Vadeo mencurigakan saat pulang dari bukit itu. Oma William apa tidak melihat hal hal yang mencurigakan di bukit itu?” ucap Nyonya Jonathan dan tampak Nyonya William mengingat ingat kejadian saat dia berada di bukit. Akan tetapi dia tidak mengingat hal mencurigakan mengenai perhiasan langka. Yang dia ingat dia mencari cari tukang kebun.
“Aku ingat Vadeo memegang dada nya aku kira dia sakit. Itu pasti memegang saku dadanya yang berisi kotak perhiasan itu. Hmmm benar pasti mereka akan ke bukit itu lagi untuk mencari cari lagi benda benda peninggalan kerajaan itu.” Ucap Nyonya Jonathan sambil mengangguk anggukan kepalanya.
“Kotak perhiasan itu pasti tercecer saat orang orang yang rebutan menguasai pulau Alexandria.” Gumam Nyonya Jonathan menduga duga.
“Oooo mereka menggunakan Aca dan Aya untuk mencari cari benda benda antik yang tertimbun di dalam tanah. Aca dan Aya kan pernah menemukan cangkir nenek buyutku yang hilang satu itu. “ ucap Nyonya William dengan nada serius
“Aku cari cari di seluruh negeri berpuluh puluh tahun tidak ketemu. Eeee cucu cucuku itu yang menemukan dan ditimbun di kebun belakang Mansion oleh pengasuh Dealova gara gara dijatuhkan oleh Dealova saat kecil.” Ucap Nyonya William lagi yang mengingat Aca dan Aya yang bisa menemukan cangkir nenek buyut nya. (bisa di lihat di novel Alexandria *)
Dan saat mereka berdua masih menduga duga. Hand phone di tangan Nyonya Jonathan berdering dan nama kontak Sang pilot sedang melakukan panggilan suara. Dengan segera Nyonya Jonathan menggeser tombol hijau.
“Bagaimana jam berapa kamu jemput aku dan Oma William.” Ucap Nyonya Jonathan setelah menggeser tombol hijau.
“Tuan Vadeo tidak mengizinkan Nyonya, sebab saat ini dalam kondisi bahaya. Saya tidak diizinkan terbang sampai kondisi benar benar dinyatakan aman.” Suara sang pilot di balik hand phone Nyonya Jonathan. Nyonya Jonathan pun lalu memutus sambungan teleponnya.
“Sudah ku duga pasti Vadeo tidak mengizinkan. Bagaimana kalau kita mencari pesawat komersial yang menuju ke bandara terdekat dengan pulau itu. Lalu kita mencari sewaan kapal untuk menuju ke pulau itu..” ucap Nyonya Jonathan tampak berpikir pikir.
..