
Hari itu merupakan hari sibuk bagi Presdir WS Group. Bagaimana tidak, semua pekerjaan kantor ia selesaikan hanya dengan waktu tidak hampir satu hari. Biasanya Arsen mengerjakan itu dengan jangka waktu tiga hari karena meninjau perkembangan perusahaan cabang WS Group yang telah tersebar ke mancanegara.
Arsen memang sengaja menyelesaikan pekerjaan bisnisnya agar ia bisa berduaan dengan istri tercintanya, dan untuk menebus waktu tiga hari ia tidak bertemu dengan Amey. Sedangkan untuk Mark, Arsen menyuruh pria itu untuk cuti selama dua hari. Ia tahu kondisi hati Mark sedang buruk. Meskipun Mark tidak menyutujui keputusan Arsen, namun mau tidak mau ia harus menuruti perintah atasannya.
Malam itu Amey sementara menonton tv, tiba-tiba ilernya meleleh saat melihat tayangan televisi yang menampilkan berbagai jenis buah-buahan. Dan paling membuat iler Amey lebih meleleh, saat buah mangga yang masih muda dilahap oleh seorang selebriti pembawa acara dalam serial kuliner.
"Sayang?!" panggil Amey.
"Hmm," sahut Arsen yang sedang duduk di meja kerjanya sambil menatap monitor komputer.
"Aku mau makan buah mangga."
"Tunggu sebentar, aku akan mengambilkannya untukmu," tutur Arsen melepas penanya dan segera berdiri menuju kulkas untuk mengambil buah yang diingin Amey. Namun saat Arsen membuka kulkas, ternyata persediaan buah mangga sudah habis.
"Memey, buah yang kau inginkan sudah habis."
Amey tampak murung. Entah mengapa malam itu ia sangat ingin mengunyah mangga yang masih muda. Namun karena melihat situasi yang tak memungkinkan maka ia menunda hasratnya yang besar untuk menyicip buah itu.
"Aku akan menyuruh Mark membelikannya ... " Seketika Arsen tersadar jika Mark sedang cuti selama dua hari. "Ahhh shit!" geramnya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Amey bingung.
"Aku lupa, jika Mark sedang berlibur saat ini."
"Ohya, aku sebenarnya ingin kamu yang mencarikannya untukku Ars," pinta Amey.
"Baiklah. Aku akan pergi membelinya sendiri."
"Tidak Sayang. Aku punya usul yang bagus," ucap Amey.
"Katakan? Apapun akan aku lakukan untukmu, Memey."
"Benarkah?"
"Tentu saja."
"Apa saja?" tanya Amey lagi dengan tersenyum lebar.
"Ya! Apa saja. Meski kau meminta nyawaku sekali pun."
"Hahah! Sayang, kau berlebihan."
"Kalau begitu katakanlah."
"Aku mau kau mengambilkanku mangga, langsung dari pohonnya. Aku ingin buah mangga yang segar."
"Tapi kita tidak memiliki pohon mangga Memey."
"Aku punya ide?!" Mata Amey mengeluarkan binar.
***
"Ahhh sial! Kenapa juga aku liburkan si Jodi itu!" umpat Arsen kesal.
"Ayo Sayang. Katanya kamu bisa melakukan apapun. Huhh ternyata hanya di bibir saja! Buktikan dong!" ketus Amey.
Arsen mengepalkan tangannya, ia jengkel karena ia tidak bisa melakukan permintaan ekstrim Amey. Shitt! Aku harus bisa. Memey tidak boleh meremehkanku lagi!
"Ayo, Sayang semangat!"
Arsen menarik napasnya dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia merenggangkan seluruh otot pada tubuhnya. "Baiklah, Sayang. Ini terlalu muda untukku!"
"Buktikan, Sayang."
Malam itu merupakan malam yang kelam bagi Arsen. Bagaimana tidak, ia harus memkasakan dirinya untuk menuruti keinginan istrinya. Amey menyuruh Arsen untuk memanjat pohon mangga. Dan lebih parahnya lagi, pohon itu milik tetangga mereka.
Untuk pertama kalinya Arsen memanjat pohon mangga. Ia sama sekali tidak tahu cara memanjat. Kalau panjat tebing sih jangan diragukan lagi. Tapi ini? Panjat pohon mangga yang mungkin banyak lebah dan binatang-binatang kecil yang dapat melukai kulit mulus Pria Arogan itu.
Perlahan Arsen mulai menaiki pohon itu. Dengan hati-hati tangannya mulai meraih sebuah cabang dan mengeratkan pegangannya di sana. Di mata Amey, Suaminya itu sangat keren. Namun tidak bagi Arsen! Bagi dirinya, ia adalah seorang pria menyedihkan. Namun apa boleh buat, ini merupakan permintaan sang Istri tercinta. Dan mungkin juga permintaan si kecil di dalam perut Amey.
"Memey menepilah, aku akan menjatuhkan buahnya."
"Baik, Sayang," tutur Amey di bawah sana.
Satu demi satu ia jatuhkan dan Amey yang memungutnya. Namun secara tidak sengaja Arsen menyenggol sebuah sarang lebah dengan tangannya. Beberapa saat kemudian pria itu tersadar jika yang disentuhnya bukanlah buah.
"Memeyyyy!" teriak Arsen.
"Ada apa, Ars?!" tanya Amey panik.
"Ada apa dengan wajahmu?"
"Di sini banyak lebahhhhhh!"
Buggggh!
Akhirnya Arsen terjatuh dari atas pohon.
"Sayang! Ke--kenapa kau terjun bebas?"
"Memey, wajahku ... " menyembunyikan wajahnya dari Amey.
"Sini aku lihat."
"Tidak! Tidak boleh!" ketus Arsen.
Tentu saja ia malu menunjukkan wajahnya pada Amey karena wajahnya itu telah bengkak akibat sengatan lebah. Julukan yang cocok buat pria arogan itu adalah si buruk rupa.
"Ars, kau mendengar suara itu?" tanya Amey lirih.
"Wajahku?! Ohh no!" ketus Arsen dengan kesal dan emosi. Ia tidak lagi memperdulikan ucapan Amey.
"Sayang, aku mendengar ada suara-suara geraman yang aneh. Sebaiknya kita pergi dari sini."
Arsen tiba-tiba menepis tangan Amey. Ia benar-benar telah naik pitam. Amey pun yang menerima perlakuan kasar dari Arsen, langsung meraih wajah pria itu dengan kedua tangannya.
"Ya Tuhan! Wa--wajahmu?! Ars ... wajahmu merah dan beng--kak!" celutuk Amey kaget.
Arsen tak menggubris. Ia menatap Amey dengan tajam. Namun tiba-tiba suara gonggongan anjing terdengar sangat dekat. Mata kedua orang itu melebar.
"Sayang, tunda dulu amarahmu. Sekarang ayo kita lari! Sepertinya anjing-anjing itu sangat ganas!"
"Kau benar! Naiklah ke punggungku, Memey. Kau tidak boleh berlari!"
Amey menuruti perintah Arsen. Secepat kilat Arsen berlari menjauh dari halaman rumah itu. Demi Amey, Arsen rela melakukan hal yang konyol dengan mencuri buah milik tetangganya. Untuk pertama kalinya Arsen mencuri dan itu di tengah malam pula. Dan sialnya, kawanan lebah menyerang wajah tampan Arsen sehingga tampak seperti julukan Amey saat pertama jumpa dengannya.
Arsen berlari dengan terengah-engah. Pak Muklis yang menjaga gerbang utama pun terheran-heran melihat tingkah kedua majikannya. "Kenapa Tuan dan Nyonya berolahraga di tengah malam? Dan apa yang dipegang Nyonya? Kelihatannya itu buah mangga. Astaga! Jangan-jangan Tuan dan Nyonya mencuri buah milik tetangga? Hahahahhaha!"
"Shut up, Muklis!" teriak Arsen kesal.
Muklis terperanjat dan langsung mematung. Ia membungkam mulutnya rapat. Sedangkan Arsen masih dengan posisinya mendukung Amey.
"Ars, turunkan aku. Anjingnya sudah tidak ada."
"Kau yakin?"
"Hmmm."
Arsen menurunkan Amey di depan pintu. Ia berjalan meninggalkan Amey karena merasa kesal dengan istrinya itu. Sedangkan di ruang tamu, masih ada Nenek Rempong yang sedang menonton drama Korea. Soffie yang melihat wajah Arsen langsung berteriak histeris.
"Aaaaaaa! Zooo--zombieee!"
Arsen melonjak kaget! "Zombie? Di mana? Di mana Zombie?!" tanyanya panik.
"Tolongggg! Ada Zombie di rumah ini!"
"Nenek! Ada apa teriak-teriak?" tanya Amey yang tak kalah panik dengan Neneknya.
"Amey, lari! Ada Zombie di rumah ini!" teriak Soffy semakin kencang sehingga membangunkan seisi mansion.
Arsen seketika terdiam. Ia menatap wajahnya dari pantulan lemari kaca di depannya. "My face?!" (Wajahku?!)
"Pelayan ambil semua perlengkapan dapur, kita akan berperang melawan Zombie!" perintah Soffy dan diikuti oleh semua pelayan yang begitu ketakutan.
"Nenek, tenanglah! Dia bukan Zombie, tapi Suamiku, Arsen!" jelas Amey menenangkan Soffy.
"Hah?! Menantu gila berubah jadi Zombie?! Astaga dragon!"
"Shitt!" teriak Arsen dengan melanjutkan langkahnya berjalan menuju lift.
"Nenek, aku akan jelaskan nanti. Aku harus menenangkan Arsen. Jika tidak ia akan menjadi buas!" tutur Amey berlari menyusul Arsen.
"Selamatkan menantu gilaku, dari kerasukan Zombie!" gumam Soffy lirih sembari menerawang ke atas.
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*