
Andra menjadi emosi saat Mark tiba-tiba menangkis pukulannya. Ia mencoba melepaskan cengkeraman tangan Mark namun itu hanyalah sia-sia. Lengan kekar dan berotot milik Mark, mampu meremukkan tulang lengannya hanya dengan sekali remas.
"Kau rupanya!" tutur Mark sinis.
"Apa kau mengenalku?!" tanya Andra.
"Ternyata kau pria b*jingan yang membuat gadis dasi merah ini sampai membuang ingus di pakaianku?!" Mark menggeram kesal.
Andra semakin tak paham dengan ucapan Mark. Sedangkan Lily yang melihat Mark hanya bisa termangu dengan mata yang melebar. Ia sangat kenal dengan pria dingin di depannya.
"Gadis dasi merah?" Andra mengerutkan kening dan lekukan tipis terbentuk di bibirnya. "Ouh! Jadi ini pacar baru kamu Jen? Haha, tidak buruk!"
Jen terbelalak. Ia tak menyangka jika Andra berani berkata seperti itu pada Mark. "Andra! Jaga bicaramu! Apa kau tidak mengenal Tuan Mark?!" tanyanya dengan nada tinggi.
"Hahah! Memangnya pacar barumu ini aktor? Ohya, tapi sepertinya aku pernah melihat pria ini. Tapi di mana? Ehm, coba ku pikir-pikir dulu." Andra memutar otaknya untuk mengingat kembali, di mana ia bertemu Mark sebelumnya.
"Sayang! Ini Tuan Mark! Asisten Tuan Arsen dari WS Group, tempat papaku bekerja!" bisik Lily.
Deg!
Andra menelan saliva kasar. "K--kau yakin Sayang?"
"Aku sangat yakin. Apa kau tidak pernah melihat berita atau majalah-majalah yang di mana semuanya itu selalu menampilkan wajah Tuan Mark dan Tuan Arsen!"
"Mana ku tahu?!"
Pria ini yang pernah aku lihat di lampu merah bersama gadis ini juga! Ya, mereka berdua yang sedang asik bermesraan di atas motor di siang bolong. Batin Mark.
"Tuan, lebih baik kita pergi dari sini," ajak Jen yang tak sadar menarik lengan Mark.
Sangking kuatnya dan kekarnya lengan Mark, Jen pun tak bisa menariknya. Ia kesulitan menggerakkan lengan Mark yang mengeras layaknya batu. Melihat Jen yang sembarangan menyentuh tangannya, membuat Mark melepaskan cengkeraman Jenifer dengan kasar.
"Tuan, ayo!"
Mark menatap Lily dan Andra dengan sinis. Tatapan itu seolah mengintimidasi kedua orang yang sedang berdiri mematung tak bergeming. Apalagi saat Lily memberitahu Andra, jika Mark bukanlah pria sembarangan. Nyali Andra langsung menciut, bagai tikus yang diguyur air.
Setelah puas memberikan tatapan membunuh pada kedua orang itu, Mark pun langsung melangkahkan kakinya dan menyusul Jen yang sudah lebih dulu meninggalkan Andra dan Lily. Raut Jen memerah, karena menahan rasa sakit hati yang teramat dalam.
Jen menghentikan langkahnya saat sudah berada di luar restoran. Ia mengepalkan tangannya dengan erat. Tapi bulir-bulir air mata yang sedari tadi ia bendung kini terjatuh membasahi pipi Jen. Mark pun menghentikan langkahnya. Suara isakan Jen mampu membuat Mark kembali naik pitam.
"Kau menangisi laki-laki br*ngsek seperti dia?" tukas Mark tiba-tiba.
"Tidak! Aku tidak menangis. Tapi mataku berkeringat."
Mark menatap kepalan tangan Jen. Ia pun kembali jengkel dengan sikap Andra yang bisa-bisanya membuat seorang wanita menangis. Tanpa berpikir lagi Mark segera masuk kembali ke dalam restoran dan mendapati Andra dan Lily yang sedang asik melanjutkan aktivitas mengunyah mereka.
Dengan penuh murka, Mark menarik kerah baju Andra. Lily dan Andra terkejut bukan main. Mereka pikir mereka telah aman, dan telah usai berurusan dengan Mark. Tapi nyatanya, tidak semuda itu mereka lolos dari buruan singa.
"Ikut aku keparat!" geram Mark masih menarik kerah baju Andra.
"Hey, Tuan! Lepaskan tanganmu dari bajuku!" pekik Andra.
Untuk pertama kalinya dalam hidup Mark, ia melakukan hal gegabah. Mark yang dikenal sebagai pria sabar yang mampu menahan emosi yang berpuluh-puluh kali lipat, kini menjadi pria yang sangat agresif. Ia juga sudah tidak lagi memperdulikan sorot-sorot mata yang menatapnya.
Sedangkan di depan pintu restoran, Jen masih asik berbicara dan tidak mengetahui jika pria yang diajaknya bicara sudah tidak ada lagi di belakangnya. Tiba-tiba, Mark lewat dengan membawa Andra di depan Jen.
"Astaga, Tuan!" gumam Jen terkejut.
"Kau minta maaflah pada wanita ini!" perintah Mark pada Andra.
Andra menatap Jen. Ia melihat mata Jen yang sembab akibat menangis. "Minta maaf sama perempuan miskin ini? Cih! Jangan mim--"
Buggggg!
Satu pukulan maut mendarat tepat di bawah bibir Andra. "Jika bibirmu tidak berbicara, maka kepalan tanganku ini yang akan memaksamu bicara!" tegas Mark penuh amarah.
Jen melonjak kaget. Ia tidak pernah berpikir jika seorang pria yang cuek dan dingin seperti Mark, ternyata sangat perhatian. Buktinya Mark rela-rela menyeret bahkan memukul Andra hanya karena seorang Jen, wanita asing yang sama sekali tidak disukainya.
"Apa kau menyukai wanita miskin ini, sampai-sampai kau memukulku, Tuan yang terhormat?!" sindir Andra tersenyum kecut.
Merasa jengkel dengan ucapan Andra, Mark pun berancang-ancang untuk menancapkan pukulan lagi di wajah Andra, tapi Jen menahan lengan kekar itu. "Jangan Tuan! Jangan kau kotori tanganmu yang bersih hanya karena untuk memukuli laki-laki tak berakhlak ini!"
Mark menatap Jen lekat. Setelah itu ia menarik kembali tangannya yang dipegang Jenifer. Mark kembali menatap Andra. Laki-laki itu tidak dapat bicara lagi setelah menerima satu pukulan beringas dari Mark.
Setelah menyadari perbuatannya, Mark melangkahkan kakinya dan meninggalkan Jen dan Andra. Melihat Mark telah berlalu, barulah Lily berani muncul di depan Andra. Sebenarnya Lily juga takut jika harus terlibat dengan Mark. Pikirnya karrier papanya akan berakhir jika itu terjadi.
"Sayang, kau tidak apa-apa?" tanya Lily pada Andra.
Jen yang tadinya berniat membantu Andra, kini membuang jauh-jauh niatnya itu saat Lily datang. "Menjijikkan!" gumam Jen, setelah itu berlari menyusul Mark.
"Tuan, tunggu!"
Mark tidak memperdulikan teriakkan Jen. Ia masuk ke dalam mobil dengan segera. Sedangkan Jen di luar sana masih mengetuk-ngetuk jendela mobil Mark. Pria itu pun akhirnya menurunkan kaca mobilnya karena tak sanggup mendengar rontahan Jen.
"Jangan besar kepala kamu! Aku memberinya pelajaran karena dia memang pantas untuk dihajar. Jangan berterima kasih padaku!" Mark menutup kembali jendelanya dan menginjak pedal gas dengan kencang, meninggalkan Jen.
"Tu--tuan! Aku hanya ingin mengembalikan dompetmu! Kau menjatuhkan benda ini!" teriak Jen, namun tidak di dengar Mark.
Mark memanglah tidak sadar jika dompetnya terjatuh saat ia berjalan meninggalkan Jen dan Andra di depan restoran. Untunglah Jen yang memungutnya dan berniat untuk mengembalikan benda itu kepada sang pemilik. Tapi karena Mark tidak ingin lagi berurusan dengan Jen, maka pria itu langsung cepat-cepat pergi.
"Bagaimana aku mengembalikan benda ini pada Tuan dasi merah? Apa aku harus mengejarnya dengan motor? Tapi kelihatannya Tuan dasi merah sudah jauh dari sini. Baiklah Jen, kau bisa membawanya ke tempat tinggalnya. Pasti di dalam sini ada alamatnya. Tuan aku ijin membukanya ya, aku tidak akan mengambil apa-apa, hanya ingin melihat alamat tempat tinggalmu saja," gerutu Jen sembari membuka dompet itu.
Jen pun menemukan sebuah kartu nama beserta alamat tempat tinggal Mark. Tapi tiba-tiba matanya tidak sengaja menatap sebuah foto perempuan yang terselip di belakang kartu nama Mark.
"Apa ini pacarnya Tuan? Atau mungkin adiknya? Hmm, cantik sekali," gumam Jen memandangi foto wanita berperawakan bule itu.
***
Setelah tugas Mark selesai, bertemu dengan Mr. Dusley, kini ia tiba di gedung Alganda Group untuk menjemput kedua majikannya. Saat Mark memasuki ruangan direktur utama, ia mendapati Amey yang tengah duduk sambil mengelus perut karena kekenyangan.
"Hey Mark, kau sudah datang rupanya. Ohya, apa kau menerima hadiah kejutan dariku?" tutur Amey tersenyum kecil.
"Iya Nyonya."
"Bagaimana menurutmu, Jen manis 'kan? Selain manis dia juga cantik, bukan? Pasti kau sudah jatuh cinta padanya. Haha!"
Seperti dugaanku! Nyonya memang sengaja mengirim gadis dasi merah itu. "Tidak Nyonya. Gadis itu sangat ceroboh dan ... "
"Dan ..."
Dan sangat jorok!
"Dan apa?" desak Amey.
"Tidak Nyonya, Nona Jenifer lumayan. Tapi saya tidak tertarik padanya."
"Peff-bwahahahaha! Mark ... Mark! Kau akan segera jatuh cinta padanya jika kau selalu bertemu dengannya. Percaya kata-kataku!"
"Sama sekali tidak Nyonya."
"Baiklah kita lihat saja nanti!" Amey menyunggingkan bibirnya.
"Mark! Apa yang kau bicarakan dengan Memeyku!" tukas Arsen tiba-tiba.
Mark menatap wajah Arsen yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Ia menunduk memberi hormat. "Bukan apa-apa Tuan."
"Kau menggoda Memeyku?! Apa kau mau mati, hah?!"
"Sayang, kau jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku dan Mark sedang membahas mengenai istri masa depan Mark. Benarkan Mark?"
"Tidak Tuan. Nyonya hanya asal bicara."
"APA! Mark akan menjadikanmu istrinya?! Bedebah gila!" berlari mendapati Mark, dan ingin memukulnya.
Amey menepuk jidatnya. "Astaga! Sayang, hentikan! Maksudku, Jenifer yang akan menjadi istri masa depan Mark, bukan aku! Kamu gimana sih Sayang, masa aku menikah lagi!"
Mendengar ucapan Amey, membuat emosi Arsen surut. Ia tidak jadi memukul Mark dan berjalan menghampiri istrinya.
"Mark keluarlah, aku ingin berolahraga sebentar dengan Memeyku!"
To be continued ...
Dukung Author dengan memberi Like, Komen, Vote dan Rate :*