Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Dua Ed VS Kaisar


Malam semakin larut, Arsen dan Amey masih dalam perjalanan menuju mansion. Wajah kedua orang itu terlihat letih dan tak berenergi. Selama satu hari mereka tidak beristirahat, dan terus bekerja. Sebagai pimpinan di sebuah perusahaan ternama, Arsen secara langsung turun lapangan, dan meninjau berbagai kegiatan dan aktivitas yang dilakukan bawahannya.


Sekitar tujuh gedung yang sementara di bangun di Kota X. Arsen tidak ingin para bawahannya membangun gedung itu dengan sembarangan. Bagi Arsen, semuanya harus sempurna dan sesuai dengan keinginannya.


Amey sebagai direktur dari perusahaan real estate, Alganda Group yang berada dibawah naungan Winston Group, memainkan perannya sebagai kolega sekaligus istri. Di sela kesibukan Arsen, Amey pun sesekali memperhatikan suaminya dan memberikannya semangat.


Sesekali Amey menjadi pawang penjinak setiap kali Arsen naik pitam. Hanya Amey yang bisa mengendalikan tempramen suaminya yang bagai temperatur. Jika berurusan dengan Arsen, masalah kecil bisa menjadi masalah besar. Maka dari itu, semua yang bekerja di bawah Arsen bisa bernapas legah karena bos buas mereka telah menemukan pawangnya.


"Sayang, apa kau lelah?" tanya Arsen.


"Lumayan," menggerakan bahunya.


"Maaf Sayang, aku tidak bisa menjadi bantalmu saat ini. Kalau saja Mark di sini dan menyetir mobil, aku sudah pasti memberikan bahuku menjadi sandaranmu."


"Tidak apa-apa Sayang. Lagian yang lelah itu kamu. Sini biar aku yang menyetir dan kau istirahatlah," tawar Amey sambil tersenyum.


"Tidak. Biar aku saja." Arsen memegang tangan Amey dan menciumnya.


"Aku kangen pada anak-anak kita. Kira-kira apa yang mereka lakukan seharian bersama Kaisar dan Jayden ya?"


"Dengan keaktifan mereka, pasti Mark, Jayden dan Kaisar sudah mati suri. Haha!" Arsen terkekeh.


"Lah, bukannya kau menyuruh Mark berkencan dengan Jenifer?"


"Hmm," mengangguk. "Tapi sebelumnya aku menyuruh Mark untuk menjemput Keempat Ed. Dan aku yakin sekali kalau Mark bersama Edgar. Secara anak kita yang satu itu sangat menyukai pamannya."


"Astaga Ars! Kau mengerjai Mark lagi?"


Arsen tersenyum licik.


"Untunglah Mark laki-laki tersabar sedunia. Kasihan sekali kau Mark. Hidupnya memang tak pernah tenang kalau bersama denganmu, Sayang. Haha! Semoga saja Edgar tak mengganggu kencan perdana mereka."


"Aku yakin kalau Mark sedang memakiku. Hahah! Biar saja, kenang-kenangan di masa lajangnya. Kalau Mark sudah menikah pasti dia akan memprioritaskan keluarganya. Jadi, aku mengambil kesempatan untuk mengerjainya habis-habisan."


"Jiwa licikmu tak pernah berkurang ya? Makanya keempat Ed memiliki sifat sepertimu, karena gen-mu yang dominan! Pokoknya anak selanjutnya harus mewarisi gen-ku!"


Arsen menyunggingkan bibir. "Kita lihat saja nanti."


Amey mendengus kesal. Ia menatap Arsen dengan seksama. Amey tersenyum kecil. "Arsen?" panggilnya dengan lembut.


"Ada apa, Sayang?"


"Aku sangat mencintaimu."


Arsen tersipu malu. Ketiga kata itu merupakan kelemahan terbesarnya saat menghadapi Amey. Seketika jiwa bucinnya melonjak. "Memey Sayang, kau jangan memancingku di tempat gelap seperti ini. Nanti saja kalau sudah sampai mansion. Aku pastikan 24 ronde nonstop menanti!"


Deg!


"Kenapa setiap kali aku mengatakan tiga kata itu, kau selalu mengancamku?! Dan ujung-ujungnya berakhir di ranjang!" ketus Amey.


"Tentu saja, Sayang. Karena aku sangat mencintaimu. Aku ingin semua yang ada padamu menjadi milikku!" tersenyum licik.


Amey kembali tersenyum dan memeluk Arsen. "Trima kasih telah mencintaiku. Aku menyayangimu, Ars. Menualah bersamaku sampai ajal menjemput."


Arsen mengecup puncak kepala Amey. "I Love You so much! I Love You Forever!" bisik Arsen dengan lembut.


***


Seharian menjadi pengasuh anak yang memiliki kelincahan di luar nalar, memanglah menguras energi yang banyak. Itulah yang dialami Mark dan Jen. Seharusnya hari itu menjadi hari yang berkesan indah bagi hubungan keduanya, namun malah sebaliknya.


Dibanding Mark, Jen sangat menyukai kencan bertiga mereka. Dengan adanya anak jadi-jadian itu, membuat kencan mereka lebih berwarna dan menantang. Meski masih kecil, Edgar memiliki kelebihan sebagai pencair suasana disaat canggung dan kaku. Berkat Edgar juga, Mark yang sulit sekali melekukan bibir, kini mendadak menjadi pria yang suka tersenyum.


Walaupun mendapat jukukan bermacam-macam, seperti anak jadi-jadian, tuyul, anak gaib, makhluk astral dan lain-lain, mereka tetaplah seorang manusia berumur enam tahun yang bisa merasakan kelelahan. Setelah seharian beraktivitas, Edgar merasa lelah sehingga ia langsung terlelap.


Mark membawa anak itu menuju apartemennya dan bermaksud menidurkan Edgar di sana. Mark sebelumnya telah mendapat pesan dari Arsen, kalau mereka akan pulang larut malam, sehingga Edgar harus lebih lama bersamanya. Arsen juga mengatakan kalau ia akan menjemput Edgar di apartemen Mark jika dirinya dan Amey telah berada di Jakarta.


Setelah mobil Mark terparkir, ia kemudian menggendong Edgar yang sudah terlelap. Jen yang melihat Mark menggendong Edgar, mulai membayangkan posisi mereka saat menikah nantinya. Seorang ayah akan menggendong anaknya dengan penuh kasih sayang saat anaknya tertidur.


Kira-kira beginilah jadinya kalau aku dan Tuan Mark telah menikah dan memiliki anak. Uhhhh bahagianya diriku!


Jen memandangi tubuh atletis Mark dari belakang. Penampilan Mark bertambah maco dan maskulin saat menggendong Edgar. Wibawa Mark sangat terpampang saat ia bertanggung jawab mengasuh Edgar. Jiwa kebapak-bapakannya membuat Jen semakin klepek-klepek pada Mark.


"Sekretaris Jenifer, sampai bertemu besok," tutur Mark, berhenti di depan pintu apartemen Jen.


Jen mengangguk. "Trima kasih untuk hari yang menyenangkan ini, Tuan."


Akan lebih menyenangkan jika si tuyul ini tidak mengikuti kita seharian. Batin Mark. "Sama-sama. Masuklah."


"Aku akan masuk, setelah melihat Tuan masuk ke dalam apartemen Tuan," ucap Jen.


"Baiklah. Istirahatlah." Mark berjalan mendekat ke arah pintu dan mengisi sandinya. Ia menatap Jen dam tersenyum pada wanita itu sebelum ia masuk ke dalam.


Jen pun membalas senyuman Mark.


Kedua orang itu masuk ke dalam apartemen mereka masing-masing. Mark meletakkan Edgar di atas ranjang dan menyelimutinya. Mark tersenyum kecil saat mendengar dengkuran Edgar yang lama-kelamaan semakin menggelegar. "Kau memanglah mirip sepertiku," gumamnya.


Mark membersihkan dirinya di kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri, Mark mengambil tabletnya dan memeriksa jadwal Arsen besok hari. Mark mempersiapkan segala yang dibutuhkan Arsen dengan menyusun semua dokumen yang diperlukan Arsen.


Ditemani dengan segelas susu hangat, ia mulai mengerjakan tugasnya sebagai asisten pribadi Arsen. Namun ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Ia merasa kalau sedari tadi ia sedang diawasi. Mark menatap pintu kamarnya yang telah terbuka.


"Uncle ... ?"


Mark melonjak saat melihat Edgar yang muncul tiba-tiba di hadapannya. Mark memang sengaja mematikan lampu utama dan hanya menyalakan lampu remang-remang saja, sehingga pencahayaan di ruang kerja Mark tidak terlalu terang.


"Tuan Muda Kecil? Sejak kapan kau berada di sini?"


"Entahlah," tutur Edgar menguap. Ekspresi anak itu terlihat lesu karena setengah nyawanya tertidur dan setengahnya lagi beraktivitas.


"Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Mark lagi.


Edgar mengangguk dengan mata yang sayu. Ia memegang tangan Mark dan menariknya menuju kamar. "Uncle, aku takut tidur sendirian. Aku selalu tidur bersama saudara-saudara kembarku. Dan mereka tidak di sini," lirih Edgar.


Mark pun merasa kasihan dengan Edgar. "Baiklah, ayo kita ke kamar."


Edgar mengangguk pelan. Saat mereka berjalan menuju kamar, tiba-tiba Edgar terjatuh.


Brukkkk!


"Tuan Muda Edgar!" Mark mengangkat tubuh Edgar dan mendapati anak itu sudah tertidur lagi. Ia menggendong Edgar menuju ranjang. "Hmm, tidur sambil berjalan?!" lirihnya.


Mark meletakkan tubuh kecil Edgar di atas tempat tidur. Tak lupa juga ia menyelimuti anak itu dan kemudian terlelap di samping Edgar.


***


Di tempat lain, Edward dan Edzel sedang bermain PS. Sedangkan Kaisar masih dengan penampilannya yang terlihat kacau, merebahkan tubuhnya di atas sofa. Kaisar terlihat letih dan tak bertenaga. Suasana rumahnya pun terlihat berantakan layaknya kapal pecah.


Setelah cukup mengistirahatkan tubuhnya, ia beranjak dari sofa dan memandangi Edward dan Edzel. "Aku penasaran, kedua kurcaci ini terbuat dari apa?! Apa mereka tidak merasa lelah?"


"Uncle oh Uncle!" panggil Edzel.


"Ada apa?"


"Apa Daddy dan Mommy masih lama?"


"Sepertinya begitu. Uncle mendapat kabar kalau orangtua kalian masih dalam perjalanan."


"Uncle?"


"Hmm," sahut Kaisar, lemas.


"Bisakah Uncle membuatkanku roti lapis dan susu hangat? Mommy selalu membuatkan kami roti lapis dan susu hangat sebelum kami tidur."


"Baiklah. Tunggu di sini."


"Okey."


Dengan langkah yang pontang-panting, Kaisar menuju dapur. "Sialan! Di saat seperti ini, pembantu-pembantuku minta ijin liburan dua hari!" Matanya berkeliling menatap seisi rumah yang dipenuhi mainan. "Sepertinya aku akan lembur malam ini!"


Di ruang bermain, Edward dan Edzel tampak bosan.


"Edward?"


"Aku bosan."


"Aku juga."


"Kalau begitu ayo kita menyusul Uncle."


Edward mengangguk.


Kedua anak itu berjalan meninggalkan ruang bermain. Saat di perjalanan, mereka bingung arah dapurnya lewat mana. Mansion Kaisar sangat besar sehingga bisa membuat orang yang baru pertama kali ke tempat itu tersesat.


"Mungkin lewat sini," tutur Edzel memilih jalan sebelah utara.


Edward mengikuti arahan Edzel. Tak lama kemudian, sampailah mereka di sebuah ruangan yang sangat besar. Tempat itu adalah perpustakaan Kaisar.


"Ternyata Uncle memiliki perpustakaan seperti Daddy," gumam Edward. Karena ia gemar membaca, Edward pun segera masuk ke dalam dan mencari buku yang pas untuk ia baca.


"Edward, lihat itu!" menunjuk sebuah rak buku.


"Apa kau ingin membaca salah satu dari buku-buku itu?"


"Ya!"


Edward menuju rak buku yang tampaknya berisikan berbagai buku dongeng. Edward menaiki tangga kecil dan mengambil sembarang buku untuk dibaca Edzel.


Sementara di ruangan bermain tadi, Kaisar telah membawa dua gelas susu dan roti, namun ia melihat jika ruangan itu telah kosong. Kaisar menjadi bingung dengan hilangnya Edward dan Edzel. "Tuh 'kan hilang lagi tuh dua kurcaci! Ke mana lagi mereka berpetualang?! Hufthhh! Aku salut sama Arsen dan Amey yang sangat betah menjaga dan memelihara empat biang rusuh sekaligus!"


Kaisar berkeliling mansion sembari memanggil-manggil nama kedua anak itu. Lorong demi lorong telah ia jelajahi. Namun tak mendengar tanda-tanda kehidupan di sana. Tiba-tiba terdengar suara benturan yang sangat nyaring.


Brakkkkk!


Manik Kaisar melebar. "Suara apa itu? Sepertinya dari arah perpustakaanku! Goshhhh! Jangan-jangan terjadi sesuatu pada mereka!"


Kaisar meletakkan nampan di atas meja dan dengan segera ia berlari menuju ruang koleksi bukunya.


"Edward ... Edzel?!" panggilnya.


"Uncle!"


"Di mana kalian?"


"Di sini!"


Kaisar menuju sumber suara. Betapa terkejutnya Kaisar saat melihat beberapa rak bukunya telah ambruk. Ia berlari mendapati kedua anak itu dengan raut yang begitu panik. "Apa yang terjadi, hah?! Apa kalian terluka?"


Kedua anak itu menggeleng kepala.


Kaisar pun bernapas legah. Namun kelegaannya hanya sesaat. Ia kembali menyadari jika perpustakaannya telah berantakan, dan itu akan membuat waktu lemburnya bertambah.


*L*embur karena kerja?! Tidak! Lembur menata rumah?! Iya! Kalau begini terus, bisa-bisa aku mendapat phobia anak!


"Uncle!" panggil Edward.


Menyahut pun rasanya sangat sulit karena kehabisan energi.


"Yang sabar!" ketus Edward.


Deg!


Kaisar hanya bisa mengangguk dan menyapu dadanya. Ia pun merebahkan tubuhnya di lantai dan merengek seperti anak kecil. "Jika diperhadapkan dua pilihan, antara jomblo dan mengasuh anak, aku lebih memilih jomblo seumur hidup!" Seketika Kaisar sadar akan ucapannya. "Tidak tidak! Aku harus menikah dengan Zoey!" tersenyum menatap langit-langit. "Zoey ... kalau memang kita akan menikah nantinya, tolong! Lahirkanlah anak yang kalem, tenang dan tentunya tidak menjiplak sifat kedua kurcaci ini. Dan, jangan banyak-banyak! Cukup satu saja!"


Setelah mengeluarkan kalimat-kalimat terakhirnya, ia pun memejamkan mata dengan tubuh yang masih tergeletak di lantai. Edward dan Edzel pun berbaring di samping Kaisar dan tertidur dengannya.


***


"Kau menyukainya?"


Edhan mengangguk sembari memainkan busa.


"Bukan hanya wanita saja yang bisa memanjakan diri, pria pun juga bisa," tutur Jayden lagi.


Edhan dan Jayden terlihat sedang asik berendam di bak mandi yang berisikan air hangat serta taburan busa yang menghiasi bak mandi. Setelah seharian beraktivitas, mereka merileksasikan diri dengan berendam di bak mandi.


Sedari tadi Edhan merasa penasaran dengan botol aneh yang di pegang Jayden. Ia pun memperhatikan cara Jayden meneguk cairan dalam botol itu dengan ekspresi yang sangat menikmati.


"Uncle!"


"Why?"


"Bolehkah aku meminumnya juga?"


"Tidak boleh. Kau masih kecil. Minuman ini hanya untuk pria dewasa." Jay menggoyang botol itu yang ternyata berisikan anggur. "Minumlah itu!" menunjuk segelas susu yang telah disipakan Jayden untuk Edhan.


"Baiklah. Ayo Uncle, kita bersulang!"


Kedua orang itu bersulang layaknya seorang pasangan romantis. "Aku berharap yang ada di depanku adalah Miley! Namun faktanya si bocah kerdil titisan Arsen!"


"Bleeeee!" Edhan menjulurkan lidahnya dan meledek Jayden.


"Besok aku akan pergi ke rumah Miley! Apapun caranya, aku harus mendapatkan wanita itu!"


"Aku ikut!" tukas Edhan.


"Tidak bisa! Kau telah gagal menjadi partner detektifku!"


"Habisnya sih Uncle kayak anak kecil saja sembunyi-sembunyi. Kalau Uncle memang suka sama wanita bernama Miley, seharusnya Uncle gentle dong!"


Deg!


Benar juga kata kerdil ini.


"Uncle payah!"


"Bukan begitu konteksnya, bambang!"


"Siapa bambang?! Aku Edhan!"


Jayden menepuk jidatnya. "Ya ya ya terserah kau saja."


Edhan meneguk susunya, tak tersisa. "Uncle, sepertinya aku sudah selesai."


"Baiklah. Uncle juga sudah selesai. Ayo keluar dari sini."


Jayden dan Edhan pun keluar dari dalam bak mandi.


"Uncle, punyamu aneh!" menatap bawahan Jayden.


Jayden syok dan segera menutup senjatanya dengan kedua tangannya. "A--aneh bagaimana?"


"Loyoh sekali!"


Jay terbelalak. "Ya iyalah, 'kan si anaconda lagi tidur! Jelas saja loyoh."


"Bagaimana cara membangunkannya, Uncle?"


"Main lompat tali! Biar dia bisa bangun dan masuk ke dalam goa!" ketus Jay kesal.


Tbc ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*


.


.


.


Follow ig @syutrikastivani