
Kedatangan Arsen dan Amey di gedung itu lagi-lagi menghebohkan para karyawan. Pasalnya tidak ada pemberitahuan sebelumnya, jika atasan mereka itu akan mengunjungi Alganda Group. Sejak tiga bulan terakhir, Marklah yang paling sering datang dan menangani urusan kantor.
Kini bukan Mark yang datang, namun Arsen. Ia mengajak Amey, yang dimana wanita itu adalah pemilik asli perusahaan tersebut. Amey menarik napasnya dalam, ia menggandeng lengan Arsen dengan erat. Kepingan ingatan yang sempat hilang kembali terbayang menjadi satu bagian utuh di benaknya setiap kali ia menginjakan kakinya di gedung itu.
Para karyawan itu menundukkan kepala tidak berani menatap kedua orang yang melewati mereka. Jantung mereka pun memompa begitu hebat. Mereka tampak sulit bernapas, karena hawa dingin yang bertebaran di ruangan itu. Berkat kemurahan hati Amey sehingga mereka tidak ditendang dari perusahaan itu.
Padahal waktu lalu karrier mereka terancam karena mendengar jika Arsen akan merombak dan mengganti semua karyawan yang bekerja pada Lauren. Perasaan mereka bercampur aduk antara senang dan takut. Senang karena masih bisa menyandang status sebagai pegawai kantor, dan takut dengan atasan baru mereka yang sangat kejam.
Meskipun Amey sebagai presdir Alganda Group, tapi tetap saja suaminya Arsen Winston, pemimpin dari WS Group, perusahaan terbesar yang mampu menaklukan perusahaan-perusahaan lain hanya dengan satu kali hentakan. Apalagi Alganda Group juga sudah di bawah naungan WS Group, jadi Arsen bebas melakukan apa saja yang ia kehendaki.
"Sayang, kau tidak apa-apa?" tanya Arsen saat Amey mencengkram erat lengannya.
"Aku tidak apa-apa. Hanya saja, bayangan kedua orang tuaku, tiba-tiba muncul di ingatanku," tutur Amey lirih
"Baiklah, selesai dari sini, kita akan mengunjungi makam orangtuamu."
"Iya Sayang."
Kedua orang itu sampai di ruangan Lauren yang dulu. Ruangan itu banyak mengalami perubahan. Tentu saja karena atas perintah Arsen. Ia tidak ingin Amey merasa tidak nyaman saat berada di ruangan itu. Dan benar saja, walaupun tempat itu telah berubah namun serpihan kenangan masa lalu Amey masih menari-nari di kepalanya.
"Memey, kalau kau merasa tidak nyaman, ayo kita pergi dari sini."
"Tidak Sayang. Aku mungkin masih harus menyesuaikan diri dengan tempat ini."
Arsen menggenggam tangan Amey dan mencium punggung tangan istrinya. "Baiklah."
Tok ... tok ... tok
"Masuk," ucap Arsen.
Wanita tinggi berperawakan bule menghampiri Arsen dan Amey. Wanita itu adalah Eggie, karyawan Arsen dari mantan perusahaan induk di New York. Ia telah dipindah tugaskan lagi untuk menjadi sekretaris baru Amey.
"Maaf mengganggu Mr. Winston," tutur Eggie sembari menundukkan kepala.
Amey menatap Eggie dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ia sangat mengagumi penampilan Eggie yang elegan. Apalagi perawakan dan bentuk tubuh Eggie yang sangat sexy bagai gitar spanyol.
"Apa rapatnya akan dimulai?" tanya Arsen.
"Benar Tuan."
"Sayang, aku rasa aku belum siap untuk menghadiri rapat. Bolehkah aku di sini saja?" pinta Amey memelas.
"Tentu Sayang. Apa pun untukmu." Arsen tersenyum.
Eggie tercengang saat melihat keromantisan Arsen. Selama Eggie bekerja di perusahaan WS Group di New York, ia tidak pernah melihat Arsen semanis itu. Biasanya tampang yang selalu ditunjukkan bosnya datar, dan kalau pria itu murka pastilah ia akan berubah menjadi harimau kelaparan.
"Memey, perkenalkan ini Eggie. Dia akan menjadi Sekretarismu. Kamu jangan kawatir Sayang, Eggie akan membantumu dalam menjalankan perusahaan ini. Dia adalah orang keperayaanku saat di New York. Dia cekatan dan pandai," puji Arsen.
"Halo Nyonya. Perkenalkan saya Eggie," ucapnya memperkenalkan.
Amey mengangguk dan tersenyum kecil pada wanita itu. "Aku Amey."
Eggie pun membalas ucapan Amey dengan menundukkan kepala. Ia juga memperhatikan penampilan Amey yang juga sangat fashionable.
"Kalau begitu kau tunggulah di sini. Aku akan memesankanmu makanan yang banyak. Kau harus tetap sehat agar anakku di dalam sana juga sehat," mengelus perut Amey.
"Hmm, jangan lama-lama," ucap Amey.
Sebelum meninggalkan Amey, pria itu menyempatkan diri untuk mencium bibir Amey. Melihat itu, Eggie langsung memalingkan wajahnya dan menggelangkan kepala. Ia tersenyum kecil melihat tingkah Arsen.
"Ars, kau membuatku malu saja. Ada Eggie tuh yang liatin kita," ucap Amey memerah.
"Tidak apa-apa Sayang, dia sudah biasa melihat adegan seperti ini."
"Apa?"
"Iya, kau jangan heran dengan kehidupan liberal di New York."
Arsen masih berdiri di depan istrinya itu. Ia sebenarnya merasa tak rela meninggalkan Amey sendirian. Pria Arogan itu ingin selalu bersama-sama terus dengan Amey, namun saat ini ia harus berpisah beberapa jam karena harus mengikuti rapat penting.
Melihat tubuh Arsen yang masih tak bergeming dari posisinya membuat Amey membuang napasnya kasar. "Astaga Arsen, aku tidak akan ke mana-mana dan tetap menuggumu di sini. Jadi pergilah."
"Baiklah. Tetaplah di sini," mengacak rambut Amey.
"Iya Sayang."
Dengan langkah yang berat, Arsen berjalan meninggalkan Amey. Namun sesekali ia memandang ke belakang menatap wajah Amey yang tersenyum kecil padanya.
"Arsen kau sangat menggemaskan," gumam Amey.
***
De Gracia's Restaurant
Ponsel Mr. Dusley bergetar. Pria tua itu meminta ijin, beranjak dari duduknya dan hendak menjawab panggilan telepon yang masuk. Sedangkan Mark dan Jen terlihat kaku karena terjebak dalam situasi yang canggung.
Tiba-tiba mata Jen tak sengaja menatap seseorang pria yang tak asing baginya. Ia mengucek matanya berulang kali, memastikan jika dirinya tak salah lihat.
"Andra?!" gumam Jen lirih. "Tuan dasi merah, tunggulah di sini, aku ingin memastikan sesuatu."
Mark mengernyitkan dahi. Ia menatap ke arah pandangan mata Jen. Mark merasa jika ia pernah melihat pria yang ditatap Jen dengan raut tidak suka.
Jen menghampiri meja nomor tujuh yang hampir bersebelahan dengan mejanya. Ia berjalan perlahan dan mendekat. Dan benar saja pria yang dilihatnya itu adalah Andra, mantan kekasihnya yang pernah mencampakkan dirinya dan memilih wanita lain.
"Andra!" panggil Jenifer.
Lelaki itu terperangah melihat Jen. Ia langsung beranjak dari duduknya dengan memasang raut pias. "Jen?"
"Sayang, bukannya ini mantan kekasihmu yang miskin itu?" kilah seorang wanita yang merupakan kekasih baru Andra.
"Apa kau bilang? Miskin?" Jen menjadi geram dengan ucapan tajam Lily.
Plakkk!
Lilly menepuk meja itu dengan sangat keras. Kemudian ia berdiri dan menatap Jen dengan tatapan sinis. Ia yang memiliki postur lebih tinggi dan lebih Sexy dari Jen, seolah menindas Jen dengan penampilan yang ia miliki.
"Sudah miskin, tapi belagu!" cerca Lily kasar.
"Miskin? Be--belagu?" Jen mengulangi kata-kata tajam Lily. Ia mengepalkan tangan karena merasa sakit hati atas hinaan Lily. "Hey pelakor! Walau aku miskin, tapi aku tidak melakukan perbuatan kotor sepertimu, merebut milik orang lain! Cihh, benar-benar kelakuan yang tidak terpuji!"
Lily mengertakkan giginya. Cercaan Jen pun sangat menusuk hatinya. Ia merasa jika itu merupakan penghinaan yang sangat-sangat kasar yang pernah ia dapati.
"Jen!" teriak Andra.
"Apa?! Mau mebela pelakor ini? Haha! Kalian berdua sama saja!"
"Sayang, gadis miskin ini baru saja merendahkanku," rengek Lily pada Andra, membuat Jen merasa jijik.
"Lebih baik kau pergi dari tempat ini Jen. Tempat mewah, mahal dan sebagus ini tidak cocok untukmu. Lebih baik kau tabung uangmu untuk membeli cermin, dan bercerminlah di situ!"
Lily tersenyum saat mendengar celaan tajam dari Andra untuk Jenifer. Sedangkan Jen hanya termangu tak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia sangat ingin menangis namun ia menahannya.
"Benar kata Andra. Kau tidak cocok di tempat ini. Lagi pula gadis kampung dan miskin sepertimu tidak akan sanggup membayar makanan-makanan di sini. Haha!"
Jen semakin panas. Ia sebenarnya tak setuju jika dirinya di bilang miskin. Jen orangnya lebih ke perhitungan. Mungkin karena itulah sampai Andra tidak betah dengan Jen. Padahal gaji Jen sebulan lebih dari cukup baginya. Tapi karena sesuatu dan lain hal, maka Jen memutuskan untuk hidup apa adanya dan lebih memperkecil pengeluarannya.
"Ternyata memang benar! Kau tidak mencintaiku! Kau hanya mengingini uangku! Dan sekarang karena kau sudah puas mencukurku, kau mencari korban baru yang lebih berduit dibanding aku? Haha benar-benar pasangan yang serasi! Pria miskin yang hidup bagai parasit, dan wanita kaya tapi perebut milik orang!"
Andra melebarkan matanya. Ia hendak melayangkan pukulan di wajah Jen namun sebuah tangan kekar berotot dengan sigap menangkis pukulannya. Andra terkejut. Bukan hanya pria itu, tapi Jen juga kaget bukan main. Ia terkejut karena Andra berani menamparnya, dan lebih terkejutnya lagi saat melihat pemilik tangan berotot itu.
"Hanya laki-laki banci yang memukul wanita!" tutur Mark dingin.