
Lampu yang remang-remang masih menyala di dalam ruangan itu. Sang surya telah bangun dan memancarkan cahaya, menyinari jagat raya. Namun kedua orang yang terbaring di atas ranjang king size itu tidak kunjung membuka mata.
Sudah pukul sembilan lewat lima puluh pagi, Amey dan Arsen belum beranjak dari tempat tidur. Entah apa yang membuat kedua insan itu malas untuk membuka mata mereka.
Amey mulai bergerak dan merasakan tubuhnya tidak leluasa untuk bergerak. Perlahan matanya terbuka, ia mengucek matanya dan mendapati sebuah tangan melingkar di pinggangnya.
Suara napas halus terdengar tepat di atas kepalanya membuat anak rambut Amey bergerak mengikuti irama napas yang keluar masuk melalui indra penciuman seseorang yang berada di belakangnya.
Ia terbelalak saat mendapati tubuhnya didekap oleh Arsen. Amey yang memunggungi Arsen bergerak secara perlahan untuk melepaskan lingkaran tangan itu. Setelah berhasil melepaskannya, Amey berbalik dan menatap Arsen yang masih terlelap.
Betapa terkejutnya Amey saat melihat tubuh Arsen yang kekar tidak dibaluti pakaian. Ia menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya. Astaga! Apa yang telah aku lakukan bersamanya?
Amey merabah seluruh tubuhnya, ia bernapas legah saat piama yang ia kenakan masih melekat sempurna di badannya. Amey tidak sengaja menatap dada bidang Arsen yang dipenuhi garis berwarna merah yang mirip dengan cakaran kuku.
Ia mendekatkan wajahnya dan menatap lekat bagian tubuh Arsen. "Apa ini?" gumamnya sembari menyentuh garis-garis merah itu.
"Kau mengagumi tubuhku?" tutur Arsen tiba-tiba.
Amey melonjak. "Bu-bukan begitu, tapi selama aku melihat kau bertelanjang dada, baru kali ini aku menemukan garis-garis merah yang mirip seperti cakaran kuku," jelas Amey.
"Ini alergi. Aku alergi kacang."
"Ya ampun! Kenapa kau tidak bilang kalau kau alergi kacang, aku pasti tidak akan memaksamu memakan makanan itu. Maafkan aku," lirih Amey merasa bersalah.
"Tidak apa, sebentar lagi ini akan sembuh."
"Apa kau memiliki obat yang bisa mempercepat penyembuhan alergi ini?"
"Setahuku Mark menaruh sebuah salep di koper."
Tanpa disuruh Amey langsung berlari menuju koper milik Arsen dan mencari salep penyembuh alergi. Setelah beberapa detik mencari ia menemukan sebuah botol kecil tanpa label. Ia membuka penutup botol itu dan mencium bau yang terserat di dalamnya.
"Iwwww, ini bau amis!" gumam Amey memasang wajah kusut. "Tunggu dulu! Aku seperti mengenal bau ini. Bukannya ini ramuan yang pernah diracik nenek waktu itu?"
Ternyata botol kecil itu berisi ramuan tradisional penguat kejantanan yang diracik Soffy untuk Arsen.
"Siapa yang menaruh ini di koper Arsen? Ahhh pasti ini ulah nenek."
Amey kembali mencari salep alergi, ia meraba seluruh laci koper itu dan menemukan benda kecil berbentuk segitiga panjang berwarna putih dengan tulisan bahasa Inggris. "Ini pasti salepnya."
Amey segera membawa salep itu dan sebotol ramuan yang didapatinya dari dalam koper Arsen. Ia meletakkan botol ramuan itu di atas nakas.
"Apa ini obatnya?" tanya Amey.
"Hmm," mengangguk.
"Aku akan mengobatinya."
Amey mulai menutupi garis-garis itu dengan salep. Tanpa disadari Amey ia mulai menyentuh tubuh liat milik suaminya. Arsen yang menerima sentuhan itu memerah karena malu, sedangkan Amey masih setia mengobati alerginya dengan hati-hati.
(Dua belas jam sebelumnya)
"Ars, cobain ini, rasanya enak banget loh," tawar Amey dengan menyuapi Arsen.
Dengan berat hati Arsen menerima makanan itu yang ternyata dicampuri selai kacang tanah. Melihat Amey yang antusias menyodorkan satu suapan ke dalam mulut Arsen membuat ia harus mengunyah makanan itu dengan terpaksa.
"Bagaimana? Enakan rasanya?" tanya Amey.
Arsen mengangguk mengiyakan ucapan Amey. Ia melihat Amey yang dengan rakus menyantap semua makanan enak itu. Seketika lekukan di pipinya terbentuk. Walau hanya kecil, tapi itu membuktikan jika Arsen senang melihat Amey bahagia.
Beberapa saat kemudian Amey mengantuk dan langsung tertidur begitu saja. Arsen membenarkan posisi tidur Amey dan menyelimutinya. Arsen juga merasakan badannya terasa gatal menyeluruh.
Rasa panas yang menggerogoti tubuh Arsen membuat pria itu tidak bisa tidur. Akhirnya ia memutuskan untuk melepas pakaian tebal yang ia kenakan. Alerginya telah bermunculan di mana-mana, Arsen menggaruk badannya yang terkena alergi.
Hingga akhirnya ia melepaskan empat lapis celana dan membiarkan dadanya telanjang tanpa pakaian. Alergi itu membuat Arsen berdisko ria di tengah malam. Ia mencari cara agar rasa gatal itu menghilang. Tapi anehnya semakin ia bergerak banyak, semakin rasa gatal itu menguasai badannya.
Karena terlalu mengantuk, ia pun membaringkan tubuhnya di sebelah Amey, tanpa disadari ia memeluk istrinya itu yang telah terlelap. Tiba-tiba rasa gatal itu sirna saat ia menyentuh tubuh Amey. Arsen mendekap Amey dengan erat dan itu membuatnya sangat nyaman hingga tertidur lelap.
***
"Bersiaplah," tutur Arsen.
"Aku akan bertemu kolega, jika kau mau ikut mandilah dan ganti pakaianmu."
"Bukannya kau sedang sakit? Lebih baik kau jangan dulu beraktivitas, nanti alergimu lama baru sembuh."
"Jangan kawatirkan alergiku, ini tidak apa-apa. Ayo mandilah dan jangan membuatku menunggu lama," ucap Arsen dengan raut wajah datar.
"Tapi ...?"
Arsen menatapnya tajam. Ia kemudian beranjak dari duduknya ketika menerima sorot mata yang mengerikan dari suaminya. "Baiklah, aku akan bersiap."
Sambil menunggu Amey bersiap, Arsen memeriksa perkembangan perusahaan yang selama tiga hari ditinggalinya. Namun ketika ia menyalakan laptop sebuah laman pencarian terakhir muncul di monitor laptopnya.
Arsen mengerutkan kening, setahunya ia tidak pernah membuka laman yang berkaitan hubungan badan suami istri. Apalagi artikel yang muncul itu menampilkan berbagai posisi yang dilakukan pasangan menikah saat berhubungan intim.
Seketika ia mengingat jika terakhir yang menggunakan laptop adalah istrinya. Ia mendapati malam itu Amey memeluk laptopnya sambil tertidur. Pikiran liar Arsen mulai aktif.
"Apa jangan-jangan ... maksud dari kalimatnya yang mengatakan sudah siap ...? Ahhh gila! Ini benar-benar di luar dugaan!" Arsen bercakap sendiri, seringai licik terbentuk di pipinya.
Tiga puluh menit kemudian. Amey telah selesai bersiap. Ia mengenakan baju lengan panjang polos berwarna hitam dan bawahannya mengenakan rok berwarna putih, panjang sampai di pergelangan kaki. Rok itu memiliki belah dari paha sehingga memperlihatkan pahanya yang putih dan kakinya yang jenjang.
Sebagai alas kaki Amey memakai sepatu bot berwarna hitam. Tidak lupa juga kacamata hitam menghiasi matanya. Arsen yang melihat penampilan Amey pun tertegun.
"Ayo kita pergi," ajak Amey.
Arsen yang masih termangu tiba-tiba digandeng Amey. "Apalagi yang kau tunggu? Ayo!" ketus Amey tidak sabaran.
Akhirnya keinginan Amey tercapai. Selama dua hari ia mengurung diri di dalam kamar hotel, kini saatnya ia keluar untuk menghirup udara sejuk kota Paris. Walau hanya sebatas menemani Arsen bertemu dengan rekan kerjanya.
"Kau ingin ke mana?" tanya Arsen tiba-tiba.
"Ya ke mana lagi kalau bukan menemanimu bekerja," tutur Amey mengerucutkan bibir.
"Aku mempunyai waktu free satu jam sebelum bertemu kolega, jadi kau bisa memanfaatkan waktu satu jam itu."
"Benarkah?" Mata Amey mengeluarkan binar.
Arsen mengangguk.
"Baiklah, ayo kita ke pasar!"
"What?! Ngapain di pasar?" tanya Arsen mengerutkan dahi.
"Hmm, jalan-jalan aja. Kau tahu hal pertama yang ingin aku lakukan saat berada di Paris adalah mengelilingi pasar bersama orang yang mencintaiku. Sayangnya orang itu telah pulang kepada Bapa," menerawang jauh ke arah langit.
"Siapa dia?"
"Arka."
Entah mengapa mendengar nama Arka, hati Arsen seperti dicubit. "Jadi kau dan Arka pernah merencanakan bulan madu di Paris?"
Amey mengangguk dengan cepat. "Tapi sudahlah, Yang Maha Kuasa telah memanggilnya pulang. Siapa yang dapat menyangka jika kembarannya yang berada bersamaku saat ini," lirih Amey.
Arsen merasa ada yang aneh dengan hatinya. Ia mengepalkan tangan dan mengeratkan rahangnya Jika Arka bukan kembarannya pasti ia sudah lama meninggalkan Amey karena membahas Arka di depannya.
"Apa kau tidak suka berjalan bersamaku?" tanya Arsen dengan datar.
"Bukan begitu, hanya saja aku dan kamu tidak saling mencintai, walau telah menikah. Jadi aku rasa aneh saja jika jalan-jalan bersama seseorang yang tidak mencintaiku. Sangat jauh dari ekspetasiku," tutur Amey.
"Bagaimana kalau orang yang bersamamu saat ini mulai menyukaimu?"
Deg!
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE π
(Kira-kira gini nih penampilan Arsen sama Amey mengunjungi pasar πππ)