Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Penyelidikan Mark


Di kediaman keluarga Winston, Mark telah bertanya mengenai siapa yang berbicara dengan pria bertopi hitam tadi siang, namun tidak ada yang mengaku. Mark pun memutuskan untuk menyelidiki mereka satu persatu. Ia mengumpulkan semua pelayan yang berjumlah dua belas orang di tambah dengan satpam dan tukang kebun.


Wajah para pelayan itu terlihat pias. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Elis pun tunduk pada Mark. Ia tahu jika Mark adalah pria yang kejam setelah Arsen. Hanya Elis yang tahu mengenai kekejaman asisten Mark, karena Elis sudah bekerja di tempat itu sekitar empat puluh tahun lamanya.


"Kalian tau mengapa aku mengumpulkan kalian?" tanya Mark sedikit menaikan nada.


"Tidak Tuan," tutur para pelayan itu dengan serentak.


"Elis!" panggil Mark membuat Elis melonjak.


"Iya, Tuan?"


"Berapa lama kau berbakti pada keluarga Winston?"


"Hampir empat puluh tahun, Tuan."


"Kau sebagai kepala pelayan, kenapa kau tidak tau jika ada anak buahmu menerima penyusup di tempat ini?"


Deg!


Jantung Elis berdetak kencang. Tubuhnya mengeluarkan peluh. Ia menelan salivanya kasar dan mencoba membuka mulutnya yang terasa pekat untuk berucap.


"Maafkan saya Tuan. Saya lalai."


Wajah Mark menunjukkan kalau ia sangat murka. Ia kembali menatap seluruh wanita-wanita itu yang terlihat seperti tikus basah. "Kalian semua! menghadap ke belakang!" perintah Mark.


Semuanya pun menurut. Mark memeriksa secara detail belakang punggung mereka. Ia mengingat jika pelayan wanita yang ia lihat tadi siang menguncir rambut dan memakai jepitan berbentuk pita. Tapi Mark menghembuskan napasnya berat. Semua pelayan wanita itu menguncir rambut dan menggunakan jepitan berbentuk pita.


Pelayan wanita yang Mark lihat tadi memiliki rambut berwarna hitam, tubuh yang ramping dan sedikit lebih pendek. Bisa dikatakan tinggi badan pelayan itu sekitar seratus lima puluh tujuh senti meter. Mark melihat ada tiga wanita yang hampir memiliki tinggi badan yang sama. Wanita yang dilihat Mark pun tampaknya masih muda, sebaya dengan Nyonya muda.


"Kau!" menyentuh bahu wanita yang berdiri di sebelah Elis.


"I--iya Tuan?" sahut wanita itu gugup.


"Siapa namamu?"


"Sonya, Tuan"


"Apa kau yang berbicara dengan pria misterius tadi?"


"Tidak, Tuan. Tadi siang aktivitas saya membersihkan kamar Tuan," ucap Sonya dengan bibir gemetar.


"Apa betul yang dia katakan?" tanya Mark kepada dua belas pelayan wanita itu.


"Benar Tuan. Saya yang menyuruhnya," ucap Elis.


Arsen melewati wanita itu dan melanjutkan langkahnya. Ia berhenti tepat di belakang punggung Olin. Mark menyipitkan mata dan menyamakan Olin dengan pelayan wanita yang dilihatnya tadi.


"Kau? Siapa namamu?" tanya Mark menyentuh bahu Olin.


"Sa--saya Olin Tuan," jawab Olin sama takutnya dengan Sonya.


"Apa kau mengenal pria bertopi hitam itu?"


"Sungguh Tuan, aku tidak mengenalnya," memainkan jemari karena terlalu gugup.


"Apa yang kau lakukan tadi siang?"


"Saya menyetrika pakaian Tuan."


"Apa betul yang dikatakannya Elis?" menatap punggung Elis.


"Saya kurang tau Tuan. Tapi pekerjaan Olin memang menyetrika pakaian Tuan."


Mark kembali melanjutkan langkahnya. Berhentilah ia pada seorang pelayan yang berdiri di posisi paling akhir. Mark menerka jika wanita itulah yang dilihatnya. Ia memperhatikan belakang punggung wanita itu dengan seksama. Ia juga mengukur pinggang wanita itu menggunakan tangannya dari kejauhan.


"Hey, kau!"


"Ya Tuan?" sahut Sinta.


"Siapa namamu."


"Saya Sinta," tutur wanita itu dengan lantang.


Mark mengernyitkan dahi. Ia mencoba mengingat suara wanita itu. Suara Sinta memang berbeda dengan suara Olin dan Sonya. Kedua wanita itu memiiki suara yang halus dan lembut. Sedangkan Sinta sedikit tegas.


"Pasti kau wanita itu!" tuduh Mark.


"Bukan! Bukan saya Tuan," elak Sinta masih dengan suaranya yang lantang.


"Kalau begitu, apa yang kau kerjakan tadi siang?"


"Saya berada di taman belakang Tuan. Saya membersihkan kolam ikan."


"Di taman belakang?"


"Benar Tuan."


"Aku juga melihat wanita itu dekat dengan kolam ikan! Jika yang kau katakan benar, maka apakah kau melihat teman pelayanmu bercakap dengan seorang pria misterius?"


"Saya tidak yakin Tuan. Tapi saya melihat Olin tadi menuju taman belakang."


Mark semakin bingung. Ia menatap Olin dari belakang. "Olin! Apa betul yang dikatakan Sinta?"


"Tidak benar Tuan. Saya sedari tadi berada di ruang cuci. Saya menyetrika baju dari pagi sampai tadi sore." jelas Olin dengan suara yang gemetar.


"Apa hanya Sinta yang melihat Olin di taman belakang?" tanya Mark pada semua orang yang ada di situ.


Mark menyunggingkan bibir. Ia berdiri tepat di depan Sinta. Ia menyentuh dagu Sinta dan mendongakkan ke atas dengan telunjuknya. Sontak Wajah Sinta langsung terangkat ke atas menatap wajah Mark.


"Siapa pria itu?" tanya Mark.


"Saya tidak tahu Tuan. Saya berani bersumpah," ucap Sinta dengan sedikit nyaring.


"Jangan berbohong padaku!"


"Saya berkata jujur Tuan. Saya tidak berbohong."


Mark melepaskan telunjuknya dan menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. "Jangan memaksaku untuk melukai wajahmu yang lumayan cantik ini!" tuturnya dengan sinis.


Sinta hanya berdiam. Ia menatap wajah Mark sejenak dan memutar bola matanya dengan malas. Ia kembali menundukkan kepala. "Tuan, harus dengan cara apa agar Tuan percaya dengan ucapan saya?"


"Ikut denganku!" ajak Mark.


Sinta pun mengikuti Mark dari belakang. Wajahnya terlihat malas. Sesekali ia merutuki Mark dalam hati. Sedangkan para pelayan wanita itu hanya bisa memandangi belakang punggung Mark dan Sinta dengan raut kasihan. Apalagi Elis, ia tahu apa yang akan dilakukan Mark pada Sinta.


"Ya Tuhan, apa memang benar Sinta yang bersekongkol dengan penyusup?" gumam Olin.


"Kalau bukan dia siapa lagi. Hanya dia yang berada di taman belakang tadi siang!" celutuk Sonya.


"Jantungku hampir copot. Tuan Mark kalau marah ternyata bisa berubah menjadi mengerikan. Aku baru tahu sifatnya," tutur Rati.


"Jangan main-main dengan Tuan Mark!" tukas Elis dingin.


"Apa Tuan Mark kejam?" tanya Olin.


"Jangan ditanya lagi. Tuan Mark, mirip dengan Tuan Muda. Tapi bedanya, Tuan Mark jarang menunjukkan kemarahannya. Ia akan menjadi serigala jika sesuatu yang buruk menimpa keluarga Winston," jelas Elis.


Semua pelayan terdiam. Mereka melamun sembari membayangkan seberapa kejamnya Mark. sebelumnya yang ada dipikiran mereka, Mark adalah pria baik yang dengan sukarela menjadi jongos Tuan Muda, rela melakukan apa saja, sampai rela menumbalkan tubuhnya menjadi tempat pelampiasan murka Mr. Winston


***


Vila Arsen dan Amey


19.00 WIB


Kedua orang itu tengah asik menonton tv sambil mengunyah cemilan. Karena tidak ada makanan lain untuk dimakan, maka mereka pun memilih untuk menyantap cemilan yang memang sudah tersedia di Vila itu.


"Mey, ayo kita keluar."


"Ke mana?"


"Cari tempat makan."


"Tapi tempat ini jauh dari pedesaan," ucap Amey seraya mengunyah keripik singkong.


"Aku tidak mau mati kelaparan. Apa kau mau mati mengurus karena kelaparan!" ketus Arsen.


"Hahaha!" Amey terbahak.


"Kenapa kau tertawa?"


"HAHAHA! Kamu sih, katanya hebat memasak, kok makanannya gosong." ledek Amey.


"Nggak lucu sama sekali!"


Arsen mengambil jaketnya dan melangkahkan kakinya keluar Vila. Wajahnya terlihat kesal karena habis diledek Amey.


"Ars, tunggu! Kau mau ke mana? Tunggu aku!" teriak Amey menyeringai.


Amey mengejar Arsen. Namun langkahnya berhenti saat di depan. Ia menengok ke segala penjuru arah mencari sosok Arsen namun tidak kunjung kelihatan. Amey mulai kawatir, wajahnya panik.


"Ars! Kau di mana? Jangan becanda deh, nggak lucu tau!" oceh Amey.


Masih tidak ada jawaban. Hanya ada suara jangkrik yang berbunyi, memecahkan keheningan di tempat itu. Amey menuju garasi mobil, ia melihat mobil Arsen masih terparkir di tempat itu.


"Arghhhhhhh!"


Suara teriakan seseorang dengan nyaring membuat Amey menoleh ke sumber suara. Sontak ia berlari dengan tergesa-gesa.


"Arsen!"


Amey berlari dengan cepat, ia mendapati tubuh Arsen yang tergeletak di tanah. Betapa terkejutnya Amey saat melihat perut Arsen yang mengeluarkan darah yang sangat banyak. Amey segera mendekat. Wajahnya terlihat gusar.


"Ars? Apa yang terjadi padamu?" tanya Amey.


"Aku ... aku ..."


"Jangan banyak bicara, aku akan mencari bantuan!"


Ketika Amey hendak berdiri, tangan Arsen menahan pergelangan tangannya. "Jangan pergi. Tidak ada orang di sini," lirih Arsen yang terlihat sekarat.


"Ya Tuhan, apa yang terjadi padamu, Ars. Hik .. hik ... Kenapa kau berdarah?" Amey menangis tersedu-sedu.


Arsen menyentuh pipi Amey dan tersenyum kecil padanya. Hal itu membuat Amey semakin kawatir. Tiba-tiba Arsen menutup matanya. Tubuhnya tidak bergerak sama sekali.


"Arsen! Bangun .... Hik hik hik! Tolong bangun, Ars!" Amey merontah-rontah. Tangan kanannya masih menekan perut bagian kanan Arsen agar tidak mengeluarkan darah.


"Ars, bangun! Aku takut sendirian di sini. Aku takut Ars. hik ... hik ... hik."


To be continued ...


Dukung penulis dengan memberikan like, komen, vote and rate 😘