Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Hadiah Istimewa


Seperti peribahasa yang mengatakan habis hujan akan muncul pelangi. Begitulah kehidupan yang dialami keluarga Winston. Hari-hari terburuk mereka telah berlalu dan saatnya menyambut hal-hal yang baik. Sudah tiga bulan berlalu sejak peristiwa penculikan Zoey, kehidupan keluarga Winston kembali normal.


Normal berarti susah senang pahit manis telah silih berganti mewarnai kehidupan keluarga Winston. Selesai satu masalah muncul lagi masalah baru. Namun begitulah kehidupan. Bagi keluarga Winston apapun rintangan yang mereka lalui, mereka selalu berpikir optimis dan menjadikan rintangan itu sebagai kekuatan bagi mereka.


Kekuatan terbesar Arsen ada pada Amey begitu pun sebaliknya. Kekuatan cinta tulus keduanya mampu membawa mereka melewati berbagai rintangan dan halangan dalam menjalani kehidupan pernikahan yang tak selalu mulus. Seiring berjalannya waktu Amey mulai terbiasa dengan kebucinan suaminya.


Kalau saja Amey tidak mengandung, pastilah ke mana Arsen akan melakukan perjalanan bisnis, di situlah Amey berada. Pria arogan itu akan mengajak istrinya karena tak mau jauh-jauh dari Amey. Tapi begitulah Arsen! Dingin dan kejam kepada semua orang. Namun bagi Amey, suaminya adalah laki-laki terbodoh, terkonyol, terkoplak yang pernah ia temui. Namun ia nyaman akan hal itu.


Tuntutan pekerjaan membawa Arsen harus meninggalkan Amey selama tiga hari. Dan hari ini merupakan hari terakhir Arsen di negara orang. Amey pun telah menyiapkan masakan yang super enak untuk suaminya dan sebuah hadiah berbentuk segi empat berukuran kecil.


“Kau pasti tak akan menyangka, Sayang!” tersenyum semringah sembari mencium kotak kecil berwarna biru itu.


Amey menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit. Ia kemudian mendengar suara mobil telah berhenti di depan mansion. Dengan hati-hati Amey berlari karena perutnya sudah sangat besar. Ia tahu jika itu adalah suaminya. Amey pun menjemput Arsen dengan penuh semangat.


“Memey, Sayang!” ucap Arsen sembari memeluk dan mencium puncak kepala Amey. Melihat perut Amey, ia pun menekuk kakinya dan mencium perut itu. “Halo Baby. Daddy pulang! Kau pasti merindukan Daddy karena sudah tak pernah berkunjung di dalam sana,” terkekeh pelan.


“Sayang, ayo masuklah ke dalam, aku sudah menyiapkan makanan untukmu. Dan ada sesuatu yang akan kuberikan. Hmmm, kau bisa menganggap itu hadiah istimewa dariku,” tutur Amey.


“Hadiah apalagi yang lebih istimewa dari hadiah di dalam perutmu itu?”


“Kau bisa mengetahuinya nanti.”


Bagi Arsen kehamilan Amey merupakan hadiah yang sangat istimewa melebihi apapun. Untuk itu saat melihat wajah semringah istrinya, ia penasaran hadiah apa yang akan Amey persembahkan untuknya.


“Kau harus makan banyak, agar kau tak pingsan saat melihat hadiah dariku,” goda Amey.


“Memey, kau tau aku bukanlah tipe orang yang penasaran akan sesuatu?! Tapi kali ini kau benar-benar telah membuatku hampir mati penasaran.”


“Kali ini hadiahnya berbeda, Ars. Kau bisa membeli apapun yang kau inginkan. Seluruh jakarta pun boleh kau beli dan kekayaanmu tak ‘kan berkurang. Tapi yang akan aku berikan untukmu adalah sesuatu yang tak bisa dibeli dengan uang.”


“Cukup. Biarkan aku makan dengan tenang.”


“Baiklah, Sayang.”


Sebenarnya Arsen menjadi sangat gelisah. Ucapan Amey membuat pria arogan itu bertanya-tanya dalam hatinya. Kalau memang aku tak bisa membelinya dengan uang, berarti benda itu sangat berharga. Sama berharganya dengan Memeyku. ucapnya dalam hati.


Arsen melajukan tempo makannya. Sangking tak sabar menerima hadiah dari Amey, ia pun banyak kali tersedak. Pada akhirnya makanan yang di masak Amey, masuk sepenuhnya di perut Arsen. Bagi Arsen, tak ada yang bisa mengalahkan masakan Amey. Jelas saja, bagi pria bucin itu, apapun yang diperbuat Amey pastilah enak. Meski kotoran kambing sekalipun.


“Berikan padaku. Aku sudah menghabiskan semua masakanmu. Aku pasti tidak akan pingsan.


“Baiklah,” tersenyum. Amey mengeluarkan kotak kecil berwarna biru itu. “Tadaaaaaa!”


Arsen menatap benda kecil itu dengan lekat. “Apa ini?”


“Bukalah dengan hati-hati. Kau akan tau setelah membukanya.”


Arsen membuka kotak itu sesuai dengan arahan Amey. Sesekali Amey menepis tangan suaminya karena terlalu gegabah membuka perekat di atasnya.


“Kertas apa ini?” tanya Arsen saat melihat isi dari kotak kecil itu. “Apa istimewa dari secuil kertas ini?” tanyanya lagi.


“Kau belum melihatnya dengan benar. Aku sengaja membalikkan kertas itu agar lebih dramatis lagi, hehe!” terkekeh pelan.


“Kenapa jantungku berdebar kencang,” lirih Arsen sembari membalikan kertas kecil itu.


Saat melihat foto itu, ekspresi Arsen biasa-biasa saja. Tapi lama-kelamaan ia pun mengucek matanya dan memperhatikan gambar itu lebih seksama lagi. Gambar itu menampilkan kondisi janin Amey selama tiga bulan.


“Sayang, apa mataku tak rabun? Ini seriusan?” Arsen seolah tak percaya melihat gambar itu.


“Kau tak salah lihat Sayang.”


“Satu, dua, tiga, em … EMPAT?!! Ada empat bayi kembar di dalam perutmu?!” Arsen terkejut bukan main saat menghitung jumlah kepala dalam foto USG itu.


“Kau berhasil mencetak empat bayi kembar, Ars! Di tambah lagi semuanya pria! Aku bangga padamu!” puji Amey.


Arsen langsung memeluk istrinya dengan erat dan mengecup. Rasa senang yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata kini dialami Arsen dan Amey. Tak menyangka jika Tuhan menganugerahkan berkat yang tak terduga bagi mereka setelah melewati hari-hari sulit.


“Kau lihat 'kan? Dua belas ronde membuahkan hasil yang baik. Benar-benar bibit unggul yang sempurna!" Aku harus memberitahu semuanya mengenai hal ini!”


“Semuanya sudah tau, Ars.”


“Mama Papa juga sudah tau?”


“Hmm,” mengangguk.


“Para pelayan?”


“Sudah. Aku memberitahu mereka.”


“Kaisar? Jayden?”


“Sudah. Berita ini cepat sekali tersebar. Malahan tadi siang mereka datang dan memberiku ucapan selamat beserta hadiah-hadiah.”


Arsen mengepalkan tangannya. “Jangan bilang kalau Mark juga sudah tau akan hal ini?!”


“Mark yang terlebih dulu tau dari semuanya,” ucap Amey santai.


Arsen mengeratkan rahangnya. “Jadi tinggal aku yang baru tau berita ini? Dan Mark sebenarnya sudah tau tapi dia tidak memberitahuku?!”


“Aku yang menyuruh Mark untuk jangan dulu mengatakannya padamu. ‘Kan ceritanya kejutan untukmu! Bukan kejutan lagi kalau kau sudah tau pada orang lain!”


Arsen menarik napas dalam dan membuangnya perlahan. Untung saja penjelasan Amey diterima oleh Arsen. Meski kekesalannya belum surut seratus persen. “Jangan kira kau lolos, Mark!” geram Arsen.


“Jika kau memukul Mark lagi, aku tidak akan berbicara padamu selama satu minggu!”


***


"Daddy! Tolong carikan robotku!" teriak seorang anak kecil yang berumur sekitar empat tahun, sambil merengek guling-guling di lantai.


"Daddy! Ayo bermain denganku!" ajak seorang anak kecil lagi dengan menarik-narik celana pria itu.


"Daddy! Aku mau eek!" ketus anak kecil lagi yang mirip dengan kedua anak sebelumnya.


"Daddy! Kau sungguh bodoh! Kau tak becus mengerjai tugasku! Lihatkan nilaiku E!!" celutuk anak kecil lagi yang sewajah dengan ketiga anak kecil tadi.


"SHUT UP!!!" teriak pria itu.


Keempat anak itu saling menatap dan mulai menangis dengan keras.


"Hikkk ... hik ... hik ..."


"Ahhhhhhhhh ... Daddy kau jahat!!"


"Mommy! Daddy jahat! I hate Daddy!!"


"Hikkk ... hik ... ! Aku di bentak Daddy, Mommy! Hukum Daddy!"


Pria itu semakin setres menghadapi ke empat anak itu. Apalagi tangisan mereka semakin kuat sehingga gendang telinga pria itu serasa ingin pecah.


"Cupcupcup! Jangan menangis anak-anak! Daddy akan memberi kalian hadiah jika kalian menurut apa kata Daddy," bujuk pria itu.


"Tidak mau!!" ucap ke empat anak itu serentak. "Mommy! Mommy!" panggil mereka, lantang.


Peluh mulai menyucur di dahi pria itu saat mereka mulai berbondong-bondong meneriaki seseorang dengan sebutan Mommy.


"Tidakkk! Jangan memanggil ibu kalian! Shhhttttt diamlah! Daddy akan membelikan kalian robot yang sangat besar," melebarkan tangannya memperagakan seberapa besar robot yang akan di belikan pria itu untuk anak-anaknya.


Tap ... tap ... tap


Suara langkah kaki di luar sana mampu menutupi isak tangis anak-anak kecil itu. Ekspresi pria itu semakin masam. Deru napasnya tak beraturan. Langkah itu terdengar sangat jelas di telinga si pria itu.


Ceklekk!


Seorang wanita cantik muncul dari balik pintu itu. Pakaiannya sangat aneh dan mirip seperti baju yang dikenakan karakter di film Wonder Women yang diproduksi oleh Marvel.


Matanya mengeluarkan laser berwarna merah, serta pedang dan perisai di kedua tangannya. Wanita itu menatap lekat ke arah pria yang telah tersungkur di lantai.


"ARSENNNN! Apa yang kau lakukan kepada anak-anakku, hah?!" teriak wanita itu.


"Memey Sayang. Aku tidak menyakiti mereka. Tiba-tiba mereka menangis dengan kencang."


"KAUUUU!" geram Amey dengan buasn. "Rasakan seranganku ini!"


"Jangan lakukan itu, Memey!"


Sebuah bola api yang sangat besar menyerang tubuh Arsen sehingga terpental di lantai.


"TIDAKKKKKKK!" teriak Arsen dengan kuat.


"Sayang! Apa yang terjadi! Ars! kau mendengarku?!"


"Jangan menyentuhku! Kau monster!" celutuk Arsen.


"Ars! Bangun! Kau bermimpi."


Arsen langsung membuka matanya dengan lebar dan beranjak dari ranjang. Keringat dingin telah memenuhi tubuhnya. Ia melonjak hebat saat menatap Amey yang ada di sampingnya. "Monster!!!"


"Kau memanggilku apa?!" tukas Amey naik pitam.


Arsen menggeleng kepalanya. "Tidak, Sayang."


"Ars? Kau baik-baik saja?" tanya Amey.


"Aku bermimpi aneh."


"Apa seburuk itu?" tanya Amey lagi yang tanpak panik.


"Entahlah! Aku bingung mendeskripsikannya."


Amey mengernyitkan dahi. "Ayo tidur lagi. Sekarang masih pukul tiga dini hari," menatap layar ponselnya.


Aku tak mungkin menganggap mimpi itu buruk karena aku melihat anak-anak itu memanggilku dengan sebutan Daddy. Itu tandanya mereka adalah anak-anakku! Tapi ... kenapa Memey sangat mengerikan di sana? Tidakkkk! Jangan sampai itu terjadi!


To be continued ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*


.


.


.


Follow akun resmi Author @syutrikastivani agar mendapat info terkait novel TPTA :)