
Seorang wanita merebahkan tubuhnya di atas ranjang ia terlihat lemas dan tak berenergi. Dialah Amey ibu dari keempat anak kembar. Hampir tiga jam lebih ia mengurus persiapan keempat anak itu. Walaupun ada dua orang pengasuh yang membantu merawat empat Winston Junior namun tetap saja yang selalu dicari anak-anak itu adalah ibu mereka.
Amey menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit. "Astaga mereka akan terlambat!" mengangkat tubuhnya dari atas ranjang.
"Nyonya muda mobilnya sudah siap," tutur Dinar.
Amey mengangguk. Ia mengambil empat ransel serupa dari dalam lemari dan memakaikannya pada keempat anak itu. "Ayo berangkat," ajaknya.
Edward, Edhan, Edgar, Edzel tak menggubris. Mereka menyilangkan tangan mereka di atas dada dan memasang wajah kusut.
Amey menjadi heran dengan tingkah keempat anaknya itu. "Ada apa?"
"Aku tidak mau ke sekolah!" ketus Edzel.
"Loh, kenapa?" tanya Amey mengernyitkan dahi.
"Pokoknya tidak mau!"
"Ayo cepat ke sekolah! Kalau tidak mau, Mommy terpaksa akan memberlakukan home schooling!"
"No, Mommy!" teriak keempat anak itu serentak.
"Kalau begitu ayo ke sekolah! Pak sopir sudah menunggu kalian di depan."
Dengan langkah yang berat keempat Ed itu menuju lantai pertama. Tampak jelas di wajah mereka, jika mereka sangat tidak bersemangat ke sekolah. Amey pun merasa heran dengan sikap anak-anaknya.
Apa yang terjadi? Bukannya kemarin mereka sangat berantusias ke sekolah? Batin Amey.
"Nyonya, ini bekal untuk Tuan-tuan Muda," menyodorkan bekal yang di dalamnya berisi sandwich ukuran mini.
Amey menerima bekal itu dan meletakkan satu persatu ke dalam ransel keempat Winston Junior.
"Sayang, aku dan Mark akan mengantar mereka," tutur Arsen tiba-tiba.
"Baiklah, Ars."
"Apa kamu tidak ke kantor?" tanya Arsen
"Selesai ini," merapikan kerak baju suaminya.
"Ya sudah. Aku pamit," mencium dahi dan bibir Amey.
Dinar membukakan pintu mobil untuk anak-anak itu. "Silahkan Tuan-tuan."
"Daddy, apa kau ikut?" tanya Edhan.
"Tentu saja. Daddy dan Uncle akan mengikuti mobil kalian dari belakang," tutur Arsen.
"Owkay Daddy."
Setelah semuanya telah masuk ke dalam van itu, Arsen dan Mark pun menuju mobil mereka dan menyusul dari belakang. Namun sedari tadi Arsen rupanya merasakan suatu kejanggalan. Ia memperhatikan ekspresi wajah Mark yang lebih cerah dari sebelum-sebelumnya. Mark sering tersenyum sendiri meski tidak ada hal lucu di depannya.
"Hey Jodi Sinting! Ada apa dengan wajahmu itu?!" tanya Arsen.
Lekukan di bibir Mark tiba-tiba memudar saat mendengar pertanyaan dari Arsen. "Tidak ada Tuan."
"Aku perhatikan dari tadi kau senyam-senyum sendiri layaknya orang sinting!"
"Tuan salah lihat."
Arsen terdiam sejenak dan berunding dalam hatinya. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi. Atau jangan-jangan ....
Sial! Jangan sampai Tuan tau yang sebenarnya. Bisa-bisa wajahku berganti warna menjadi merah secara permanen!
"Aku tau!"
Deg!
"Ta--tau apa Tuan?" Mark tampak panik.
"Jangan-jangan kau sudah menemukan ... " menjeda ucapannya.
Kalau ngomong please di lanjut! Jangan ngegantung kayak spiderman! Batin Mark. "Menemukan apa Tuan?"
"Menemukan majikan baru, dan kau berencana berhenti menjadi asistenku!"
"Mana mungkin aku mengkhianati Tuan. Aku tetap setia padamu, Tuan."
Arsen melonjak kaget. Matanya terbelalak saat menatap wajah Mark yang tersenyum manis memandangi Arsen lewat kaca spion di depannya. "Valak!" teriak Arsen.
"Valak?! Di--di mana Tuan?" tanya Mark yang tak kalau panik dengan Arsen.
"G*blok! Kau yang mirip valak! Aku tiba-tiba menjadi geli mendengar ucapanmu itu! Lain kali jangan kau ulangi kata-kata sakral itu. Ohya satu lagi, aku tak suka melihat senyumanmu itu! Sangat menjijikkan!
" Tidak akan kuulangi, Tuan," tersenyum lagi menatap Arsen dibalik spion.
"MARKKKKK!"
"Maaf Tuan."
Mark terdiam dan menelan liurnya. Kali ini tebakan Tuan melenceng. Untunglah Tuan tidak penasaran lagi dengan ekspresiku.
Baiklah, Jodi Sinting. Aku akan cari tau sendiri. Awas saja kalau sampai ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku, siap-siap wajahmu yang jelek menjadi persegi panjang.
Arsen lagi-lagi memandangi wajah Mark. Asistennya itu terlihat sedang gembira, dan itu sangat mengganggu Arsen. "Apa kau melakukan operasi plastik?! Atau jangan-jangan kau menyulam bibirmu? Dari tadi aku perhatikan bibirmu itu tak berhenti melekuk!"
"Tidak Tuan. Wajah saya sudah tampan jadi tidak perlu dipoles lagi," tersenyum kecil.
"F*CK!! Jangan menatapku seperti itu!" tukas Arsen mulai naik pitam.
"Maaf Tuan."
"Tampan bokongku!" umpat Arsen.
Aku yakin pasti ada sesuatu! batin Arsen.
Tak lama kemudian, Arsen dan Mark tiba di depan gerbang sekolah keempat kembar. Terlihat Karin dan guru-guru lain sedang menyambut kedatangan empat Winston Junior.
"Daddy, aku tidak mau masuk ke dalam!" celutuk Edzel.
"Aku juga!" sambung Edgar.
"Sepertinya aku juga, Daddy!" ucap Edhan menatap Arsen.
"Why?" tanya Arsen bingung.
Sedangkan jantung Mark berdetak tak karuan. Tak hanya Mark, Wakil Kepala Sekolah dan guru-guru lain pun merasakan hal yang sama.
Demi neptunus! Tamatlah aku jika Tuan Arsen mengetahui yang sebenarnya. Batin Karin.
"Edward, apa kau juga tidak mau masuk ke dalam?" tanya Arsen menatap anak sulungnya.
"Kau sudah tau jawabanku, Daddy!" tutur Edward, dingin.
Arsen menjadi bingung. Ia menatap Mark dengan tatapan heran, sedangkan Mark pura-pura memalingkan wajahnya dan menatap sekelilingnya.
"Apa yang terjadi?!"
Deg!
"Tuan, Arsen, injinkan saya membawa anak-anak Tuan ke dalam," ucap Karin.
"Don't touch me!" ketus Edward saat Karin memegang tangannya..
"Apa kalian berulah?" tanya Arsen dengan tatapan tajam menatap keempat anak itu.
Empat Ed menunduk dan tak berani menatap wajah Arsen.
"Edhan apa yang terjadi?" Arsen sengaja memilih bertanya kepada Edhan, karena ia tahu kalau Edhan akan berkata jujur dan tidak akan berbohong.
"Daddy ... "
"Ayo masuk ke dalam!" ucap Edward tiba-tiba saat Edhan hampir saja mengatakan yang sebenarnya.
"Edward! *A*re u sure?" (Apa kau yakin?) tanya Edzel.
Edward mengangguk dan menggandeng keempat saudaranya menuju ke halaman sekolah. Sebenarnya mereka tidak ingin bertemu dengan teman-teman sekelas mereka. Karena bagi keempat Ed, teman sekelasnya sangat menyebalkan.
Selamatlah jiwaku! Batin Karin.
"Karin, aku titip anak-anakku!" ucap Arsen.
"Saya akan menjaga mereka dengan segenap hati dan jiwa saya. Kalau perlu sekalian dengan nyawa saya."
"Jangan berlebihan."
"Maaf Tuan."
Arsen berjalan meninggalkan Karin dan guru-guru yang lain. Namun langkah Arsen terhenti. "Karin!" panggilnya kembali.
Dengan sigap Karin menyahut. "Ada apa Tuan?" Yes! Sepertinya Tuan akan mempromosikanku. Uhuyyyy!
Arsen menengok ke belakang. "Gunting bulu matamu! Itu sangat menganggu penglihatanku!"
Deg!
"Bu--bulu mata ya? Ehm, i--ini sangat bagus Tuan, seperti princess Syahrini. Bulu mata anti badai, hehe!"
"Bagimu itu sangat bagus, tapi bagi orang lain itu seperti hutan rimba!"
Semua orang yang mendengar itu terkekeh pelan. Mereka mencoba menahan tawa mereka jangan sampai diketahui Wakil Kepala Sekolah.
Karin memandangi belakang punggung Arsen dengan mata dan bibir yang masih terbuka lebar. Ia tak percaya jika ia akan mendapat penghinaan dari si pemilik sekolah.
"Bulu mata anti kilat, anti guntur, anti, banjir, anti tsunami, di katain hutan rimba ... inikah yang dinamakan sakit tapi tidak berdarah?" lirih Karin.
***
E**pilog** :
"Sebelum ke perusahaan induk kita ke Paradise Hotel dulu."
"Baik Tuan." Itu artinya aku akan bertemu Sekretaris Jen. Mark kembali tersenyum semringah.
"Ohya, apa kau telah menerima hadiah dariku?" tanya Arsen.
"Hadiah apa Tuan?"
"Hadiah tetangga baru!"
Oh jadi itu rencana Tuan. Tak apa, kali ini hadiahnya bagus dan sangat berkualitas. "Trima kasih Tuan," ucap Mark keceplosan. "Ehm, maksudku, aku belum tau kalau ada tetangga baru di apartemenku."
"Aku mengawasimu, Mark!" Arsen tersenyum sinis menatap Mark di spion.
Mark terkejut bukan kepalang. Ia kembali mengingat kejadian tadi malam saat dirinya dan Jen berciuman dan bahkan hampir melakukan sesuatu yang hanya boleh dilakukan pasangan menikah. A--apa maksud Tuan?
"Sepertinya cctv berfungsi dengan baik!"
Deg!
Tbc ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*