
Merasakan jika aura menjadi sangat dingin di dalam mobil, seorang pria yang tak lain adalah Mark, berusaha mencari perhatian untuk mencairkan suasana hening dan beku dalam kendaraan. Mark memelankan kendaraan agar Jenifer bisa berbicara, mengomentari cara Mark membawa kendaraan. Namun Jen tampak tak mempedulikannya dan tetap cuek bebek.
Ia pun kemudian melajukan kendaraannya di atas kecepatan rata-rata, agar Jen mau berbicara padanya. Akan tetapi usaha Mark hanyalah sia-sia. Mark merasa jika lebih baik ia mendengarkan ocehan rempong sang kekasih, dari pada dicuekin dan dianggap jika kehadiran Mark di tempat itu hanyalah angin lewat saja.
Menakutkan!! Fix! Didiamkan seperti ini jauh lebih menakutkan dari pada mendengarkan berjuta kata mutiara. Batin Mark.
Begitulah perempuan. Lebih menakutkan jika diam! Dan kini Mark mulai menyadari, pentingnya cara membujuk wanita. Berdasarkan pengalaman pertama Mark dalam berkencan dengan Jenifer, ia mendapat kesan pertama yang buruk dalam hal mencari perhatian. Memelankan kemudian melajukan kendaraan, bukanlah hal yang tepat agar Jen mau berbicara dengannya.
Mark memutar otaknya. Di tengah malam itu, Jen membuat seorang Mark berpikir keras agar menemukan cara supaya bisa membuat wanita kesayangannya itu menganggap kehadiran Mark.
"Ehem!" Mark berdehem.
Jen cuek dan tak peduli.
"Ehem!" berdehem lagi.
Kedua kali mendengar deheman Mark, Jen pun pura-pura memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di kepala tempat duduk. Melihat itu, Mark mulai kesal, akan tetapi ia tetap berusaha agar Jen mau berbicara dengannya.
"Sekretaris Jen? Kalau tidak salah dengar, saat di mansion, kau mengatakan jika ada sesuatu yang akan kau bicarakan padaku?" tutur Mark.
Jen menggeleng kepalanya dengan mata yang masih terpejam.
"Kau marah padaku?" tanya Mark.
Jen menggeleng kepalanya lagi.
Situasi kembali hening. Tak lama setelah itu, mereka tiba di apartemen. Mark memarkirkan mobilnya di basemant. Tak menunggu Mark untuk membukakannya pintu, ia segera membuka pintu sendiri dan berjalan mendahului Mark.
"Menyedihkan sekali nasibku ini!" gumam Mark.
Jen menghentikan langkahnya. Ia menengok ke belakang dan mendapati ekspresi wajah Mark yang tampak kusut. Tak lama setelah menoleh, Jen melanjutkan langkahnya menuju lift.
Hahah! Tuan, maafkan aku karena mengacuhkanmu. Aku hanya ingin lihat bagaimana kau bertanggung jawab dengan apa yang kau lakukan. Aku ingin melihat kejujuranmu. Batin Jen.
Saat masuk ke dalam lift, Jen masih saja mengacuhkan Mark. Tak menunggu pria itu masuk ke dalam lift, Jen langsung menutup pintu. Untunglah Mark bergegas masuk ke dalam. Jika saja Mark lambat satu detik saja, maka ia pasti akan ditinggalkan Jen.
Jenifer menganggap jika hanya dirinya seorang yang ada di dalam lift, walaupun Mark telah mematung di sana. Mark menjatuhkan sapu tangannya di depan Jen, untuk menarik perhatian wanita itu. Namun hasilnya nihil. Jen berpura-pura tidak melihatnya.
Pintu lift terbuka. Kedua orang itu keluar dari dalam lift dan menuju apartemen masing-masing. Ketika Jen hendak memasukkan pinnya, Mark langsung menarik tangan Jen.
"Sekretaris Jen?"
Sontak Jen terkejut. Ia pun segera menengok. "Aku lelah, aku ingin istirahat," tuturnya.
"Aku mohon maafkan aku. Aku tau jika kau marah karena aku pulang terlambat. Dan bukan hanya itu, aku ... "
Jen mengernyitkan dahi. "Dan apa?"
Melihat mata Jen terbelalak, Mark reflek membungkuk. "Maafkan aku. Aku terlalu banyak minum alkohol sehingga aku mabuk!" memejamkan mata dengan mimik pasrah.
Jen hening. Bibirnya melekuk saat Mark berkata jujur. Apalagi ekspresi tubuh Mark yang reflek membungkuk ke bawah, tak berani memandang wajah Jen.
"Baiklah, aku maafkan," ucap Jen.
"Benarkah?" masih membungkuk.
"Tegapkan badanmu, sebelum aku menarik kata-kataku lagi!"
Deg!
"Ba--baiklah," secepat kilat Mak menegakkan tubuhnya.
"Jangan kau ulangi lagi. Aku tidak suka pria pemabuk!"
"Percayalah padaku, aku bukan tipe pria seperti itu. Aku tak menyukai alkohol, namun karena sesuatu dan lain hal, maka aku harus meminumnya," ketus Mark, jujur.
Jen mengangguk pelan. Ia melanjutkan mengisi sandi di pintunya. "Istirahatlah karena besok kau akan bekerja."
Mark menggaruk tengkuknya. Apa hanya begini saja?
Saat Jen hendak masuk ke dalam apartemennya, ia menatap Mark dengan heran, karena masih berdiri di hadapannya dengan mimik yang penuh arti.
"Ada lagi yang ingin kau bicarakan, Tuan?" tanya Jen.
"Ehm ... Aku---"
"Kalau tidak ada, aku akan masuk ke dalam."
Mark memajukan langkahnya sehingga jarak antara wajah keduanya tinggal beberapa senti saja. Ia kemudian mengecup kening Jen dengan tiba-tiba. "Selamat tidur," ucapnya lirih.
Sontak Jen terkejut. Jantungnya memompa begitu kencang saat menerima kecupan perpisahan dari Mark. Bukan jantung Jen yang ingin meledak, tapi si pelaku juga merasakan hal yang sama. Malahan yang lebih gugup Mark dari pada Jenifer.
"Tuan ... "
"Masuklah ke dalam, aku juga akan beristirahat," berjalan menuju pintu apartemennya.
Jen mengangguk pelan, sembari pandangannya masih menatap belakang punggung Mark. "Selamat tidur," bisiknya.
Mark tidak memandangi Jen. Ketika pintu apartemennya terbuka, ia langsung masuk ke dalam. Ia tidak ingin Jen melihat pipinya yang telah berubah warna menjadi merah bagai tomat. Tak hanya pipi saja, telinganya pun, berubah warna senada dengan pipinya.
"Sialan! Kenapa aku gugup sekali?!" Semoga Sekretaris Jen tidak sempat melihat wajahku yang bagai tomat ini!" gumamnya, memegang pipinya.
Sementara di seberang sana, terlihat Jen yang berjingkrak-jingkrak ria bagai cacing kedinginan. Jen tersenyum sembari meraba detak jantungnya. Ia berputar-putar layaknya tuan putri dalam istana, yang baru saja di lamar sang pangeran.
"Bolehkah pernikahan diadakan besok saja?! Aku tak sabar menunggu sembilan hari lagi! Itu begitu lama!"
***
Pagi itu, seperti biasanya, mansion tampak ramai. Sebelum bersiap ke sekolah, Amey, Dinar dan Candy dibuat keempat Ed pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak, saat Dinar memandikan si sulung, ketiga adiknya berkeliaran di mansion dengan keadaan telanjang.
Candy dan Amey berusaha menangkap ketiga anak itu dengan berbagai cara.
"Mommy, kejar aku!" teriak Edzel.
"Mommy, aku juga!" tambah Edgar.
"Mommy, tangkap aku juga!" sambung Edhan.
Amey memijat keningnya. "Kembalilah ke kamar mandi! Ini bukan saatnya kalian main kejar-kejaran!"
"Nyenyenyenye!" ledek si bungsu pada Candy saat ia hendak menangkapnya. "Edgar, awas! Mommy, di belakangmu!"
Edgar langsung berlari menjauh sambil terbahak.
"Edhan, Edgar, Edzel, ayo ke kamar mandi. Kalian anak yang pintar jadi harus menurut ya," tutur Amey.
Melihat Amey yang tampak pusing, ketiga anak itu pun mengangguk. "Yaaaa tidak seru deh!" celutuk Edgar.
"Kalian bisa terlambat ke sekolah!"
"Okey, Mommy," ucap ketiganya serentak.
Amey memegang tangan anak-anak itu dan mengantar mereka kembali ke kamar mandi.
"Mommy?"
"Yes, Love?"
"Kalau aku menuruti semua perintah Mommy, apakah aku boleh main ke rumah Uncle Mark?" tanya Edgar.
"Aku juga Mommy. Aku akan menuruti semua keinginan Mommy, asalkan aku bisa main ke rumah Uncle Kaisar," tambah Edzel.
"Apakah aku juga boleh begitu, Mommy? Aku merindukan Uncle Jayden!" ucap Edhan.
"Hmm ... baiklah. Kalau kalian tidak berbuat rusuh di sekolah dan menjadi anak baik, dengar-dengaran kepada guru-guru, maka Mommy akan mengabulkan permintaan kalian."
"Horeeee!! Aku akan menjadi anak baik di sekolah!" ketus Edgar.
"Aku juga!" ucap Edhan dan Edzel serentak.
"Uncle-Uncle, tunggulah kami!!" teriak Edzel.
Tbc ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
.
.
.
follow ig @syutrikastivani