
"Hello my friend!" panggil Jayden.
Kaisar menatap ke sumber suara yang berasal dari depan pintu. "Ada apa kemari?"
"Apa aku tidak boleh berkunjung ke kamar temanku?!"
"Terserah kau saja."
"Apa yang kau lihat?" tanya Jay saat melihat Kaisar sedang memandangi ponselnya.
"Aku menyuruh anak buahku untuk menangani kasus kemarin. Aku tidak mau media tau masalah ini!"
"Yayaya. Pandai juga kau!" puji Jayden.
"Memangnya kau? Yang taunya hanya bermain di atas ranjang!" ledek Kaisar.
"Eh kita satu server!"
"Aku sudah bertobat," tukasnya datar.
"Peff--bwhahah! Jangan ngarang kau! Bertobat bokongmu! Terus gimana dengan Samantha yang tiap malam kau lahap dengan buas. Hahah."
"Tisu yang sudah di pakai satu kali harus di buang!"
Plok ... plok ... plok
"Salut aku! Rupanya kau mau mengikuti jejak Arsen Haha."
Sejenak Kaisar terdiam. Ia seolah memikirkan sesuatu.
"Ada apa dengan wajah jelekmu itu?"
"Jay ... "
"What?!" Jay berjalan mengambil air mineral di dalam lemari es dan meneguknya.
"Bagaimana dengan Zoey?"
"Uhuk ... uhuk!!" Jay tiba-tiba tersedak. "Jangan gila kau!"
"Kau masih ingat beberapa tahun lalu sebelum Zoey berangkat ke Inggris?"
"Sebenarnya apa maksudmu?" tanya Jay heran.
"Zoey pernah menyuruhku berjanji untuk menunggunya dan menikah dengannya. Tapi aku menganggap itu hanya sebagai lelucon anak kecil saja."
"Lalu? Apa kau akan berpacaran dengannya dan menidurinya?! Kai, apa kau sudah tidak waras? Kau tau 'kan kalau Arsen tidak akan membiarkan adik kesayangannya berpacaran dengan pria br*ngsek ..."
"Kau mengataiku br*ngsek?! Sialan kau Jay!"
"Hmm. Sudah jangan ngaco kau!"
Kaisar terdiam kembali. Ia penasaran dengan gadis berusia delapan belas tahun itu. Bagaimana tidak, perhatian Zoey padanya membuat Kai mulai terbawa perasaan. Apalagi saat Zoey menangisi keadaannya saat mereka di tawan oleh Collin.
Tidak mungkin aku mulai menyukai gadis kecil itu! Aku hanya kasihan padanya. Benar! Aku tidak boleh menyukai gadis peranggang itu. Jika itu terjadi, aku tidak bisa mengontrol hasratku. Batin Kaisar.
Sementara Jayden dan Kaisar terlarut dalam keheningan, sosok yang mereka bicarakan pun muncul dari balik pintu. Zoey berjalan mendekat ke arah Jay dan Kai tanpa diketahui keduanya.
"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Zoey tiba-tiba.
"Goshhhhh!" ucap Kai dan Jay melonjak kaget.
"Ada apa?" tanya Zoey polos.
Apa dia mendengar obrolanku dengan Jay?!
"Zoey, sejak kapan kau di sini?" tanya Jay.
"Baru saja. Ohya bagaimana kabar kalian?"
"Aku baik," jawab Kai.
"Aku juga."
"Maafkan aku sudah membuat kalian berada di sini."
"Bukan salahmu Zoey. Untunglah ada Kai yang melihatmu menaiki mobil orang suruhan Collin."
"Trima kasih banyak telah menolongku," menatap Kaisar kemudian beralih menatap Jayden.
"Kalau begitu kalian mengobrollah. Aku mau istirahat di kamarku."
Zoey mengangguk.
Jayden berjalan meninggalkan Zoey dan Kaisar. Saat ia hendak membuka pintu, ia mendapati seorang gadis yang tak asing baginya sedang berbincang dengan pengawal Arsen.
"Samantha?" lirihnya.
Wanita itu melihat Jay yang baru saja keluar dari kamar Kaisar. "Jay!" panggilnya dari kejauhan. Dengan raut yang panik, Samantha berlari mendapati Jayden. "Di mana Kaisar?"
"Ada di dalam. Bagaimana kau ta ..." belum saja mendengarkan ucapan Jay, wanita itu langsung menyosor masuk ke dalam ruangan Kaisar.
"Kita bicara nanti, Jay!" ketus Samantha yang telah memunggungi Jayden.
Samantha pun masuk ke dalam. Ia mendapati Kaisar dan Zoey yang sedang berbincang. Wajahnya tampak garang saat melihat Zoey. Ia mengepalkan tangannya dan berjalan mendekat.
"Honey!! Aku sangat khawatir padamu. Apa yang luka darimu, hah?! Katakan padaku!" celutuk Samantha antusias.
"Cukup Samantha. Aku tidak apa-apa," tutur Kaisar sedikit menaikan nada.
Samantha menatap Zoey dengan tajam. Ingin rasanya wanita itu menjambak rambut Zoey, namun ia tak seberani itu menyentuh Zoey dikarenakan takut berurusan dengan Arsen.
Gadis sialan! Gara-gara kamu, Kaisar sakit! Jika saja kau bukan adik Arsen, sudah ku giling kau di mesin cuci! batin Samantha geram.
Melihat Samantha yang memandanginya seperti itu, membuat Zoey mengernyitkan dahinya tanda tak senang dengan wanita tinggi di sampingnya.
"Kenapa menatapku seperti itu?!' ucap Zoey dingin.
"Tidak. Aku hanya ingin memastikan kau terluka atau tidak. Apa kau baik-baik saja?" tanya Samantha dengan terpaksa.
"Are you blind?" (Apa kau buta?)
Deg!
Sialan! Nyali juga kau, gadis kecil!
Kaisar menjadi canggung dengan situasi saat itu. Ia menatap kedua wanita yang di depannya secara bergantian. "Zoey, Samantha. Bisakah kalian berdua meninggalkanku? Aku butuh istirahat," tersenyum kecil.
"Honey, aku baru saja tiba? Masa iya, aku pulang?! 'Kan nggak lucu!"
Siapa wanita tua ini? Dia bilang apa? Honey? Huekkk! Hmm, sepertinya aku ingat siapa dia! Dia 'kan wanita waktu itu yang pernah hadir di acara syukuran kehamilan kakak ipar! Ishhhhh norak!
"Sam, please!" ucap Kai memaksa.
"Aku akan menunggu di sini. Kau istirahatlah. Dan kau adik kecil?" menatap Zoey. "Kau juga kembalilah ke kamarmu dan istirahatlah."
"Siapa kau yang berani memerintahku?! Adanya kau yang harus pergi dari sini. Aku akan menemani kak Kaisar!"
WHAT!!! Apa dia baru saja mengusirku?! "Maaf ya, aku pacarnya Kaisar. Jadi biar aku saja yang menemani Kaisar!" ucap Samantha.
"Mau keluar sendiri atau aku yang akan memanggil robot-robot aneh di luar untuk menyeretmu secara paksa?!"
Deg!
"Aku akan kembali besok!" menghempaskan rambutnya di udara dan berjalan dengan angkuh meninggalkan Zoey dan Kaisar.
"Hufthhh" Kaisar bernapas lega. "Kau hebat Zoey. Bisa menyentak seorang Samantha hanya dengan beberapa kalimat saja," puji Kaisar.
Zoey hanya berdiam dan menatap Kaisar dengan tatapan membunuh. Ia kemudian memutar bola matanya dengan malas dan pergi meninggalkan Kaisar tanpa sepatah kata pun.
"Gadis itu mirip Arsen," lirih Kaisar.
***
"Apa Tuan butuh sesuatu?"
"Ambilkan tabletku di meja."
Jen pun mengambilnya dan memberikannya pada Mark. "Ada lagi yang Tuan butuhkan?"
"Air."
Jen pun mengambilnya. "Ini Tuan," menyodorkan gelas kaca itu. "Ada lagi?"
"Ya! Apa maksud ucapanmu itu?!"
Jen menjadi bingung. "Ucapan yang mana?"
Rupanya sedari tadi pikiran Mark terganggu. Satu kata itu mampu menyiksa Mark sampai-sampai ia yang sikapnya cuek bebek akhirnya merasa penasaran dengan satu kata itu.
"Lupakan!" menatap layar tablet itu dan memainkannya.
"Tuan Dasi Merah yang aneh!" gumamnya lirih.
Jen dan Mark menghentikan aktifitas mereka seketika saat mendengar suara riuh di luar.
"Kau juga mendengarnya Tuan?"
"Hmmm," mengangguk.
"Sebentar. Aku periksa dulu apa yang terjadi di sana."
Jen keluar dan melihat suara keributan apa yang sangat berisik itu. Saat Jen membuka pintu, jantungnya langsung syok saat melihat pemandangan di depannya. "Astaga!!"
"Kutuuuuu Doggy!!"
"Cicak Betinaaaa!!'
"Kutuuuuu Doggy!!"
"Cicak Betinaaa!!"
Kedua wanita tua itu berpelukan sambil teriak-teriak sehingga menciptakan kegaduhan. Mereka adalah Doris dan Soffy. Kedua wanita tua itu sudah lama tidak bertemu dan akhirnya mereka dipertemukan di rumah sakit.
"Nenek? Kenapa Nenek bisa ada di sini?" tanya Jen bingung.
"Mau ikut audisi Indonesia Idol! Ya mau jenguk menantu Nenek-lah!" ketus Doris lantang.
"Siapa menantumu, Kutu Doggy?" tanya Soffy. "Menantuku juga sedang di rawat di sini," ucapnya lagi.
"Ehh Cicak kau pasti tak 'kan percaya jika aku memiliki menantu yang super tampan," menyombongkan diri.
"Menantuku juga sangat tampan. Tak ada yang bisa mengalahkan ketampanan menantuku!"
Jen memegang kepalanya. Ia tampak pusing melihat kedua nenek lincah yang sedang berbincang layaknya memakai alat pengeras suara. Ia sangat tahu apa yang akan terjadi jika kedua orang tua itu saling bertemu.
"Apa yang terjadi?!" tanya Mark yang baru muncul dari belakang.
Brakkkkk!
Mark tak dapat mengimbamgi badannya saat melihat siapa yang berada di depan pintu ruangannya. Ia terjatuh di lantai dengan jantung yang berdetak kencang. "Ohhh goshhhh! Firasatku kini buruk!"
"Tuan!! Kau tak apa?" membantu Mark mengangkat tubuhnya.
"Hahhhhhh ini dia menantu yang aku ceritakan padamu! Jangan kau kira aku mengarang cerita! Lihat! Dia sangat sempurna 'kan?" ucap Doris menunjuk Mark.
"Astaga dragon!!! Mayyyy Braderrr favorit!" celutuk Soffy yang tak kalah terkejut dengan Mark.
"Cicakkk! Kau kenal menantuku?!" tanya Doris
"Ehh Kutu Doggy! Namanya adalah Mark! Dia adalah asisten menantuku, Arsen."
Doris melebarkan mata dan mulutnya. "A--apa? Jadi memang benar gosip itu? Jika cucumu menikah dengan Tuan Arsen Winston?"
"Jangan terlalu melebarkan mulutmu. Nanti lalat bisa masuk!"
Doris mengatupkan kembali mulutnya serta mengangguk. "Aku paham sekarang. Baiklah aku juga akan menikahkan Jeniku dengan pria itu!" menunjuk Mark.
"WHAT?!!" tukas Mark terkejut.
"Keributan apa ini?" tanya Arsen yang baru saja keluar dari kamarnya.
Kaisar dan Jayden pun ikut keluar.
Melihat pria-pria tampan tak bercacat itu membuat tubuh Doris lemas. "Cicak Betinaaaaa! Tolong tahan aku! Sepertinya aku ingin pingsan. Ambilkan tisu juga! Aku rasa hidungku akan mimisan! Kenapa banyak sekali pria tampan di sini."
"Jangan norak kau, Kutu Doggy! Aku sudah terbiasa akan hal ini. Hahah!" membanggakan dirinya.
"Mark! Jelaskan padaku situasi macam apa ini?!" ketus Arsen.
"Tuan, sepertinya badai akan berlangsung!" menatap Doris dan Soffy.
"Apa maksudmu?!"
"Nensi part satu dan Nensi part dua telah bersatu!"
Arsen menatap Soffy dan Doris secara bergantian. Ia kemudian menegang seketika dan dengan perlahan berjalan mundur ke belakang.
"Mark! Kau urus ini! Kepalaku tiba-tiba berdenyut!"
"Tuannnnnn!" teriak Mark saat melihat Arsen masuk ke kamar dan menguncinya.
"Tuan Dasi Merah? Kau tak apa-apa?" tanya Jen dengan nada pelan.
"Bunuh saja aku!" gumamnya.
"Apa?!"
"Satu Nensi saja sudah membuatku ingin mati suri. Apalagi ini ada dua Nensi! Bisa-bisa aku mati permanen!"
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
.
.
.
Follow akun ig resmi Author : @syutrikastivani dan dapatkan info update dan info visual karakter Novel TPTA :)