Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Pembalap


Di sebuah kedai kopi milik salah satu anggota geng Soffy, terlihat empat orang wanita tua yang sedang memperhatikan mobil berwarna ungu yang dikendarai Soffy tadi. Mereka adalah anggota Kawai Squad yang tidak kalah eksis dengan ketua gengnya.


Penampilan yang super mewah namun tidak menguras dompet alias tidak mahal menjadi khas unik Kawai Squad. Soffy dan Zoey saling menatap sambil menggeleng kepala.


"Bocil, ke empat wanita tua itu anggota gengku."


"Wah keren!" puji Zoey.


"Ya. Simpan dulu rasa terpukaumu. Masih banyak lagi kejutan-kejutan yang akan membuatmu tercengang," tutur Soffy tersenyum lebar.


Seorang Nenek yang mengenakan pakaian serba merah muda dilengkapi dengan bot senada dengan pakaiannya mendatangi Soffy dan Zoey yang asik berbincang.


"Ketua? Apa itu mobilmu?" tanya Grace.


Soffy melepaskan mangkuk dengan anggun dan membuka kacamata hitamnya. "Lebih tepatnya milik menantuku hehe."


"Be--benarkah? Mamamia! Ini sangat emejing."


"Jangan berlebihan. Ohya nanti kalau aku ada waktu luang, akan aku ajak kalian jalan-jalan pakai mobil yang bagus." tutur Soffy.


"Huaaa! Senangnya." Grace melompat-lompat kegirangan.


"Grace?"


"Siap Ketua," menegakkan tubuhnya.


"Kumpulkan pasukan."


"Siap Ketua!" Grace berlari dan memanggil anggota geng yang masih asik memandangi mobil mewah itu.


"Nek, kau sangat keren! Aku suka," ucap Zoey tercengang.


"Jika kau mau aku akan memasukanmu ke dalam Kawai Squad."


"Aku mau Nek. Mau banget!" menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Baiklah, tunggu sebentar."


Soffy menjelingkan matanya ke arah pintu, ia melihat anggota gengnya sedang berjalan menuju ke arahnya. Keempat wanita itu sangat eksis dan kekinian, semua pelanggan yang ada di kedai itu tercengang.


"Kawaiiiii Squad!" panggil Soffy lantang.


"Go ... go ... go!" teriak keempat Nenek itu.


"Perkenalkan, ini Zoey. Sepupu menantuku yang baru saja tiba dari Inggris, dan Zoey, perkenalkan ini, Grace, Lucy, Rose, dan Anna."


"Da--ri Inggris? Luar negeri maksudmu Ketua?" tanya Rose terbelalak.


"Hmmm," mengangguk. "Zoey asli Indonesia, tapi ia bersekolah di Inggris dan baru saja tiba beberapa hari yang lalu."


"Wahh, kau sangay cantik dan keren Zoey," puji Lucy.


"Halo Nenek-nenek," sapa Zoey menunduk. "Trima kasih telah mengijinkanku bergabung. Dan trima kasih juga atas pujiannya," tersenyum.


"Guys! Mulai sekarang Zoey resmi menjadi anggota Kawai Squad."


"Welcome baby girl," ucap Grace dan diikuti oleh anggota lainnya.


***


Di tempat lain Mark terlihat kewalahan mencari sosok keberadaan kedua majikannya. Ia sudah mencari Soffy dan Zoey ke tempat-tempat yang banyak didatangi pengunjung, namun nihil.


"Nensi, kau di mana? Tamatlah riwayatku jika mobil itu lecet," gumam Mark terlihat frustasi.


Ketika Mark hendak berlalu dari tempat itu, tidak sengaja matanya tertuju pada sebuah kendaraan yang paling bersinar dari kendaraan yang lainnya. Dengan segera Mark berlari menuju ke arah mobil itu.


"Itu pasti mobilnya!"


Mobil itu segera bergerak dari posisinya. Mark semakin cepat berlari namun sayang, kakinya terkilir sehingga ia tersungkur jatuh ke tanah. "Ahhh sial!"


Mobil itu semakin melaju. Mark yang melihat itu langsung segera berdiri dan menuju mobilnya. Ia mengejar mobil itu yang diyakininya adalah Soffy dan Zoey.


Pengendara yang mengemudikan mobil itu memang benar adalah Soffy. Ia menatap spionnya, ia mulai curiga jika ada seseorang yang membuntuti mereka.


"Zoey, bersiaplah! Kita akan bermain kejar-kejaran."


"Siapa yang mengejar kita Nek?"


"Orang gila."


Zoey menghadapkan wajahnya ke belakang, ia berkerut dahi saat melihat kendaraan itu yang tidak asing di matanya. Sepertinya aku pernah melihat mobil itu? Tapi di mana? batin Zoey.


Mark dari belakang berusaha mengejar mobil yang dikendarai Soffy. Ia membunyikan klakson agar Soffy menghentikan mobilnya, tapi itu sia-sia. Soffy semakin kuat menginjak pedal gasnya sehingga membuat Mark harus lebih melajukan mobil itu.


"Nensi, kau sebenarnya jelmaan apa? Selalu saja berbuat onar," gumam Mark kesal.


Kedua mobil itu terlihat ugal-ugalan di jalanan dan hal itu membuat pengendara lainnya merasa risih. Banyak sekali pengendara yang harus mengalah dan memberikan jalan bagi kedua mobil itu agar tidak ditabrak.


Mark memelankan mobilnya saat melihat lampu diujung sana telah berubah menjadi merah. Ia membiarkan beberapa mobil melambungnya. Sedangkan Soffy masih asik menginjak pedal gas itu.


"Nek, kau sangat hebat! Ayo Nek lebih cepat lagi!" seru Zoey.


"Kau lihat 'kan? Aku sangat hebat mengemudi," tersenyum lebar.


Sangking asiknya menginjak pedal gas, Soffy tidak lagi memperhatikan kendaraan yang ada di depannya. Lampu merah di ujung sana telah menyala. Tandanya kendaraan harus berhenti. Tapi Soffy tidak memperhatikannya.


"Nenek, injak remnya! Kita akan menabrak."


"Di tengah Nek! Ayoooo Nek! Cepat!"


Soffy menginjak rem dengan kuat. Untunglah mobil mereka tidak sampai mengenai mobil yang lain yang ada di depan. Keduanya bernapas legah.


"Aku sangat ahli bukan?" tutur Soffy memuji dirinya sendiri.


Brukkkk


Tiba-tiba suatu benturan keras terdengar dari arah belakang. Hantaman itu membuat badan keduanya tergoncang hebat.


"Nek, apa itu?" tanya Zoey panik.


"Sialan! Siapa yang berani menabrak mobilku!" Soffy segera turun dan melihat bumper belakang mobilnya. "Astaga dragon! Mo--mobilnya lecet!"


Soffy mengepalkan tangannya dan menggertakan gigi. Ia mengetuk jendela kaca pengemudi yang menabrak mobilnya dengan sangat kuat. "Keluar kau!"


Seorang pria pun keluar dengan ketakutan. Peluh pria itu menyucur deras karena takut melihat ekspresi Soffy yang mengerikan.


"Kau menabrak mobil mahalku! Kau tahu berapa harganya mobil ini, hah?" bentak Soffy murka.


"Maafkan saya Nyonya, saya tidak sengaja. Lagi pula Nyonyalah yang berhenti dengan tiba-tiba," jelas pria itu gugup.


"APA! Jadi kau menyalakanku?" Soffy menjambak rambut pria itu. "Dasar bedebah sialan! Rasakan amarahku!" teriak Soffy sembari menjambak rambut pria itu dengan kuat.


"To--long lepaskan saya, Nyonya. Sikap Anda berlebihan," ucap pria itu berusaha melepaskan tangan Soffy dari rambutnya.


"Mengganti rugi saja tidak akan cukup meredahkan emosiku!"


"Nek, tolong berhenti, orang-orang memandangimu," tutur Zoey tiba-tiba.


Dan benar saja, semua mata tertuju pada kedua orang yang menciptakan kegaduhan itu.


"Ada apa ini?" tanya seorang pria bertubuh tinggi.


"Mayyyy braderrrr!" ketus Soffy.


Mata Mark langsung tertuju pada bumper belakang super car itu. Ia terkejut bukan kepalang. Mata dan mulutnya terbuka lebar. Mark memegang dadanya karena denyut jantungnya semakin kuat memompa. Tubuhnya langsung melemas sehingga ia tersungkur jatuh di aspal. "Habislah aku," lirih Mark.


"Mark, kau kenapa?" tanya Zoey mencoba mengangkat tubuh Mark yang begitu berat.


"Mark, kenapa kau tiduran di jalanan! Ayo bangun," ucap Soffy tanpa dosa.


"Nensi ... k--kau ..." Mark tidak dapat berkata-kata lagi.


"Bicara yang jelas! Kau lihat 'kan kalau mobil ini di tabrak oleh pria jelek ini! Ayo bantu aku menghajarnya," celutuk Soffy.


"Aku tidak kuat lagi, tubuhku tak bisa digerakan," lirih Mark.


***


Amey dan Arsen masih asik berbaring di ranjang. Sikap Arsen yang bermanja-manjaan membuat Amey tidak bisa bergerak dengan lelausa karena pelukan Arsen yang sangat erat. Sambil memeluk tubuh istrinya, sesekali ia mencium leher Amey dengan lembut.


Drt ... drt ... drt ...


"Arsen, lepaskan tanganmu, aku harus menjawab panggilan."


"Tidak mau."


"Aku tidak akan lama, hanya ingin mengambil ponsel di atas nakas."


"Panggil aku Sayang. Itu terdengar seksi di telingaku."


Apa? Sa--yang?


"Kalau tidak mau ya sudah. Aku tidak akan melepaskanmu."


"Baiklah, baiklah Sa--sayang," tutur Amey pelan.


Mendengar itu Arsen segera mengambil ponsel Amey. "Siapa yang menelponmu di siang bolong begini?" tanya Arsen menaikan alis.


"Kau bisa membaca nama kontaknya."


"No name!"


"Berikan padaku, aku akan menjawabnya."


"Tidak!"


Amey mendengus. "Baiklah, kau saja yang angkat."


Arsen menatap Amey dengan sinis, kemudian menjawab telepon dari nomor tak dikenal itu.


(Percakapan di telepon)


"Selamat siang, apa benar ini dari keluarga Winston?"


"Benar. Siapa kau yang berani-beraninya menelpon istriku," tanya Arsen geram.


"Kami dari pihak kepolisian, hendak menyampaikan bahwa Nyonya Soffy, Tuan Mark, dan Nona Zoey sedang berada di kantor polisi."


"What?!"


To be continued ...


Ayo dukung Author dengan cara berikan like, komen, vote dan rate 😘