
Eh, bukannya dia telah melihatku? Kenapa wajahnya datar sekali? Jelas-jelas pandangan mata kita sudah bertemu secara tidak sengaja beberapa kali. Apa dia sudah lupa dengan wajahku? gumam Jen dalam hati.
Ya! Pandangan mata Mark dan Jen sudah saling bertemu beberapa kali, tapi seolah Mark tidak pernah bertemu dengan Jenifer sebelumnya. Ia cuek dan menganggap Jen sebagai orang asing yang sama sekali belm pernah ia temui.
Melihat Mark yang memandanginya tanpa ekspresi membuat Jen merasa lega dan mengaggapnya santai seolah mereka tidak mengenal satu sama lain. Jen lebih leluasa untuk bergerak ke sana kemari, karena pikirnya Mark sudah lupa dengan wajahnya.
Haha! Tuan dasi merah memang tidak mengenalku. Syukurlah. Dasar Tuan pelupa. Tapi tidak mengapa, justru lebih bagus. Haha. Baiklah Jen, anggap saja kau baru pertama kali bertemu dengannya. Lagi kata Jenifer dalam hatinya.
Setelah Arsen telah mengucapkan beberapa patah kata untuk menyambut tamu-tamu itu, tibalah saatnya untuk berdansa. Arsen dan Amey dengan sangat romantis membawakan tarian mereka kemudian di susul dengan Kaisar dan Jayden bersama pasangan masing-masing.
Semuanya memiliki pasangan, kecuali Mark dan Jen. Mereka tampak mematung di posisi mereka masing-masing sambil memandangi beberapa pasangan yang sibuk bergerak mengikuti alunan musik.
Jen memang tidak bisa berdansa karena lututnya yang mengalami cidera. Sedangkan Mark? Jangan ditanya lagi, tentu saja ia tidak mau berpasangan dengan Jen yang sudah terpatri dalam benaknya, jika wanita itu jorok. Mark benci dengan satu kata itu!
Di sisi lain, tampak Soffy dan Zoey yang ikut berdansa. Gerakan Soffy begitu lincah sampai-sampai membuat Zoey dengan setengah mati belajar agar bisa mengimbangi gerakan bermacam-macam yang Soffy keluarkan.
"Nenek, kau hebat dalam berdansa!" puji Zoey.
"Tentu saja. Nenek itu mantan belerina terkemuka di dunia. Bagus 'kan gerakan-gerakan Nenek? Haha!" ucap Soffy dengan nada kesombongannya.
"Wah, keren Nek. Ternyata Nenek memiliki banyak keahlian, mulai dari atlet maraton, pembalap profesional dan balerina terkemuka! Salut aku Nek!" puji Zoey lagi.
"Bukan cuma itu saja keahlian Nenek. Masih banyak lagi, tapi sabar! Itu akan bermunculan perlahan-lahan." Soffy berputar dan menyilangkan kakinya.
Rupanya semua yang dikatakan Soffy terekam dalam benak Zoey. Gadis polos itu mempercayai ucapan Soffy begitu saja. Tapi bagaimana Zoey tidak percaya, semua yang dikatakan Soffy memang terbukti. Jadi, Zoey pun percaya jika Nenek Rempong itu memanglah balerina handal pada zamannya.
"Eh, Nek apa nggak encok tuh badannya?" tanya Zoey saat melihat Nenek itu merebahkan separuh tubuhnya ke lantai.
"Jangan kawatir Bocil. Nenek sudah minum ramuan anti keropos."
"Astaga dragon! Nenek juga punya keahlian meracik ramuan kayak penyihir-penyihir yang aku tonton di movie-movie barat itu loh!" celutuk Zoey lantang.
Pletakkk!
Soffy menjentikkan tunjuknya di dahi Zoey.
"Aduh Nenek, sakit!" pekiknya menghentikan tarian.
"Kau pikir aku Nensi? Si Nenek Sihir yang selalu di sebut-sebut oleh menantu gila dan asisten gila itu?!"
"Ya maaf Nek. 'Kan Nenek sihir memanglah memiliki keahlian handal dalam meracik ramuan," lirih Zoey memanyunkan bibirnya.
"Dragon! Maksud Nenek meracik ramuan rempah-rempah sebagai obat tradisional yang mujarab, Bocah Cilik!" tukas Nensi geram.
"Iya iya, aku mengerti. Jangan marah-marah lagi Nek, nanti beneran loh jadi ..."
"Apa? Nenek Sihir lagi katamu? Ya Amsyonggg! Aku tidak habis pikir dengan kids zaman now," menepuk jidatnya.
"Shut up! Dari tadi kalian berdua berisik!" teriak seorang pria yang suaranya sangat dikenal kedua orang itu karena memiliki ciri khas khusus.
Soffy dan Zoey terperanjat. Suara Arsen begitu nyaring sehingga menutupi dentuman musik dansa. Sedari tadi ternyata orang-orang di sekitar Soffy dan Zoey menjadi risih karena celoteh kedua orang itu yang unfaedah.
"Cukuplah tubuh yang bergerak, jangan bawa-bawa mulut untuk ikut bergerak!" lagi kata Arsen.
Amey terkekeh pelan melihat tingkah suaminya yang terusik dengan suara Soffy dan Zoey. "Haha, Nenek ada-ada saja. Ohya Nek, jangan terlalu banyak bergerak nanti encok loh," ledek Amey.
"Tidak akan. Nenek sudah meminum ramuan tradisional," ucap Soffy sedikit menaikkan nada.
"Haha, kalau soal ramuan Nenek memang paling jago," puji Amey.
"Iya dong!" Soffy beralih menatap Arsen. "Hey menantu gila, awas saja kalau kau menyuruhku membuatkanmu ramuan pembangkit listrik! Aku tidak akan mau membuatkannya lagi!" Soffy merajuk seraya memutar bola matanya.
Arsen berdiam. Ahh sial! Kapan lagi dua belas rondeku! Dasar Nensi pelit! umpatnya dalam hati.
***
Jam dinding terus berputar tanpa henti. Kini waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. Acara yang sederhana bagi kaum elit pun usai. Kaisar dan Jayden bersama kedua wanita rekan bisnis Arsen telah pamit kembali ke rumah mereka masing-masing.
"Jen, bagaimana? Apa taxi yang kau pesan sudah di jalan menuju ke sini?" tanya Amey.
"Belum nih Mey. Dari tadi mobil ini tidak bergerak pada posisinya," menunjuk sebuah lokasi tempat taxi itu bertumpu pada monitor ponselnya.
"Aha! Tunggu sebentar," tutur Amey seperti mendapat ide.
Jenifer memanyunkan bibirnya sambil memandangi layar ponsel. Ia teringat akan mantan kekasihnya yang selalu mengantar jemputnya ke mana saja jika sudah larut malam. Andra memang tidak biasa membiarkan Jen membawa kendaraan atau memesan taxi online jika sudah larut.
"Cihhh! Kenapa aku masih kepikiran sama pria br*ngsek itu? Sudahlah Jen, move on!" tegas Jenifer terhadap dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian Amey mendatangi Jen. Tapi kali ini ia tidak sendiri. Amey membawa seorang pria yang tak lain adalah Mark. Melihat kemunculan Mark di depannya, membuat Jen melonjak seraya melebarkan matanya.
"Astaga! Tu--tuan dasi merah?" lirihnya.
"Kau mengenalnya Jen?" tanya Amey berkerut dahi.
"Tidak!" Tukas Mark menyambar dengan cepat pertanyaan Amey yang di ajukannya untuk Jenifer.
"Iya. Aku juga tidak mengenalnya," tambah Jen ragu-ragu. Aduh sial! jangan sampai Tuan dasi merah ini mengenali wajahku.
"Oh, aku kira kalian saling kenal. Baiklah aku akan memperkenalkan kalian berdua."
Tidak! Jangan Mey, jangan sampai kau menyebut namaku. Aku sudah pernah memperkenalkan namaku padanya waktu itu! Tuan dasi merah ini tidak boleh tau jika aku adalah orang yang sama dengan tadi siang! Jen menggerutu dalam hatinya.
"Mark, perkenalkan ini ... "
"Doris!" tukas Jenifer memotong ucapan Amey.
"Hah, Doris?" Amey terkejut bukan main. Ia menjadi bingung dengan sikap Jenifer. "Jen, kenapa kau menyebut namamu, Doris? Bukankah itu nama Nenekmu?"
Astaga, sangat-sangat memalukan. Kenapa aku jadi salah tingkah? Dan ... kenapa juga aku memperkenalkan diri dengan nama Nenekku? Aduhh jadul banget lagi namanya. Kalau sampai Nenekku tahu, bisa mati aku!
Mark terkekeh pelan. Ia tidak kuasa menahan tawanya melihat tingkah Jen.
Eh! Apa dia baru saja menertawaiku? Tamatlah aku! Dia sudah tau identitasku.
"Mark, ini Jenifer," menatap Mark. "Dan Jenifer ini, Mark," beralih memandangi Jen yang gugup.
Mark menundukkan kepala.
Melihat respon Mark yang datar, membuat Jen merasa lega. Pikirnya Mark memang tidak mengenalinya.
"Mark, kau antarkan Jenifer pulang. Soalnya taxi online yang Jen pesan tidak muncul-muncul sampai detik ini."
Deg!
Mark menelan saliva kasar. Nyonya Muda bilang apa? Mengantar gadis dasi merah yang jorok ini? Tidak tidak! Bisa pingsan aku jika berlama-lama dengannya.
To be continued ...
.
.
.
.
Halo readers. Kuyy kepoin visual Arsen dan Amey di youtube channel Author. Ohya video visual Mark dan Jenifer pun akan segera menyusul ya. Untuk jangan lupa like dan subscribe. Nyalakan juga lonceng notifikasinya :)
Pokoknya Author jamin seribu koma nol satu persen, readers bakalan baper. Apalagi saat melihat si Tuan Arogan yang bucin lueerrrr biaseeee :* Salam sehat dari Author untuk kleann semuwaa ...