Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Undangan


La la la la la


Du du du du


La la la la la laaaaaaaaaaa!


"Berisik!" Celutuk Arsen dingin, saat melewati ruang tamu.


Soffy tidak memperdulikan Arsen dan Amey yang baru saja melewatinya.


La la la la la laaaaaaa!


"Nek, aku dan suamiku pamit ke kantor," tutur Amey.


"Baiklah. Nenek juga sedikit lagi mau mengantar Bocil."


"Di mana Zoey?"


"Lagi siap-siap."


"Hmm, tumben. Biasanya Nenek yang selalu ditunggu Zoey."


"Nenek sudah dari tadi selesai. Karena Nenek ingin cepat-cepat latihan."


"Latihan apa, Nek?"


"Latihan menyanyi. Soalnya Kawai Squad akan tampil di acara ulang tahun sekaligus pertunangan cucunya Rose, yang konglomerat ituloh."


"Oh begitu. Ya sudah, lanjutin saja Nek. Aku dan Arsen mau ke kantor. Bye Nenek," mengecup pipi Soffy.


"Nensi, aku pamit. Bye maksimal!" ketus Arsen.


"Hati-hati di jalan, cucuku yang ganteng dan cantik. Lopppyuuu."


Arsen dan Amey berlalu meninggalkan Soffy. Sedangkan Nenek Rempong itu kembali mengeraskan suaranya. Bukan hanya mulutnya yang membentuk bulatan, matanya juga melebar mengikuti tekanan nada yang keluar dari mulutnya.


***


Hari cuti Mark telah usai. Ia kembali menjalankan rutinitasnya sebagai asisten Arsen. Pagi itu ia mengantar kedua majikannya ke kantor masing-masing.


"Aku akan mengantarmu sampai ke ruanganmu," ucap Arsen.


"Tidak usah Sayang. Nanti kamu terlambat mengikuti rapat."


"Aku bisa menunda waktunya," menatap jam tangannya. "Bagiku, kau yang terpenting."


"Hadeh, baiklah."


"Kau tak suka?"


"Bukan begitu Sayang." Tapi kau terlalu berlebihan. Memangnya siapa yang mau menculikku pagi-pagi begini. Di kantorku pula!


"Aku tau apa yang ada dipikiranmu, Honey!"


"Baiklah, Sayang. Ayo kita masuk."


Kedua orang itu pun masuk ke dalam gedung Alganda Group. Sedangkan Mark yang sedari tadi ada di belakang mereka, hanya bisa menghela napasnya dengan berat karena menyaksikan kekonyolan Tuan Mudanya.


"Selamat pagi, Tuan dan Nyonya Winston," sapa para karyawan serentak dengan menunduk kepala.


Seperti biasanya, Amey selalu membalas sapaan mereka dengan senyuman hangat. Namun tidak untuk Arsen. Ekspresinya datar, tapi itulah yang membuat para wanita sampai mimisan melihat pesona Arsen.


"Selamat pagi Tuan dan Nyonya, Winston," ucap Eggie ramah.


"Pagi, Eggie," balas Amey.


"Selamat pagi, Tuan Mark," sapa Eggie lagi.


"Pagi, Sekretaris Eggie," balas Mark dengan datar. Ia terus berjalan ke depan tanpa memandangi Eggie.


Rasa itu kembali bermunculan di benak Mark. Rasa yang ia pendam selama dua belas tahun akhirnya kembali terngiang karena pembasahannya waktu lalu di restoran. Kekepoan Amey kembali mengorek luka batin Mark. Namun mau bagaimana lagi, cepat atau lambat tetap masa lalu Mark akan terkuak.


"Sayang, kau bisa ke kantormu sekarang."


Arsen terdiam. Ia masih tak rela berpisah dengan Amey. Matanya menatap Amey dengan lekat. Tatapan itu memiliki makna yang mendalam. Amey pun peka dengan maksud suaminya.


"Mark, bisakah kau meninggalkan kami. Hanya sebentar saja," pinta Amey.


"Baik Nyonya."


Mark pun berlalu. Ia menutup pintu dan menunggu di sana. "Apa pertempuran semalam tidak cukup memuaskan si 'Tuan Kecil' (?)" gumam Mark.


Eggie memandangi Mark yang sedang berdiri di depan pintu. Ia berjalan mendekat ke arah Mark dengan penuh kehati-hatian.


"Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Eggie.


"Tidak. Kau bisa kembali bekerja."


"Baik, Tuan."


Eggie kembali ke tempat duduknya. Raut wajah Eggie menunjukkan kalau ia sangat merindukan laki-laki kaku itu. Namun apa daya? Ia tak bisa dengan seenaknya berbicara dengan Mark, selain membahas masalah pekerjaan.


Langkah Eggie terhenti. Tubuhnya tiba-tiba menjadi tegang karena mendengar Mark memanggil namanya dengan informal. Biasanya Mark memanggil nama Eggie disertakan dengan nama jabatannya.


Eggie pun membalikkan badannya dan kembali bersikap profesional. "Anda memanggil saya, Tuan?"


"Ya. Tolong kirimkan jadwal Nyonya Amey hari ini."


"Baik Tuan. Silahkan duduk dulu," mengantar Mark untuk duduk di sofa.


Mark mengikuti Eggie dan mendudukkan tubuhnya di sofa. Mark membuka tabletnya dan memeriksa email.


"Sekretaris Eggie, apa Nyonya Amey menerima undangan dari Mr. Collin?"


"Sepertinya iya Tuan. Saya baru menerima email masuk dari Collin's Group."


"Kau atur kembali jadwal Nyonya Muda untuk hari ini. Undangan pukul enam sore di hotel Hanoi Golden Lake,"


"Baik, Tuan."


"Kau harus mempersiapkan keperluan Nyonya. Ini merupakan pertemuan besar antar pebisnis berpengaruh di seluruh dunia. Nyonya Amey termasuk prestigious club." (Klub Bergengsi yang beranggotakan sembilan orang dari pebisnis berbakat sedunia).


"Baik, Tuan Mark."


"Kau juga harus hadir. Kau harus selalu berada di samping Nyonya untuk mengawasinya. Karena Tuan pasti akan sibuk meladeni tamu penting dari berbagai penjuru dunia."


"Baik, Tuan."


(Empat jam kemudian)


Mark masih tetap pada posisinya semula. Ia masih duduk tenang sambil menunggu Arsen dan Amey selesai melakukan ritual sakral. Sedangkan Eggie sedari tadi menatap monitornya dan mengerjakan tugas-tugasnya.


Setelah berbicara beberapa kalimat tadi, keduanorang itu todak lagi mengeluarkan beberapa patah kata. Mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Meski dalam hati keduanya ingin menegur sapa, namun mereka menahannya.


"Dingin dan tak berperasaan. Itulah yang pantas menjadi julukanmu, Mark. Tapi kau memang sangat hebat. Mampu bernazar dan mampu menahan perasaanmu selama dua belas tahun." ucap Eggie dalam hati.


"Kau bukanlah Eggie yang dulu. Akan aku buktikan padamu kalau aku pasti akan tetap memegang teguh apa yang sudah aku nazarkan!"


"Mark, aku sudah selesai. Ayo ke kantor."


Mendengar suara Arsen, Mark refleks berdiri. "Baik, Tuan."


Kedua orang itu pergi meninggalkan ruangan Direktur Utama. Saat hendak memasuki lift, Arsen tidak sengaja menatap bayang tubuhnya di cermin lift. Ia mendapati lehernya yang penuh dengan label kepemilikan dari Amey.


"Memey, kau sangat bersemangat hari ini," gumamnya menyunggingkan bibir.


"Tuan, apa kau berbicara padaku?"


"Tidak. Aku berbicara dengan diriku sendiri."


Apa kau sudah gila, Tuan? batin Mark.


"Beraninya kau memaki seorang Arsen Winston," ketus Arsen sembari mengangkat kepalan tangannya dan hendak melayangkan ke pipi Mark, namun tiba-tiba pintu lift terbuka. Sontak para karyawan yang mengantri ke lift khusus pegawai, menatap kedua pria itu yang baru saja turun dari lift khusus dan memberi mereka tatapan heran.


"Mark, kau harus merapikan dasimu agar terlihat keren sepertiku. Dadimu tampak amburadul," tutur Arsen berpura-pura.


Mark menatap dasinya dan kemudian menatap dasi Arsen. "Tuan, dasiku baik-baik saja. Mungkin Tuan perlu membenahi dasi Tuan yang agak miring ke kanan," memperbaiki dasi Arsen.


Kedua orang itu tampak sedang merapikan dasi satu sama lain. Para karyawan yang sedari tadi memperhatikan kedua pria itu menahan tawa karena tidak berani menertawakan seorang Arsen Winston dan Asistennya yang dingin.


"Ehem!" Arsen berdehem. "Sialan kau, Mark!" geram Arsen lirih.


"Maafkan aku, Tuan. Kau han--" belum saja menyelesaikan kalimatnya, Arsen telah berlalu meninggalkannya di dalam lift.


Wajah Arsen memerah akibat menahan malu. Bisa-bisanya ia bersikap konyol di depan karyawannya. "F*ck! Aku terlihat seperti banci yang menyukai sesama jenis! Keparat kau Mark!"


Mark melajukan mobilnya menuju gedung WS Group. Ia teringat akan sesuatu.


"Tuan, Mr. Collin mengundang Tuan untuk menghadiri pesta pertunangannya dan sekaligus merayakan hari ulang tahunnya yang ke tiga puluh delapan tahun."


"Aku tidak akan hadir."


"Baik, Tuan. Tapi Nyonya Muda juga mendapat undangan. Nyonya juga termasuk dalam Prestigious Club.


"Siapkan semuanya, aku ingin tampil sempurna di acara itu."


Tuh 'kan berubah pikiran dengan cepat hanya karena Nyonya Muda mendapat undangan. Batin Mark, meledek Arsen.


"Diam kau, sialan!"


Mark mengunci bibirnya rapat. Ia juga berhenti meledek Arsen dalam hatinya. Karena Tuannya itu pasti akan mengetahui apa yang dipikirkan Mark.


Hanya orang-orang berkuasa dan terpandang yang bisa menghadiri acara itu. Dan Amey salah satunya. Bukan hanya karena ia sebagai istri seorang Arsen Winston sehingga bisa masuk dalam club bergengsi itu. Namun karena ia mempunyai bakat dan kemampuan yang tak kalah hebat dengan pengusaha lainnya.


"Acara pertunangan sekaligus hari ulang tahun? Hmm, menarik! Tidak biasanya keluarga Collin merayakan pesta seperti ini. Mereka adalah keluarga yang tertutup. Meski mereka cukup berpengaruh di dunia perbisnisan, tapi mereka selalu main belakang! Ada apa gerangan, Mr. Collin?!" gumam Arsen menyeringai.


To be continued ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*