
Hayhayhayyyy ....
Musim kedua sudah tiba hihihi.
Jangan malas-malas tekan tombol suka yaaa :) ohyaaa jangan lupa juga vote yang buanyakkkk biar Author semangat menulis ....
Selamat Membaca :)
_______________________________________________________
Enam tahun kemudian ...
"Mommy ... Mommy ... !" teriak seorang anak kecil.
"Ada apa Sayang?" tanya Amey seraya memperhatikan putra bungsunya yang tampak bosan.
"Mommy! How much longer will we float like this?!" (Mommy, berapa lama lagi kita akan melayang seperti ini?!).
"Sebentar lagi kita akan tiba. Apa kau sudah tak sabar bertemu Nenek?"
"Yes, Mommy! Aku sudah lupa bagaimana penampakkan Nenek!" ketus Edzel.
"Tentu saja. Terakhir kali kau melihat Nenek, waktu umurmu dua tahun. Jelas saja kau tak akan ingat."
"I remember!" tukas Edward, menutup buku yang baru selesai ia baca.
"Ohya?! Awesome!" (Ohya? Mengagumkan!)
Seperti biasanya, Amey memuji kepintaran putra sulungnya. Bagaimana tidak Edward adalah anak yang sangat pandai dan jenius. Baru usia enam tahun saja, ia sudah mampu berpikir kritis terhadap sesuatu.
"Bisakah kau menyebutkan ciri-cirinya, Edward?" tanya Amey, tersenyum kecil.
"She has an ugly face! Short stature and talkative!" (Dia berwajah jelek, bertubuh pendek dan banyak bicara!)
Deg!
"Edward, kau jangan menyebut Nenek seperti itu!" bentak Edhan yang mendengarnya.
"Benar apa kata Edhan. Biar bagaimanapun juga Nenek Soffy adalah Nenek satu-satunya Mommy. Dan juga merupakan Nenek kalian. Jadi bersikap baiklah padanya. Mengerti?" tutur Amey.
Edward memutar bola matanya dengan malas. Ia mengalihkan pandangannya ke arah jendela dan memperhatikan awan putih yang bergantungan di langit. "Yes, Mommy!" ucapnya lesu.
"Ada apa ini?" tanya Arsen yang muncul tiba-tiba.
"Tidak Sayang. Hanya saja ... kau tau 'kan bagaimana sifat Edward."
Arsen terkekeh. "Itu baru anak Daddy!" mengelus puncak kepala Edward.
"Huayemmmm!"
"Edgar! Kau sudah bangun?" tanya Edzel.
"Hmm," ucapnya malas.
"Apa tidurmu nyenyak?" tanya Edzel lagi.
"Tidak. Kalian sangat ribut!"
"Kau yang sangat ribut. Dengkuranmu begitu kuat sehingga aku tak bisa membaca dengan fokus!" kilah Edward.
"Hahahah!" Edzel terbahak. "Kau benar Edward!"
Edgar terdiam karena di serbu dua saudara kembarnya.
"Mommy, apa masih lama?" tanya Edzel lagi.
"Sebentar lagi, pesawat akan mendarat," melirik jam tangannya.
"Owkeyy!"
"Kau seperti Nenek saja, terlalu banyak bicara!" tutur Edward.
Edzel tak memperdulikan ucapan Edward. "Bodo amat!"
Sementara yang lainnya sibuk bertengkar, Edhan lebih memilih diam dan menyimak. Bisa dikatakan jika Edhan mewarisi sifat Arka. "Aku nyimak!" gumamnya.
Enam tahun telah berlalu, kehidupan keluarga Winston semakin hari semakin bahagia. Tapi jangan salah, mereka juga melewati pergumulan hidup yang sangat mengenaskan, namun mereka selalu membawanya dengan penuh ucapan syukur. Karena mereka yakini bahwa apa yang sudah Tuhan buat, itu berarti baik bagi mereka.
Empat tahun lalu, saat keempat bayi kembar itu berumur dua tahun, sesuatu yang buruk terjadi pada keluarga mereka. Si bungsu Edzel, ternyata memiliki riwayat penyakit Leukimia. Mendengar pernyataan itu dari dokter, membuat Amey dan Arsen sangat berhati-hati dalam merawat Edzel. Arsen pun mengambil keputusan untuk pindah di New York agar Edzel bisa berobat di sana. Arsen dan Amey tidak ingin kejadian Arka terjadi pada si bungsu Edzel.
Arsen dan Amey meninggalkan perusahaan mereka demi merawat Edzel. Untunglah ada Michael yang menawarkan diri mengurus WS Group induk di Indonesia dan juga mengurus Alganda Group. Bagi Michael mengurus dua perusahaan besar sekaligus hanyalah masalah kecil untuknya. Tentu saja karena sebelum Arsen mendapat jukukan Raja Bisnis nomor satu, Michael sudah lebih dulu menyandang julukan itu.
Setelah hampir empat tahun Edzel di rawat, akhirnya ia bisa dinyatakan sembuh total oleh Dokter khusus yang menanganinya. Namun tetap saja, Amey dan Arsen sangat waspada dengan kesehatan Edzel. Karena tidak menutup kemungkinan jika penyakit itu akan kembali pada tubuh Edzel yang masih kecil. Namun, melihat Edzel yang sudah bisa aktif lagi membuat Arsen dan Amey memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan menetap di sana.
***
Di rumah utama, kapala pelayan wanita yang tak lain adalah Elis, telah menyiapkan pesta penyambutan untuk keluarga Winston. Helen dan Michael pun telah menunggu kedatangan anak-anak dan cucu-cucu mereka yang menggemaskan.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara kendaraan roda empat yang berhenti di depan mansion. Mendengar itu, Helen, Michael dan para pelayan langsung menuju teras, menyambut kedatangan Arsen dan keluarganya.
Mobil yang ditumpangi keempat kembar lebih dulu terpakir di depan mansion. Sedangkan mobil yang ditumpangi Arsen, Amey dan Mark berada di belakang dan baru saja memasuki gerbang.
"Horeeee! Horeeee! Horeee! Kita sampai!" ketus Edzel dan Edgar bergantian.
Setelah Dinar dan Candy membukakan pintu untuk keempat anak kembar itu, mereka langsung berlari keluar dari dalam mobil layaknya kuda yang baru dilepaskan dari kandang.
"Dinar, mampuslah kita jika mereka tergores sedikitpun!" ketus Candy yang tak kalah panik dengan Dinar.
"Grandma!!" panggil Edgar saat melihat Helen yang berdiri di depan pintu.
"Cucu-cucuku yang tampan. Selamat datang."
Edgar memeluk Helen dengan kegirangan. Melihat itu, ketiga saudara kembarnya pun mengikuti Edgar, memeluk Helen dengan erat. Beberapa saat kemudian mereka berpindah ke arah Michael.
"Syukurlah kalian kembali dengan selamat," ucap Michael.
Setelah selesai memeluk Michael, keempat Ed itu berlari menuju ke dalam mansion. Mereka terlihat semangat dan sangat aktif. Para pelayan yang melihat mereka hanya bisa menggeleng kepala dan membuang napas berat. Mereka tahu jika keseharian mereka akan lebih ribet dari sebelumnya.
"Heloooo boy's!!" sapa seorang wanita tua yang tak lain adalah Soffy.
Keempat Ed itu seketika berhenti berkeliaran di ruang tamu. Mereka menatap ke sumber suara yang menyapa mereka.
"Who are you? Do we know you?" (Anda siapa? Apa kami mengenal Anda?" ucap Edzel.
Soffy menelan salivanya. "Ehh busyetttt! Nih bocahh ngomong apa?!" lirih Soffy seraya menggaruk tengkuknya.
"Halo, Nenek Soffy!" sapa Edward.
"Huaaaa! Nenek Soffy!!! I really miss you!" ketus Edhan.
"Me too!" timpal Edgar.
"Nah kalau ini, aku paham. Miss berarti rindu. Hahah! Berarti mereka merindukanku!" gumam Soffy.
Edhan dan Edgar langsung berlari memeluk Soffy. Edgar yang melihat itu pun, langsung menyusul dan membentangkan tangannya meraih Soffy dan kedua saudara kembarnya.
"Aku tau, pasti kau Edward," menunjuk anak kecil yang masih berdiri di posisinya.
"Benar."
"Melihat sikapnya saja sudah bisa ditebak, kalau dia si sulung yang cuek," gumam Soffy. "Edward, apa kau tak mau memeluk Nenek?" tanya Soffy.
Dengan langkah yang malas, Edward berjalan menuju Soffy. "Baiklah. Karena Kau yang meminta," memeluk Soffy.
"Dasar anak nakal!" mencubit pipi Edward.
"Kau semakin jelek, Nek. Wajahmu juga sudah sangat keriput," ucap Edward berterus terang.
"Enak saja! Nenek itu awet muda! Matamu saja yang buram!" ketus Soffy tak mau kalah.
"Edward, kau sangat berterus terang. Jaga bicaramu!" tegur Edhan.
"Hmm, aku hanya becanda."
"Nenek, ayo main kuda-kudaan!" ajak Edzel.
"Astaga dragon! Kau mau tulang Nenek patah semua?"
"Edzel, tulang Nenek akan keropos jika kau menungganginya," jelas Edhan.
"Ahhh! Nenek pelit!" rengek Edzel.
Bisa metong aku, kalau anak-anak nackal ini mengajakku main kuda-kudaan! Batin Soffy.
"Ayolah Nenek ... !"
"Tidak bisa. Bagaimana kalau tulang nenek patah? Lem korea aja nggak bakalan sanggup menyatukan tulang legend ini!"
"Edzel, ayo kita main lain saja," ajak Edgar.
"Iya, Edgar benar," sambung Edhan.
"Baiklah."
Hufthhhh! Untunglah bisa selamat!
"Nek, aku lapar," tutur Edward.
"Oh benar. Baiklah, ayo kita ke dapur."
"Edhan, Edgar, Edzel! Ayo makan! Kata Nenek kalian harus makan dulu agar bisa main kuda-kudaan!" ucap Edward, tersenyum sinis.
"Horeeeee!" ucap ketiga saudara kembarnya, serentak.
Soffy menepuk jidatnya sembari membuang napas berat. "Bapaknya jadi-jadian, jelas saja anaknya pun demikian. Susyinggggg dechhh jadinya!"
Tbc ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
.
.
.
follow ig : @syutrikastivani