Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Memey On Top!


Luxury Hotel, Jerman.


03.00 PM


Mark menatap Arsen yang sedari tadi mondar-mandir di depannya. Tampang Arsen begitu panik dan mulai marah. Sudah dua puluh menit Tuannya itu berlaku aneh. Mark menjadi risih namun seolah tidak memperdulikan pria itu.


"Mark! Ayo pulang!"


"Apa? Tuan bilang apa?" tanya Mark memastikan jika ia tidak salah dengar.


"Penyakit tulimu semakin parah, Mark! Aku bilang ayo kita pulang, kembali ke Indonesia!"


Mark melebarkan mata, bagaimana bisa bosnya mengatakan pulang, sedangkan mereka baru tiba sepuluh menit yang lalu di Jerman setelah melewati perjalanan yang panjang antar pulau dan benua.


"Apa Tuan serius?"


"Sejak kapan aku main-main dengan ucapanku?!"


"Tapi, kita baru tiba kurang lebih sepuluh menit di hotel ini. Bahkan Mr. George mungkin masih dalam perjalanan untuk bertemu dengan Tuan Muda dan Mr. Dusley," tutur Mark.


"Aku tidak perduli dengan mereka! Memeyku yang paling utama! Dia bahkan tidak menjawab panggilan telepon dariku."


Oh jadi karena itu. batin Mark.


"Menurutmu, apa yang sedang Memey lakukan? Apa dia juga sedang memikirkanku?"


"Pasti Tuan. Nyonya sangat mencintaimu, tentu saja Nyonya sedang merindukan Tuan."


Arsen hening. Mood-nya sedikit berubah menjadi lebih baik saat mendengar ucapan Mark. "Yayaya kau sangat benar. Aku tidak mau membuat Memeyku menderita karena merindukanku. Jadi, ayo kita pulang saja!"


Mark membuang napasnya berat. Tadinya ia sempat senang karena melihat mood Arsen mulai baikan, dengan harapan Bosnya itu tidak jadi meminta pulang ke Indonesia. Namun ternyata Mark salah. Ucapan Mark hanya memicu Arsen untuk segera pulang menemui istri tercinta.


Drtt ... drtt ...


Melihat Amey yang menghubunginya lewat panggilan video membuat Arsen langsung cepat-cepat menerima panggilan telepon itu.


(Percakapan di telepon)


"Sayang? Akhirnya kau menghubungiku. Aku dari tadi menghubungimu tapi kau tidak menjawab panggilanku. Apa yang kau lakukan?"


"Suamiku, tenanglah. Aku baru saja sampai rumah."


"Memey, kau dari mana saja?"


"Aku dari kantor, Ars. Aku bosan di rumah."


"Sudah jam berapa di sana?"


"Jam sembilan malam."


"Kenapa kau bisa pulang malam Sayang? Apa yang kau kerjakan di kantor sampai kau pulang selarut itu?"


"Aku bertemu Jenifer, dan dia bercerita banyak."


"Jenifer? Ohya pacarnya Mark."


"Jadi mereka beneran jadian? Hahah akhirnya si jomblo abadi punya pacar." Amey terbahak.


Mark yang mendengar percakapan kedua majikannya hanya bisa diam. Namun rautnya begitu masam, apalagi saat nama Jenifer disebutkan. Ia masih begitu anti mendengar nama itu.


"Dan kau tau Sayang, ternyata Mark sering membawa Garfield di apartemennya."


"Hahah! Jen juga cerita kalau kamu memanggilnya Garfield, Ars."


"Ya! Karena Mark yang memberi nama itu untuknya. Katanya kucing liarnya. Hahah!"


Telinga Mark semakin panas mendengar gibahan suami istri itu tentang dirinya. Ia beranjak dari duduknya dan menendang kaki meja di depannya.


Brukkkkk!


"Apa itu, Sayang?" tanya Amey.


"Sebentar Memey." Arsen beralih menatap Mark. "Hey! Apa kau tidak senang denganku? Katakan Mark! Aku juga sudah tidak sabar menghantammu. Aku menahannya dari tadi pagi!"


"Bukan begitu Tuan, hanya saja aku tidak melihat ada meja di depan sini, makanya kakiku tidak sengaja menendang meja ini," ucap Mark beralasan.


"Kau pikir aku bodoh, hah?" ketus Arsen.


"Tuan, kau sedang menelpon. Kasihan Nyonya yang sedang menunggu."


Lagi-lagi Mark berhasil mengelabuhi si Tuan Arogan yang bucin itu. Emosi Arsen meredah dan segera melanjutkan perbincangannya dengan Amey.


"Maaf Sayang, Mark membuatku emosi."


"Tak apa. Lagian kamu sih, selalu saja naik darah hanya karena hal sepele," memanyunkan bibirnya.


"Bukan salahku, Memey," elak Arsen yang tak mau disalahkan.


"Baiklah. Anggap saja demikian." Amey memilih untuk mengala.


"Aku merindukanmu, Sayang. Aku sudah berencana untuk kembali saat ini juga."


Amey terkejut. "Hah? Maksudmu pulang kemari?"


"Tepat sekali. Aku tidak bisa berjauhan dengan istri dan calon anakku, jadi aku memutuskan untuk pulang."


"Tenang Memey. Aku bisa menyuruh siapa saja menanganinya. Kau yang paling penting untukku. Aku tidak mau kau bersedih karena merindukanku."


"Tidak Sayang. Aku tidak apa-apa di sini. Selesaikan dulu pekerjaanmu, dan pulanglah. Aku akan bersedih jika kau tidak menuruti keinginanku."


"Jadi ... kau sebenarnya tidak merindukanku Memey?"


"Aku sangat merindukanmu. Tapi tidak begitu juga Ars. Kembalilah saat pekerjaanmu selesai. Aku selalu setia menunggumu."


Arsen berdiam sejenak. Rautnya kembali masam, namun apa daya? Ia terlalu mencintai istrinya sehingga apa pun yang diinginkan Amey pasti terpenuhi.


"Baiklah Memey. Tunggulah aku pulang. Aku akan berusaha menyelesaikan pekerjaanku di sini secepatnya dan setelah itu akan pulang menemuimu."


"Iya, Sayang."


"I love you, Honey," mencium layar ponsel.


"Love you too, Honey," balas Amey dengan mencium layar ponselnya.


Tut ... tut ... tut


Arsen memutuskan sambungan telepon. Ia kembali menatap Mark dengan senyum semringah. Bisa dibilang dayanya kembali terisi saat berbicara dengan Amey.


"Mark, sepertinya aku sangat bersemangat!"


Tentu saja Tuan. Nyonya Muda sangat membawa pengaruh besar padamu.


"Kau tidak mendengarkanku, Mark?!" tanya Arsen menaikkan nada.


"Aku mendengarnya, Tuan. Kau sangat bersemangat."


"Hahah! Benar, aku tidak sabar untuk menyelesaikan pekerjaan ini agar aku bisa pulang menemui Memeyku dan anakku."


"Calon, Tuan. Anakmu 'kan belum lahir," protes Mark.


"Diam kau! Aku tau kau sangat sirik karena aku memiliki istri yang sangat cantik dan cerdas bahkan sedikit lagi akan melahirkan bagiku anak!"


"Bukan begitu, Tuan."


"Tidak. Aku selalu benar! Kau sangat sirik padaku. Makanya menikahlah dan bercinta, agar kau sepertiku! Haha."


Mark memilih diam. Ucapan Tuannya membuatnya bungkam. Begitulah Mark. Saat membahas masalah wanita, pasti ia akan mengalah dan memilih untuk tidak membahasnya.


***


Pagi hari yang cerah di Kota Berlin, tampak orang-orang yang lalu lalang sedang melaksanakan rutinitas mereka. Baik di dalam gedung maupun di luar gedung, semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Setelah selesai sarapan, Arsen dan Mark menuju perusahaan Dusley. Setibanya di sana, mereka langsung disambut bagus oleh semua karyawan Dusley. Pria dan wanita di kantor itu sangat ramah, apalagi mengetahui jika Arsen Winston yang merupakan raja bisnis itu mendatangi perusahaan mereka.


"Excuse me, we'd like to see Mr. Dusley." (Permisi, kami ingin bertemu Tuan Dusley) ucap Mark.


"Please, sir." (Silahkan Tuan), mengantar Mark dan Arsen menuju ruangan direktur.


Sekretaris wanita itu membukakan pintu untuk Mark dan Arsen.


"Welcome, Mr. Winston and Mr. Mark! nice to meet you again!" (Selamat datang Tuan Winston dan Tuan Mark. Senang berjumpa dengan kalian lagi) sapa Dusley.


"Thanks, Mr. Dusley." ucap Mark.


Arsen menatap seluruh ruangan itu dengan seksama. "Tidak buruk!" gumamnya.


"Sorry Mr. Winston?" (Maaf Tuan Winston?)


"Aku bilang tempatmu tidak buruk," tuturnya lagi.


"Thank you Mr. Winston." (Trima kasih Tuan Winston). "Ohya, Tuan George, mungkin sedikit terlambat karena suatu hal. Jadi kita mulai saja."


"Arsen mengangguk."


Tak lama kemudian Sekretaris wanita itu membawakan mereka minuman. Wanita cantik dan seksi itu melewati Mark yang berdiri di samping tempat duduk Arsen dengan memasang senyum menggoda, namun Mark tidak meliriknya.


"Ini, Yara. Sekretaris saya," ucap Dusley memperkenalkan.


Wanita cantik itu menunduk, kemudian meletakkan minuman di atas meja. Tak lupa juga Yara tersenyum manis saat pandangan matanya dan Arsen bertemu. Ia yang mengenakan baju yang memiliki belahan yang cukup besar di dadanya sengaja memperlihatkan pada Arsen.


"I don't like your smile! Do not tease me!" (Aku tidak menyukai senyummu! Jangan menggodaku!) celutuk Arsen geram.


Deg!


Wanita itu terkejut bukan kepalang. Biasanya setiap kali ia memperlihatkan senyumannya dan dadanya yang montok, semua pria akan menggigit bibir bawahnya dan kemudian meminta Yara menemui mereka setelah selesai membahas masalah pekerjaan.


"I'm sorry Mr Winston." (Maafkan saya, Tuan Winston) sesal Yara masih dengan menggoda Arsen. Ia menyelipkan anak rambutnya di telinga dan menatap Arsen dengan tatapan mengingini.


"Berhenti menatapku seperti itu! Kau pikir kau cantik?! Aku sudah memiliki istri yang seratus kali lipat lebih cantik dan lebih seksi darimu! Kau tidak bisa menandingi Memeyku! Jadi jangan sekali-kali menggodaku dengan senyum murahanmu itu! Jika kau melakukannya lagi, tamatlah kariermu!"


Gadis itu menyipitkan matanya, ia tidak mengerti dengan ucapan Arsen yang menggunakan bahasa Indonesia. Sedangkan Dusley, pria tua yang mirip Kakek Sugi, hanya mengedipkan matanya, mengisyaratkan pada Yara untuk menyingkir dari hadapan Arsen.


Kau salah besar menggodanya, Nona! Lebih baik pergi dari ruangan ini, sebelum Singa mengamuk yang tak terkontrol ini menerkammu! batin Mark.


To be continued ..


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*