Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Mendadak Menikah?!


"Apa?! Me--menikah? Apa aku tidak salah dengar?" ketus Kaisar.


Jayden meneguk minuman beralkohol yang sedari tadi dituangnya ke dalam gelas.


"Jay, apa kau menghamili anak orang?" tanya Kaisar dengan tanda tanya besar di benaknya.


"Tidak."


"Lalu?"


"Entahlah. Kalau mau jujur aku sangat senang menikahinya. Tapi apakah dia mau menerimaku menjadi suami dadakannya?"


Kaisar menggeram kesal. Ia sangat penasaran dengan isi kepala Jayden. "Jay, aku semakin tidak mengerti dengan dirimu sekarang! Kau mengajakku datang ke klub malam ini karena kau ingin mengatakan sesuatu. Ya! Dan kau telah mengatakannya! But, apa ini? Kau tidak menjelaskannya secara detail. Okelah, kau akan menikah. Nah pertanyaannya, siapa gadis yang akan kau nikahi itu, kapan kau berkencan dengan seorang wanita, dan kenapa aku sama sekali tak mengetahuinya?!"


"Aku sudah pernah mengatakannya padamu. Tapi kau 'kan oon plus pikun!"


"What?!"


"Milley. Nama lengkapnya Milley Kaylee. Aku akan menikahinya karena sebuah alasan," tutur Jayden sembari menarik napas panjang dan menghembuskan secara perlahan.


"Aku ingat. Aku ingat sekarang. Kau pernah menyuruhku mencari tahu siapa gadis yang pernah kau temui di tempat ini beberapa waktu yang lalu."


"Ya kau benar. Tapi kau tak membantuku sama sekali!" cibir Jayden.


"Maaf. Aku lupa. Hmm, lanjutkan penjelasannya. Kenapa kau menikahinya karena sebuah alasan?"


Jayden meraih macis dari atas meja dan menyalakan rokoknya. Tarikan penuh gairah dan hembusan penuh kenikmatan. Ia menghisap rokoknya dan mulai bercerita saat dirinya bertemu dengan Margareth, kepala pelayan keluarga Kaylee.


(Kemarin sore pukul enam, di kedai Baratie, samping halte bus)


Sosok wanita mengenakan pakaian hitam dilapisi jubah hitam yang panjangnya sampai di betis berjalan dari arah pintu masuk. Wanita itu tak lain ialah Margareth. Ia menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul enam sore.


Tak lama setelah Margareth tiba, disusul Jayden dari belakang sehingga jarak waktu antara kedatangan keduanya hanya berbeda beberapa detik saja. Jayden masih dengan mengenakan pakaian kantornya meluangkan waktu sebentar untuk bertemu Margareth.


Menyadari kedatangan Jayden, wanita paruh baya itu sontak berdiri dan menundukkan kepalanya. "Selamat datang, Mr. Smith."


"Santai saja. Langsung ke intinya," tutur Jayden tak ingin basa-basi.


"Baik, Mr. Smith."


"Sebentar. Sebelum lanjut, aku ingin bertanya padamu," ucap Jay, sembari merapikan setelan jasnya yang tampak tak teratur.


"Dipersilahkan, Mr. Smith."


"Apa kau sudah tahu identitasku saat aku menyamar menjadi tukang kebun di kediaman keluarga Kaylee?"


"Ya. Siapa yang tak mengenal Anda, Tuan?"


"Walaupun keadaanku seperti gembel, kau tetap mengenaliku?" tanyanya lagi memastikan.


"Benar."


"Wow, kau sangat teliti Nyonya Margareth. Aku takjub dengan kinerjamu," puji Jayden.


"Jangan terlalu berlebihan memuji saya, Tuan. Saya hanya menebak kalau itu Anda, dan ternyata tebakan saya benar."


Ouhhhh begitu! pantas saja wanita ini langsung mempekerjakan aku dan Edhan.


"Ada lagi yang ingin Anda tanyakan, Mr. Smith?"


"Tentu! Dan ini adalah inti dari pertanyaanku," menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Emm, apa kau sudah tahu juga siapa anak kecil yang datang bersamaku saat itu?" bisiknya sembari memajukan badannya mendekat ke arah Margareth.


"Ya, saya mengetahuinya."


"Goshhhh!" Jayden melonjak kaget.


"Ada apa, Tuan? Apa saya mengagetkanmu?"


"Ti--tidak juga," tutur Jayden mulai panik.


Jayden memandangi sekitarnya. Gerak-geriknya seperti orang yang sedang mengumpat sari sesuatu yang membahayakan nyawanya. Setelah mengamati sekitar, ia mengangkat tangan kiri sebatas dada serta menggerakkan jemarinya, memberi isyarat pada wanita yang duduk didepannya, supaya wanita itu mau mendekat ke arahnya.


Margareth mengernyitkan dahi. Ia ikut memajukan badannya dan mengikuti Jayden memandangi sekelilingnya. "Mr. Smith, kau tak apa-apa?" bisiknya.


"Margareth, kau dengarkan aku baik-baik. Aku akan membantumu, tapi kau harus berjanji satu hal padaku."


"Baik, Mr. Smith. Katakanlah."


"Jangan beritahu siapapun tentang kejadian waktu itu. Cukup hanya kau, aku dan Nona Milley saja yang tahu. Kau harus merahasiakan kekonyolanku bersama Edhan. Karena jika sampai rahasia ini bocor di telinga Arsen, maka tamatlah riwayatku! Jika Arsen tahu anak kesayangannya sempat aku jadikan gembel, aku pasti akan di kubur hidup-hidup oleh pria kejam itu!"


Deg!!


Margareth menelan salivanya. Sebegitu kejamkah, Tuan Muda Arsen Winston?


"Bagaimana, kau mau membantuku? Kita akan impas jika kau merahasiakannya!"


"Baiklah, Tuan."


"Bagus! gue suka gaya loe!" terkekeh. "Kalau begitu lanjut ke pembahasan."


"Ehem, baik," memperbaiki duduknya. "Mr. Smith, apa kau sudah mengetahui masalah keluarga Kaylee?"


"Sedikit."


Jay melonjak. "Maksudmu?"


"Seperti yang Anda ketahui jika Nona Milley sangat diasingkan dari keluarga Kaylee semenjak, Tuan Besar mendonorkan ginjalnya kepada Nona Milley."


"Ya. Aku tahu itu. Jadi rumor itu benar? Jika ibu Milley tidak mengizinkan Milley keluar rumah karena dia dendam kepada Milley?" tanya Jay dengan mimik serius.


"Nyonya besar membenci Milley karena bagi Nyonya besar, Nona Milleylah penyebab kematian suaminya. Tuan Besar memberikan ginjalnya untuk Milley karena kedua ginjal Nona tidak berfungsi dengan baik. Maka dari itu sejak Nona masih kecil, ia sering sakit-sakitan. Bahkan Nyonya besar sering tak mengakui jika ia memiliki anak kembar. Hanya Nona Meganlah yang selalu di sayang dan dibanggakan oleh Nyonya besar."


Jayden masih mendengarkan. Ia bahkan mulai emosi saat mengetahui kisah piluh Milley. "Lalu, apakah Milley tidak diperlakukan secara baik oleh ibunya?"


Margareth mengatur napasnya. "Ya. Nona Milley tidak pernah keluar rumah saat kematian Tuan Besar. Ia di kurung seperti putri dalam menara. Saya pernah membantunya keluar rumah di malam hari, dan itulah awal pertemuan Anda dan Nona Milley."


"Hmm, pantas saja sikap ibunya berbeda saat memperlakukan wanita bernama Megan!" gumamnya, mengepalkan jemari.


"Anda sudah pernah bertemu, Nona Megan?"


"Saat menghadiri resepsi pernikahan Mark dan Sekretaris Jen, aku sempat bertemu dengannya. Aku kira gadis itu adalah Milley, ternyata kembarannya, Megan. Aku memperhatikan sikap ibunya. Dan sangat berbeda saat dia memperlakukan Milley waktu itu. Wajahnya terlihat kejam saat berbicara dengan Milley. Namun saat bersama Megan, dia tampak manis, baik dan layaknya seorang ibu kepada anak."


"Mr. Smith, mungkin saya telah lancang meminta bantuan Anda. Tapi, hanya Anda yang bisa mengeluarkan Nona Milley dari penderitannya."


"Aku memang mengagumi gadis itu. Dia cantik, perhatian dan imut," memegang dagu sembari membayangkan wajah Milley. Sesekali Jayden tersenyum tipis saat wajah Milley berkeliling di kepalanya.


"Kalau begitu, saya mohon bantuan Anda, Tuan."


"Aku siap untuk membantumu. Tapi bagaimana caranya aku bisa mengeluarkan Milley? Aku tidak memiliki hak asuhnya. Aku juga adalah pria asing yang mungkin tak disukai olehnya. Hmmm, sulit juga!"


"Apa Anda bersedia menikahi Nona Milley?" telak Margareth membuat Jay terperanjat bukan kepalang.


"Uhuk ... uhukk!" tersedak dengan salivanya sendiri.


"Minum dulu airnya, Tuan," menyodorkan air mineral.


Jayden membuka penutup botol itu dan meneguk airnya.


"Apa sudah mendingan?"


Jayden mengangguk.


"Saya tahu ini mendadak bagimu. Saya juga tahu pasti Anda akan sangat terkejut, Mr. Smith. Tapi hanya inilah satu-satunya cara mengeluarkan Nona Milley dari rumah utama itu. Dan semoga saja pernikahan kalian dapat mendatangkan kebahagiaan bagi Nona Milley."


"A--aku memang menyukainya. Tapi bukankah ini terlalu mendadak. Bertemu saja baru dua kali dan tiba-tiba harus menikah karena ingin menyelamatkan hidupnya. Ahhhh! Ini sungguh gila! Aku merasa seperti pangeran yang menyelamatkan Tuan Putri dari menara yang dikutuk nenek sihir!"


"Maafkan saya Tuan. Saya sudah lancang memintamu untuk menikahi Nona Milley."


"Tidak. Aku tidak keberatan sama sekali! Tapi yang menjadi permasalahannya, apakah Milley akan menyetujui rencana ini? Apakah Milley mau menikah denganku? Dan apakah Milley akan menyukaiku?!"


"Anda tenang saja, Mr. Smith. Nona Milley sepertinya mengagumimu dalam diam. Setiap malam Nona Milley memandangi dompet yang kau jatuhkan beberapa waktu lalu. Saya rasa Nona Milley akan menyetujui rencana ini."


Deg!


Milley menyukaiku! Milley menyukaiku! Cintaku terbalaskan! Cintaku tidak bertepuk sebelah tangan!


"Mr. Smith?" panggil Margareth namun Jayden masih terpaku membisu. "Mr. Smith?!" panggilnya lagi dengan suara sedikit nyaring.


"YUHUUUUUUU!! YOSHHHHHH!!" teriak Jayden.


"Amintaba!!! Kau mengagetkanku!" lirih Margareth sembari mengelus dadanya. Ia sontak kaget karena mendengar teriakam sorak sorai dari Jayden.


Jayden masih berdiri dengan perasaan gembira yang telah meledak. Semua pasang mata di kedai itu mulai menyorotinya dengan tatapan heran, namun tak di hiraukan oleh Jayden.


"Mr. Smith kau tidak apa-apa?"


Jay kembali duduk di kursinya seraya mengatur posisi duduknya. Ia kembali bersikap elegan dan menatap Margareth dengan serius. "Katakan sekali lagi, apa Milley benar-benar menyukaiku?"


Tatapan Jayden seolah mengintimidasi wanita paruh baya itu. Margareth pun tak tahu secara pasti bagaimana perasaan Milley. Namun ia sedikit bingung menjelaskan kepada Jayden karena melihat sikap Jayden yang begitu gembira.


"Margareth? Kau mendengarku?" tanya Jayden.


"Ehm, Ya. Tentu saja, Mr. Smith. Ta--tapi masih perasaan saya saja. Saya belum bertanya pada Nona Milley, seperti apa perasaannya pada Anda."


Jayden terperangah. Bagai layangan yang terbang tinggi namun di embangkan seketika oleh angin ****** beliung. Begitulah kira-kira perasaan Jayden.


"Dasar kau, PHP!!" menggeram kesal.


To be continued ...


.


.


.


Like dan Komen dari kalian sangat membantu Author 🥰


follow ig:


@syutrikastivani


@stivaniquinzel