
(Pukul 23.00, Sepulang dari acara Pembukaan Vila dan Sebelum mimpi menyeramkan Mark terjadi)
Malam itu menjadi malam yang kelam bagi Mark. Tak bisa berbuat apa-apa, pria itu hanya bisa duduk diam sembari menatap dinding dengan pandangan mata yang kosong. Sedangkan di belakang sana terdengar suara Doris yang sedang membuat sesuatu.
"Jeni, panggil calon suamimu. Nenek sudah selesai memasak!" ketus Doris.
Karena tak ada sahutan dari Jen, Nenek itu pun langsung menyampari Jenifer yang sedang duduk sembari menyandarkan kepalanya di atas meja makan.
Plakkk!
"Awww!" pekik Jen sembari menyeka ilernya.
"Di suruh masak malah tidur! Ayo cepat bangun dan panggil suamimu!"
"Suami? Aku belum punya suami, Nek," lirih Jen dengan malas.
Doris menarik tangan gadis itu dengan kuat sehingga Jen langsung beranjak dari duduknya. Dengan langkah yang pontang-panting Jen menuju ruang tamu. Ia sebenarnya tidak tahu apa yang akan ia lakukan di sana, namun tubuhnya dengan reflek membawa Jen menuju tempat itu.
Dari kejauhan Mark telah mengkeker sosok Jen. Mark menatap gadis itu dengan seksama. "Kenapa dia berjalan seperti itu? Apa dia mabuk?" gumam Mark.
Saat Jen hendak melewati posisi duduk Mark, tiba-tiba tubuhnya berhenti bergerak. Langkahnya pun ikut terhenti dan berdiri tepat di depan Mark. Jen menatap Mark dengan menyipitkan mata. Bayangan Mark seolah bergerak ke sana kemari layaknya pinguin. "Lagi-lagi aku bermimpi melihat monster es!" gumamnya.
"Heh gadis aneh! Tanyakan sama Nenekmu, kapan aku bisa pergi dari sini!"
Jen mengucek matanya. Ia seketika tersadar dan membesarkan maniknya. "Ya Tuhan! Aku ternyata tidak mimpi. Tuan Mark memang berada di rumah Nenek!"
"Apa yang kau bicarakan?" tanya Mark heran.
"Jeniiiiiii! Panggilkan suamimu!" teriak Doris dari dapur.
Ahhh Nenek, memalukan saja! Suami apaan! Batin Jen. "Tuan ingin cepat-cepat pulang 'kan?"
Mark mengangguk kepala dengan cepat.
"Gampang saja!"
"Apa maksudmu?" tanya Mark mengernyitkan dahi.
"Tuan harus menghabiskan makanan yang dibuat Nenek. Supaya Tuan bisa pulang dengan ce ..."
Jen belum saja menyelesaikan kalimatnya, Mark langsung berdiri dengan cepat dan berjalan meninggalkan Jen. "Habiskan makanan agar bisa pulang!" gumamnya.
"Tuan! Kau mau ke mana?" tanya Jen.
"Ruang makan! Di mana tempatnya?"
"Sebelah sana Tuan," menunjuk dengan telunjuknya.
Mark segera berbelok. Ia menuju arah yang ditunjuk Jenifer.
Sesampainya di ruangan makan, ia mendapati Doris yang telah berdiri menyambutnya di samping meja. Dengan senyum semringah, Nenek itu menyapa Mark. "Bule Semangka, Jeni telah memasak makanan untukmu, jadi makan dulu," tutur Doris ramah.
"Kok aku sih Nek? 'Kan aku tidak tau memasak."
Doris melebarkan matanya sembari menatap Jen dengan tatapan membunuh. Melihat itu, Jen menelan liurnya. "Apa aku salah bicara?" gumam Jen menggaruk tengkuk lehernya.
"Duduklah," menarik kursi untuk Mark.
Tanpa di suruh lagi, Mark langsung mengambil sup yang berada di depannya dan mengunyah dengan lahap. Aku harus cepat-cepat pergi dari tempat ini! Bagaimana pun caranya! Ucap Mark dalam hati.
Doris dan Jen hanya menganga saat melihat Mark mengunyah makanan demi makanan yang dibuat Doris. Mereka tak menyangka jika Mark akan makan selahap itu.
"Pelan-pelan makannya nanti tersedak," tutur Doris.
Mark tak menggubris dan terus mengunyah sup daging sapi itu. Sebenarnya Mark melahap makanan itu bukan karena dirinya lapar, melainkan ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu. Ucapan Jen menari-nari di benaknya, sehingga kuat motivasi Mark untuk menghabisi seluruh masakan Doris.
Beberapa saat kemudian, Mark mengelus perutnya karena merasakan kekenyangan. Tempat makanan itu sudah tak berisi lagi. Doris dan Jenifer hanya bisa menelan saliva dengan mata yang terbelalak memandangi seluruh tempat makanan yang kosong tak tersisa.
"Berapa abad bule semangka ini tidak makan?!" gumam Doris.
"Apa perutnya tidak akan meledak?!" lirih Jen.
Mark beranjak dari duduknya. "Aku sudah selesai menghabisi makanannya. Sekarang aku mau pulang!" ketus Mark. Saat melangkahkan kakinya, ia mulai merasa ada yang aneh dengan badannya. Mark merasakan tubuhnya yang mulai gatal. Pandangan matanya pun mulai buram dan berbayang.
"Heh, Jeni! Ada apa dengan bule semangka? Apa dia mabuk?" tanya Doris.
"Aku juga tidak tau." Jen berlari menyusul Mark.
Dengan perlahan Mark menuruni anak tangga. Ia menggelengkan kepalanya, berharap rasa pusing itu cepat redah. "Sial! Sepertinya aku alergi!" gerutu Mark.
"Ya ampun Tuan. Wajahmu memerah! Apa yang terjadi?" tanya Jen khawatir.
Mark memegang kepalanya. Melihat itu, Jen reflek merangkul Mark sampai di mobil. Pria itu tak menggubris dan membiarkan Jen melakukan aksinya.
"Berikan kunci mobil Tuan," ucap Jen.
Pria itu mengernyitkan dahi dengan pandangan yang masih berbayang. "Apa yang kau inginkan?"
"Aku akan mengantarmu ke rumah sakit!"
"Tidak perlu. Aku akan kembali ke apartemen."
Tiba-tiba Jen meraba saku celana Mark dan meraih kunci mobilnya di sana. "Biarkan aku yang mengantar Tuan sampai ke apartemen," tukas Jen.
"Aku bilang tidak perlu. Aku bisa menyetir sendiri!" geram Mark.
"Dengan kondisi Tuan seperti ini, aku yakin Tuan tidak bisa menyetir. Jadi biarkan aku yang menyetir." Jen segera masuk ke dalam mobil dan duduk di depan kemudi.
Tak dapat mengelak lagi, akhirnya Mark menuruti ucapan Jen. Ia pun masuk ke dalam mobil dan duduk di samping gadis itu. "Apa kau bisa menyetir?"
"Kau tenang saja Tuan. Waktu lalu aku mengikuti sekolah mengemudi."
"Kau memiliki sim?"
"Tentu saja."
Jen menghidupkan mesin dan menginjak pedal gas dengan hati-hati. Jen memanglah sudah mengikuti sekolah mengemudi sejak ia menjadi Sekretaris sementara pengganti Eggie. Namun sebenarnya, ia juga masih sedikit ragu dalam mengemudi. Semenjak selesai sekolah mengemudi dua bulan lalu, ia sudah tidak pernah lagi menyetir mobil, karena Jen tidak memiliki kendaraan roda empat.
Ya Tuhan, tibakan kami dengan selamat! pinta Jen dalam hati.
Dalam perjalanan menuju apartemen, keduanya tak bersuara. Jen fokus mengemudi, sedangkan Mark tampak menggaruk-garuk badannya karena gatal. Jen yang melihat itu langsung melajukan kecepatan mobil sehingga bisa cepat sampai di apartemen.
Beberapa saat kemudian, keduanya tiba di tempat tujuan. Jen lagi-lagi merangkul lengan Mark dan mengantarkan pria itu. Tubuh Mark semakin memerah. Rasa gatal pun menggerogoti permukaan kulit Mark. Sesampainya di apartemen, Jen mendudukkan Mark di sofa dan mengambilkan pria itu air mineral dari dalam kulkas.
"Minumlah Tuan. Wajahmu sangat merah," menyodorkan botol air mineral.
Mark menenggak air itu hingga habis. "Ambilkan obat alergiku di sana," menunjuk sebuah kotak yang ada di atas meja.
Dengan sigap, Jen mengambil obat itu dan memberikannya pada Mark. Pria itu menelan beberapa pil. Tak lama kemudian Mark memejamkan matanya di atas sofa.
"Ehhh! Apa dia tertidur?" gumam Jen lirih. "Huhhh! Sudah tau alergi, tapi masih mau menyiksa diri dengan memakannya! Dasar pria aneh!" ucapnya lagi.
Lama Jen memandangi wajah Mark. Tanpa disadari gadis itu, ia tersenyum kecil. Rona merah di pipi Jen mulai aktif bermunculan. Sudah puas memandangi Mark, Jen menuju sofa sebelah dan menyandarkan kepalanya di kepala sofa.
Suara jam yang berdetak terdengar sangat jelas memecah keheningan di ruangan itu. Suara itu seolah menghipnotis Jenifer sehingga dengan perlahan matanya terpejam. Akhirnya gadis itu tertidur di sofa dengan lelap.
Mark membuka matanya. Ia tidak tertidur, melainkan hanya menutup matanya sejenak dan menenangkan tubuhnya. Mark memang selalu begitu saat alerginya muncul. Daging sapi adalah salah satu makanan yang tidak bisa diterima tubuh Mark. Namun dengan terpaksa ia memakan itu agar bisa pergi dari rumah Doris.
Saat beranjak dari duduknya, ia mendapati Jen yang terlelap di sofa. Seperti biasanya, Jen tertidur dengan bibir yang menganga. Karena sudah terbiasa dengan sifat-sifat Jen, Mark hanya menggeleng kepalanya dan memutar bola mata dengan malas.
Mark tak tega membangunkan Jen dari tidurnya yang lelap. Ia mengambil bantal dan selimut dan memakaikan itu pada Jen. "Untuk kesekian kalinya kau menginap di tempatku!" mengatur posisi tidur Jen. "Aku tak tau kenapa kau selalu terlibat denganku! Walau seberapa kerasnya usahaku untuk menjauh darimu, namun selalu saja ada hal-hal yang membuat aku selalu terhubung denganmu!"
Tbc ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
.
.
.
Follow ig @syutrikastivani