Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Gara-gara Soju


Jantung Amey dan Jen berlomba-lomba mengeluarkan denyut tak karuan. Apalagi Jen. Semenjak peristiwa kesalahpahaman Arsen yang mengira Jen menggosip tentang pria arogan itu, maka nyali Jen menciut saat bertemu Arsen.


Arsen beranjak dari duduknya. Ia membalikkan badannya sehingga terkaan Amey benar! Ternyata pria itu adalah Arsen, suaminya. Jen segera menyembunyikan wajahnya saat melihat sorot mata Arsen memandanginya dengan tajam.


Gio, Melly, Sandra dan Kenny segera menundukkan kepala saat melihat atasan mereka yang berdiri tepat di depan mereka. Amey menatap Arsen dengan penuh tanda tanya. "Kenapa kau kemari?" tanyanya.


Arsen tidak menggubris pertanyaan Amey. Wajahnya memerah karena murka, dan Amey sangat tahu itu. Amey menatap Mark, berharap asistennya itu memberikan jawaban yang masuk akal.


Mark tidak dapat lagi bersembunyi karena bosnya sudah memperlihatkan keberadaan mereka. "Ehem." Mark berdehem sembari mengancingkan setelan jasnya. "Maaf atas keributan kecil yang kami perbuat," tutur Mark.


"Mark, apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Amey.


"Kami baru saja bertemu dengan kolega."


"Di tempat seperti ini?" memandangi sekeliling dengan ujung mata.


"Benar," tukas Mark.


"Kolega macam apa yang ingin bertemu di tempat seperti ini?" tanya Amey mengerutkan kening.


"Nyonya, lebih baik Nyonya pulang bersama kami," tawar Mark yang mengerti maksud Arsen.


"Pulang katamu Mark? Yang benar saja, aku belum mengisi perutku!" ketus Amey.


"Pak Arsen, merupakan suatu kehormatan bagi kami jika Bapak sudi untuk bergabung dengan kami," ucap Gio dengan sopan.


Arsen menatap Gio dengan tajam. Ingin sekali pria itu melayangkan tinju di wajah Gio. Namun karena emosinya masih terkontrol jadi ia menyimpan pukulan maut itu.


"Gio! Apa yang kau lakukan? Arsen tidak akan mungkin menerima tawaranmu, secara orang seperti kita tidak level satu hidangan dengan orang yang kelas tinggi sepertinya," jelas Amey mendengus.


"Kau pindah," tutur Arsen dingin.


"Maaf Pak?"


"Aku yang akan duduk di sini, kau bisa pindah. Mungkin kau bisa pindah di meja paling sudut sana," menunjuk sebuah meja paling sudut yang melekat di dinding, sangat jauh dari meja yang mereka tempati.


Gio menelan salivanya. "Baiklah Pak, duduklah di sini," mengalas tempat duduk dengan sapu tangannya untuk Arsen duduki.


"What? Kau yakin mau gabung bereng kita?" bisik Amey.


"Apa wajahku terlihat kurang meyakinkan?"


Amey memonyongkan bibirnya. "Aku kira acara ini akan menyenangkan, ternyata ..." gumam Amey.


Situasi menjadi garing saat Arsen dan Mark bergabung. Canda tawa kini berganti menjadi tegang. Tidak ada yang berani bersuara, bernafas pun diatur agar tidak mengusik ketenangan yang mulia raja.


Sejujurnya Arsen tidak bisa memakan sup daging sapi, tapi demi seseorang, ia pun memakannya. Mark melihat tuannya yang mempersulit diri pun hanya bisa mengucapkan doa di dalam hatinya agar bos dinginnya tidak memuntahkan makanan itu.


Makanan apa ini? Sangat tidak enak! batin Arsen.


Setelah dua suapan masuk ke dalam tenggorokan Arsen, kini ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres dalam kerongkongannya. Ia merasa ingin memuntahkan kembali makanan itu. Dan benar dugaan Mark, lidah Arsen tidak dapat terkontaminasi makanan asing yang belum pernah ia rasakan.


Arsen menahan rasa mualnya. Ia meneguk air putih yang sangat banyak agar perutnya tidak mengeluarkan kembali makanan yang sudah ia telan. Akhirnya Arsen menyerah dan berhenti mengunyah.


Amey yang menatap Arsen, pun menyunggingkan bibirnya. "Kau sangat payah!" bisik Amey.


Pria itu mengepalkan tangannya. Amey kembali memancing emosi Arsen sehingga ia menggeram jengkel. "Diam dan makanlah!" celutuk Arsen.


Mark dan Arsen tidak lagi melanjutkan makanan mereka. Kedua orang itu hanya memandangi sekitar dengan tatapan datar. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain duduk tenang sambil mendengar lantunan Mozart yang sedang diputar.


Beberapa saat kemudian semuanya sudah selesai menyantap sup daging sapi itu. Amey dan Jen tersenyum puas saat mereka merasakan kekenyangan. Keduanya meraba perut mereka yang tidak buncit namun padat dengan raut puas.


"Karena semuanya sudah selesai makan, sekarang kita datang pada acara yang sangat dinanti-nantikkan," tutur Amey memegang botol soju. "Gio kau yang ahli membuka botol," ucap Amey menyodorkan botol soju itu.


Semuanya bertepuk tangan kecuali Mark dan Arsen. Para wanita sangat memuji kelihaian Gio saat membuka soju dengan giginya. Melihat Amey yang teramat senang, membuat Arsen kembali menepuk meja.


Plakkkk


Amey dan kawan-kawan terperanjat melihat Arsen yang tiba-tiba memukul meja. Arsen segera mengambil botol soju yang satunya dan membuka penutup botol itu menggunakan giginya.


Rupanya Arsen tidak suka melihat Amey senang saat melihat Gio yang membuka penutup botol soju. Sebagai laki-laki yang ada di situ, ia merasa kemampuannya diremehkan.


"Hey apa yang kau lakukan? Kau tidak perlu membukanya dengan gigi," celutuk Amey.


"Kau ternyata sangat hebat Pak," puji Gio.


"Ini belum seberapa," ucap Arsen menyeringai sembari menatap Amey yang terlihat kesal.


Tuan apa yang kau lakukan! ucap Mark dalam hati. Mark merasa jika tuannya sangat menonjolkan kecemburuan yang tidak disadarinya.


Gio mulai menumpahkan minuman bening itu di gelas masing-masing. "Ayo kita bersulang," ucapnya.


Semuanya bersulang dan meneguk soju itu.


Arsen melihat Gio yang mengisi gelasnya yang sudah kosong dan itu membuat Arsen menyodorkan gelas miliknya untuk diisi kembali. Gio pun dengan senang hati menuangkan minuman itu. Gio meneguk sojunya kembali, begitu juga dengan Arsen.


"Mey kau mau lagi?" tanya Gio.


"Tentu saja," menyodorkan gelasnya.


Ketika Amey hendak meneguk minuman itu, tiba-tiba Arsen langsung menariknya dan meneguk minuman milik Amey. "Arghh," desah Arsen.


Amey menjadi jengkel. Ia merasa tidak bebas jika dikawal Arsen. Cihhh! Menyebalkan. Kenapa pria dingin ini bisa ada di sini sih? Bikin acara jadi kaku aja!


Arsen kembali memandangi Gio yang menumpahkan soju di gelas dengan sangat banyak. Ia pun tak mau kalah dengan Gio, ia menumpahkan seluruh isi soju ke dalam gelasnya dan langsung meneguk soju itu.


Arsen membuat orang-orang yang ada di sekitarnya tercengang. Bisa-bisanya si bos galak itu meneguk alkohol satu botol dengan gegabah. Mark menepuk jidatnya. Mark sangat tahu jika Arsen sangat lemah dalam meminum alkohol.


Jika pria arogan itu mabuk, bisa-bisa se-Jakarta goncang karena ke bar-baran yang akan ia buat. Arsen memang tidak mampu meminum minuman berbau alkohol lewat dari tiga gelas. Dan sekarang Arsen telah melewati batas maximal alam sadarnya.


"Hey kau!" menatap Gio.


"Ada apa Pak?"


"Kau pikir hanya kau saja yang bisa meneguk alkohol sebanyak ini, hah? Aku juga bisa!" menepuk dadanya.


Semua orang bingung dengan tingkah Arsen. Matanya telah memerah dan sayu, badannya pun layaknya cacing kepanasan yang tidak bisa tenang di tempat. Sesekali badan Arsen oleng.


"Kau mabuk?" tanya Amey memegang bahu Arsen.


Arsen menatap Amey dengan seksama, ia kemudian menjentikkan telunjuknya tepat di jidat Amey.


"Awww!" pekik Amey sembari mengusap dahinya.


"Dasar keras kepala! Aku tidak mengijinkan kau untuk keluar rumah, tapi kau membantahku!" tutur Arsen.


Melihat Arsen yang sudah mabuk, Mark pun beranjak dari duduknya dan menghampiri Tuan Mudanya. "Tuan, kau mabuk. Sebaiknya kita pulang," ajak Mark.


Pletakkk


Arsen menjentik jidat Mark seperti yang ia lakukan pada Amey. "Mark, kau mau mati? Jangan menyentuhku, aku tidak mabuk. Aku masih sadar!"


"Permisi semua, saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Saya rasa pertemuan ini cukup! Tuan Arsen dan Nyonya Amey akan pamit," tutur Mark.


"Kalau kalian mau pulang, ya sana pergi! Jangan ajak-ajak aku." Amey melipat kedua tangannya di atas dada.


"Nyonya? Suami Anda sedang tidak baik-baik saja."


Amey menatap Arsen yang terlihat pusing. Dengan malas ia pun segera beranjak dari duduknya dan membantu Mark membopong tubuh Arsen yang berat. "Maaf, aku rasa aku harus pergi," ucap Amey.


Mereka semua memakluminya.


Arsen mendorong Mark. "Jangan menyentuhku, Mark! Biarkan wanita ini yang membantuku!" celutuk Arsen.


"Ba-baik Tuan." Mark mundur dan membiarkan Amey yang merangkul Arsen.


"Merepotkan saja!" gumam Amey.


"Berisik! Siapa suruh kau tidak mendengarkanku!" tukas Arsen.


To be continued ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘