Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Bos Kepo


"Selesaikan urusan rumah tangga kalian. Aku tunggu kau di mobil tiga puluh menit lagi. Kali ini aku memberikanmu kesempatan pertama dan terakhir untukmu membuatku menunggu. Lain kali, you die!" mengebaskan jemari di lehernya.


Arsen meninggalkan Mark dan Jen di di ruangan itu. Mark masih termangu tak berenergi. Sesaat setelah Arsen berlalu dari situ, tatapan Mark kemudian beralih tepat di mata Jen. Jantung Jenifer semakin berdetak tak karuan.


Mark melangkahkan kakinya menuju ke arah Jen dengan perlahan. Tatapannya sangat mengintimidasi gadis itu. Jen memundurkan langkahnya saat tubuh Mark semakin mendekat. Dan akhirnya ia pun terjatuh di atas ranjang Mark.


Jen memejamkan matanya saat wajah Mark hanya berjarak beberapa senti saja dengan wajahnya. Tatapan pria itu begitu beringas seolah hendak mengunyah Jenifer hidup-hidup.


Dahi Jen mulai mengeluarkan peluh. Ia sangat gugup bahkan ketakutan. Ia tidak berani lagi memandangi wajah Mark yang begitu murka.


"Keluar dari rumahku dan menjauhlah dari hidupku!!" ketus Mark dengan menggertakkan gigi sembari menunjuk arah pintu dengan telunjuknya.


Jen membuka matanya dan mengangguk paham. Ia langsung mendorong tubuh Mark yang hampir menindih tubuhnya. "Ba--baik Tuan. Maafkan aku." Jen langsung berlari, keluar dari kamar Mark. Ia mengambil semua barang-barangnya dan bergegas pergi dari apartemen. Tak lupa juga ia meninggalkan dompet Mark di atas meja.


Mark memijat keningnya. Ia berusaha menetralkan emosinya yang masih mendidih. Setelahnya, ia memandangi kamarnya dengan seksama. Mark menarik napas berat karena tempat itu yang kacau balau akibat ulah dirinya mencari dompetnya yang hilang.


"Jika bukan dompet sialan itu, pasti kamar ini tidak akan seperti sekarang! Jika dompet itu tidak jatuh, maka gadis bodoh itu tidak akan menginjakkan kakinya di apartemen ini!" gerutu Mark.


Mata Mark membesar saat ia menyadari jika Jen juga memasuki ruangan pribadinya. Mark berlari dengan langkah yang pontang-panting menuju ruangan rahasianya.


"Arghhhh!" teriak Mark mengacak rambutnya. Apa dia melihat foto itu?!"


***


Dua puluh lima menit berlalu. Arsen baru selesai melakukan panggilan video dengan istrinya. Baru saja lima menit ia menunggu kedatangan Mark, pria Arogan itu mulai merasa bosan. Arsen keluar dari dalam mobil dengan jengkel.


Bugggg!


Arsen menendang ban mobilnya. "Kenapa dia lama sekali?!" geram Arsen.


"Maaf telah membuatmu menunggu, Tuan," tutur Mark tiba-tiba.


Arsen hendak melayangkan pukulannya di wajah Mark namun ia menahannya. "Lolos kau kali ini!"


"Sekali lagi maafkan aku Tuan," menunduk kepala.


"Ayo berangkat!"


"Baik Tuan."


Kedua orang itu meninggalkan gedung tempat tinggal Mark.


"Sejak kapan kau berkencan?" tanya Arsen memecah keheningan.


"Aku tidak berkencan Tuan."


"Jangan berbohong! Jelas-jelas aku memergokimu menyimpan seorang wanita di ruangan rahasiamu."


"Tuan salah paham. Aku tidak mengenal gadis itu."


"Kalau tidak kenal kenapa bisa ada di apartemenmu, dan kenapa memakai bajumu?!"


"Gadis itu menemukan dompetku dan dia mengembalikannya. Dan ..."


"Dan kau membalas kebaikannya dengan cara memberikan gadis itu pakaian? Hahah! Mark, gaya kencanmu sangat-sangat payah dan kuno!" ledek Arsen.


"Tidak Tuan. Gadis itu basah."


"What?! Basah? Apanya yang basah?!" tanya Asen berkerut dahi.


"Ma--maksudku pakainnya basah dan dia menggigil kedinganan lalu aku memberinya pakaian," jelas Mark. Ohh gossh! Pikiranmu mengambang Tuan.


"Sudahlah Mark, jangan berbohong lagi. Tenang saja, aku pasti akan mendukung hubungan kalian."


"Tuan aku tidak berkencan dengan wanita ingusan itu," ucap Mark menekankan nada. Ayolah Tuan. Kau membuatku frustasi!


"Jangan mengelak atau gaji kau akan dipotong," tukas Arsen.


"Baik Tuan." Mark pun terpaksa mengiyakan ucapan sang bos demi gaji yang utuh.


"Sampai di mana hubungan kalian. Apa kalian sudah pernah tidur bersama?"


Mendengar itu Mark reflek menginjak rem dengan kuat sehingga mobilnya berhenti tiba-tiba.


"MARK!! Kau mau membunuhku, hah?" Arsen kembali murka.


Mark menelan saliva dengan kasar. "Maaf Tuan, ada anak kucing yang menyeberang."


"Kucing lagi?! Apa itu Garfield! Cukup Mark, kesabaranku hampir habis."


Mark kembali menginjak pedal gas dengan hati-hati.


"Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa kau sudah bercinta dengannya?"


"Apa Tuan sudah beralih profesi menjadi reporter?" gumam Mark dengan suara lirih.


"Apa kau bilang?!"


"Tidak, Tuan. Aku tidak bicara apa-apa."


"Tepikan mobilnya!" celutuk Arsen.


"Tuan, nanti Tuan akan terlambat bertemu dengan Mr. George."


Arsen berdiam. Ia berpikir sejenak. "Kau sangat pandai mengelabuhiku, cecunguk sialan!"


Mark tersenyum tipis. Ia merasa puas karena Arsen tidak jadi membuat lukisan aneh di wajahnya.


Dalam benak Arsen masih terngiang akan kejadian di apartemen Mark. Pria itu masih belum bisa percaya jika seorang Mark menyembunyikan seorang wanita di kamarnya. Setahu Arsen semenjak kejadian itu, Mark bernazar tidak akan pernah berkencan dengan siapa pun.


"Mark!" panggil Arsen.


"Apa kau sudah sembuh?"


"Aku tidak yakin Tuan."


"Ayolah kawan! Saatnya kau membuka hati. dua belas tahun telah berlalu dan kau masih belum bisa melupakan wanita itu?!"


Raut Mark berubah seketika saat Arsen mulai mengupas masa lalunya. "Tuan, bukan 'kah kita pernah membicarakan ini sebelumnya, jika kita tidak akan pernah membahas tentang peristiwa itu?"


"Tidak! Kau harus sembuh Mark. Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini? Kau menyiksa dirimu sendiri!"


Mark hening. Ia sebenarnya tidak mau menggores luka batinnya yang bahkan belum sembuh sampai sekarang. Sudah lama sekali mereka tidak membahas kejadian itu. Tapi setelah dua belas tahun berlalu, kini Arsen mengupas kembali hal menyedihkan itu.


Tuan! Kau sudah berubah sejak kau mulai menyukai wanita. Kau tidak pernah mengorek masa laluku bahkan tidak perduli dengan itu. Tapi kenapa kau melanggar janjimu? Aku rasa Tuan sudah melewati batas.


"Aku tau apa yang kau pikirkan!"


Mark buyar dari lamunannya. "Maaf Tuan."


"Sudah saatnya kau berhenti dari pekerjaanmu dan mencari pendamping hidup. Aku sudah sangat bahagia sekarang."


Apa yang terjadi denganmu, Tuan? Kenapa kau menjadi bijak dengan seketika. Aku lebih suka sifatmu yang dulu. Sifat yang tidak perduli dengan siapa pun selain dirimu sendiri.


"Berhenti mengataiku dalam hati!"


Apa kau, Master Limbat? Kau bahkan tau isi pikiranku.


"Mark!"


"I--iya Tuan."


***


Rintikan hujan tak lagi diperdulikan seorang wanita yang sedang berjalan di trotoar. Wajahnya tampak kesal dan marah. Niat baiknya untuk mengembalikan dompet Mark, ternyata membawanya pada kesengsaraan.


"Kalau aku tau sifatnya seperti itu, tak akan aku kembalikan dompet sialan itu! Tapi ... aku penasaran dengan wanita cantik itu? foto yang aku lihat di dompet, sama persis dengan foto yang terpajang di ruangan Tuan dasi merah. Apa wanita itu istrinya? Jika benar, kenapa Tuan dasi merah itu tinggal sendirian?"


Jenifer menjadi penasaran dengan Mark. Apalagi saat memasuki ruangan rahasia pria itu, ia melihat banyak sekali foto-foto romantis bahkan foto prewedding Mark dan wanita cantik itu.


"Astaga! Kenapa aku jadi kepo dengan urusan pribadi Tuan dasi merah yang sombong itu?"


Sampailah Jen di tempat parkir motor. Ia memang memarkirkan kendaraannya sedikit jauh dari gedung Apartemen. Namun saat Jen menaiki kendarannya, tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangannya. Jen melonjak, "Andra!"


"Aku mau bicara denganmu, Jen," tutur Andra.


"Lepaskan tanganku. Aku merasa jijik disentuh olehmu!"


"Jen, aku masih mencintaimu. Ayo kita balikan?"


Deg!


To be continued ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*


Follow ig : @stivaniquinzel


.


.


.


Maafkan Author yang baru update :( kemarin adalah hari yang melelahkan bagi Author. Harap maklum readerss,,, love u All 💋❤️