
Langit telah berganti warna. Cahaya merah telah terbentang di kaki langit bagian barat. Bulan dan bintang mulai nampak dan menggantikan matahari untuk menyinari bumi. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam.
Arsen dan Amey baru selesai membersihkan tubuh dan mengenakan pakaian terbaik mereka. Kegirangan Arsen terpancar dari wajahnya yang sepanjang hari itu tidak berhenti tersenyum. Wajahnya yang dulunya hanya memiliki dua ekspresi kini bertambah satu ekspresi.
Biasanya ekspresi yang ditunjukkan Arsen kalau tidak berekspresi marah pastilah berekspresi datar. Hanya dua itu yang menghiasi wajah tampannya. Tapi kini semenjak kedatangan Amey, wajah tampan itu sekarang sudah ketambahan satu ekspresi lagi.
Bisa dikatakan Arsenlah yang paling bahagia dibandingkan Amey yang saat ini tengah mengandung. Rasa tidak sabar Arsen untuk memamerkan kebahagiaannya terhadap semua orang, mulai menggebu.
"Sayang, tolong bantu aku menaikan resleting baju ini," tutur Amey.
"Memey, jangan pakai baju ini. Ganti yang lain saja, nanti bayi kita bisa sesak napas jika kau memaksa mengancing gaunmu ini," pinta Arsen.
"Sayang, ini tidak sesak. Tapi tanganku tidak bisa meraih untuk menguncinya. Lagi pula ini terakhir kalinya aku pakai gaun seperti ini. Jika perutku sudah membesar maka aku tidak bisa lagi memakai gaun ketat seperti ini."
"Tetap tidak boleh! Kasihan bayi kita yang masih berusia dua minggu," mengelus perut Amey. "Pakailah daster longgar."
"A--apa? Kau menyuruhku memakai daster emak-emak di acara seperti ini? Ya ampun Sayang, yang benar saja kamu," memutar bola matanya.
"Baiklah. Terserah kau mau memakai apa tapi jangan yang seperti ini. Memang pakaian ini terlihat seksi dan elegan untukmu, tapi ingat badanmu bukan lagi satu melainkan dua."
"Hemmm, iya aku akan ingat." Amey tersenyum kecil karena melihat tingkah suaminya yang begitu menggemaskan saat memperhatikan dirinya dan calon bayi mereka.
***
Sementara pasutri itu sedang memperdebatkan soal pakaian, kini Soffy yang paling terlihat heboh. Bagaimana tidak, seperti biasanya dandanan Soffy yang selalu berlebihan, tapi itulah yang menjadi ciri khasnya.
Para pelayan yang melihat penampilan Soffy hanya bisa menyapu dada mereka seraya menahan tawa. Coba saja untuk mengejek si Nenek Rempong itu, dijamin bakal menyesal.
"Nenek? Penampilanmu luar biasa keren," puji Zoey.
"Tentu saja. Soffy Agatha harus tetap membahana bagai badai yang menggelegar! Apalagi menghadiri acara cucu tercintonggg Nenek."
"Haha, benar juga kata Nenek."
"Cil, ambil gambar Nenek jangan lupa juga perlihatkan seluruh tubuh Nenek dan ambil juga lukisan mahal ini sebagai latar."
Zoey menerima ponsel yang Soffy sodorkan. Ia mulai memotret diri Soffy yang eksisnya bukan kepalang. Setelah hampir dua puluh kali menekan tombol potret kini Zoey menyerahkan kembali gawai itu pada yang empunya.
"Bocil, ayo berfoto dengan Nenek. Nanti Nenek akan tandai kamu di pacebook dan instagram."
"Boleh juga tuh."
Kedua orang itu pun berfoto. Sesekali Soffy meniru gaya Zoey yang kekinian. "Eh, Cil. Kamu sudah follow Nenek di instagram belum?"
"Sepertinya kita belum saling follow Nek. Apa nama instagram Nenek?" tanya Zoey sembari membuka aplikasi instagram dalam ponselnya.
"Soffy Imut," jawabnya.
"Huaaaa, Nenek kau punya pengikut yang sangat banyak! Kerennnnn! Pengikutmu sudah hampir mencapai jutaan." ketus Zoey menganga.
"Namanya juga selebgram, Hihhi. Biasalah, para fans sekalian haters Nenek," ucap Soffy sombong.
"Mantul Nek, cepat tandai aku biar follower aku ikut bertambah."
"Okey!"
Dari kejauhan Amey telah melihat Soffy dan Zoey sedang berbincang. Ia pun menghampiri kedua orang itu. "Nenek, Zoey?" panggil Amey.
"Halo Cucukku yang cantik, tapi masih cantikkan Nenek. Adodoehh Nenek turut bahagia mendengar kau telah mengandung. Ramuan Nenek memang mujarab 'kan? Hahaha" memeluk Amey.
"Trima kasih Nenek. Atas bantuan dari ramuan Nenek aku bisa hamil, tapi juga hampir mati disambar Arsen tak berhenti."
"Shhhht! Ada Bocil di sini," tutur Soffy.
Zoey hanya menyimak pembicaraan kedua orang itu. "Selamat ya Kakak Ipar, aku sangat senang mendengar berita kehamilan Kakak. Sehat terus ya Kakak Ipar bersama dedek bayinya."
"Trima kasih Zoey," memeluk Zoey.
"Ayo kita ke ruangan tengah. Mungkin semuanya telah berkumpul di sana," ajak Amey.
Zoey dan Amey beranjak dari tempat itu dan menuju ruang utama diadakan pesta. Sedangkan Nensi masih melanjutkan kegiatannya mengambil gambar diri. Di ruang utama sudah ada kedua sahabat karib Arsen bersama dengan dua orang wanita asing yang tidak di kenal Amey.
"Halo Amey, selamat karena telah menumbuhkan bibit unggul Arsen," tutur Kaisar cengengesan.
"Selamat Nyonya Winston, semoga kau dan calon bayinya selalu sehat," tambah Jayden tersenyum.
"Trima kasih untuk kalian berdua," balas Amey dengan senyuman lebar.
"Kak, Kai? Siapa wanita itu?" tanya Zoey sedikit menaikkan nada.
"Eh ada Zoey. Ini teman aku. Perkenalkan, namanya Samantha."
Zoey tidak menyapa wanita itu. Oh cuma teman, aku kira pacarnya. Hem, awas saja jika kak Kai memiliki pacar! batin Zoey lega.
"Aku pikir ini pacarmu Kai. Ohya Jay kau juga membawa seorang wanita, apa kekasihmu?"
"Bukan Mey, kedua wanita ini adalah rekan kerja kita. Yang ini Samantha dan ini Nadine," ucap Kai memperkenalkan.
"Halo Nyonya Amey," sapa Samantha dan Nadine serentak.
Amey tersenyum membalas sapaan kedua wanita itu yang tak kalah cantik darinya.
"Ohya, Arsen sedang menelpon, kalian tunggulah sambil mengisi perut kalian," tutur Amey meninggalkan orang-orang itu dan berjalan menuju pintu.
Kenapa Jen belum tiba? Dia 'kan sudah berjanji untuk datang! batin Amey.
Wanita itu berdiri di depan pintu, menunggu kedatangan sahabatnya itu. Ia melihat jam di gawainya yang sudah menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh tiga menit.
"Amey!" panggil seorang wanita yang tak lain adalah sosok yang di tunggu-tunggunya.
"Jen? Akhirnya kau datang juga!"
Jen berjalan sambil menarik kakinya yang agak pincang. Melihat cara berjalan Jenifer membuat Amey mengerutkan kening. "Ada apa dengan kakimu?"
"Ceritanya panjang. Aku akan cerita tapi nanti saja. Aku masih tidak mau membahas kejadian itu."
"Hm, baiklah. Ayo masuk," ajak Amey. "Ohya, apa kau datang sendiri? Di mana pacarmu? Apa dia sibuk lagi? Huhhh! Selalu saja begitu!"
"Amey, sudahlah! Aku malas membahas tentang laki-laki br*ngsek itu! Muak aku dengannya. Membayangkan wajahnya saja sudah membuat aku jijik. Pokoknya aku dan dia sudah tidak ada hubungan lagi! Nanti aku akan menceritakan padamu, tapi tidak sekarang."
"Baiklah. Jangan bersedih lagi. Andra memang tidak baik untukmu. Kalau kau mau aku akan mencarikanmu lelaki yang tampan, bertanggung jawab dan pantas untukmu."
"Nah, ini nih yang aku suka. Haha!" Jen terkekeh.
Setelah Amey dan Jen sampai di ruang utama tempat pesta diadakan, mata Jen tidak sengaja melirik seorang yang tak asing berada di belakang Arsen sedang berjalan menuju ke arah mereka.
Astaga! Tuan dasi merah? Aduhhhh malunya aku! Kenapa aku tidak terpikir jika Tuan dasi merah itu akan berada di sini juga? Mau taruh di mana wajah pas-pasanku ini.
Jen membalikkan badannya, sehingga memunggungi Arsen dan Mark. Ia menyembunyikan wajahnya dari Mark karena ia telah melakukan hal yang paling memalukan di hadapan Mark tadi siang.
Flashback ON
"Hik ... hik! Aku benci padanya! Andra pria br*ngsek, ********, gila, keparat!" Maki Jen sembari memukul dada Mark.
Setelah memukul-mukul dada Mark, Jen menyandarkan kepalanya di dada bidang itu sambil terisak tak kuasa menahan rasa sakit hatinya. Mark hanya bisa berdiam, bingung harus melakukan apa. Di tambah lagi banyak sekali kendaraan yang lalu lalang sedang menyaksikan keduanya.
"Hey, tenanglah!" tutur Mark.
Tiba-tiba Jen menarik dasinya dan membuang sesuatu di sana. Sesuatu yang kental dan berwarna bening. Mark terperanjat hebat. Badannya mengeras sehingga ia tidak bisa bergeming dari posisinya. Mark adalah tipe pria yang paling bersih dan membenci sesuatu yang berbau kotoran sekecil apa pun.
Gossshhhh! A--apa itu INGUS? batin Mark. Sesaat kemudian " ... Aaaaaaaaaaaaa!" teriaknya nyaring sehingga Jen pun ikut berteriak karena terkejut mendengar suara besar Mark.
"I--ngus! K--kau membuang kotoran di pakaianku!"
Mark menggeram murka, ia menggertakkan giginya dan mengepalkan jemari dengan erat. Wajah Mark memerah menahan amarah. Sungguh! Jen membuat kesalahan yang sangat fatal pada pria dingin itu.
To be continued ...
Author menunggu dukungan kalian lewat Like, Komen, Vote daan Rate 😘
Follow ig : @stivaniquinzel