Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Aku sudah siap!


Drttt ... drttt ... drttt


Ponsel Amey bergetar, ia segera menjawab panggilan masuk itu yang ternyata adalah mertuanya.


(Percakapan di telepon)


"Halo Sayang ..." sapa Helen.


"Halo, Mama."


"Mama dengar dari Mark, kalian sedang berada di Paris ya?" tanya Helen.


"Iya, Ma."


"Mama hubungi nomor Arsen tapi tidak aktif. Mama cuma mau pastikan jika kalian benar-benar berbulan madu," terdengar tawa kecil di ujung kalimat Helen.


"Arsen lagi bertemu Tuan George Ma. Sebenarnya kami di sini bukan berbulan madu Ma, lebih tepatnya bekerja," jelas Amey.


"Maksud kamu?"


"Arsen sedang mengadakan perjalanan bisnis, tapi dia mengajakku Ma."


"Haha." Helen terkekeh kembali. Ia tahu jika itu hanyalah modus dari Arsen untuk dekat dengan menantunya.


"Kenapa Ma?" tanya Amey mengerutkan kening.


"Tidak apa-apa Sayang. Kalau begitu sekalian saja kalian liburan hehe, Mama ingin sekali melihat cucu pertama Mama. Sepertinya menggendong bayi akan sangat menyenangkan."


Amey gugup, Ia menelan salivanya kasar. "Ehm, Mama, Aku ..."


"Jangan terburu-buru Sayang. Nikmatilah pernikahan kalian sebagai pengantin baru. Mama akan setia menunggu kabar baik darimu."


"Baik Mama."


"Ohya, kau sudah tahu 'kan bagaimana sifat suamimu? Dia memang dingin, tapi hatinya sebenarnya hangat. Jangan cuek-ceuk sama anak Mama ya. Dadahhhh Amey Sayang."


"Eh, Iyaaa, dadahh Mama."


Sambungan telepon terputus.


Amey menghembuskan napasnya setelah mengakhiri percakapan dengan mertuanya. Seketika ia mengingat permintaan Helen mengenai keturunan. Ia paham jika kabar baik yang harus ia sampaikan adalah mengenai kehamilannya.


"Bagaimana aku hamil, jika aku belum anu-anu dengannya? Astaga! Aku merasa tidak enak dengan Mama dan Papa. Mereka begitu baik padaku, tapi aku masih belum bisa memberikan apa yang mereka inginkan," gumam Amey.


Sudah dua jam kepergian Arsen dan dua jam pula Amey merasakan kebosanan yang teramat sangat karena harus berada terus di dalam kamar. Ia hanya bisa melihat indahnya kota Paris melalui jendela kaca dari kamarnya.


Amey mondar-mandir di depan ranjang. Ia terlihat gelisah, sesekali ia menggigit ujung telunjuknya. Amey tidak bisa keluar karena dilarang keras oleh Arsen. Menonton TV mungkin bisa menghilangkan rasa jenuhnya. Tapi? Baru dua menit ia menatap layar televisi, kini ia kembali merasa bosan.


"Arghhhh! Bisa gila kalau aku dikurung seperti ini! Arsennnnnnnn, kau di mana?" teriak Amey dengan nyaring.


"Shut up!" tukas Arsen tiba-tiba.


Amey melonjak kegirangan saat mendengar suara pria yang sangat dinantikannya. Ia beranjak dari posisi terbalik. kepala yang menggantung di kaki sofa serta kaki yang berada di kepala sofa.


"Arsennn kau kembali," tutur Amey kegirangan.


"Merindukanku?" menyunggingkan bibir.


"Aku ... aku bosan di kamar terus," lirih Amey sembari memasang wajah murung.


"Kau mau jalan-jalan?"


Amey mengangguk dengan cepat. Wajahnya kembali mengeluarkan rona ceria. "Ayo jalan-jalan!" ajak Amey menarik lengan Arsen.


"Tunggu setelah aku selesai rapat."


"Berapa lama?"


"Tidak sampai satu jam."


Amey mengerucutkan bibirnya. "Baiklah, aku akan menunggumu," ucapnya tidak bersemangat.


Arsen berjalan meninggalkan Amey yang masih terbelalak dengan perlakuannya. Amey menatap punggung Arsen, pipi wanita itu memerah seketika. Ia meraba dahinya dengan punggung tangannya. "Apa aku demam? Kenapa ini begitu panas?" gumam Amey.


Arsen memanglah belum selesai rapat. Namun perasaannya gelisah. Wajah Amey terngiang terus di benaknya membuat pria itu keluar dari ruangan rapat hanya untuk mengecek keberadaan Amey. Dan benar saja dugaan Arsen, kalau Amey sedang menunggunya.


Melihat Amey yang antusias menyambut kedatangannya membuat pria itu tersenyum kecil di ujung bibirnya. Cepat-cepat ia kembali dan menyelesaikan rapatnya dengan dewan direksi Diamond Group.


"Kenapa aku tiba-tiba ingin melihatnya? Ahhh malunya aku! Dia pasti sudah besar kepala, mengira aku merindukannya. Tapi, bukankah kalau ingin selalu melihat keberadaan orang yang selalu dekat dengan kita, tandanya rindu?" Amey mengacak rambutnya.


Wanita itu menekan dadanya sekuat mungkin agar denyut jantungnya kembali normal. Namun nihil, jantung itu semakin kuat memompa membuat Amey kepanasan dan sulit bernafas.


Tiba-tiba ucapan Helen kembali menyambar pikirannya. Ia mengingat pesan mertuanya untuk segera memberikan kabar baik. Amey paham jika kabar baik yang dimaksud Helen adalah kehamilan.


Amey sadar jika ia telah menikah. Sudah seharusnya ia melakukan kewajibannya sebagai istri dan memberikan cucu untuk orangtua Arsen. Tapi bagaimana ia harus melakukannya? Umur Amey sudah cukup dewasa, tapi dirinya sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam berhubungan badan.


Jangankan pengalaman, membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk Amey menegang. Rasa tidak enak hati Amey kepada orangtua Arsen mulai menggerogoti hatinya, pasalnya Helen dan Michael selalu memperlakukan Amey dengan sangat baik.


"Apa Aku harus meminta Arsen menghamiliku agar Mama dan Papa senang? Tapi bagaimana aku memintanya? Ini membuatku gila!"


Amey terpikir sesuatu, Ia mengambil laptop Arsen yang ditaruh di atas nakas. Dan benar saja wanita itu mencari artikel mengenai malam pertama pasangan suami istri.


Sesekali badan Amey bergetar saat membaca artikel berbau dewasa itu apalagi saat membaca berbagai posisi yang dilakukan suami istri untuk mempercepat proses pembuahan di dalam rahim.


"Apa aku harus mencobanya? Tapi bagaimana jika itu menyakitkan? Entahlah siapa yang tahu. Demi Papa dan Mama! Setidaknya aku harus menyenangkan mertuaku, anggap saja sebagai tanda trima kasihku atas kebaikan mereka. Semangat Amey, kau pasti bisa!" Amey menggerutu sembari menguatkan dirinya.


***


"Kenapa lama sekali?" tanya Arsen mulai kesal.


"Maaf Mr. Winston, sekretarisku sedang berada dalam perjalanan," ucap George.


"Dari tadi dalam perjalanan, tapi tidak sampai-sampai," sindir Arsen.


"Mungkin ada suatu kendala yang membuat sekretarisku terlambat. Mohon menunggu Mr. Winston," pinta pria paruh baya itu.


Arsen tidak menggubris. Pandangannya lurus ke arah pintu. Ingin sekali ia mengakhiri pertemuan itu dan cepat-cepat bertemu istrinya. Presentasi dari sekretaris Diamond Group memanglah sangat penting untuk Arsen, tapi ada hal lain yang jauh lebih penting baginya selain pekerjaan.


Sejak kehadiran Amey, kehidupan pria arogan itu lebih berwarna. Entah warna yang diberikan Amey berupa emosi yang labil, atau kehangatan dan kenyamanan. Meski Arsen tidak menyadari itu, namun hatinya tidak bisa mengelak jika ia telah merasakan yang namanya jatuh cinta.


Sebelum Amey hadir dalam hidupnya, pekerjaanlah yang menjadi prioritas utama Arsen, namun setelah terjebak pernikahan tanpa cinta dengan istrinya, kini pekerjaan menjadi nomor dua dan Amey menjadi nomor satu dalam kehidupannya.


***


Arsen mendapati tubuh Amey sedang tertidur di sofa dengan memeluk laptopnya. Ia merasa bersalah karena tidak bisa menepati janjinya. Lima jam lamanya ia meninggalkan Amey, setelah ia berjanji hanya akan rapat dengan waktu tidak hampir satu jam.


"Rupanya kau masih menungguku," ucap Arsen mengusap kepala Amey.


Amey bergerak pelan saat merasakan sentuhan lembut Arsen. Ia telah terbiasa dengan sentuhan suaminya yang membuatnya nyaman. Melihat Amey yang tidak terbangun membuat Arsen menggendong tubuh Amey menuju ranjang.


Ia meletakkan Amey di atas tempat tidur dan menarik benda segi empat yang sedari tadi menempel diatas dada Amey. Lama ia menatap wajah Amey. Rasa ingin memeluk tubuh istrinya kembali hadir dalam pikiran Arsen.


Untuk menjauhi pikiran liarnya, ia hendak berjalan meninggalkan Amey, namun tangannya tiba-tiba digenggam Amey. "Kenapa baru pulang?" lirih Amey.


Arsen membalikkan badannya dan menatap mata Amey yang masih sayu. "Ada sesuatu yang membuatku tidak bisa menepati janjiku. Maaf." Untuk pertama kalinya Arsen meminta maaf dengan tulus pada perempuan selain mamanya, dan Amey wanita pertama yang mendengar ucapan maaf Arsen yang memang berasal dari lubuk hatinya yang paling dalam.


Amey beranjak dari tidurnya. "Hmm, baiklah. Mungkin jalan-jalannya nanti saja."


"Tidurlah kembali, aku mau membersihkan badanku," berjalan meninggalkan Amey.


"Ars ...?" panggil Amey. Apa aku terlihat murahan jika aku yang memintanya lebih dulu?" ucap batinnya.


Arsen berhenti dan kembali memandangi Amey.


"Aku ... aku sudah siap!" ketus Amey lantang dengan memejamkan matanya.


Arsen bingung dengan ucapan Amey. Dahinya mengerut, tandanya ia tidak paham dengan maksud Amey. "Apanya yang sudah siap?" tanyanya.


To be continued ...


LIKE, KOMEN, VOTE RATE 😘