
Setelah seharian mengelilingi pasar, kini badan Amey lemas tidak bertenaga. Jangankan Amey, Arsen pun yang tidak biasa berjalan di tempat seperti itu merasa lelah. Tanpa membersihkan tubuh, keduanya langsung merebahkan tubuh mereka di atas ranjang.
Arsen memeriksa ponselnya dan mendapati lima panggilan tak terjawab dari Zoey. "Goshh!" beranjak dari tempat tidur.
"Kau kenapa?" tanya Amey.
"Aku lupa memberi tahu Kai untuk menjemput Zoey di bandara."
"Kalau begitu cepat hubungi Zoey, dia mungkin masih di bandara. Takutnya gadis itu nyasar."
"Kau benar."
Arsen segera menghubungi Zoey namun di luar jangkauan.
"Bagaimana?"
"Tidak bisa dihubungi."
Amey melihat Arsen memasang raut panik. Ia mendekat dan mencoba menenangkan suaminya. "Jangan panik, mungkin dia sudah menghubungi Kaisar."
"Tidak mungkin. Zoey tidak tahu kontak Kai," Arsen mengacak rambutnya.
Beberapa saat kemudian gawai Arsen bergetar. Ia segera membuka pesan yang ternyata dari Zoey.
From: Zoey
Kakak, aku belum bisa pulang. Katanya ada penundaan penerbangan dari pihak maskapai. Kemungkinan lusa baru berangkat. Ohya jangan lupa bilangin ke kak Kai untuk menjemputku. Byeee brother, miss u!
Arsen bernapas legah setelah ia membaca isi pesan dari Zoey. "Rupanya penerbangannya ditunda. Katanya lusa baru bisa," tutur Arsen.
"Syukurlah," mengusap dadanya.
"Aku mau mandi."
"Baiklah." Amey beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Sadar tidak sadar, Amey mulai peka dengan ucapan Arsen. Setelah mendengar kalimat suaminya, dengan segera ia menuju kamar mandi dan menyiapkan air mandi untuk suaminya.
Melihat Amey yang menurut membuat Arsen tersenyum tipis. "Tumben peka, biasanya ceramah dulu baru otw," gumam Arsen.
Tak membutuhkan waktu yang lama, Amey keluar dari kamar mandi. "Mandilah, aku sudah menyiapkanmu air, sampo, sabun dan parfum mandi."
"Good job!" Arsen mengacungkan jempolnya seraya berjalan menuju kamar mandi.
Sambil menunggu Arsen selesai mandi, Amey menyalakan tv untuk menghilangkan kejenuhannya. Ia mengganti tayangan yang sebelumnya karena mengandung adegan dewasa. Sayangnya semua siaran yang ditayangkan tidak ada yang waras di mata Amey.
"Kenapa semua tayangannya berbau semi?" gumam Amey menggeliang.
Karena tidak ada yang srek di mata Amey ia pun mematikan tvnya. Tentu saja tayangan itu berbau dewasa semua, 'kan ceritanya mereka sedang bulan madu, jadi dari pihak hotel memang menyiapkan berbagai tayangan dewasa. Entahlah, mungkin itu berfungsi untuk membangkitkan gairah.
ting ... nung...
Door bell berbunyi, Amey segera menuju pintu untuk membukanya. Ia melihat wajah Mark di sebuah layar segi empat yang terletak di samping pintu. Amey pun membukakan Mark pintu.
"Selamat malam Nyonya," tutur Mark menunduk.
"Ada apa Mark?"
"Ini ada kiriman untuk Nyonya," menyerahkan sebuah bungkusan segi empat yang lumayan besar.
"Dari siapa Mark?" tanya Amey berkerut dahi.
"Katanya ini pesanan dari Tuan Winston untuk Nyonya."
"Maksudmu Arsen?"
"Iya, suami Nyonya."
Amey mengangkat alis setengahnya dan memasang raut heran. Seketika ia tersadar dari lamunannya."Ohh, sorry Mark! Mungkin kau ingin mampir dulu?" ajak Amey.
"Tidak Nyonya, aku masih harus mengerjakan sesuatu," ucap Mark menunduk.
"Baiklah."
Amey mengunci pintu kembali. Tanda tanya besar muncul di benaknya. "Kata Mark ini pesanan Arsen untukku. Apa ya isinya? Jangan-jangan ini bom! Ahhh bukanya bentar aja deh tunggu Arsen selesai mandi, kalau memang beneran ini bom aku bisa rip bareng dia. Nggak mau aku otw neraka sendirian."
Amey meletakkan box itu di atas meja, ia masih menatapnya dengan seksama. Sesekali tangannya meraba atasan bingkisan berbentuk kotak itu. Rasa penasaran menggerogoti batinnya namun ia menahan sampai Arsen keluar dari kamar mandi.
Selama tiga puluh menit mata Amey tak bergeming dari benda segi empat itu. Arsen baru saja keluar kamar mandi dan mendapati istrinya memandangi kotak itu dengan mengerutkan dahi.
"Apa itu?" tanya Arsen.
Amey yang mendengar suara Arsen langsung melemparkan pandangannya ke arah pria yang berdiri di depan ranjang itu. "Kemarilah," panggil Amey diikuti dengan gerakan tangannya.
Arsen mendekat.
"Tadi Mark membawa ini, katanya ini pesananmu untukku? Apa benar kau yang memesannya?"
"Hmm, bukalah," tutur Arsen mengangguk.
"Memangnya wajahku terlihat sedang mengerjaimu?" ucap Ars dengan raut datar.
"Yeee, siapa tau ini bom, atau bisa jadi kecoak, atau bisa saja selusin cicak! brrrr, geli ah!" tutur Amey menggeliang.
"Oh God! Kenapa kau memikirkan hal yang macam-macam. Bukalah, kau akan tau apa isinya!"
"Baiklah. Awas saja kalau kau menjailiku!"
Amey mulai membuka kotak itu dengan perlahan. Amey memasang kuda-kuda untuk siap berlari jika isi kotak itu seperti yang dibayangkannya. Melihat tingkah Amey, Arsen tersenyum kecut.
Setelah isinya mulai terlihat, Amey mulai memberanikan membuka penutup kotak itu dengan cepat. "Huaaaaaa!" Amey menganga.
"Biasa aja kali ekspresinya," tutur Arsen.
"K--kau membelikan tas ini untukku?" tanya Amey terbata karena kagum.
"Aku 'kan sudah bilang, barang ini kecil untukku," ucap Arsen dengan nada angkuh.
"Apa ini ori?" mengambil tas yang berlogo LV itu dan memandanginya lekat.
"Aku tidak pernah membeli barang palsu!"
"Huaaaaa! Ini cantik sekali Ars," reflek wanita itu memeluk tubuh Arsen yang hanya tetutupi handuk putih di pinggangnya.
Arsen menelasn saliva dengan kasar. Apa yang dilakukan gadis ini!
"Makasih Ars, kau sangat baik padaku," ucap Amey mengeratkan pelukannya.
Arsen mulai panik, belutnya mulai mengembang karena terkena sentuhan Amey. Dahi Arsen sampai meneteskan peluh akibat menahan hasratnya.
Jangan Ars, jangan! Bertahanlah, jangan langgar apa yang sudah kau ucapkan! Kau pengecut jika kau menyentuhnya!
"Arghhh!" Arsen berteriak dan mendorong tubuh Amey.
Napas Arsen memburu, jantungnya memompa begitu cepat. Amey hanya bisa memandangi Arsen yang terlihat gelisah.
"Maaf aku tidak sengaja memelukmu. Habisnya aku sangat senang," ucap Amey.
"Jangan ulangi! Sikapmu tadi sangat berbahaya. Jangan salahkan aku jika aku menerkammu dengan buas!" tukas Arsen.
"Maksudmu?"
"Lupakan!" Arsen meninggalkan Amey yang masih menatapnya dengan penuh tanda tanya.
Ponsel Amey bergetar, ia segera meraihnya dari atas nakas. Ia melonjak dengan mulut menganga. "Astaga! bagaimana aku bisa lupa?" menepuk dahinya.
Pengingat dari ponsel Amey berbunyi untuk mengingatkan Amey jika pada besok hari adalah ulang tahun Arka, itu berarti ulang tahun Arsen juga. Amey memutar otaknya, berpikir untuk memberikan kejutan apa untuk Arsen. "Aduh, ulang tahunnya kenapa bisa mendadak seperti ini! Aku belum menyiapkan apa pun untuknya. Tapi ... kenapa juga aku harus melakukan itu? Toh dia Arsen bukan Arka!" gumam Amey.
***
Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Arsen masih asik menonton serial barat sambil bersandar di kepala sofa. Sedangkan Amey duduk di sebelahnya dan masih sibuk memainkan ponselnya.
Tiba-tiba terlintas dipikiran Arsen mengenai laman pencarian terakhir di laptopnya. Rasa penasaran ingin bertanya hinggap di benaknya. "Hey, apa kau memakai laptopku kemarin?"
"Hmmm," mengangguk kecil namun matanya masih tak bergeming dari layar ponsel.
"Apa yang kau lakukan dengan laptopku?"
"Aku hanya memastikan sesuatu," jawab Amey enteng.
Arsen mendekatkan wajahnya. Amey masih tidak memperdulikan sikap Arsen. Tiba-tiba pria itu menarik ponselnya sehingga membuat Amey reflek menatap wajah Arsen yang hanya berjarak sekitar lima senti meter dengan wajahnya.
Jantung Amey berdegup kencang. "Ke--kembalikan ponselku," tutur Amey gugup masih dengan memandangi wajah sempurna Arsen. Kenapa dia tampan sekali?
Arsen semakin mendekat membuat Amey memejamkan matanya dan berharap jika pria itu akan menciumnya. Dan benar saja, Arsen tiba-tiba mencium bibir Amey yang tipis. Perlahan ia mulai membuka mulut Amey yang tertutup menggunakan bibirnya.
Amey pun dengan reflek menerima ciuman Arsen. Lama-kelamaan ciuman itu berubah dari lembut menjadi semakin panas. Tangan Arsen mulai berkeliaran bebas di sekitar tubuh Amey.
Berarti benar dugaanku! batin Arsen.
Ciuman itu sebenarnya hanya untuk memastikan dugaan Arsen mengenai ucapan Amey yang mengatakan 'telah siap' kemarin malam. Tidak menerima penolakkan dari Amey membuka peluang besar bagi Arsen untuk memberi makan belutnya.
Nafsu Arsen membuat ia harus melanggar janjinya. Ia melupakan ucapannya yang tajam untuk tidak menyentuh wanita milik Arka. Karena menerima lampu hijau dari Amey, ia pun segera menggendong wanita itu menuju ke tempat tidur.
Amey hanya menunduk malu. Tangannya dilingkarkan ke leher Arsen. "Kau siap bertempur malam ini?" tanya Arsen menyeringai.
Wanita itu hanya diam dan mengikuti arahan Arsen. Beberapa detik kemudian pria itu melemparkan tubuh Amey di atas ranjang. Wajah Arsen terlihat buas dan mengerikan. Tentu saja karena ia sudah lama menahan gejolak birahinya yang membumbung.
"Ars?" lirih Amey.
"Tenang saja Sayang aku pastikan malam ini kau akan menikmatinya!"
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘