Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Satu Server!


"Ehem!"


Amey dan Eggie melonjak saat melihat Mark yang tengah berdiri di depan pintu.


"Mark, kapan kau tiba?" tanya Amey panik.


"Baru saja Nyonya. Maafkan aku telah membuatmu kaget," menunduk kepala. Mata Mark beralih menatap Eggie yang duduk di samping Amey. Ia tidak memperdulikan Eggie dan melanjutkan langkahnya menuju ke arah Amey.


"Apa kau mendengar ucapanku dengan Eggie."


"Iya, Nyonya."


"Apa?!" Amey kembali melonjak. "Hey! Kau tidak sopan menguping!"


"Aku tidak menguping, Nyonya. Aku tiba di mansion dan tidak sengaja mendengar pembicaraan Nyonya dan Sekretaris Eggie."


Giliran Eggie yang melotot menatap manik Mark. Bagaimana bisa, dia dengan sesantai itu mengatakan jika dia mendengar ucapanku dan Nyonya tentang dirinya sendiri!


"A--apa yang kau dengar, Mark?!" tanya Amey.


"Aku hanya mendengar jika Nyonya Amey menawarkan jasa curahan hati untuk Sekretaris Eggie."


"Apa kau yakin hanya itu?"


"Tentu saja, Nyonya. Aku baru saja tiba beberapa detik yang lalu."


Amey membuang napasnya lega. Ia menyapu dadanya dan memandangi Eggie yang tampak melamun dengan raut yang murung.


"Eggie, kau tak apa?"


"Tidak, Nyonya."


Amey menatap Mark dengan tajam. "Kenapa kau kemari? Bukankah kau harus bersama Arsen?"


"Tuan Muda menyuruhku untuk menjemputmu, Nyonya."


"Tidak usah, aku akan berangkat bersama Eggie."


"Baiklah kalau begitu. Aku permisi dulu," menunduk kepala dan berjalan meninggalkan Amey dan Eggie.


"Tunggu!"


Mark menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Amey. "Ada apa, Nyonya?"


"Aku ingin sekali memakan buah semangka. Tolong belikan untukku dan antar ke kantorku."


"Baik, Nyonya."


Mark segera melaksanakan perintah Amey. Dalam perjalanan, raut wajah Mark tampak kusut. Tak lama kemudian ia memukul kendali mobil dengan sangat kuat. Di ujung bibirnya terdengar teriakan amarah yang penuh kekesalan.


"F*ck!! Kenapa aku harus mendengarnya langsung dari bibir sialan itu!" gerutu Mark.


Setelah beberapa saat memaki dirinya, Mark pun memelankan laju kendaraannya. Ia memasuki area parkir yang telah disediakan gedung itu. Mark mengatur napasnya dan menenangkan dirinya, kemudian ia turun dari dalam mobil dan memasuki market itu.


Pandangan Mark tertuju pada suatu rak yang berada di sudut ruangan itu. Ia melekukkan bibirnya dan berjalan menuju rak itu. Sesampainya di sana, tangannya yang besar dan berotot langsung meraih buah semangka itu dan kembali berjalan menuju ke kasir.


Ketika Mark baru saja melangkah beberapah langkah, ia mendengar teriakan yang tak mengenakan di gendang telinganya.


"Kembalikan semangkaku!" teriak Doris emosi.


Mark menatap ke belakang dengan setengah kening yang terangkat. Sesaat kemudian ia mengacuhkan Doris dan berjalan menuju kasir.


"Heyyy bule nggak ada akhlak, berhenti kau!" teriak Doris sangat kuat sehingga semua orang memandanginya.


Dengan penuh kekesalan Mark menghentikan langkahnya. Wajahnya tampak datar. Ia belum membalikkan badannya karena masih menahan emosi.


"Nenek, ada apa teriak-teriak? Semua orang memandangimu!" bisik Jen yang terlihat malu.


"Bantu Nenek merebut semangka itu dari bule tak berakali itu!" menunjuk pria yang ada di depannya dengan telunjuknya.


Jen menatap belakang punggung pria itu. "Hey, Tuan! Apa kau tidak memiliki sopan santun terhadap orang yang lebih tua? Kembalikan semangka itu pada Nenekku!" teriak Jen.


Mark tak kuasa lagi menahan amarahnya yang hampir meledak. Ia membalikkan badannya. Sial! Siapa lagi perusuh ini?! Batin pria itu.


Jenifer terkejut bukan kepalang saat melihat wajah pria yang berdiri di depannya. "Tu--tuan, Mark!" gumamnya kaget. "Astagaaaaa! Matilah aku!"


Secepat kilat Jen membuang mukanya. Ia sangat malu saat mengetahui jika pria yang bermasalah dengan neneknya adalah seorang pria yang sangat ingin dijauhinya.


"Jeniii, rebut semangkaku dari pria asing itu, cepat!" perintah Doris.


Jenifer bingung harus melakukan apa. Ia memejamkan matanya dan tidak berani menatap Mark yang tengah berdiri di belakang punggungnya.


"Nek, biarkan saja semangka itu. Kita bisa mencarinya di tempat lain. Ayooo Nek, aku antarkan," menarik pergelangan tangan Doris.


"Kau rupanya!" ketus Mark yang tiba-tiba sudah berada dekat di belakang punggung Jen.


Jantung Jen memompa tak karuan. Ia bingung harus melakukan apa. Bibirnya terasa pekat untuk mengeluarkan ucapan. Badannya tampak kaku dan seperti telah membeku dengan seketika.


"Jeniiiii, kau kenal dengan laki-laki ini?" tanya Doris.


"Ti--tidak, Nek!" jawab Jen lantang.


Mark membersarkan matanya. Seketika pikiran iblisnya muncul. Sebuah ide gila muncul di benaknya untuk mengerjai Jenifer.


"Sayang, kenapa kau tidak pernah datang lagi di apartemenku, hah?" tersenyum licik sembari merangkul pundak Jen.


Deg!


Bukan hanya Doris yang terkejut, Jenifer pun melonjak bukan kepalang. Ia langsung menatap wajah Mark dengan tatapan bingung.


"Halo Orang Tua, perkenalkan aku pacarnya Garfield," tutur Mark memperkenalkan dirinya.


"APA?!" teriak Doris dan Jen serentak.


"Bu--bukan Nek. Aku tidak mengenal pria Dasi Merah ini. Suer takewer-kewer, Nek!" jelas Jen.


"Sayang, siapa Orang Tua ini? Kenapa kau tidak mengakuiku di depannya?"


"Apa kau bilang? O--rang Tua?!" ulangi Doris dengan wajah memerah.


"Iya Orang Tua. Kau bisa bercermin di sana," menunjuk sebuah lemari kaca di sebelah Doris.


Doris melotot menatap Mark dan Jen secara bergantian. Ia berkacak pinggang dan tiba-tiba kedua tangannya menarik kuping Jen dan Mark secara bersamaan. "Kalian berdua ikut aku dan jelaskan semuanya!"


Mark terkejut saat menerima perlakuan dari Doris. Seumur hidupnya baru kali itu ia diperlakukan tidak sopan oleh orang asing.


"Aduhhh Nek, sakit. Awwwww! Lepaskan, Nek," pekik Jenifer.


"Permisi, Orang Tua. Apa kau tidak mengenalku?" tanya Mark masih tidak percaya dengan perlakuan Doris.


Setelah berada di depan market, Doris melepaskan tangannya dari telinga kedua orang itu. "Jeni, jelaskan padaku siapa bule tak berakali ini?! Apa hubungan kalian, hah? Apa yang telah kau lakukan di apartemen pria ini?"


"Sudah ku bilang Nek, aku tidak mengenalnya," lirih Jenifer yang masih tidak mau memandangi Mark.


"Jangan menipuku cucu tengik! Jawab jujur, atau aku akan memulangkanmu di kampung dan tidak akan memberimu ijin untuk bekerja lagi di Jakarta!"


"I--iya, Nek. Maafkan aku. Aku mengenal pria ini. Dia adalah asisten dari suami Amey, Tuan Arsen Winston. Namanya, Tuan Mark."


Asisten pribadi Tuan Arsen? Luarrrrr biasa! Apa benar ini calon mantuku?! Doris menelan liurnya kasar. "A--apa benar yang kau katakan, Jeni?" tanyanya dengan raut wajah yang berubah drastis.


"Perkenalkan, aku Mark. Yang dikatakan gadis Dasi Merah ini benar! Kalau boleh tahu Anda siapanya, gadis ini?"


"Aku Doris. Nenek satu-satunya Jenifer," menyodorkan tangannya.


"Do--Doris?" Mark memutar otaknya. Ia kembali mencerna ucapan Nenek Tua itu. "Sepertinya aku pernah mendengar nama ini," gumamnya. "Tunggu dulu! Doris ... bukannya bedak pembasmi kutu dan perawatan untuk kulit anjing?"


Doris terbelalak. "Untung kau tampan, jadi ketidaksopananmu pada orang tua, tertutupi. Heheh," tersenyum paksa. "Ohyaa, kau pacar baru Cucuku?" tanya Doris antusias.


"Bukan, Nek! Tuan Mark dan aku tidak berpacaran," kilah Jen.


"Diam kau! Aku tidak bertanya padamu."


Ada apa dengan tatapan Nenek Tua ini. Kenapa begitu mengerikan? Dia mirip Nensi! Batin Mark.


"Apa yang kalian lakukan di apartemen?"


"Nenek, salah paham," timpal Jen lagi.


"Mungkinkah kalian telah ... " Doris memonyongkan bibirnya dan memejamkan matanya. Ia juga menyatukan kedua telapak tangannya dan menggesek secara brutal.


"Nenek! Hentikan!" teriak Jen.


Mark terkejut dengan tingkah Doris. "Ternyata Nensi tak sendirian. Mereka berdua satu server! Dunia semakin mengerikan dengan kehadiran Nenek-nenek seperti ini," lirih Mark.


To be continued ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATA :*


.


.


.


follow ig : @stivaniquinzel