
Sejak meninggalkan pesta itu, Amey menjadi pendiam. Tampaknya ia sedang memikirkan sesuatu. Di dalam mobil, Amey tidak bersuara. Sedangkan Arsen masih dalam mode hening karena masih kesal dengan Amey.
Apa yang terjadi dengan kedua majikan uwu ini? Batin Mark.
"Mark, bagaimana menurutmu, jika seorang melakukan suatu hal yang membuat orang lain jengkel, namun ia tidak menyadari kesalahan yang dibuatnya?" tanya Arsen, dingin.
"Berarti menurutnya, ia tidak melakukan kesalahan. Hanya saja, orang lain menanggapinya dengan berlebihan alias baper."
"MARK! Kau menyindirku?!" geram Arsen.
"Tidak Tuan. Aku hanya memberi jawaban atas pertanyaan Tuan. Apa Tuan merasa?"
"Mark, kau sekarang mulai kurang ajar padaku! Hentikan mobilnya, aku akan menghajarmu, supaya kau tau sopan santun!"
"Maafkan aku, Tuan. Aku tidak bermaksud. Namun, apakah yang dimaksud dari pertanyaan Tuan, adalah kisah Nyonya dan Tuan?"
"Dasar sinting! Tepikan mobilnya!"
"Berisik! Kalian berdua bisa diam nggak?! Gendang telingaku hampir pecah mendengar pertengkaran unfaedah kalian!"
Seketika kedua orang itu langsung berdiam. Darah Arsen yang tadinya mendidih, kini menjadi ciut akibat bentakan Amey. Pria arogan itu mulai menjadi takut jika istrinya Marah.
"Maafkan aku, Nyonya," lirih Mark.
"Kau marah padaku, Memey?" tanya Arsen ragu.
"Tidak. Tapi aku sedang berpikir."
"Apa yang kau pikirkan, Sayang?"
"Banyak!"
"Bisakah kau melembutkan suaramu sedikit, Sayang? Seharusnya aku yang kesal padamu karena melihat kau dan si Rion br*ngsek itu!"
"Jangan cemburu. Aku hanya berteman dengan Rion. Lagi pula dia sudah memiliki tunangan. Tidak mungkin juga dia merebutku darimu," jelas Amey.
Arsen tersenyum dan memeluk Amey. "Jangan tinggalkan aku, Honey!"
Mark menjadi canggung dengan keromantisan majikannya. Pandangan matanya langsung beralih dari spion, menatap kaca depan.
"Katakan padaku, kau pasti kesal 'kan Mark?! Haha!" Arsen meledek Mark dan mencium bibir Amey. "Lihat Mark, aku bisa melakukan apa saja pada istriku. Makanya kau harus menikah. Hahaha!"
"Sayang?" panggil Amey.
"Ya, Memey Sayang?"
"Kau tau, kau sangat kekanak-kanakkan."
Kau benar Nyonya. Suamimu sudah terkena virus bucin akut!
"Aku tidak perduli! Yang penting aku memilikimu sebagai istriku. Dari pada si Jodi sinting itu."
Terserah padamu, Tuan. Lagi pula aku bahagia walau hidup sendiri!
"Kau tak akan bahagia tanpa teman hidup, Mark. Untuk itu menikahlah dengan Garfield!" celutuk Arsen, seolah tahu apa yang dikatakan batin Mark.
Mark memilih diam. Ia membungkam bibirnya rapat, dan juga membungkam suara hatinya. Apapun yang ia lakukan selalu saja salah di mata Arsen.
Keheningan kembali terjadi. Amey menyandarkan kepalanya di pundak Arsen. Tangan kiri pria itu mengelus lembut kepala Amey dan sesekali mengecupnya.
"Memey, apa kau tidur?"
Tak ada jawaban dari Amey.
"Baiklah, kau sangat kelelahan. Jadi tidurlah."
Amey sebenarnya tidak tertidur. Ada sesuatu yang menjanggal di benaknya sehingga membuat wanita itu berpikir keras. Apa aku tanyakan saja pada Arsen? Siapa tau Arsen mengetahui sesuatu akan hal ini.
"Sayang?"
"Kau sudah bangun?"
"Aku tidak tidur. Ada yang ingin aku tanyakan padamu."
"Apa itu? Jangan tanyakan berapa besar cintaku padamu, karena itu tidak dapat diukur dengan apapun."
Uhuk ... uhuk!
Mendengar ucapan lebay dari Arsen, membuat Mark dengan refleks terbatuk. Ia merasa ngeri dengan Tuannya semenjak Tuannya itu menikah.
"Aku rasa kau harus mampir di supermarket. Belilah sesuatu untuk diminum," tutur Arsen.
"Aku tidak apa-apa Tuan."
Amey menarik kepalanya dari pundak Arsen. "Bukan itu yang ingin aku tanyakan. Lagian kau ada-ada saja."
"Lalu apa yang ingin Memeyku tanyakan padaku?"
"Hmm, menurutmu apa Mark bisa dipercaya?"
Deg!
Mark seketika menatap wajah Amey dari spion depan.
"Tidak! Dia penghianat," ketus Arsen.
"Kalau begitu, kenapa kau masih mempekerjakannya?"
Arsen menjadi bingung dengan pertanyaan Amey. Ia sebenarnya hanya bercanda dengan ucapannya, tapi Amey menanggapinya dengan serius.
Mark hanya bisa diam. Ia mencoba mencari tahu apa yang dipikirkan Amey. Pasti ada sebab sampai Nyonya Mudanya menanyakan pertanyaan yang cukup serius itu.
"Jawab, Sayang!" desak Amey.
"Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu? Aku pikir kau hanya bercanda. Tapi sepertinya ekspresimu sangat serius. Tentu saja aku percaya dengan Mark. Dia adalah pria yang sangat sabar meladeni orang sepertiku."
Kau ternyata sadar akan hal itu, Tuan. Batin Mark.
"Kau jangan senang dulu, Jodi sinting! Aku tidak memujimu. Jadi jangan besar kepala."
"Kamu dan kedua orangtuaku."
"Apa ada yang lain diluar keluarga?"
"Memey, sebenarnya apa yang ingin kau tanyakan? Jangan membuatkau penasaran."
"Bagaimana dengan Sekretaris Eggie?" tanya Amey.
Arsen terperanjat. Tak hanya Arsen, Mark pun ikut terkejut.
"Apa sebenarnya pertanyaanmu tadi menjurus ke Sekretaris Eggie?"
"Lupakan, Sayang. Aku tak serius menanyakan ini. Mungkin saja aku terlalu banyak pikiran. Jadi aku menanyakan hal yang omong kosong padamu."
"Apa kau mencurigai Eggie? Apa kau ingin aku memecatnya?"
"Tidak. Tidak Sayang! Jangan lakukan itu."
Sebenarnya apa yang dipikirkan Nyonya tentang Eggie? ucap Mark dalam hati.
"Aku sangat mempercayai Eggie. Sama seperti aku percaya pada Mark. Karena itu aku menyuruh Eggie untuk menjadi sekretaris pribadimu. Karena aku merasa aman jika kau bersama Eggie."
"Ya aku juga percaya padanya. Hanya saja ... tadi di pesta ... ?"
"Ada apa di pesta?"
Amey menggeleng kepala dengan cepat. "Tidak, Sayang. Tidak apa-apa."
Jangan-jangan Nyonya sudah tau?
"Memey, apa kau mau menjadi janda muda. Aku akan mati penasaran jika kau tidak memberi tau yang sebenarnya?!" menaikkan nada.
"Kita sudah sampai," tutur Mark.
Mark membukakan pintu untuk kedua majikannya.
"Memey, Sayang? Kau duluan masuk nanti aku menyusul."
"Ada apa?"
"Ada yang harus aku bicarakan dengan Mark mengenai proyek di Jerman."
"Kalau begitu, bicarakan saja di dalam."
Mark dan Arsen saling menatap.
"Iya, Sayang."
Kedua pria itu akhirnya mengikuti Amey dari belakang.
"Mark, kau pulanglah. Kita bisa membahasnya besok."
"Baik, Tuan."
"Loh, kok pulang? Bukannya kalian ingin membahas pekerjaan?"
"Setelah aku pikir-pikir, aku juga sangat lelah. Jadi, nanti besok saja."
"Oh begitu. Ya sudah aku akan menyiapkan air mandimu." Amey berjalan lebih dulu menaiki lift.
Arsen membuang napasnya. Ia melonggarkan tekanan dasi dilehernya dan menatap Mark. "Sepertinya istriku tau sesuatu."
"Kalau begitu, Tuan bisa mengatakannya pada Nyonya, yang sebenarnya terjadi. Supaya tidak terjadi kesalahpahaman."
"Kau benar! Jangan lupa untuk terus mengawasi Mr. Collin. Aku sangat yakin dia memiliki rencana busuk! Jangan sampai dia mendekati Memeyku!"
"Baik, Tuan."
"Kau pulanglah. Kita akan kembali membahasnya besok saat di kantor."
"Baik, Tuan. Aku permisi," menunduk kepala dan meninggalkan Arsen.
Arsen pun berjalan menuju lift. Namun tiba-tiba ia merasakan ada hal aneh di belakangnya. Ia pun membalikkan badannya dan memandangi tempat itu dengan seksama, namun tidak ada apa-apa di sana.
Ia berjalan dua langkah ke depan. Tapi kemudian merasakan ada hal aneh juga di belakangnya. Arsen mengadah ke belakang, ia melonjak karena melihat ada sosok pendek yang berlarian di belakangnya.
"Nenek Gayunggggggg!" teriak Arsen kuat.
"Hah!? Nenek Gayung? Mana?! Di mana Nenek Gayung?!" tanya Soffy panik.
Arsen berhasil mengerjai Soffy. Akhirnya ia dapat membalaskan dendamnya pada Nenek Rempong itu, karena waktu lalu sempat mengagetkan Arsen dengan Zombie.
"Kaulah Nenek Gayung itu, Nensi!" ketus Arsen.
"APA?! Kau mengerjaiku?"
"Lagian kenapa Nensi berlarian di dalam mansion sambil membawa gayung?"
"Itu karena mansion ini kedatangan tamu yang tak di undang!"
"Siapa yang kau maksud?"
"Binatang kecil yang berisik! Kenapa rumah besar dan semewah ini, terzolimiiii dengan jangkrik?!"
"Mana ku tau. Nanti suruh Elis membersihkannya. Nensi tidak perlu berlarian dengan membawa gayung. Dan juga, rapikan rambut dan riasan wajahmu, agar orang tidak salah paham melihatmu."
"Ada apa dengan rambut dan riasan wajahku? Ini terlihat kekinian!"
"Apa nensi baru saja di sambar petir? Lihatlah anak rambutmu semuanya menegang ke atas. Di tambah juga riasanmu yang sudah amburadul."
"Cucu sialan! Minta di tabok, hah?!"
Melihat Nensi yang sudah mendekat, Arsen langsung berlari memasuki lift dan menguncinya. Arsen berhasil mengerjai Nensi. Tapi memang benar yang dikatakan Arsen. Bagaimana tidak, rambut Nensi memang menegang layaknya orang yang baru disambar kilat. Apalagi riasan wajahnya yang telah luntur.
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*