Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
De Gracia's Restaurant


Arsen masih belum paham dengan maksud Amey. Ia terlihat marah karena Amey menyebut nama Tom yang dikiranya mantan kekasih Amey sebelum Arka. Dan siapa lagi Jerry? Apa sebegitu banyaknya pria yang sering memasak untuk Amey? begitu pikirnya.


“Siapa kedua pria yang kau sebutkan tadi, hah?!” ucapnya dengan nada sinis.


“Kedua pria? Yang mana?”


“Si brengsek Tom dan …” Arsen menjeda ucapannya dan kembali berpikir. “Hey, tunggu! Apa Tom dan Jerry yang kau maksud itu adalah kucing dan tikus yang selalu bertengkar dalam kartun?” mengernyitkan dahi.


“Bwahahaha!” gelak tawa Amey pecah. Ia memegang perutnya sambil terbahak.


“Memey? Jangan bilang kalau kau baru saja mencela sup daging sapi yang telah aku buat dengan susah payah?!”


“HAHA! Sayang, kau tau kau sangat lucu, Hahaha!”


Arsen menatap istrinya yang tertawa terpingkal-pingkal. Ia melepas celemek itu dengan kasar dan mengoyaknya.


“Not funny!” (tidak lucu!) berjalan meninggalkan Amey.


Melihat Arsen yang tampak merajuk, Amey segera menghentikan tawanya. “Astaga! Apa aku telah menyinggung perasaannya?” berlari menyusul Arsen. “Sayang, tunggu aku! Hey! Jangan cepat-cepat jalannya. Sayang?”


Arsen tidak menggubris dan terus berjalan sampai di depan pintu utama. Di belakangnya ada Amey yang setengah berlari mengejar Tuan Arogan yang lagi cemberut. Tiba-tiba wanita itu memiliki ide yang dianggapnya ampuh untuk meluluhkan hati Arsen.


“Aww, perutku!” pekik Amey bersandiwara. “Ars! Perutku sakit!”


Suara pekikan Amey terdengar di telinga Arsen. Ia akhirnya memandang ke belakang dan mendapati Amey yang tampak kesakitan seraya memegang perutnya yang belum mengembang itu.


“Memey!” teriak Arsen panik bukan kepalang.


Tidak Menunggu waktu yang lama, Arsen sudah berada di depan Amey dengan raut piasnya. “Sayang! Kau kenapa? Ada apa dengan perutmu? Kau kesakitan?” deretan pertanyaan membanjiri telinga Amey yang masih dengan ekspresi pura-puranya.


“Aku tidak apa-apa. Aku hanya bercanda,” tersenyum manis.


“Memey! Kau membuatku panik!” bentak Arsen yang tak main-main.


“Maafkan aku Sayang. Kamu jangan ngambek lagi ya,” bujuk Amey mengelus pipi Arsen dengan lembut.


Dan benar saja, pria itu langsung luluh dan memeluk tubuh istrinya. “Jangan diulangi. Aku tak suka,” ucapnya datar.


“Iya Sayang.”


“Baiklah, ayo kita ke perusahaanmu.”


“Memangnya kau tidak punya jadwal lain selain ke Alganda Group?”


“Sudah kubatalkan.”


“Kenapa Sayang? Akhir-akhir ini kau selalu saja membatalkan jadwalmu. Apa tidak berpengaruh pada perkembangan perusahaan?”


“Kau tenang saja. Ada Mark yang menanganinya.”


Amey mengangguk paham.


Sesampainya Arsen dan Amey di depan pintu, seorang pria tampan yang begitu rapi mengenakan setelan hitam tampak menunggu di depan mobil. Mark yang merupakan pria itu langsung membukakan pintu untuk Arsen dan Amey.


“Mark, gantikan aku untuk bertemu dengan Mr. Dusley. Setelah aku pikir-pikir kontrak kerja ini sangat penting untuk pembangunan hotel Paradise di Jerman.”


“Baik Tuan.”


“Sayang, bukankah itu harus disertakan dengan dokumen penetapan anggaran yang harus dibuat dan ditanda tangani oleh departemenku?”


“Ya aku tau. Tapi kau bukan lagi manajer hotel, biarkan karyawan dari departemen itu yang membuatnya.”


“Loh, kenapa? Apa kau memecatku lagi?” tanya Amey menaikan nada.


“Hmm,” mengangguk santai.


“Bukannya kau bilang aku hanya cuti beberapa hari?”


“Memey Sayang, kau adalah presdir Alganda Group, jadi tidak bisa menjadi manajer hotel lagi.”


Amey diam. Sebenarnya ia tidak terlalu suka dengan jabatan itu. Tentu saja ia masih terluka dengan kenyataan bahwa ia sebenarnya memiliki orangtua yang telah meninggal, dan memiliki seorang bibi yang tamak.


"Ohya, kau bisa 'kan menghubungi salah satu karyawanmu dulu untuk menyusunnya dan sekaligus mengantarkan dokumen itu ke tenmpat pertemuan Mark dan Mr. Dusley?" tanya Arsen.


"Hmm," mengangguk malas.


"Mark, setelah kau mengantarku dan istriku ke Alganda Group kau bisa langsung ke lokasi pertemuan dengan Mr. Dusley. Dan untuk dokumen anggaran proyek baru akan diantarkan oleh departemen yang bertanggung jawab."


"Baik Tuan."


***


Seorang wanita cantik, dengan tahi lalat berukuran kecil di bawah bibirnya dan memiliki sifat yang sedikit ceroboh, tampak merapikan meja kerjanya dengan ceria. Dialah Jenifer. Hari itu ia baru saja diangkat sebagai manajer umum Paradise Hotel, menggantikan Amey.


^^^From : Amey^^^


Jen, tolong buatkan surat anggaran proyek baru dengan Mrs. Dusley, dan antarkan ke Restoran De Gracia's. Mohon bantuannya, Jen.


^^^Okeyy Mey, dimengerti :)^^^


Tanpa mengeluh, Jen melaksanakan tugasnya dengan senang hati. Sebelum ia duduk berhadapan dengan monitor, ia mencium papan nama berukuran besar yang terletak di atas meja yang bertuliskan nama dan jabatannya.


Setelah hampir lima belas menit ia duduk dan mengetik, ia beranjak dari duduknya dan mengambil kertas berwarna putih yang sudah dicetaknya. Tak lupa juga Jen mengisi kertas penting itu di dalam sebuah amplop berwarna cokelat.


"Restoran De Gracia's, aku datang!" gumam Jen penuh semangat.


Seperti biasanya, ia mengendarai motor metik kesayangannya. Meski lututnya masih cedera tapi tak melayukan semangatnya untuk bekerja. Apalagi baru saja dipromosikan menjadi Manajer Umum, yang di mana posisi itu sangat diimpikan oleh karyawan-karyawan lain.


Jarak tempuh antara Paradise Hotel dan Restoran De Gracia's hanyalah tiga puluh menit. Namun karena Jen menggunakan motor maka hanya memerlukan dua puluh menit untuk sampai di tempat itu.


Jen merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dan merapikan pakaiannya. Setelah itu ia masuk ke dalam dengan pandangan matanya tak berhenti menatap layar ponsel. Jen sedang melihat gambar wajah Mr. Dusley yang dikirim Amey lewat Whatsapp.


"Nah itu dia, pria agak botak dengan mata yang sedikit sipit. Tapi, siapa pria yang sedang berbicara dengan Mr. Dusley? Sepertinya familiar bagiku," gumam Jen.


Gadis itu terus berjalan dan menghampiri meja nomor lima. Jen menarik napasnya dan mengatur cara berjalannya yang tadinya terlihat barbar ke langkah yang lebih elegan.


"Excuse me, Mr. Dursley. I'm Jenifer, General Manager of Paradise Hotel." (Permisi, Tuan Dusley. Saya Jenifer, Manajer Umum dari Hotel Paradise) tutur Jen memperkenalkan diri.


"Please sit down, Miss Jenifer." (Silahkan duduk Nona Jenifer)


Jen menyenggol tubuh Mark yang tengah duduk tenang berhadapan dengan Mr. Dusley. Jen memanglah belum melihat siapa pria yang sedang disenggolnya untuk menggeser. Sedangkan Mark hanya diam dengan ekspresi datarnya.


"Hey, bergeserlah sedikit dan berikan aku tempat," bisik Jen.


Mark melakukannya dengan malas. Nyonya Muda kau memang pandai memberikan kejutan! batinnya.


"Nona, Jenifer, Anda terlambat dua puluh menit," tutur Dusley menggunakan bahasa Indonesia.


"Maafkan saya Tuan," menunduk.


"Tak apa. Aku selalu memberikan dispensasi pada wanita cantik sepertimu," mengedipkan mata kanannya.


"Trima kasih Tuan," tutur Jen tersenyum cerah.


"Bisa kita lanjutkan?" Mark bersuara dan itu mengejutkan gadis yang duduk di sampingnya.


Suara datar ini mirip dengan ... batin Jen.


"Nona, Jenifer tolong berikan dokumen yang kau bawa," pinta Mark sambil menatap Jen.


"Oh my God!" Jen melonjak. "Tu--tuan dasi merah? Kenapa kau ada di sini? Apa kau hantu yang bisa terbang ke sana kemari? Apa kau mengikutiku?" ucap Jen tak terkontrol.


"Nona, tolong kendalikan dirimu. Berikan saja dokumen itu!"


"Ba--baik." Jen dengan gugup memberikan dokumen itu pada Mark. Ameyyyyy! Kau mengerjaiku lagi! batinnya geram.


"Tuan Mark, ternyata kau memiliki rekan yang sangat cantik seperti ini," ucap Dusley tersenyum genit saat menatap Jen.


"Mungkin Mr. Dusley salah lihat." Mark tersenyum kaku.


Apa? Salah lihat? Maksudnya aku tidak cantik? Jelas-jelas kakek tua ini memujiku karena cantik. Haha.


"Trima kasih Tuan, atas pujian Anda," tutur Jen membalas senyuman Dusley.


"Ehem!" Mark berdehem. Ia menjadi risih karena kedua orang itu saling bertatap-tatapan dan itu membuat Mark merasa mual. "Mr. Dusley, Anda bisa melihat semua anggaran ini, dan mohon tanda tangan di bagian kanan," menyerahkan dokumen itu.


"Baik."


Dusley membaca sambil mengangguk. Ia pun langsung menyetujui dan menanda tangani dokumen itu. "Selesai!"


"Trima kasih Mr. Dusley," ucap Mark menjulurkan tangannya.


"Sama-sama." Kedua orang itu berjabat Tangan.


Setelah itu Dusley menjulurkan tangannya pada Jen dan dibalas dengan jabatan tangan dari Jen. Namun tangan kakek tua itu tiba-tiba mengelus punggung tangan Jen. Gadis itu merasa risih dan langsung menarik tangannya.


Mark menatap tingkah genit Dusley dengan tatapan sinis. Rupanya Pria Tua ini menyukai gadis dasi merah yang suka buang ingus sembarangan! ucap Mark dalam hati.


Oh Lord! Ada apa dengan ekspresi Tuan Dusley? Kenapa dia menatapku seperti itu? Mana wajahnya mirip seperti artis jepang lagi! Aduh siapa ya namanya. Ohya, aku ingat! Netizen Indo sering menyebutnya Kakek Sugiono!


To be continued ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*


Follow Ig : @stivaniquinzel