Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Wanita itu?!


Tok ... tok ... tok


"Masuk." Amey tersenyum saat melihat yang datang adalah sahabatnya. "Manajer Umum rupanya tidak terlalu sibuk ya hari ini," ledeknya.


"Hufft," menghembuskan napas berat. "Aku pikir pekerjaan ini sangat menyenangkan, tapi ternyata sebaliknya," ucap Jen sembari merebahkan tubuhnya di sofa.


"Ya, kau benar. Semakin tinggi jabatan yang kita peroleh, maka semakin tinggi juga tanggung jawab yang kita pikul."


Jen mengangguk. Rautnya tampak murung. Pikirannya memang masih teringat akan peristiwa-peristiwa pahit saat ia putus dengan mantan kekasihnya dan bertemu dengan asisten dingin dan kasar.


"Aku pikir kau tidak akan datang," tutur Amey.


"Hmm, sebenarnya sih begitu, tapi aku juga bosan di kantor. Apalagi tugas kantorku menumpuk. Banyak sekali dokumen yang harus aku pantau."


"Santai Jen. Sekali-kali kau harus refresing, haha. Aku dulu waktu dipromosikan menjadi manajer umum, begitu senang karena pikirku menyenangkan. Tapi setelah melewati hari-hari sulit, aku ingin sekali pergi jauh untuk menenangkan pikiranku. Tapi setelah lama-lama, aku semakin menekuni pekerjaanku itu dan akhirnya itu menjadi beban yang menyenangkan bagiku."


"Mey, kau memang pekerja keras. Aku salut padamu. Maka dari itu Tuhan mempertemukanmu dengan lelaki yang sama sepertimu, pekerja keras dan penyayang."


"Hahah! Kau juga Jen. Mark adalah pria baik dan pekerja keras. Dia juga bisa menjadi pelindung bagimu nanti."


"Pefff--bwahahaha! Pelindung? Dari sisi mana kau melihat pria dingin itu sebagai pelindung? Adanya sebagai penghancur!" kilah Jen naik darah.


"Jen, dengar. Aku sangat kenal pria itu. Mark adalah pria setia. Kau bisa melihat bagaimana dia memperlakukan Arsen? Walaupun Arsen pria yang emosian yang ringan tangan, namun Mark masih setia bekerja padanya."


"Aku tau Mey. Tapi 'kan beda. Arsen majikannya yang menggajinya. Jadi bagaimana pun suamimu memperlakukannya pasti asistennya itu akan dengan sabar menghadapinya. Lah, aku? Wanita asing yang baru saja hadir dihidupnya. Wanita yang menurutnya pembuat masalah, mana mungkin dia menjadi pelindungku? Lagi pula dia sudah menikah."


"HAHAHA! Jen kau begitu polos. Arsen saja yang bisa dibilang buas dan menakutkan, bisa membunuh jika dia mau, tapi apa? Dia bisa menjadi orang yang sangat-sangat perhatian dan bahkan sangat overprotektif padaku." Amey beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Jenifer. "Dari mana kau tau jika Mark sudah menikah?"


"Permisi, Nyonya," tutur seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari arah pintu. "Saya sudah mengetuk pintu tapi mungkin Nyonya tidak mendengarnya. Maafkan kelancangan saya Nyonya."


"Oh, Eggie. Tak apa, aku terlalu serius berbincang dengan Jen sehingga tidak mendengarmu. Masuklah Eggie."


"Trima kasih Nyonya," menunduk kepala.


"Ada apa?"


"Tuan Arsen menghubungi saya dan menyuruh saya mengatakan pada Nyonya, jika Tuan akan pulang saat ini juga jika Nyonya tidak menjawab panggilan, Tuan."


Amey terbelalak. "Astaga! Suamiku menelponku? Aku tidak mendengar panggilannya."


"Tuan juga bilang, tiga puluh menit lagi Tuan akan menghubungi Nyonya, jika Tuan sudah selesai rapat."


"Baik Eggie. Trima kasih atas infonya."


"Sama-sama Nyonya." Eggie menunduk dan berjalan keluar ruangan.


"Tunggu!" teriak Jen yang tiba-tiba menghentikan langkah Eggie.


"Ada apa Jen? Kau mengenal Sekretarisku?" tanya Amey penasaran."


Jen tidak menggubris. Ia menatap Eggie lekat sembari berjalan menuju ke arah wanita bule itu. Eggie menunduk kepala dan memberi hormat pada Jen. Ia tahu jika Jen adalah sahabat dekat Amey. Eggie pun tersenyum ramah pada Jen.


"Anda mengenal saya, Nona?" tanya Eggie.


"Nona?" panggil Eggie membuyarkan hayalan Jen.


"Apakah kau istrinya, Tuan dasi merah?"


"Tuan dasi merah?" tanya Eggie berkerut dahi.


"Maksudku, Tuan Mark. Apa kau istrinya Tuan Mark?"


Deg!


Eggie membuka matanya lebar. Keringat dingin tiba-tiba melekat di tubuhnya. Wanita cantik itu tidak dapat berucap lagi. Ba--bagaimana bisa wanita ini mengetahui hubunganku dengan Mark? Siapa wanita ini? Dan apa hubungannya dengan Mark?


"Sekretaris Eggie? Kau mendengar ucapanku?"


"Ehm, saya ... saya tidak mengerti maksud Anda, Nona. Saya mohon ijin." Eggie menunduk dan cepat-cepat keluar dari ruangan direktur utama.


"Aku sangat yakin jika foto wanita itulah yang disimpan Tuan dasi merah di dalam dompetnya, dan di dalam ruangan itu!" gumam Jenifer.


"Jen?" panggil Amey. "Diakah yang ada di foto itu?"


Jen berlari menuju Amey. "Ya! Dialah wanita yang aku ceritakan padamu. Aku melihat dirinya dan Tuan Mark berfoto prewedding! Tapi aku masih ragu kalau mereka telah menikah."


"Apa yang terjadi antara Eggie dan Mark? Apa mereka telah bercerai?" Amey pun ikut penasaran.


"Ahhh masa bodoh dengan mereka. Lagi pula kalau pun mereka memang pasangan menikah yang telah bercerai, atau masih berstatus menikah, apa perduliku? Cihh!"


Jenifer tiba-tiba menjadi kesal. Ia mengepalkan tanganya dan memasang raut kusut.


"Percayalah padaku, Jen. Sadar atau tidaknya dirimu, kau telah menyukai Mark, dan cemburu pada Eggie."


"Tidak, Mey! Kau salah. Aku tidak mencintai Tuan kejam itu. Dia sama br*ngseknya dengan Andra. Dia kasar, kaku dan suka seenaknya pada perempuan. Padahal waktu itu aku berniat baik untuk mengembalikan dompetnya, tapi apa? Dia malah mencekikku dan berlaku kasar padaku!"


Amey menerawang ke arah dinding. Ia memutar otaknya dan menerka jika Eggie memiliki masa lalu dengan Mark. Kenapa aku baru tau jika Mark memiliki wanita? Arsen pun tidak pernah menceritakannya. Ia selalu mengatakan jika Mark adalah pria jomblo abadi. Tapi tidak mungkin Jen salah lihat. Foto prewedding? Benarkah Mark telah menikah? Tapi kenapa Eggie dan Mark tidak pernah memperlihatkan kedekatan mereka. Padahal mereka dulu satu kantor saat di New York!


***


Eggie membuka lacinya dan menatap bagian belakang foto. Inisial M dan E tertulis di sana. Dengan tangan yang bergetar ia membalikkan foto itu. Wajahnya pias, apalagi saat melihat foto dirinya dan Mark yang begitu romantis. Tak tahan memandangi foto itu ia kembali membaliknya dan menutup rapat laci mejanya.


Eggie penasaran kenapa Jenifer bisa mengetahui hubungannya dengan Mark. Tidak ada siapa pun yang mengetahui itu kecuali Arsen. Menurutnya sangat tidak mungkin jika Arsen memberitahu Jen. Apalagi Mark. Mustahil bagi Mark membahas masa lalunya.


"Mark, apa kau yang memberitahu Nona itu? Jika benar, maka kau sangatlah dekat dengannya. Selama dua belas tahun kau tidak memberi tempat wanita lain dihatimu. Apa kau memang telah melupakanku? Tapi ... aku memang pantas dilupakan. Aku yang salah!"


Penyesalan Eggie kembali menghampirinya. Apalagi saat mengetahui kisah asmaranya bersama Mark yang sudah lama kandas dan juga telah mereka tutup rapat-rapat kini diketahui oleh seorang wanita lain. Pikir Eggie, Mark memanglah telah menutup hati untuknya dan membuka hati untuk gadis lain.


"Kau mengambil keputusan yang tepat, Mark. Tidak seharusnya kau bernazar di depanku untuk tidak mencintai wanita lain dan membuka hati untuk wanita lain. Kau harus bahagia Mark. Lupakan diriku dan mulailah kisah yang baru bersama wanita yang lebih baik dariku!"


To be continued ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*