
Banyak yang berpikir jika menjadi seorang pengasuh bayi adalah pekerjaan rendahan. Makanya tak jarang jika banyak yang meremehkan pekerjaan seperti itu. Namun jangan salah, kali ini bayi yang akan diasuh bukanlah bayi sembarangan, melainkan bayi yang berasal dari keluarga terpandang di negeri.
Pekerjaan yang ditawarkan Arsen sangat menggiurkan bagi seluruh wanita yang ada di Nusantara. Tak heran banyak dari mereka yang meninggalkan pekerjaan tetap, hanya untuk mendaftar menjadi calon pengasuh keempat bayi Ed.
Siapa yang tidak ingin menjadi bagian dari keluarga Winston. Walau hanya menjadi pengasuh bayi, tapi bisa dikatakan kalau pekerjaan itu setara dengan pekerjaan seorang asisten pribadi. Selain gaji yang menggiurkan, derajat mereka juga akan naik. Siapa pun yang telah menetap di kediaman keluarga Winston, pasti sudah menjadi bagian dari keluarga Winston.
Dinar dan Candy, dua wanita yang dikatakan beruntung karena bisa mengasuh empat putra mahkota, pewaris takhta WS Group. Meski dikatakan beruntung, sebenarnya mereka memiliki tekanan batin yang dalam. Tentu saja karena surat peranjian itu. Mereka akan mempertaruhkan nyawa mereka demi keempat bayi mungil itu.
Mulai hari ini, kedua wanita itu akan menjalankan tugas mereka. Selama tiga bulan mereka akan dibimbing oleh kepala pelayan wanita. Elis akan mengajarkan Dinar dan Candy cara memperlakukan majikan mereka. Ia juga akan mengajarkan peraturan dan larangan yang sudah ditetapkan Tuan Muda mereka.
“Permisi, Nyonya,” ucap Dinar.
“Panggil saja aku, Elis. Semua orang yang ada di rumah ini memanggilku, Elis.”
“Ba—baik Elis.”
“Kamar kalian ada di sebelah sana. Masing-masing mendapatkan satu kamar. Ganti pakaian kalian dengan ini,” memberikan dua pakaian khusus untuk pengasuh bayi. “Setelah itu, kalian cari aku di taman belakang. Aku akan memperkenalkan pada kalian bagian-bagian dalam mansion.”
“Baik Elis,” tutur keduanya sembari menunduk kepala.
Elis berlalu meninggalkan Dinar dan Candy. Keduanya tak henti-hentinya terbelalak, mengagumi isi mansion itu.
“Bisa dibilang kita akan menginap di hotel bintang lima,” ujar Dinar.
“Menurutku ini lebih mewah dari hotel. Bintangnya aku naikin menjadi sepuluh,” sambung Candy.
“Kalau begitu tunggu apalagi, ayo kita mengganti pakaian,” ajak Dinar.
Mereka meuju ke kamar mereka masing-masing. Tak disadari keduanya, sepasang mata telah memperhatikan Dinar dan Candy, sejak mereka masuk ke dalam mansion.
“Sepertinya kedua wanita jelek itu adalah pengasuh bayi Ed. Hmm … aku akan mengawasi mereka,” gumam Soffy.
***
Sepulang dari kantor, Arsen melemparkan setelannya di atas sofa karena sudah tidak sabar bertemu dengan keempat bayi arogannya. “Daddy pulang,” ketusnya sembari berjalan menuju ruangan bayi yang bersebelahan dengan kamarnya dan Amey. Rasa lelahnya hilang dengan sekejap saat melihat keempat putranya.
“Memey,” mencium kening istrinya.
“Bersihkan dulu dirimu, baru boleh memeluk mereka,” ucap Amey.
“Goshhh! Aku hampir lupa.” Dengan setengah berlari, Arsen menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Tak membutuhkan waktu yang lama, pria itu kembali masih dengan menggunakan handuk putih yang melilit di pinggangnya. Amey menatap enam cetakan berbentuk kotak di perut suaminya, “Ars, sepertinya kau gemukan deh,” ledeknya.
“Hah?! Kau serius, Sayang. Baiklah aku akan mulai berolahraga dengan rutin!” ketusnya.
“Ru—rutin?” pikiran Amey melayang. Matanya terbelalak memandangi wajah Arsen yang mengerikan
“Iya. Kalau perlu satu hari, tiga kali aku olahraga, dengan durasi yang panjang!”
Deg!
Berolahraga rutin?! Tiga kali sehari dengan durasi yang panjang? Apa bekas operasiku tidak akan sobek?! Batinnya.
“Sayang apa yang kau pikirkan?” tanya Arsen, sembari menggendong Edzel.
“Ti—tidak ada!”
“Btw, sudah berapa bulan semenjak kau hamil, adik kecilku sudah tidak pernah berkunjung ke sana,” tersenyum kecil sambil melihat ke arah bawah pusar milik Amey.
“Eh, itu … ka—kata dokter aku belum boleh bermain kuda-kudaan. Takutnya bekas operasiku kenapa-kenapa,” lirih Amey, mencari alasan.
Arsen mengernyitkan dahinya. Tiba-tiba suara kecil Edzel terdengar. Bayi mungil itu menatap Arsen dengan tertawa kecil.
"Kau menertawakan Daddy?"
Edzel menggerakan tangannya dan bermain dengan liurnya.
"Edzel meledekmu, Ars. Haha!" ucap Amey sembari terbahak.
"Lain kali kau akan menebus permainan yang sudah tertunda sekian lamanya," menjulurkan lidahnya pada Amey.
Huhfttt aman! Mana sanggup aku bermain dengannya dengan kondisiku seperti ini! Aku 'kan baru melahirkan empat anak sekaligus! Masa iya harus mengeluarkan bibit-bibit unggul lainnya! ucap Amey.
"Semoga saja terowongan gelapmu tidak menjadi sarang laba-laba karena sudah lama tidak ditempati pemiliknya."
Amey menelan saliva dengan kasar sambil memandangi belut raksasa milik Arsen. "Kau bicara apa sih?" menggaruk tengkuknya.
Arsen tak menggubris dan membaringkan kembali si kecil Edzel di ranjang. Ia pun beralih menggendong Edward yang sedang dalam gendongan Amey. Ketika tangannya hendak mengangkat Edward, tiba-tiba tangan mungil itu mencengkeram erat kancing baju Amey.
"Sayang, sepertinya Edward tidak ingin dipeluk olehmu. Tangannya sangat kuat mencengkram kancing bajuku. Aku baru tau jika bayi berumur satu bulan lebih sudah boleh mencengkeram sekuat ini."
Pria itu menatap Edward dengan lekat. "Hey! Apa kau meniru wajah itu dariku?" tanya Arsen.
Si bayi mungil itu masih menatap Arsen dengan ganas.
"Mungkin Edward menyimpan dendam padamu. Hahah!"
"Hmm! Sepertinya begitu. Tapi ... kalau aku perhatikan, tangannya mulai nakal ya Bun! Sepertinya ia ingin memegang dadamu," celutuk Arsen.
"Mungkin dia haus. Aku akan memberikannya Asi," membuka kancingnya dan memberi Edward Asi. Wajah Edward pun kembali netral. Ia menatap Arsen kembali dengan mengangkat alis setengahnya.
"Edward, kau meledek Daddymu ya!"
"Seandainya dia sudah bisa bicara, pasti jawabannya adalah iya.Haha!" Gelak tawa Amey pecah.
"Untung kalian anakku! Kalau tidak, sudah ku kembalikan kalian pada yang empunya! Aku tidak akan pernah berbagi Asi dengan laki-laki lain! Dan kalian berempat sebagai pengecualiannya karena kalian darah dagingku!"
Amey menatap Arsen dengan tajam. "Kau sudah tidak memiliki jatah lagi. Mereka berempat telah mengontraknya," ledek Amey.
Tok ... tok ... tok
"Jangan masuk!" teriak Arsen dengan kesal.
"Ini aku, Tuan."
"Sepertinya itu suara Mark," tutur Amey.
"Tunggu di luar. Memey sedang menyusui!"
Arsen berjalan menuju pintu dan membukanya. Ia mendapati Mark yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Maaf mengganggu waktumu, Tuan."
Arsen mengepalkan tangannya dan menatap Mark tajam. "Kau sudah tau 'kan, akibat mengganggu waktuku?!"
Suasana hati Tuan tampaknya buruk. Aku harus berhati-hati berbicara dengannya.
"Tuan kedatangan tamu penting dari New York."
"Siapa?"
"CEO dari perusahaan Tiger Group."
"Di mana dia sekarang?"
"Di Paradise Hotel. Beliau ingin sekali bertemu dengan Tuan malam ini. Katanya ada hal penting yang harus beliau sampaikan."
"Tiger Group?!" gumam Arsen tersenyum sinis.
"Apa Tuan, akan ke sana malam ini?"
"Tentu saja. Aku harus menyapa teman lamaku. Bukan begitu, Asisten Mark?"
"Lakukan apa yang tuan rasa baik untuk dilakukan."
Arsen mendorong kepala Mark dengan tejunjuknya. "Jangan sok bijak! Tidak cocok dengan wajah jelekmu!"
"Ucapan Tuan tadi juga tidak cocok dengan wajah Tuan," jujur Mark.
Arsen mengeratkan rahangnya sembari mengepalkan tangan dengan erat.
"MARKKKKK!"
Tbc ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE
.
.
.
Follow ig : @syutrikastivani