Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Tetangga Baru


Duduk bersandar di kepala sofa sembari memejamkan mata adalah cara ampuh untuk mengatasi rasa lelah akibat aktivitas yang padat. Hal itulah yang dilakukan Mark saat ia tiba di apartemennya. Setelah beberapa menit merileksasikan otot-ototnya, ia mengangkat tubuhnya dan menuju dapur.


"Sepertinya persediaan jus buahku sudah habis," gumam Mark seraya menutup pintu kulkas.


Mark menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Hampir satu jam ia memanjakan tubuhnya di dalam bak mandi yang berisikan air hangat. Kemudian setelahnya ia pun langsung berganti pakaian biasa.


Mengingat persediaan jus buahnya sudah habis, ia berencana untuk menuju ke market dekat apartemennya untuk berbelanja persediaan makanan. Saat hendak melangkah menuju lift, ia tak sengaja melihat pintu depan apartemennya terbuka.


"Shittt! Sepertinya akan ada tetangga baru," gumam Mark, melanjutkan langkahnya.


Mark tampak kesal saat mengetahui jika ia akan memiliki tetangga. Mark sengaja memilih lantai tujuh karena hanya ada dua apartemen di sana. Dan apartemen yang satunya masih kosong, sedangkan yang satu lagi miliknya. Sehingga hanya Mark-lah penghuni gedung lantai tujuh itu.


Saat tiba di market, Mark mulai mengambil beberapa jus buah melon kesukaannya dan beberapa suplemen daya tahan tubuh. Tak lupa juga pasta dan susu yang menjadi makanan dan minuman pokoknya saat pulang kerja.


Mark menuju kasir dan mulai membayar belanjaannya.


"Totalnya empat ratus dua puluh ribu," ucap pegawai wanita yang sedang berdiri di kasir.


Mark mengeluarkan benda segi empat berukuran kecil dari dalam dompetnya.


"Pak, yang ini lagi diskon. Beli dua gratis satu," tawar wanita itu sembari menunjuk dua botol minuman berkemasan merah.


"Tidak, trima kasih."


"Sekalian pulsa aja Pak?" tanya wanita itu lagi, membuat Mark tampak kesal.


Mark menggeleng kepala dengan raut datar.


"Ini juga Pak lagi diskon. Beli dua dapat mainan robot ini. Lumayan 'kan buat anak bapak," menunjuk sebuah bungkusan berbentuk telur.


Pria itu semakin jengkel. Ia mengepalkan tangan sembari menarik napasnya panjang dan menghembuskannya dengan kasar. "Maaf! Tapi saya belum menikah, apalagi memiliki anak! Jadi tolong, kembalikan atm saya!"


Suara berat Mark membuat wanita itu terdiam mematung. Aura dingin tiba-tiba menyelimuti tempat itu. "Ma--maafkan aku Pak."


Gadis itu memberikan kantong plastik yang berisi semua belanjaan Mark. Astaga, pria ini ganteng banget! Ey tolong, jangan mimisan woy! Aku lagi kerja! batin wanita penjaga kasir.


Tanpa suara, Mark berlalu meninggalkan gadis itu. Ia menuju depan market dan duduk sejenak di sana. Mark mengeluarkan minuman yang ia belanja tadi dan meminumnya. Tiba-tiba ia menyemburkan cairan yang telah masuk ke dalam mulutnya saat melihat seorang wanita yang ta asing baginya.


"Kenapa dia di sini?" gumam Mark sembari memandangi jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. "Tidak mungkin! Aku pasti berhalusinasi!" menggeleng kepala.


Seseorang yang dilihat Mark adalah Jenifer. Jen masuk ke dalam market dan membeli sesuatu. Mark pun menjadi penasaran dengan wanita yang dilihatnya itu. "Kalau dari cara berjalannya, dia memang si gadis dasi merah!" lirih Mark.


Mark menunggu sampai Jen keluar dari dalam market. Tak menunggu waktu yang lama, Jen melewati pintu utama dengan kantong plastik minimalis di tangannya. Wanita itu berjalan menuju gedung apartemen.


"Kenapa dia ke sana?" Mark semakin penasaran dan terus membuntuti Jen hingga tiba di gedung itu.


Saat Jen hendak memasuki lift, Mark pun ikut masuk ke dalam. Jenifer tak menyadari jika pria yang di sampingnya adalah Mark. Ia pun menekan tombol berangka tujuh.


Tu--tujuh?! Batin Mark. Ia pun terbelalak.


Jenifer menatap bayang dirinya di dinding lift. Ia terkejut bukan main, sampai-sampai kakinya dengan reflek berjalan mundur. Jen merasakan tubuhnya berhenti bergerak. Tentu saja karena belakang punggungnya tertahan oleh dada bidang milik Mark.


Wanita itu menggeleng kepalanya dengan kuat. "Aku terjebak ilusi Tuan Mark lagi!" lirihnya. Jen menyangka jika pantulan tubuh Mark di dinding kaca lift hanyalah halusinasinya.


"Jadi, kau yang tinggal di apartemen itu?"


Deg!


"Suaranya pun terasa nyata!" lirih Jen lagi dengan wajah panik.


"Aku tak menyangka jika kita akan menjadi tetangga."


Sepertinya ini nyata! Astaga jenifer!!! Kau ... kau memang bodoh pangkat sepuluh! Hancurlah reputasiku sebagai Jen yang cantik dan anggun.


Ting ....


Pintu lift terbuka. Jen masih menganga di dalam. Pandangannya kosong menatap tubuh Mark yang sudah berada di depannya.


"Kau tak keluar?" tanya Mark.


Jenifer tak menggubris. Ia terlalu syok untuk berbicara dengan Mark dengan penampilannya yang amburadul.


Kalau ku tau akan jadi begini, tak akan ku beli apartemen sialan itu! Hik ... hik ... pasti di pikiran Tuan Dasi Merah, aku masih Jen yang dulu. Jen yang jorok, bodoh dan blak-blakan. Dia juga pasti menyangka jika aku sengaja membeli apartemen ini supaya bisa tetanggaan dengannya! Padahal memang sih! Tapi dia tidak boleh tau!


Dalam benak Jen, penampilanlah yang terpenting. Bagaimana tidak, Mark menolaknya dengan begitu kejam, sehingga ia dengan kukuh merubah penampilannya. Dan itu semua hanya untuk Mark. Jen ingin Mark mengakuinya sebagai seorang wanita anggun dan bukan sebagai wanita perusuh yang selalu merusak suasana hati Mark.


Tapi hanya karena pertemuan yang tidak disengaja itu, membuat usaha selama empat tahun, sia-sia belaka.


"Sekretaris Jen?"


Akhirnya Jen buyar dari lamunannya. "Tuan, Mark, maafkan aku." Jen berlari menuju apartemennya dengan kecepatan penuh. Hampir saja kakinya tersandung karena memakai sendal merah muda berbentuk kodok.


Mark menyipitkan mata, namun melihat tingkah lucu Jen, membuat Mark teringat akan sifat Jen yang dulu. "Itulah gadis dasi merah yang ku kenal," tersenyum kecil.


Sementara di dalam ruangan Jen, ia tampak frustasi dan merutuki dirinya sendiri. Berulang kali ia membenturkan kepalanya di dinding karena mengingat pertemuan dadakannya dengan Mark.


"Arghhh!! Sial sial sial sial!! Kenapa aku bertingkah konyol seperti itu di depannya?! Mana penampilanku kayak orang baru lahirin anak kembar dua belas lagi!"


Setelah lelah membentur kepalanya di dinding, Jen pun merebahkan tubuhnya di sofa. Tak lama setelah itu, terdengar suara lonceng apartemen berbunyi. Dengan langkah yang berat, Jen menuju pintu dan membukanya.


"Gosshhhh" teriak Jen terkejut bukan main.


"Kau menjatuhkan dompetmu," tutur seorang pria yang adalah tetangganya.


"Tunggu dulu."


"Ada apa lagi Tuan?" tanya Jen dengan tersenyum paksa.


"Ada yang ingin aku tanyakan."


"Silahkan, Tuan."


"Sepertinya tidak sopan menerima tamu di depan pintu. Boleh aku masuk?"


Deg!


Jantung Jen mulai mengadakan dugem. Ia melotot menatap Mark yang tampak tenang mengatakan itu. "Ehm, sepertinya tidak sopan juga jika seorang pria mas---" ucapan Jen terhenti ketika Mark menerobos masuk ke dalam.


"Tak usah khawatir. Aku tak akan melakukan perbuatan yang akan merugikanmu dan merugikan diriku sendiri!"


Apa maksudnya?! Batin Jen.


"Apa alasanmu memilih tinggal di apartemen ini?" menatap Jenifer, tajam.


Pertanyaan mematikan! Jen menelan salivanya kasar. Sebenarnya Jen tidak ingin mengatakan alasannya karena gengsi. Namun melihat mata Mark yang seolah mengintimidasinya, membuat Jen terpaksa membuka mulutnya. "Aku ... aku merasa nyaman dengan tempat ini!" ketusnya.


Mark mengangguk pelan. "Oh begitu. Baiklah. Ini dompetmu," menyodorkan dompet Jen.


Seketika Jen teringat akan peristiwa enam tahun lalu saat Jen menemukan dompet Mark dan langsung mengantarkan benda itu di alamat Mark. Wajahnya tampak murung dan tak bersemangat.


"Sekretaris Jen?" panggil Mark.


"I--iya Tuan?"


"Apa kau sudah makan malam?"


Jen memegang perutnya. Sepertinya cacing-cacing Jen mulai mengadakan konser di dalam karena belum menelan makanan.


"Apa yang kau punya?" tanya Mark seraya berjalan menuju lemari es.


"Aku baru saja membeli mie instan."


Mark menatap lekat tubuh Jen. "Pantasan kau sangat kurus. Makananmu tidak sehat dan itu akan menyebabkan gizimu menjadi biruk."


Jen termangu. Ada apa dengannya? Dan ... apa pedulinya?!


"Ikutlah denganku!"


"Kemana Tuan?"


"Ke apartemenku."


Deg!


"Jangan salah paham. Aku hanya ingin berbagi makanan bergizi denganmu."


Mark berjalan keluar dan diikuti Jen dari belakang.


"Kenapa kau bersikap baik padaku?" lirih Jen.


Mark menghentikan langkahnya. Karena aku ingin menebus kesalahanku padamu! Dan bukan hanya itu ... Mark berbicara di dalam hatinya karena ia tak berani mengatakannya langsung. "Tak ada alasan."


"Benarkah?" lirih Jen lagi sembari mencengkeram erat jemarinya.


Mark menengok ke belakang dan mendapati Jen yang sedang menatap belakang punggungnya. Mark pun maju beberapa langkah. Ia melihat wajah Jen yang berubah dari biasanya. Dalam benak Mark, raut wajah itu, sama seperti raut Jen empat tahun lalu, saat menyatakan perasaan padanya.


Rasa bersalah pun menyelimuti pikiran Mark. "Sebenarnya, ada yang ingin aku tanyakan padamu. Dan pertanyaan ini sudah enam tahun lamanya menghantui pikiranku. Aku tak menyangka jika aku akan menanyakan padamu sekarang, setelah sekian lama kita tidak bertemu. Aku benci mengingat kejadian enam tahun lalu! Bahkan itu membuatku tak bisa mengendalikan emosi."


"Enam tahun?"


Mark mengangguk. Aku harus memastikannya sendiri. Cuihhh! Aku benci menanyakan itu, tapi aku sangat ingin tau jawabannya!


"Apa itu?"


"Apa kau menerimanya?"


Jen mengerutkan dahi. "Apa maksud, Tuan?"


"Apa kau menerima laki-laki yang melamarmu"


Deg!


Tbc ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*


.


.


.


Follow ig : @syutrikastivani