
Sembari memegang kepalanya, pria yang berbaring di lantai itu meringis kesakitan akibat luka tembak yang dibuat Arsen. Gazza mencoba merangkak untuk meraih senjata api yang berada di sudut dinding.
"Ahhh sial!" umpat Gazza. Ia meraba bagian lengan dan dadanya yang ditembusi peluru.
Bukkk!
Tendangan mematikan dari Arsen tiba-tiba mendarat tepat di dagu Gazza. Arsen membuang pistolnya dan mengangkat tubuh Gazza secara paksa. "Berdiri kau b*ngsat!"
Melihat Arsen yang sudah dikelilingi amarah membuat Gazza menyunggingkan bibirnya. Raut wajah Gazza memperlihatkan jika dirinya sangat bahagia telah mempermainkan Arsen.
Bukkk!
Hantaman brutal dari Arsen membuat bibir Gazza mengeluarkan darah. "Sinting! Masih sempatnya kau tersenyum saat nyawamu sedang berada di ujung tanduk!"
Gazza terkekeh. "Teka-tekinya menjadi kurang seru. Kalau saja wanita j*lang itu tidak memberitahmu, aku pasti masih menikmati tebak-tebakan ini, hehe!"
"Manusia hina sepertimu pantas mati!"
Bukkk!!
Bukkk!!
Bukkk!!
Arsen melayangkan pukulan b*ringas di wajah Gazza sehingga pria itu kembali terbaring di lantai. Arsen menaiki atas perut Gazza sembari mengayunkan tangan berototnya ke wajah Gazza secara berulang-ulang dan itu membuat wajah Gazza menjadi benyok dan mengeluarkan darah.
Gazza tak dapat lagi menahan pukulan maut dari Arsen sehingga ia pun mulai menangkis cengkeraman tangan Arsen.
Bukk!!
Satu serangan mendarat di wajah Arsen. Diikuti pukulan selanjutnya sehingga tubuh Arsen terjatuh dari atas perut Gazza. Kini Gazza mendominasi dan mengambil alih pertarungan itu. Ia mengambil kursi besi yang ada di sampingnya dan menghantamkan benda itu di badan Arsen.
"Aisshh!" jerit Arsen.
"Hahah! Hanya begitukah kemampuanmu, wahai Tuan Winston yang terhormat?!" ejek Gazza sembari tersenyum puas.
Arsen mengepalkan jemari dan menggertakan giginya. Tatapan Arsen begitu tajam dan buas. Ia kembali berdiri secara perlahan dan membuka jasnya. Lengan berotot yang kekar kini nampak di balik kemeja merahnya. Arsen menggulung lengan kemeja itu dan menyeka noda darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Sudah lama sekali aku mengingini duel denganmu!" ketus Gazza menyunggingkan bibirnya.
Arsen tak menggubris. Ia merenggangkan otot-otot pada tubuhnya sehingga mulai bermunculan urat-urat besar mengerat di sana. Kancingnya pun mulai terhempas satu demi satu karena tak kuasa menahan otot dada Arsen yang merenggang membesar. "Habis kau Cacing Sawah!"
Brakkkk!
Bukkk!!
"Shittt!" pekik Gazza saat tubuhnya menerima pukulan hebat dari Arsen. Kini posisi tubuhnya telah terhimpit dinding dan sebuah lemari besi. Ia tampak sulit menggerakkan badannya karena luka tembak yang dibuat Arsen di lengan kiri dan bagian dadanya.
Wajah Arsen kini menjadi garang dan tak terlihat seperti manusia normal. Amarah yang ia pendam dari lama kini meledak tak terkendali. Pria yang dijuluki sebagai dewa kematian itu membuat Gazza tercengang bukan kepalang.
"Berdiri kau anj*ng gila!!" menarik kerah kemeja Gazza sehingga hampir sobek.
Gazza masih dengan wajah semringahnya walaupun sudah berlumuran darah di dahi dan bibirnya. "Ayolah! Lebih semangat lagi mengamuknya! Kau sangat menghiburku!! Hahah!"
Arsen menjadi semakin emosi. Eratan rahangnya kembali ia tunjukkan. Dengan b*ringas ia menarik tubuh Gazza dari himpitan dinding dan lemari serta menyeretnya ke tengah ruangan itu. "Gazza Dominic, kau akan suka dengan hadiah yang akan aku berikan padamu, hahah!"
"Hmm, aku menjadi tidak sabar dan sangat bersemangat," tutur Gazza.
"Akhirnya bisnis gelapmu akan lenyap selamanya," menyunggingkan bibir.
"Cuihh, kau pikir bisa menjatuhkanku dengan semudah itu, Mr. Winston. Bwhahah! Uhukk ... uhuk .."
"Dan kau pikir juga bisa melengserkan keluargaku dengan gampang, sesuka jidatmu, hah?!" melebarkan maniknya. "Aku ... Arsen Winston dari WS group, yang dijuliki sebagai setan dari raja bisnis, tidak akan kalah dan tidak akan pernah kalah dari siapapun yang mencoba menyayingiku!!"
Deg!!
Gazza mengepalkan jemarinya dan menatap Arsen dengan sorot mata membunuh. "Era kejayaanmu akan segera berakhir! Dan aku GAZZA, dari keluarga Dominic akan mengambil alih posisi dan julukanmu!!"
Arsen terdiam sejenak. Ia menatap wajah Gazza begitu lekat. Perlahan ia mendekatkan wajahnya sehingga wajah keduanya hanya berjarak beberapa senti saja.
"Peff---BWUHAHAHAHAH!"
Gelak tawa Arsen meledak. Ia merasa tergelitik dengan ucapan Gazza yang penuh percaya diri.
"Psikopat!" gumam Gazza.
"What?! Kau bilang apa?!"
"Cuihh!" Gazza meludah di wajah tampan Arsen. "Kau yang sebenarnya sakit jiwa dan psikopat! Hahah!"
Arsen mengusap liur Gazza menggunakan dasi yang bergantung di leher Gazza. "Kau benar! Aku adalah pria gila, psikopat dan keji! Tapi itu dulu. Dan sekarang aku sudah bertobat karena sudah berkeluarga. Namun, jiwa iblisku kini bangkit lagi! Kau tahu karena apa?"
Gazza terdiam.
"Karena kau yang mengundang sisi gelapku untuk hidup kembali. Aku tak peduli dengan hukuman! Bagiku membunuh seranggalah yang terpenting. Hanya satu jalan yang bisa lolos dari cengkeramanku. Dan kau tahu apa itu?"
"K*parat sialan!" umpat Gazza.
"Aku bertanya padamu, bukan menyuruhmu memakiku!" tersenyum kecut. "Baiklah tidak apa-apa. Aku akan mengatakan jalan efektif yang bisa meloloskanmu dari cengkeramanku."
"Aku tidak peduli. Karena akulah yang akan menghabisimu saat ini juga!"
Bukkk!
Gazza membuang pukulannya kembali.
"Percaya diri sekali kau!"
Arsen menegapkan badannya dan menendang keras bekas tembakan di bahu Gazza secara brutal tak terkontrol. "Jalan satu-satunya terbebas dariku adalah ... " menghentikan tendangan bebasnya. "Kematian!!"
Tendangan b*ringas dari Arsen semakin menyiksa tubuh Gazza. Pasalnya Gazza telah menerima dua tembakan dari Arsen. Dan kini luka tembak itu di tendang Arsen berulang kali sehingga itu membuat tubuh Gazza bergetar sampai ke tulang-tulangnya.
"Hentikan!"
Arsen menghentikan aktivitasnya dan menatap ke sumber suara.
"Saya dari pasukan elit Badan Intelejen, menangkap Gazza Dominic dengan tuduhan, penculikan, peyelundupan narkoba, penjualan senjata ilegal, penjualan manusia, pembunuhan dan masih banyak lagi tuduhan yang dibebankan pada tersangka!"
Deg!!
Gazza membelalakkan matanya. Ia terkejut karena anggota Badan Intelejen berhasil menangkapnya.
"No!!" gumam Gazza. "No no no no!!" teriaknya lagi semakin menjadi.
Pasukan elit itu mengepung Gazza dan mulai memborgol tangannya.
"Tidak! Ini tidak benar! Saya tidak bisa ditangkap! Saya membayar pemerintah dengan jumlah yang tidak sedikit. Ke--napa kalian menangkap saya?!!"
"Anda telah mengakui salah satu kesalahan Anda. Kami dari tim pasukan elit Badan Intelejen tidak bisa disogok dengan apapun! Anda bisa menggunakan hak Anda untuk tidak berbicara atau menyewa pengacara!"
Pasukan elit mengenakkan seragam serba hitam mulai dari sepatu sampai pada helm yang menutupi kepala mereka. Wajah mereka pun di tutup dengan masker dan kacamata hitam sehingga tak ada cela yang memperlihatkan kulit mereka. Pasukan itu langsung menyeret Gazza.
"Tunggu!" ketus Arsen menghentikan aktivitas orang-orang yang masih berada di ruangan itu. "Aku tidak akan melepas b*jingan itu!" berlari dan menarik kerah kemeja Gazza.
Bukkk!!
"Tuan Arsen Winston, serahkan tersangka pada kami. Kami akan menghukumnya sesuai dengan perbuatannya!"
"Aku sendiri yang akan menyiksanya hingga dia mati!"
"Kami sangat bertrima kasih dengan kerja keras Anda dan teman-teman Anda untuk menangkap buronan ini yang sudah lama ingin kami tangkap. Tapi, kami tidak bisa membiarkan tersangka mati sebelum memberikan penjelasan atau pengakuan." jelas salah seorang anggota elit.
"Kalau begitu hukuman yang pantas untuk diberikan pada b*adab ini adalah hukuman mati!!"
Degg!
Gazza melonjak. "Bukan kau yang mengaturnya!" tersungging.
"Sesuai dengan perbuatannya, hukuman yang akan ia terima adalah di penjarakan seumur hidup hingga tersangka menutup usia!"
"Bagus. Membusukklah di penjara!"
Deg!
Jantung Gazza berdetak tak karuan. Ia mengeratkan rahang dan menatap Arsen dengan tajam "Tunggu saja pembalasanku! Aku tidak akan mati sebelum melihat jasatmu!" celutuknya.
"Seharusnya aku yang berkata seperti itu! Cepat bawa dia! Jangan sampai jiwa iblisku kembali untuk menghabisinya!"
"Sekali lagi trima kasih atas bantuan Anda. Kami telah menerima bukti yang kuat dari salah satu tawanan. Dokter Chemy memberikan sebuah kalung yang ia kenakan sebagai kamera pengintai. Ini sangat membantu kami dalam masa interogasi. Kalau begitu kami permisi," menundukkan kepala dan beranjak dari ruangan itu.
Sementara Gazza dan beberapa pasukan elit telah keluar dari ruangan, tampak Kaisar, Jayden dan Mark berlari tunggang langgang menemui Arsen.
"Ars! Kau tidak apa-apa? Apa kau terluka?" tanya Kaisar.
"Tidak."
"Tuan, dahimu berdarah!" ketus Mark.
Arsen membersihkan noda darah itu dengan telapak tangannya. "Sial! Aku tidak sadar jika serangannya membuatku berdarah!" Ia teringat jika Gazza melemparinya sebuah kursi besi sehingga meninggalkan tanda di dahinya.
"Ars, kau aman, Ars! Kau tidak jadi masuk penjara!" celutuk Jayden dengan raut semringah.
"Benar Ars. Kata kapten pasukan elit, kau telah diberi ijin untuk menembak musuh. Karena musuh kita sangat berbahaya dan sudah lama di targetkan BIN!" timpal Kaisar.
Arsen tak menggubris. Ia berjalan meninggalkan ketiga pria itu.
"Lagi-lagi dicuekin," lirih Kaisar.
"Di mana Chemy dan anak-anak?" tanya Arsen.
"Bersama tim medis. Pedro mengobati mereka," jelas Jayden.
"Ayo ke sana. Kau juga akan menerima pengobatan." ajak Kaisar.
Keempat pria itu berjalan meninggalkan gedung. Akhirnya masalah kini telah terpecahkan. Arsen menjadi sedikit tenang karena keempat Ed tidak terluka parah. Jika Amey tahu anak-anak itu terluka maka Arsen tidak akan berani menghadapkan wajahnya pada Amey dan Arsen akan menghukum dirinya sendiri.
"Daddy!" teriak keempat Ed saat melihat sosok Arsen keluar dari dalam gedung.
"Daddy aku sudah tidak apa-apa," ucap Edzel.
"Kalian memang hebat! Kalian memang anak-anaknya Daddy," memeluk keempat anak kembarnya. "Ohya, di mana Chemmy?" melirik ke segala arah.
"Tim medis membawanya ke rumah sakit. Aku akan menyusulnya," tutur Pedro.
"Apa dia baik-baik saja?"
"Hanya memar di sekitar wajahnya."
"Kalau begitu ayo kita menyusul Chemy," ajak Arsen.
Semua orang itu masuk ke dalam mobil mereka masing-masing. Keempat Ed naik bersama Arsen dan Mark.
Sepertinya pernikahanku besok akan di tunda dulu. Semoga saja Margareth dapat menjaga Milley dengan baik. Batin Jayden.
To be continued ...
Like, komen dan vote ya gaess 🥰