
Mata Jen melebar. Bibir yang tampak pucat itu membentuk bulatan. Ia termangu saat melihat isi apartemen Mark yang bukan hanya mewah, melainkan sangat bersih dan rapi. Berbeda dengan kos-kosan Jen yang kumuh, kecil dan sedikit berantakan.
Nuansa yang serba putih itu terlihat mengagumkan saat dipandang mata. Apalagi saat benda-benda koleksi Mark yang tertata rapi di lemari pajangan dan hiasan-hiasan dinding seperti lukisan kuno sampai lukisan modern yang menggantung di dinding.
Mata Jen tertuju pada sebuah benda klasik yang terpajang rapi di atas nakas. Alat pemutar musik kuno itu menarik perhatian Jen. Ia langsung berlari mendapatkan benda itu dan menyentuhnya.
"Gramofon! Sumpah, ini sangat keren Tuan!" gumam Jenifer.
"Hey! Jangan menyentuhnya!" teriak Mark, kesal.
Mendengar suara Mark yang membesar membuat gadis itu langsung menarik tangannya pada benda antik itu. "Ma--maafkan aku Tuan," menunduk kepala.
"Apa kau tidak tau malu?! Aku bahkan tidak memberimu ijin untuk masuk, tapi kau menerobos! Dan kau dengan seenaknya menyentuh barang milikku!"
"A--aku ..."
"Keluar!" teriak Mark emosi.
"Tunggu Tuan. Maksud kedatanganku ..."
"Kau tuli?! Aku bilang keluar! Aku tidak mau mendengar alasan apa pun darimu!"
Mark menjadi sangat marah. Pria itu sangat tidak suka dengan orang yang sok kenal dan sok akrab dengannya, apalagi sampai menyentuh barang miliknya. Dan Jen telah melakukan hal-hal yang sangat dibenci Mark.
Mark menarik pergelangan tangan Jen dengan kasar dan menyeretnya sampai di depan pintu.
"Tu--tuan! Lepaskan tanganku. Aku kemari hanya untuk membawa sesuatu milikmu yang jatuh!" ketus Jen membuat Mark melepaskan cengkeraman tangannya.
"Sesuatu milikku? Jangan mencari alasan!"
"Aku serius Tuan! Kau menjatuhkan dompetmu."
Mark terbelalak. Ia langsung berlari menuju ke kamarnya dan mencari dompetnya. Raut wajahnya terlihat panik.
"Ada apa dengan wajahnya?" gumam Jen. Ia kemudian menuju Sofa dan mendudukkan tubuhnya di sana sambil menunggu kedatangan Mark. Pakaian yang tadinya tampak basah kini sudah mulai mengering di badannya. Jen semakin menggigil dingin karena air pada pakaiannya sudah meresap dikulitnya.
Sedangkan di dalam kamar, Mark terlihat stres. Ia mencari dompetnya ke segala tempat namun tak kunjung ketemu. Kamar yang semula tertata rapi kini terlihat seperti kapal pecah. Wajahnya memerah karena menahan emosi.
"F*ckkkk! Kenapa aku bisa seceroboh itu!" gerutunya jengkel.
Mark kembali ke ruangan tamu dan mendapati Jen sedang duduk sembari menyilangkan kedua tangan di dadanya. Giginya mengeluarkan bunyi getaran akibat menahan dingin. Melihat itu, Mark menuju ke kamarnya.
Tak lama kemudian ia muncul dengan sebuah handuk tebal berwarna putih dan sebuah baju miliknya. Ia melemparkan handuk dan baju itu tepat di wajah Jen. "Aku tidak mau ada mayat di tempat tinggalku! Hangatkan dirimu dengan handuk dan ganti pakaianmu agar kau tidak mati di sini," ucapnya dingin.
Dengan segera Jen meraih handuk itu dan melebarkannya. Ia menutup badannya dengan benda itu. Namun ia merasa heran karena Mark memberinya baju kaus yang warnanya senada dengan handuk.
"Tuan apa kau memberi baju ini untuk aku pakai?" tanya Jen dengan suaranya yang menggigil.
"Untuk dibuang!"
Jen beranjak dari duduknya. "Di mana kamar mandimu Tuan?"
Mark menunjuk dengan ujung matanya. Kemudian gadis itu langusng menuju arah mata Mark. Ia mengganti bajunya yang setengah kering dengan baju yang diberikan Mark.
Di dalam kamar mandi, Jen memandangi pantulan tubuhnya yang mengenakan pakaian laki-laki. Baju itu terlihat seperti daster saat dikenakan Jen. Jelas saja karena ukuran baju itu sangat besar sehingga tubuh mungil Jen tertutup sampai di atas lututnya.
"Astaga! Kau mengagetkanku Tuan!" tutur Jen. Ia melonjak saat mendapati tubuh Mark yang sudah berada di depan pintu kamar mandi dengan ekspresinya yang datar.
"Berikan dompetku!"
"Sebentar. Dompetmu ada di dalam tasku," berjalan menyenggol bahu Mark.
Siapa wanita ini?! Berani sekali dia berurusan denganku! batin Mark.
"Ini dompetmu," menyodorkan benda segi empat berwarna cokelat itu di depan Mark. "Jangan kawatir Tuan! Aku orang yang jujur. Aku tidak mengambil uangmu. Lagian orang sekaya dirimu kok hanya mrmiliki satu lembar uang di dalam."
Mark meremas dompetnya. Ia menggertakkan rahang dan menatap Jen dengan tajam seolah akan memakan gadis itu hidup-hidup. "K--kau membuka dompetku?!"
"Hmm," mengangguk. "Bagaimana aku bisa tau itu dompetmu kalau aku tidak melihat identitasmu, Tuan! Haha, kau sangat lucu!" sindir Jen.
Mark tidak dapat lagi menahan emosinya. Ia mendekat ke arah Jen dan mencekik lehernya. "K--kau, telah menguji kesabaranku!"
Jen terperanjat saat tangan kekar Mark meremas lehernya. "Tu--tuan! Ada apa denganmu! Se--seharusnya kau bersyukur karena aku mengembalikan do--dompetmu!" ucap Jen dengan tersengal-sengal.
"Katakan! Apa yang kau lihat di sana!"
"Le--lepaskan aku! Aku tidak bisa bernapas Tuan!" Jen merontah-rontah. Akhirnya Mark melepaskan tangannya dari leher Jen.
"Uhuk ... uhuk! Kau hampir membunuhku! Apa kau sudah gila Tuan!"
"Seharusnya aku yang bertanya padamu! Apa kau sudah gila dan sudah bosan hidup! Kau tidak tau sedang berurusan dengan siapa, hah?!" Mark semakin naik pitam.
Ada apa dengannya? Dia terlihat mengerikan jika seperti ini! Jen kamu jangan takut. Laki-laki ini hanya menggertakmu. Dia tidak akan membunuhmu!
"Katakan!"
"Apa?" tanya Jen kikuk.
"Katakan apa yang kau lihat?!"
"Aku tidak paham Tuan!"
"Apa kau ..." Mark menjeda ucapannya saat mendengar bunyi bel apartemennya.
"Ada yang datang Tuan," ucap Jen.
Mark berlari dan melihat siapa lagi yang datang mengunjunginya. Mark lagi-lagi melonjak kaget. "Goshhh! Kenapa Tuan Muda kemari?" lirihnya.
Mark tanpak kawatir. Ia bingung harus melakukan apa. Jika Arsen mengetahui ada wanita yang datang di apartemennya bisa-bisa bosnya itu akan meledeknya habis-habisan. Dengan raut panik bercampur gugup, Mark menarik lengan Jen dan membawanya ke kamar.
"Tuan, ada apa? Kenapa kau sangat takut? Siapa yang datang?" tanya Jen.
"Shut up!" Sembunyilah di sini. Jangan keluar sebelum aku menyuruhmu keluar! Jangan membuat suara-suara aneh yang mencurigakan. Diamlah supaya aku tidak membunuhmu!"
Jen mengangguk meski sebenarnya ia bingung dengan sikap Mark yang tiba-tiba berubah. Ia pun sembunyi di dalam kamar Mark. Sedangkan pria itu kembali ke luar menemui Arsen.
Mark mengatur napasnya dan membuka pintu. "Halo Tu--"
Bugggh!
Arsen membalas sapaan Mark dengan sebuah tinju. "Itu hadiah untukmu karena kau lama membukakan aku pintu," tutur Arsen santai dan segera masuk ke dalam.
Gosshhh! Kenapa Tuan kemari? Jangan sampai dia tau kalau gadis dasi merah ada di sini!
Mark menepuk jidatnya saat melihat sepatu Jenifer. Ia lupa menyembunyikan barang-barang gadis itu. Baru saja ia berencana menyembunyikan sepatu itu, ternyata sudah di lihat Arsen terlebih dahulu.
"Mark!"
"Ada apa Tuan?"
"Aku baru tau jika kau punya selera mengoleksi sepatu wanita. Apa kau bercita-cita menjadi Waria?"
Mark bingung harus menjawab apa. Ia hanya bisa mengatupkan bibirnya rapat dan mengerjapkan mata sembari menarik napasnya dalam.
"Iya Tuan."
"What?!" Arsen terperanjat.
"Eh tidak Tuan. Maksudku ... "
"Jangan dijawab Mark. Aku akan merahasiakan ini. Aku turut prihatin dengan kondisimu." tuturnya menepuk bahu Mark.
"Bukan seperti itu Tuan.Tuan salah paham," elak Mark.
"Aku mengerti Mark. Pria jomblo sepertimu pasti suka menghayal. Aku maklumi itu. Tenang saja aku pasti akan menutup rapat bibirku dan tidak akan memberitahu siapa pun tentang penyakitmu ini. Anggap saja ini rahasia antar pria," mengedipkan matanya.
Fu*kkkkkk memalukan! Sangat-sangat memalukan! Matilah kau gadis dasi merah sialannnn!
"Ckckck! Ternyata bukan cuma sepatu wanita, tapi tas wanita juga," mengangkat tas milik Jen. "Mark, sejak kapan kau memiliki penyakit ini? Kenapa tidak memberitahuku? Aku pasti akan membawamu ke psikiater untuk memeriksakan kejiwaanmu yang goyang. Kalau dibiarkan penyakit kelainanmu akan semakin parah!"
Arghhhhh! Tuan, kau salah paham! Bunuh saja aku! Ini terlalu memalukan untukku. Harga diriku?! Lenyap sudah!
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
Follow ig : @stivaniquinzel