Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Pelaku?


Dalam hati wanita itu yang tak lain adalah Amey tidak berhenti mengucapkan doa agar Arsen melupakan kesepakatan mereka. Di tempat ternyaman untuk berbaring, Amey terlihat tegang sembari menerawang ke langit-langit kamarnya.


Suara percikan air dari dalam kamar mandi seolah menindas batin Amey. Dengan penuh harap suara percikan air itu tidak akan berhenti. Jika itu tidak terdengar lagi maka si Tuan Arogan telah selesai mandi dan jika Arsen telah selesai mandi maka ia akan menagih jatah makan malam belutnya.


"Bodohnya aku yang membuat perjanjian konyol itu! Aduh bagaimana ini?" gumam Amey gugup.


Selang beberapa menit ia tidak lagi mendengar bunyi dari arah kamar mandi. Jantung Amey berdenyut semakin cepat. Dan benar saja, pria itu telah keluar dari kamar mandi. Mata Amey terbuka lebar saat melihat Arsen yang bertelanjang dada.


Pria itu mendekat ke arah Amey, reflek Amey memalingkan matanya untuk tidak melihat tubuh yang menggiurkan itu. Arsen menyunggingkan bibirnya saat mengetahui jika Amey telah memandanginya dalam diam. "Apa kau sudah siap?" tanya Arsen menyeringai.


"Si--siap apanya?"


"Apa kau lupa dengan janjimu?"


Amey semakin gugup apalagi hidung Arsen telah menyentuh lehernya. "Ars, badanmu masih berbusa!" celutuk Amey membuat pria itu menegakkan tubuhnya.


"Mana? Ahh tidak mungkin, aku membersihkannya dengan sangat teliti," tutur Arsen mencari sumber busa yang menempel di tubuhnya.


"Itu ada di belakang punggungmu," tunjuk Amey sembarang. "Ayo bersihkan sana!" perintah Amey.


Dengan segera Arsen menuju kamar mandi dan kembali membasahi tubuhnya dengan air. Amey bernapas legah saat Arsen meninggalkannya. Tidak lama kemudian pria itu kembali.


"Loh, kenapa cepat sekali?" gumam Amey.


"Aku yakin seribu persen kalau tubuhku sudah bersih!" kilah Arsen.


Arsen kembali mendekati wajahnya dan mengendus leher Amey. "Meski kau belum mandi tapi kau masih wangi," bisik Arsen.


Amey merasa risih, ia sesekali menggoyang pundaknya agar Arsen menarik wajahnya dari leher Amey. Namun usaha Amey hanyalah sia-sia, semakin ia bergerak maka semakin bergairalah pria itu.


"Ars, aku ingat sesuatu," ucap Amey tiba-tiba.


"Ya, tentu saja kau sudah ingat. Bagaimana? Apa kita akan memulainya sekarang?" Arsen tersenyum tipis.


"Aku ... aku harus bertemu Nenek dan menanyakan keadaannya."


Arsen mendengus kesal dan menjauhkan bibirnya dari leher Amey. "Kau masih punya waktu besok."


"Aku maunya sekarang Ars, aku hanya mau memastikannya."


"Tidak boleh!"


Amey memasang wajah cemberutnya. Semoga ini berhasil untuk menghentikannya.


Wanita itu berwajah masam saat mendengar dua kata terakhir dari Arsen. Sebenarnya bertemu Soffy hanyalah menjadi alasan baginya untuk menghindari belut raksasa itu.


Melihat wajah Amey yang kusut membuat pria itu terpaksa mengiyakannya. "Baiklah! Aku akan memanggil Nensi ke sini, tapi tidak lebih dari tiga puluh detik," ucap Arsen.


Amey mengangguk dengan cepat. Nggak apa-apa deh tiga puluh detik, setelahnya nanti kupikirkan lagi, yang penting belut batal masuk gua!


Arsen memanggil Nensi lewat sebuah benda komunikasi yang tak lain adalah interkom yang terletak di atas nakas. Ia memencet kode yang langsung terhubung ke ruangan Nenek itu.


Setelah beberapa detik memanggil namun tidak ada jawaban. "Rupanya Nensi sedang tidak bisa diganggu," tutur Arsen meletakkan kembali benda itu.


Akhirnya Amey kewalahan mencari alasan. Arsen dengan segera kembali membaringkan tubuh dan memeluk istrinya. Sontak tubuh Amey bergetar merasakan sentuhan-sentuhan nakal dari suaminya itu.


Drt ... drt ... drt ...


"Ars, ponselmu bergetar!" ucap Amey tiba-tiba.


"Biarkan saja."


"Bagaimana kalau itu telepon yang penting dari rekan bisnismu, ayo jawablah!" Ya Tuhan, selamatkan aku malam ini! Aku bahkan belum bisa berjalan dan dia mau menyiksaku lagi dengan kenikmatan. Bisa-bisa sampai sebulan aku tidak bisa menginjak lantai dengan kakiku.


Arsen segera beranjak dari posisi berbaringnya. Ia memejamkan mata sejenak dan membukanya. Terlihat raut wajahnya mulai memerah, artinya pria itu mulai naik pitam. Ia mengeratkan rahangnya sembari mengepalkan tangannya dengan erat.


Arsen melihat nama kontak yang tertera di layar ponselnya. "Mati kau cecunguk sialan!" geram Arsen seraya menjawab telepon dari sahabatnya, Kaisar.


"Di mana lokasimu, katakan! Aku akan menyusulmu dan memotong tubuhmu menjadi sepuluh bagian!" ketus Arsen sebagai salam pembuka percakapan.


"Wah, calm down Ars. Aku membawa berita yang sangat penting untukmu," jelas Kaisar.


"Apa itu?"


"Sebaiknya kau datang ke tempat biasa kita bertiga ngumpul, aku akan menjelaskannya di sini."


"Tidak bisa! Aku memiliki pekerjaan yang lebih penting dari itu."


"Ars, tunggu dulu. Kau akan menyesal jika tidak datang kemari, ini info mengenai siapa dalang yang menyebarkan kematian Arka!"


Arsen membesarkan matanya. "Sepuluh menit lagi aku tiba," menutup sambungan telepon.


"Siapa yang menelponmu, Ars?" tanya Amey.


"Kaisar."


"Kau tunggulah di sini, aku hanya akan pergi tidak lebih dari satu jam. Jika butuh sesuatu panggil Elis."


Arsen berlari menuju walk in closet untuk mengganti pakainnya. Amey yang melihat tingkah Arsen yang tergesa-gesa menarik napasnya panjang, sembari diujung lidahnya mengucapkan doa tanda trima kasih karena terbebas dari santapan belut raksasa.


"Apa yang terjadi? Kenapa dia buru-buru? Ah, entahlah. Yang pasti malam ini aku selamat." gumam Amey.


Beberapa saat kemudian Arsen keluar dari walk in closet dengan berpakaian rapi. Ia mendekat ke arah Amey yang masih memandanginya dengan tatapan heran.


"Aku akan bertemu Kaisar, aku janji tidak akan lama."


"Hmm." Amey mengangguk dengan malas.


"Ada apa? Kau tidak ingin aku pergi?"


"Tidak ... tidak! Bu--bukan begitu. Kau sebaiknya pergi karena mungkin Kaisar memiliki informasi yang penting untuk diberitahukan kepadamu," jelas Amey.


"Kalau kau tidak mengijinkan aku pergi, maka aku akan membatalkan pertemuan ini."


"Pergilah, Ars. Aku tidak apa-apa."


"Kau yakin?"


"Seratus persen yakin," tersenyum manis.


Arsen mendekat dan mengecup kening Amey. "Telepon aku jika kau merindukanku."


Amey mengangguk pelan. Pipinya mengeluarkan rona merah setelah menerima perlakuan langka dari suaminya itu. Ia memandangi belakang punggung Arsen yang berjalan meninggalkannya. "Kenapa pria arogan itu sangat manis? Uhhh, jantungku! Kenapa kau tidak berhenti berdebar-debar saat didekatnya?"


***


Club Night


21.00 WIB


Dentuman musik disko menggema memenuhi ruangan itu. Kedua pria blasteran yang tampan tengah asik bersantai dengan beberapa wanita seksi di dalam ruangan khusus itu sambil meneguk anggur.


"Kau yakin dengan informasi yang kau dengar?" tanya Jayden.


"Tentu saja. Karyawanku tidak mungkin salah," balas Kaisar.


"Semoga saja. Jika informasi itu tidak akurat, rip-lah kita malam ini."


Kaisar menyunggingkan bibir sembari menggoyang gelas yang berisi minuman itu dan meneguknya. "Kau tenang saja, Jay. Kita pasti akan menemukan bedebah gila itu yang berani mengangkat bendera perang dengan si pria yang tidak kalah gila dan kejam dari bedebah itu!"


Brakkkk


Tiba-tiba suara tendangan keras dari balik pintu disusul dengan wujud Arsen yang telah berdiri di depan pintu ruangan VVIP itu. Melihat kedatangan Arsen, para wanita malam itu langsung menunduk dan keluar dari ruangan itu tanpa di minta.


"Lihat, Jay siapa yang datang," goda Kai tersenyum puas.


Jayden tersenyum lebar. "Tepat sepuluh menit," melirik jam tangannya.


Arsen mendudukkan tubuhnya di sofa berwarna merah itu. Ia langsung mengambil gelas dan mengisyaratkan kedua sahabatnya untuk menuangkan minuman ke dalam gelasnya.


"Aku tidak akan berlama-lama di sini, katakan siapa pelakunya," ucap Arsen.


"Sabar Ars, nikmati dulu waktu free-mu," tutur Jayden.


"Aku meninggalkan istriku sendirian dengan kondisi yang belum stabil hanya karena untuk bertemu dengan cecunguk-cecunguk sialan seperti kalian! Jadi jangan membuatku emosi," tukas Arsen mulai jengkel.


Plok ... plok ... plok


Kaisar dan Jayden bertepuk tangan seraya membulatkan bibir mereka. "Wah wah wah! Lihat nih siapa yang mulai bucin? Hahah," ejek Kaisar.


"Seorang Arsen? Bucin? ... Impossible!" celutuk Jayden tidak percaya.


Arsen mendengus kasar, ia menatap kedua sahabatnya itu dengan tajam bagai pisau yang baru di asa. Kai dan jay reflek menghentikan ledekan mereka dan kembali membungkam mulut mereka.


"Katakan, siapa pelakunya?"


"Belum diketahui dengan pasti, Ars. Namun sesuai informasi dari karyawan kantorku, pelaku itu laki-laki. Ia salah satu karyawan magang di kantorku. Satu hari sesudah penyembaran berita kematian Arka, tiba-tiba anak magang itu sudah tidak menampakkan wujudnya di kantor."


Arsen menegak anggur itu sampai tidak tersisa. Tatapannya lurus ke depan memperlihatkan jika amarah memuncak telah mengilinginya. Ia meremas gelas bening itu sangat erat, sehingga garis-garis kecil terukir dengan sendirinya di permukaan gelas itu.


"Aku sudah memeriksa identitasnya. Beberapa anak buahku juga sudah mencari keberadaan anak magang itu," tutur Kai, menenangkan Kaisar.


"Aku sendiri yang akan menghabisi nyawanya!"


To be continued ...


Bantu Author mempromosikan novel ini :)


Dukungan readers akan sangat membantu Author 😘