
Setibanya Amey di kamar ia melihat Arsen yang sementara meneguk wine. Ia mendekat dan hendak bertanya mengenai apa yang terjadi antara Arsen dan Mark.
Arsen yang melihat kedatangan Amey, menatapnya sesaat dan kemudian melemparkan pandangan ke arah jendela.
"Apa kau berkelahi dengan Mark?" tanya Amey hati-hati.
"Bukan urusanmu!" meneguk wine.
Amey melihat punggung tangan Arsen yang terluka. Ia segera mengambil kotak P3K yang ada di dalam nakas. Ia langsung menarik tangan Arsen, dan itu membuat pria dingin di depannya memekik.
Arsen sontak kaget melihat Amey yang mengeluarkan kapas dan membersihkan lukanya itu. "Jangan bergerak." tegas Amey.
Arsen termangu, bibirnya seakan tak bisa berucap menghentikan perilaku Amey. Ia hanya menatap wajah wanita itu yang sedang meniup punggung tangannya.
"Kenapa kau bisa terluka?" tanya Amey lembut.
Arsen terdiam.
"Jika kau ingin menjadi petinju, pergi sana ke atas ring. Jangan seenaknya memukuli orang yang tidak bersalah." sindir Amey.
Mendengar itu emosi Arsen kembali memuncak. Ia menarik tangannya dengan kasar. "Sudah ku bilang jangan berani menyentuhku tanpa ijin!" menaikan nada.
Amey memutar bola matanya. "Aku tidak menyentuhmu tanpa ijin, aku hanya mengobatimu karena aku perduli padamu."
Deg!
Jantung Arsen berdebar saat Amey dengan entengnya mengatakan tentang kepedulian. Hati Arsen tergelitik sehingga tanpa disadarinya ia menyodorkan tangannya kembali untuk diobati Amey.
"Sangat disayangkan tanganmu yang bagus ini memiliki bekas luka. Aku akan mengobatinya untuk menghilangkan bekas goresan." tutur Amey memberikan sebuah krim.
"Kenapa kau perduli denganku? Bukannya kau membenciku?"
"Benar! Aku sangat membencimu."
Arsen kembali menarik tangannya. Ia menatap Amey dengan tajam. "Kalau kau membenciku, maka menjauhlah dariku! Jangan pernah sok-sok perhatian denganku!" tukas Arsen dingin.
"Ck. Meski sudah terluka tapi arogannya tidak menghilang." gumam Amey berdecak kesal.
"Aku mendengarnya. Jangan sekali-kali menyentuhku tanpa ijin. Cam 'kan itu!" beranjak dari duduknya.
Amey hanya menatap pria angkuh itu yang berjalan pincang meninggalkan sofa. "Huft! Kau jauh berbeda dengan Arka. Kau sangat dingin dan arogan! Arkaku sangat lembut, hangat dan penyayang." gumam Amey memasang raut pias.
Amey meninggalkan kamar. Ia menuju kamar Arka karena sangat merindukan sosok Arka. Ia membuka pintu kamar Arka yang memang tidak di kunci. Amey berjalan pelan sembari jemarinya menyentuh dinding.
Ia membuka nakas dan didapatinya ada sebuah album dirinya dan Arka. Lembar demi lembar ia buka. Amey memasang senyuman saat foto-foto itu mengingatkannya akan kenangan bahagia bersama Arka.
Ia menemukan sebuah catatan di secarik kertas berlatar kuning. Betapa terkejutnya Amey saat membaca curahan hati Arka. Ia kembali menangis tersedu-sedu.
Isi surat : Aku sangat bersyukur jika kau tidak menemukan kertas ini dan membacanya. Namun jika kau telah membacanya berarti aku sudah pergi jauh meninggalkan dunia. Jika kau membaca ini, aku mohon jangan marah padaku karena telah menyembunyikan penyakitku. Aku tahu jika kau mengetahui ini, kau pasti akan marah dan bersedih. Aku tidak ingin melihat Ameyku menangis dan bersedih. Ohya, meski ragaku pergi tapi jiwa dan hatiku abadi bersamamu. Jangan takut sendiri Sayang aku selalu bersamamu. Cukup letakkan tanganmu di dada, maka aku akan hadir bersamamu. Amey Sayang, aku sudah lama memikirkan ini. Aku tahu pada akhirnya bukan aku yang mendampingimu di pelaminan meski aku telah berusaha keras. Tuhan punya rencana indah untuk hubungan kita. Untuk itu jauh dari sebelum aku meninggal aku sudah berencana menitipmu pada kembaranku Arsen. Dia sangat baik, untuk itu kau harus tahu cara bagaimana mengambil hatinya. Amey sayangku, lupakan aku dan hiduplah bahagia bersama Arsen. Aku akan sangat bahagia jika kau melakukan itu untukku. Salam cinta -Arka-
Isi pesan itu mencabik-cabik hatinya. Ia menangis dengan sangat kuat. Ia melampiaskan semua kesedihannya di kamar Arka. Amey tidak tahan lagi dengan sifatnya yang pura-pura tegar padahal hatinya begitu rapuh.
Amey menuju ke kamar mandi. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia mengguyur tubuhnya dengan air sembari matanya tidak berhenti mengeluarkan cairan yang tidak kalah hebat dengan air yang berjatuhan dari shower.
"Aku kangan kamu Arka!" gumam Amey memegang dadanya.
***
Tidak sengaja Arsen melewati kamar Arka dan melihat kamar itu terbuka kira-kira selebar sepuluh senti. Arsen hendak menutup kamar itu kembali namun perasaannya mendorong ia untuk masuk ke dalam.
Ia mulai melihat seluruh isi kamar Arka mendetail. Tak sengaja ia melihat sebuah album yang tergeletak begitu saja di atas ranjang. Ia mengambil album itu dan melihat foto romantis Amey dan Arka.
Arsen memalingkan wajahnya dari album itu. Ia melempar album itu kembali ke atas ranjang. Ia mengepalkan tangannya dengan erat. Entah apa yang membuat pria itu kembali merasa jengkel.
Ketika hendak keluar dari kamar Arka, matanya menatap lantai yang di atasnya tegeletak sebuah kertas kecil. Rasa penasaran menggerogoti benaknya. Ia kemudian membaca isi tulisan itu.
Wajahnya berubah seketika. Ia meremas kertas itu sehingga terlihat kusut. Arsen segera berdiri menuju pintu kamar. Namun lagi-lagi perasaannya menahan ia untuk tidak pergi dari kamar itu.
Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia mendengar percikan air yang dari dalam kamar mandi. Perlahan ia berjalan menuju ke sana. Ia hendak membuka pintu itu namun ternyata dikunci dari dalam.
Arsen menggedor pintu itu. "Ada orang di dalam? Hey buka pintunya!" teriak Arsen.
Dor ... dor ... dor
Masih tak ada sahutan dari dalam.
"Arka? Apa kau di dalam?" ucap Arsen ragu-ragu. "Ahh aku sudah gila! Mana ada orang yang sudah mati tiba-tiba sedang mandi. Tidak mungkin." gumam Arsen.
Ia semakin penasaran siapa yang ada di dalam kamar mandi. Ia mendobrak pintu itu namun masih saja tidak terbuka. Pintu itu terbuat dari kaca. Ia melihat sekitarnya dan menemukan sebuah kursi.
Arsen mengambil kursi kerja Arka dan dengan sekuat tenaga memukulkannya di pintu kaca kamar mandi. Dengan seketika suara pecahan kaca menggema di ruangan itu dengan sangat nyaring.
Pria itu melonjak kaget saat mendapati Amey yang tengah duduk di bawah shower dengan mata terpejam. Wajah Amey terlihat putih pucat, begitu juga dengan bibirnya, badannya basah kuyup.
"Hey! Apa kau sudah gila?" ketus Arsen menatap Amey dengan raut kawatir.
Amey tidak menyahut.
Dengan segera Arsen mendekat dan menggoncang tubuh Amey. "Hey kau! Bangunlah. Jangan tidur di sini."
Amey membuka matanya yang sayu. Ia menatap Arsen seketika dan melebarkan senyum. "K--kau di sini?" lirih Amey.
Arsen meraba tubuh Amey yang begitu dingin bagai es. Bukan hanya wajahnya saja, melainkan warna kulit badannya yang terlihat pucat. Dengan segera Arsen membopong Amey ala bridal style.
Pria itu tetap berjalan meski kakinya terasa sangat sakit. Wajahnya sangat jelas memperlihatkan jika ia memang menahan rasa sakit yang teramat dalam. Ia meletakkan tubuh Amey secara perlahan di atas ranjang.
Amey kembali membuka matanya perlahan. Bibirnya bergetar seperti ingin mengatakan sesuatu. Badan Amey juga menggigil hebat karena kedinginan. Jelas saja wanita itu kedinginan, pasalnya ia berada dalam kamar mandi sekitar lima jam.
Arsen yang melihat tubuh Amey menggeliang hebat, kembali membayangkan bagaimana Arka terakhir kali mengehembuskan nafas. Rasa trauma akan peristiwa itu membuat kepala Arsen berdenyut karena nyeri.
"Ar--ka? Aku tahu kau pasti akan datang." gumam Amey.
Arsen segera menelepon Mark. "Mark! Panggilkan Pedro. Sekarang!" perintah Arsen sembari memegang kepalanya yang sangat sakit.
Arsen dengan segera menyelimuti badan Amey yang menggeliang hebat. Ia memegang tangan Amey dengan erat. Kembali dalam ingatannya terngiang sosok Arka yang terbaring di ranjang persis seperti Amey saat ini yang menggeliang hebat.
"Arrghhhhh!" Arsen berteriak. Kepalanya semakin menjadi. Ingatan itu terus berputar-putar di benaknya. Hingga akhirnya Arsen pun terjatuh dan tidak sadarkan diri. Tangannya masih mengenggam jemari Amey.
"Ar--ka! Ba--ngun ..." lirih Amey yang tidak bertenaga. Tak lama kemudian wanita itu pun memejamkan matanya dan hilang kesadaran.
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘