
Hari itu merupakan hari yang sangat spesial bagi Arsen. Di umurnya yang ketiga puluh tiga, akhirnya ia bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Ameylah yang merupakan sumber bahagia si Tuan Arogan itu.
Di ulang tahun sebelum-sebelumnya, ia tidak pernah merasakan bahagia. Pasalnya setiap hari spesial itu, ia tidak bisa merayakan ulang tahunnya karena menyibukan diri dengan pekerjaan. Hanya Arkalah yang selalu mendapat cinta dari orangtua di hari ulang tahun mereka.
Bagi Arsen hari ulang tahunnya sama saja dengan hari-hari biasa, bangun, tidur, bekerja, bercinta dan begitu seterusnya. Bahkan ia sering memberikan kado-kado yang ia terima dari para karyawan, kolega dan para fans wanita, kepada Mark. Atau jika tidak pastilah ia membuangnya.
Untuk apa semuanya itu, toh ia bisa membelinya bahkan yang lebih mahal dari hadiah-hadiah yang dianggapnya murahan seperti itu. Tapi kali ini berbeda. Kado yang diberikan sang istri sungguh lebih dari kata mahal dan tidak bisa dibeli atau didapatkan sembarangan. Untuk pertama kali si Tuan Arogan itu memasang senyum kebahagiaan di bibirnya.
Siang itu di sebuah kamar hotel yang berukuran king, terlihat Arsen sedang berada di kamar mandi. Ia sementara menyiapkan air hangat untuk istrinya. Pertama kali dalam hidup Arsen, ia menyiapkan air untuk seorang wanita. Beruntungnya Amey karena dicintai seorang pria langka seperti Arsen.
Setelah selesai menyiapkan segala keperluan mandi, ia melangkahkan kakinya menuju Amey yang masih terbaring di atas ranjang. Wanita itu terlihat kesulitan bergerak, hanya bola mata yang bisa ia gerakan dengan leluasa, sedangkan seluruh badannya sama sekali tidak dapat di gerakan. Jika salah satu anggota tubuhnya bergerak maka ia akan memekik kesakitan.
Bukan hanya *********** saja yang sakit, tapi seluruh badannya. Bagaimana tidak, Arsen menunggangi tubuh Amey dengan sangat beringas. Wanita itu hanya bisa pasrah sembari menikmati permainan sang suami.
"Ayo mandi, aku sudah menyiapkan air untukmu," tutur Arsen.
"Ingin, tapi aku tidak bisa bergerak."
"Aku akan menggendongmu, tapi mungkin ini akan sedikit lebih sakit," mengangkat tubuh Amey dengan hati-hati.
"Awww, Ars sakit," pekik Amey meneteskan air mata.
Arsen merasa kasihan, ia pun membawa tubuh Amey dengan penuh kehati-hatian.
"Jangan menangis Sayang. Tahanlah sedikit, kita akan sampai."
Amey mengangguk pelan.
Arsen meletakkan tubuh Amey di dalam bak mandi. Setelah itu ia membuka jubah mandi miliknya dan menyusul masuk ke dalam. Amey terperangah saat pria itu masuk juga ke dalam bak mandi sehingga berhadapan langsung dengannya.
Mata Amey berpindah memandangi lengan berotot Arsen. "Ars, ada apa dengan tanganmu?" tanya Amey menatap lekat memar yang sangat banyak itu.
"Ini ulahmu."
"Hah, aku tidak pernah memukulmu!"
"Tidak memukul tapi menggigit."
"Aku menggigitmu? Ba-bagaimana bisa?" tanya Amey tidak percaya dengan perbuatannya.
"Buktinya lenganku memiliki label aneh. Tanda gigitan yang banyak. Apa kau memiliki penyakit rabies?"
"Enak saja!"
"Bukan hanya itu, punggungku memiliki banyak cakaran!"
"Apa itu ulahku juga?"
"Ya kalau bukan kamu, siapa lagi? Hanya kau yang berani melukai tubuhku."
"Yeeee, bisa saja Mark, atau mungkin kau berkelahi dan mendapatkan luka itu!"
"Tidak ada yang bisa melukaiku. Dan kau pemecah rekornya. Kau berhasil menggigitku dan mencakar punggungku. Ternyata kau buas juga," tutur Arsen menyeringai.
"Ihh apaain sih kamu! Percakapan yang tidak berfaedah."
Arsen mulai mengusap tangan Amey. "Tidak usah malu! Aku sudah melihat setiap inci tubuhmu."
"Ehm, tapi ..."
"Memangnya kau bisa mandi sendiri dengan kondisimu yang tidak memungkinkan, hm?" Arsen mengangkat kedua alisnya.
Iya juga sih. Tapi 'kan biar bagaimana pun juga, aku masih ada urat malu!
"Kau tidak usah banyak bergerak. Aku yang akan memandikanmu," lagi kata Arsen.
Yang bisa dilakukan Amey hanya mengangguk pasrah. Ia tidak punya power untuk membantah karena tubuhnya tidak bisa diajak bekerja sama dengan otaknya. Arsen melanjutkan mengusap lengan Amey menggunakan sabun cair yang sangat wangi.
Aku tidak percaya jika kau melakukan ini untukku, Ars. Ternyata kau adalah pria yang bertanggung jawab.
"Aku tahu kau sedang memujiku dalam hati. Tidak usah berlebihan, aku melakukan ini karena kau memang membutuhkan bantuanku," ketus Arsen.
"Ba--bagaimana kau tau?"
"Kau lupa kalau aku ..."
"Kau mulai paham, bukan? Yayaya aku memang makhluk istimewa yang diciptakan Tuhan, kau harus bersyukur memiliki suami sepertiku."
"Hufthh, whatever!"
Setelah selesai menyabuni lengan Amey, kini ia berpindah dibagian punggung. Ia mengangkat tubuh Amey dan meletakkan di atas pahanya.
"Ahhh, sakit!" pekik Amey.
"Maaf. Kau berat jadi aku harus sedikit lebih kuat mengangkatmu,"
"Siapa suruh kau mengangkatku?"
"Bagaimana aku bisa menyabuni punggungmu? Tanganku tidak bisa meraihnya karena terlalu jauh!"
"Kau 'kan bisa berdiri dan berpindah ke belakangku."
"Tidak! Begini lebih nyaman."
Amey memilih diam. Ia mulai merasakan ada yang aneh di bawah sana. Rupanya belut Arsen sudah bangun. Dengan posisinya yang berada di atas paha Arsen, sangat mudah bagi adik kecil Arsen untuk masuk kembali ke dalam gua.
Tempurung kembar yang empuk milik Amey kini menghimpit dada bidang Arsen, membuat tangan nakal pria itu mulai bergerak ke sana kemari sampai mengenai bokong Amey. Merasakan sentuhan Arsen, tubuh Amey kini mulai bergetar.
"Ars, ku mohon jangan lagi," pinta Amey memelas.
Arsen tidak menggubris. Ia mulai mencolet leher Amey dengan ganas. Tanganya tidak berhenti bermain di belakang punggung Amey. Wanita itu perlahan mulai memejamkan mata dan mengikuti alur.
"Awww!" Arsen berteriak dengan keras saat Amey kembali menggigit lehernya dengan sangat keras. Tentu saja karena cara terbaik Amey menahan sakit saat belut masuk ke terowongan adalah dengan menggigit.
"Kau menggigit leherku Amey!"
"Kau tidak memberitahuku jika, anumu akan masuk!"
"Apa masih sakit?"
"Iya, tapi ... shhhh,"
Arsen sedikit cepat membuat hentakan. "Kalau begini, apa masih sakit?"
"Lu--lumayan," lirih Amey.
Setelah melihat Amey tidak lagi merengek kesakitan, ia kembali mempercepat gerakannya. Cukup lama Arsen melakukan itu.
"Ars aku mau pipis!"
"Sabar Sayang, kita keluarkan bersama vla pudingnya ya."
Beberapa saat kemudian, vla puding keduanya keluar. Setelah hampir dua jam mereka bergulat di dalam bak mandi kini Arsen menyudahinya. Pria itu membiarkan Amey bersandar di dadanya.
"Sepertinya kita harus mandi lagi," tutur Arsen menyunggingkan bibir.
Setelah beberapa menit tidak mendengar sahutan Amey, Arsen memegang pundak Amey dan mendorongnya perlahan. "Hey! Sayang?"
Arsen mengoncang pundak wanita itu namun belum ada sahutan. Wajah Amey bergerak mengikuti goncangan tangan Arsen. Mata Amey terpejam. Seketika Arsen menjadi panik.
"Sayang? ... Amey? Jangan menakutiku! Ayo buka matamu."
Amey masih tidak menggubris membuat Arsen semakin panik. Ia kembali menggoncang pundak Amey dengan sangat kencang.
"Ayo bangun Sayang. Aku tidak akan memaafkan diriku jika sesuatu yang buruk menimpamu. Maafkan Aku Amey Sayang."
Arsen memeluk tubuh istrinya dengan erat. Setelah itu ia kembali menggoncangnya.
"Jangan mengoncangku Ars! Aku tidak mati. Aku hanya lelah. Membuka mata ku saja sudah sangat sulit," ucap Amey tiba-tiba.
Arsen bernapas legah. Ia tersenyum semringah saat mengetahui jika Amey masih bernapas. "Kenapa kau tidak menyahut saat aku memanggilmu, hah?"
"Aku mengumpulkan tenagaku untuk berbicara. Diamlah! Aku sangat tidak bertenaga," lirih Amey.
Astaga! Apa aku tidak salah mendengar jika pria ini tidak akan memaafkan dirinya jika sesuatu yang buruk terjadi padaku? Haha! Aku menyesal tidak mengerjainya!
To be continued ...
Dukungan readers akan sangat membantu Author 😘