
"Huayemmm," menguap sambil merenggangkan otot pada tubuhnya.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan tiga puluh. Ia bangun kesiangan karena terlalu lelah. Ia menatap seluruh ruangan itu dan tenggelam dalam pikirannya. Amey tersadar jika kamar itu berbeda dengan kamar yang ia tempati.
Amey menepuk jidatnya. "Bagaimana aku bisa berakhir di tempat ini? Seingatku terakhir aku tidur di mobil Ars, dan selebihnya aku sudah tidak ingat lagi. Apa Arsen yang menggendongku kemari?" gumamnya.
Ia tersenyum kecil saat membayangkan jika suaminya membopong dirinya. Langkah kaki Arsen menyadarkannya dari tawa kecil itu. "Apa kau yang membawaku ke mari?" tanya Amey.
"Hmm, kau tidur seperti b*bi. Aku menggoncang tubuhmu tapi tetap saja kau tak bangun," tutur Arsen berbohong.
"Benarkah?" Amey mengerutkan kening, ia tidak percaya ucapan Arsen, pasalnya Amey orang yang sangat sensitif jika tidurnya diganggu. Ia pasti akan bangun jika seseorang menyentuh apalagi menggoncang tubuhnya.
"Lebih baik kau mandi, kita akan pergi bulan madu."
Amey melebarkan matanya, ia terkejut saat Arsen mengucapkan dua kata di akhir kalimatnya. "Hah? Bulan madu?"
"Bergegaslah! Aku tidak suka menunggu," meninggalkan Amey yang menganga di atas ranjang.
"Ke--kenapa kita harus bulan madu? Pernikahan kita 'kan hanya sandiwara?" ucap Amey gelagapan.
Arsen menghentikan langkahnya. "Aku harus menepati janjiku pada George, jadi mau tidak mau, suka tidak suka kita harus ke Paris. Demi bisnis!"
"Maksudmu, kau menerima hadiah dari Tuan George dari Diamond Group?"
"Yes!"
"Tapi kenapa aku harus ikut? Itu 'kan urusan bisnismu dengannya, kenapa harus bawa-bawa aku?"
"Kalau aku pergi sendiri namanya bukan bulan madu!"
Amey berpikir sejenak dan mengangguk, "iya juga sih, tapi kenapa buru-buru?"
"Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Proyek ini sangat penting bagiku, jadi bulan madu ini akan menjadi peluang bagiku untuk memperlebar sayap WS Group ke seluruh penjuru dunia," jelas Arsen.
"Ya ya ya!" gumam Amey paham.
"Bersiaplah, jangan membuat aku menunggu."
"Siapa suruh kau tidak membangunkanku? Lagi pula kau memang harus menungguku. Aku belum mempersiapkan pakaianmu dan pakaianku. Salahmu sih, mendadak bulan madu." tutur Amey.
"Mark sudah mempersiapkannya. Kau hanya tinggal mandi dan berpakaian."
"Sungguh asisten yang penurut."
"Aku membayarnya."
"I know!"
***
Sebelum berangkat menggunakan jet pribadi milik Arsen, mereka pun menyempatkan diri untuk berkunjung ke makam Arka. Kunjungan kali ini, Amey sudah terlihat kuat dan bisa mengendalikan emosinya.
Keduanya membawa buket bunga dan berpamitan. Tidak lama mereka berziarah dan setelahnya mereka pun segera berangkat ke Paris.
Jarak tempuh antara Jakarta ke Paris membutuhkan waktu sekitar tujuh belas jam, lima puluh menit. Perjalanan yang sangat panjang mengakibatkan Amey mengantuk dan tertidur di bahu Arsen.
Pria yang lagi asik membaca itu membiarkan istrinya bersandar di pundaknya. Karena terlalu sering menyentuh Arsen, kini wanita itu merasa nyaman jika selalu bersama Arsen. Saking nyamannya, Amey langsung tertidur begitu saja.
Seandainya Amey tahu, jika bisnis hanyalah menjadi alasan bagi Arsen supaya bisa berduaan dengan istrinya. Walaupun demikian, tapi pria itu terlalu menjunjung tinggi harga dirinya, sehingga sangat sulit bagi mulutnya untuk mengatakan hal yang tidak pernah ia ucapkan sebelumnya kepada setiap gadis yang tidur dengannya.
Ia sama sekali tidak menyadari jika Amey telah menaklukkan hatinya. Ia bisa bertingkah absurd jika Amey membuatnya cemburu. Apa yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya, kini menjadi aktivitas wajibnya, contoh kecil ia bisa melakukan apa saja agar istrinya itu tetap bersamanya.
Mark menatap keromantisan majikannya, ingin sekali ia mengutuki diri Arsen karena telah jatuh cinta pada Amey. Dulunya, pria arogan itu sangat kasar dan tidak berperasaan. Kata-kata yang tajam dari mulutnya selalu menusuk hati Amey.
Seringkali kata-kata kasar sering diikuti dengan perlakuan kasar dari Arsen kepada istrinya. Tapi apa sekarang? Semuanya berubah seiring berjalannya waktu. Arsen yang dikenal kejam, dingin dan angkuh, kini memiliki satu kelemahan yang tak terbantahkan.
Melihat tingkah Arsen yang kekanak-kanakkan saat Amey tidak menuruti perintahnya, kini Mark menarik kesimpulan, bahwa seorang Arsen Winston telah luluh terhadap satu wanita untuk pertama kali dalam hidupnya. Arsen telah merasakan indahnya jatuh cinta, meski ia tidak menyadari itu.
***
The Peninsula Paris
Kedatangan Arsen dan Amey telah diinfokan George sebelumnya kepada seluruh pelayan hotelnya. Mereka menyambut pasutri itu dengan senyuman yang ramah. Perlakuan yang baik dan sopan bagi pelanggan merupakan prioritas utama bagi para pelayan.
Tempat inap nomor satu di Paris itu milik George, dari Diamond Group. Pantas saja Arsen melakukan apa saja agar bisa bekerja sama dengan perusahaan George, ternyata bukan berlian saja yang menjadi rising star dalam bisnisnya, melainkan juga hotel yang begitu besar, megah dan mewah yang akan mereka tempati selama bulan madu.
Mungkin karena WS Group merupakan perusahaan nomor satu di dunia perbisnisan, atau mungkin karena Amey, wanita yang menjabat sebagai manajer umum Paradise Hotel sekaligus istri pengusaha muda kaya raya itu yang mampu menarik perhatian George. Siapa yang tahu?
Pukul sembilan malam mereka tiba di Hotel Peninsula. Cukup dengan menunjukkan identitas mereka, petugas penerima tamu langsung mengenali siapa Arsen. Tanpa melakukan pemesanan, mereka langsung diantarkan oleh porter atau pelayan yang bertugas mengangkut barang untuk menuju ke kamar yang telah disediakan khusus untuk pasutri itu.
"Wow, Fantastic!" gumam Amey saat memperhatikan keindahan hotel itu.
"Kau suka?" tanya Arsen.
"Sangat!" ketus Amey menunjukkan ekspresi antusiasnya.
Arsen tersenyum kecil saat mengetahui jika Amey sangat menyukai tempat itu. "Simpan dulu ekspresi norakmu itu, kau akan terpukau saat melihat keindahan yang lainnya di tempat ini."
"Akan aku lakukan."
"Berterima kasihlah padaku, karena telah mengajakmu ke sini."
"Thank you."
"Good!"
Sampailah mereka ke kamar yang disediakan khusus untuk keduanya. The Peninsula Suite, nama kamar yang super mewah, kualitas memadai dan memiliki pemandangan memukau. Itulah kamar yang akan menjadi tempat tinggal Arsen dan Amey selama bulan madu di Paris.
Lelah Amey terbayarkan saat memasuki kamar itu. Hal yang paling pertama ia lakukan saat memasuki ruangan itu adalah berlari dan membuka tirai yang menutupi jendela kaca berukuran besar yang memperlihatkan pemandangan indah kota Paris.
Bangunan besi yang begitu tinggi menonjol di antara bangunan lainnya. Bangunan itu tidak lain adalah Menara Eiffel. Suatu destinasi wisata yang paling ramai dikunjungi di dunia. Siapa pun pasti akan takjub saat melihat pemandangan itu.
"Ini sungguh indah!" celutuk Amey.
Arsen melihat Amey yang bersemangat saat melihat indahnya kota Paris. Ia berjalan dan mendekat. "Kau belum pernah ke sini?"
"Maksudmu, ke Paris?"
"Hmm." Arsen mengangguk.
"Tabunganku belum cukup untuk membawaku berlibur ke sini. Dan ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di negara yang ingin sekali aku kunjungi," masih memandangi pemandangan itu dengan tersenyum lebar.
"Ini belum seberapa. Kau akan lebih terkagum-kagum jika mengelilingi kota ini."
"Apa boleh? Kau 'kan ke sini bukan untuk liburan, tapi untuk bekerja."
Arsen kebingungan mencari kata-kata untuk menawari Amey jalan-jalan dengannya mengelilingi kota itu. "Ya kau benar! Tapi ..."
"Tapi apa?"
"Ehm, tapi aku ... juga perlu refresing. Jika kau tidak mau, ya sudah. Aku saja. Lagian aku butuh waktu sendiri untuk menyegarkan pikiranku," ucap Arsen mencari alasan.
"Ya, kau perlu melakukan itu. Aku tidak akan mengganggu waktumu."
Arsen melotot menatap Amey. Loh, kok begitu? Ahhh shit! Apa aku salah bicara?
Arsen memasang raut kusut. Maksud dari ucapan Arsen, hendak mengajak istrinya jalan-jalan, namun karena ia tidak mau merendahkan harga dirinya di depan Amey, maka kalimat omong kosong keluar begitu saja dari dalam mulutnya.
"Aku akan menyewa guide saja. Bolehkan?"
"Tidak boleh!" tukas Arsen.
"Kenapa tidak boleh?"
"Apa kau tipe wanita yang selalu percaya dengan begitu saja pada orang asing, hah?" Arsen mulai geram.
"Bukan begitu, tapi menyewa guide 'kan aman? Mereka juga memang bertugas untuk menuntun arah."
"Pokoknya kau tidak boleh keluar jika bersama orang asing! Aku tidak mengijinkannya."
"Terus? Aku keluarnya sama siapa? 'Kan katamu kau perlu waktu sendiri?" Amey mengerutkan kening.
Really? Wanita ini memang tidak paham! Bagaimana aku mengatakannya? Sialan dengan situasi ini, F*ckkkkkkk! umpat Arsen dalam hati.
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘