
Alganda Group
13.00
Sedari tadi Amey memandangi jendela kaca yang menampilkan pemandangan kota Jakarta di siang hari. Jika diperhatikan dengan seksama, wanita itu terlihat seperti sedang menghitung kendaraan yang lalu lalang di bawah sana. Padahal sebenarnya ia sedang larut dalam pikirannya.
"Tidak! Sangat tidak mungkin!" gumamnya dengan berkerut dahi. "Tapi bagaimana jika itu memang benar?" tanyanya lagi dengan heran.
Tok ... tok ... tok
Suara ketukan dari balik pintu tak membuyarkan pikiran Amey. Ia tampak tegang memikirkan sesuatu. Hingga akhirnya seorang wanita cantik dan seksi langsung menghampirinya.
"Permisi, Nyonya," tutur Eggie.
Amey masih tak menggubris. Ia menggigit ujung telunjuknya sembari berpikir keras.
"Nyonya?" menyentuh bahu Amey.
Direktur Utama itu melonjak kaget. "Goshhh! Kau mengagetkanku Eggie!"
"Maaf Nyonya."
"Apa kau sudah dari tadi di sini?"
"Baru tiga menit yang lalu."
"Ohya, ada apa?"
"Saat ini, Nyonya ada rapat."
"Kau batalkan saja dulu. Aku sedang tidak ingin diganggu hari ini."
"Baik, Nyonya," menunduk kepala.
Eggie melangkahkan kaki dan berlalu meninggalkan Amey yang kembali termenung akan sesuatu. Namun ketika Eggie hendak menutup pintu, tiba-tiba Amey memanggilnya.
"Eggie! Apa kau sibuk?" tanya Amey.
"Tidak, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?"
"Ya, kemarilah. Aku ingin memastikan sesuatu."
Eggie mendekat.
"Duduklah," tawar Amey dengan menunjuk Sofa.
"Trima kasih, Nyonya. Tapi begini lebih nyaman," masih dalam posisi berdirinya. "Apa yang ingin Nyonya pastikan dari saya?"
"Apa kau dan Mark memang sudah menikah?"
Eggie terbelalak. "Uhuk ... uhuk ... "
"Kau butuh air? Sebentar aku akan mengambilnya," berdiri dari duduknya.
"Tidak ... saya tidak apa-apa. Jangan repot-repot mengambilkan saya air, Nyonya."
"Baiklah. Bisa kau katakan jawabanmu? Aku harap kau tidak akan mencari alasan untuk lari dari bahasan ini. Sebelumnya aku mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, tapi aku sebagai atasan, harus mengetahui identitas pribadi bawahanku."
Amey menelan saliva saat ia selesai mengucapkan beberapa kalimat itu. Akhirnya ia memakai jabatannya untuk menggali apa yang selama ini mengganjal di pikirannya. Memang ada benar juga yang dikatakan Amey. Bahwa ia sebagai atasan harus mengenal bawahannya. Bukan hanya sebatas kenal, namun harus tahu juga lebih spesifik mengenai data karyawannya.
"Saya dan Tuan Mark tidak menikah."
"Benarkah? Lalu apa kalian sedang menjalin hubungan atau semacamnya?"
"Tidak, Nyonya."
"Apa Jen salah lihat?" gumam Amey sembari berpikir. "Tapi foto itu ... ?"
"Foto apa Nyonya?" tanya Eggie.
"Foto prewedding kau dan Mark. Jen melihatnya saat berada di ruang rahasia Mark."
What? Nona Jen bahkan telah masuk ke daerah pribadi Mark?
"Eggie?"
"Maaf Nyonya. Apa Nona Jenifer dan Tuan Mark memiliki hubungan khusus?"
"Nah itu yang membuatku bingung. Aku sebenarnya ingin menjodohkan Mark dan Jenifer. Namun setelah mendengar ucapan Jen yang mengatakan jika kau dan Mark suami istri, jadi aku mengurungkan niatku untuk menjodohkan keduanya."
Jantung Eggie memompa hebat. Ia tak menyangka jika Amey berbicara terus terang padanya tanpa sensor. Luka batin itu kembali robek. Amey berhasil mengorek masa lalu perempuan itu.
"Nyonya, saya dan Tuan Mark tidak memiiki hubungan spesial. Saya akan mendukung Nona Jenifer dengan Tuan Mark," ucap Eggie dengan tersenyum paksa.
Deg!
God! Apa yang baru saja aku katakan? Apa aku sudah tidak waras? Bisa-bisanya aku dengan enteng menyetujui ide Nyonya untuk menjodohkan Mark dengan Nona Jenifer! ucap Eggie dalam hati.
"Ohya? Kau juga setuju? Haha! Baiklah aku butuh bantuanmu untuk membuat Mark menjadi takluk pada Jen." tersenyum kecil. "Tapi apa betul yang kau katakan, bahwa kau tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Mark?" tanya Amey memastikan lagi.
"Sekretaris Eggie? Bukankah kau harus meninjau beberapa dokumen?" tutur seorang pria yang tak lain adalah Mark.
Eggie terperanjat. Namun ia segera menetralkan mimik gugupnya dengan sikap profesional. "Maafkan saya Tuan Mark. Saya akan segera meninjaunya," berjalan meninggalkan Amey.
"Eggie! Kau mau ke mana? Kau belum melanjutkan ucapanmu!" panggil Amey sedikit menaikan nada. Amey menatap Mark dengan tatapan tajam. "Hey Jodi! Ada apa kau kemari? Kau tau, kau menganggu percakapanku dengan Eggie!"
"Maaf, Nyonya. Saya diperintahkan Tuan Arsen untuk menjemput Nyonya."
"Menjemput? Di mana Arsen?"
"Tuan sedang berada di restoran De Gracia's. Tuan sedang mengadakan pertemuan dengan koleganya. Dan selesai dari itu, Tuan ingin mengajak Nyonya untuk makan siang bersama."
"Tidak! Aku tidak ingin pergi!" tolak Amey mentah-mentah.
Nyonya, kumohon bekerja samalah denganku, hari ini saja. Andai Nyonya tau apa yang akan terjadi jika aku tidak membawa Nyonya ke sana. Nyonya pasti paham 'kan dengan sifat langka suamimu? batin Mark.
"Mark, aku akan pergi jika kau memberitahuku sesuatu."
"Ada apa, Nyonya?"
"Apa kau telah menikah?"
Deg!
Apa Nyonya sedang tidak sehat? Kenapa dia menanyakan pertanyaan yang sama sekali tidak penting ini.
"Ini sangat penting bagiku, Mark! Jadi bekerja samalah!"
Amazing?! Kekuatan supranatural Tuan Muda sudah menjalar ke Nyonya Muda!
"Aku akan mengatakannya jika sudah tiba di restoran," menyunggingkan bibirnya. Mark merasa puas karena bisa mengendalikan emosi Amey.
"Baiklah. Awas saja jika kau sampai membohongiku! Aku akan meminta bercerai dengan Arsen, dan kau akan menjadi sarang kemarahan suamiku!"
Kau sangat kreatif menciptakan hukuman untukku, Nyonya. Tapi jika kau benar menceraikan Tuan Muda, kemungkinan besar perang dunia ketiga akan segera dirilis!
***
Sudah hampir lima belas menit Arsen menunggu di restoran itu. Matanya tak bergeming sedikit pun dari arah pintu masuk. Ia berharap sosok yang ditunggunya akan muncul dari pintu itu. Dan tak lama kemudian wujud Amey akhirnya terlihat sedang menuju ke arah meja Arsen.
Pria itu tersenyum lebar memandangi istrinya. Pesona Amey benar-benar berhasil membuat Arsen klepek-klepek dan tak ingin jauh dari sisinya. Dalam pikiran Arsen hanya Amey-lah wanita tercantik, terseksi dan bisa segala-galanya.
"Sayang, aku sudah menunggumu dari tadi," tutur Arsen.
"Mark yang membuatku lama, Ars! Kau harus menghukumnya!"
Ohh gosshhh! Nyonya hari ini memang benar-benar tidak sehat!
"Mark!" ketus Arsen murka.
"Maaf Tuan."
"Mark, katakan padaku apa yang di maksud Eggie. Kalau tidak kau sudah tau akibatnya!" kilah Amey.
Arsen yang mendengar itu langsung melebarkan matanya. "Apa yang kau bicarakan, Memey?"
Jangan sampai mulut Nonya kebablasan dan meminta cerai pada Tuan! Bisa punah orang-orang yang ada di tempat ini!
"Mark akan menjelaskannya, Sayang," ucap Amey.
"Katakan Mark! Jangan membuatku menunggu lagi!"
Mark terdiam dan tak sanggup membuka mulutnya. Ia menarik napasnya panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.
"Tuan, kau sudah tau akan hal ini."
"Hal apa?"
"Apa benar Mark dan Eggie tidak memiliki hubungan khusus?" tanya Amey to the point pada Arsen.
Arsen dan Mark saling menatap. Ia telah berjanji pada Mark, jika ia tidak akan pernah membahas masa lalu Mark apa pun kondisinya. Dan sekarang Arsen bingung, apakah ia harus menepati janjinya, atau harus mengingkari karena Amey yang secara langsung bertanya padanya.
"Nyonya, sebenarnya saya telah menikah," tukas Mark tiba-tiba.
Arsen terperanjat. Ia tidak menyangka jika Mark untuk pertama kalinya memberitahu mengenai masa lalunya yang pahit kepada orang lain.
"Mark?!" lirih Arsen.
"Benar dugaanku! Kau dan Eggie telah menikah, bukan?! Huhhh Eggie membohongiku!" ketus Amey murka.
"Aku memang telah menikah. Tapi bukan dengan Sekretaris Eggie."
Amey melotot. "Hah?"
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*