Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Good News


Waktu terus berputar. Sudah tiga bulan sejak pertarungan dua belas ronde itu, akhirnya Amey sudah kembali berjalan normal. Dan dalam waktu dua minggu juga Amey sering mendapat terapi khusus untuk mengetatkan otot-ototnya yang lemas.


Setelah melihat Istrinya tersiksa menahan sakit akibat ulahnya, akhirnya Arsen memutuskan untuk mengurangi durasi pergulatan mereka. Dokter pun menganjurkan untuk jangan terlalu memaksakan Amey karena itu akan menganggu kesehatannya.


Selama tiga bulan juga Arsen jarang meminta Amey melayaninya, kalau pun Amey menjalankan kewajibannya sebagai istri, itu pun tidak lebih dari lima jam. Kini Arsen sudah mulai mampu mengontrol hasratnya untuk tidak meminta lebih. Asalkan ramuan Soffy disingkirkan jauh-jauh dari hadapannya.


Pagi itu tepat pukul enam pagi, Amey tampak berlari menuju kamar mandi karena ia tidak bisa menahan sesuatu yang mengganggu perutnya. Kepala Amey terasa pusing tidak seperti biasanya. Sudah empat kali ia bolak-balik menuju kamar mandi untuk memuntahkan sesuatu dalam perutnya, namun sepertinya sesuatu itu tidak kunjung keluar dari dalam perutnya.


Terkhir kali Amey berlari menuju kamar mandi, disusul oleh Arsen. Pria itu tampak kawatir dengan kondisi istrinya. Ia mengikuti Amey dari belakang dan mendapati istrinya itu sedang berusaha mengeluarkan cairan dari dalam perutnya.


"Memey Sayang? Apa kau sakit lagi?" tanya Arsen berjalan mendekat.


Amey tidak berbicara hanya tangannya yang melambai, mengisyaratkan jika ia tidak apa-apa. "Huek ... huek ...!"


"Sayang, kau kenapa? Kau terlihat sedang tidak baik-baik saja. Aku akan menyuruh Pedro untuk kemari, tunggu sebentar." Arsen keluar dari kamar mandi dan menghubungi Pedro.


"Jangan-jangan aku hamil!" gumam Amey.


Wanita itu tersenyum lebar dan berlari mendapatkan Arsen yang sedang menelpon Pedro. Namun tiba-tiba kaki Amey terkilir dan terjatuh di depan pintu kamar mandi.


Brukkkk!


Arsen menoleh ke sumber suara. "Sayang!" berlari mendapatkan Amey. "Memey, Sayang! Kenapa kau terjatuh?"


"Suamiku, aku punya kabar baik untukmu!" ketus Amey tak menggubris pertanyaan Arsen.


"Kabar sebagus apa yang sampai membuat Memeyku terjatuh seperti ini, hm?" menjepit hidung Amey.


"Suamiku, sepertinya aku hamil!"


Arsen melonjak dan terkejut bukan kepalang. Matanya mengeluarkan binar karena teramat senang mendengarkan tutur kata Amey.


"Praise the Lord!" ucap Arsen kegirangan.


Arsen langsung menggendong tubuh Amey dan membawanya ke atas ranjang. Ia mendudukan istrinya itu dan memeluknya dengan erat. "Istriku Sayang, akhirnya kau hamil. Aku begitu menantikan berita ini."


"Sayang aku juga sangat senang. Tapi sebaiknya kita tunggu dokter Pedro untuk memeriksanya secara langsung."


Arsen mengangguk dengan cepat dan mencium kening Amey. Untuk pertama kalinya Arsen merasakan bahagia yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata. Bisa dibilang ia merasa dirinya lelaki paling berbahagia karena telah menghamili Istrinya.


Dua puluh menit berlalu. Pedro tiba di mansion dan mulai memeriksa Amey. Sedangkan Arsen masih menunggu kepastian dari Pedro mengenai kehamilan istrinya. Ia terlihat tak sabar, ingin sekali ia menendang Pedro karena lambat dalam bekerja.


"Hey! Kenapa lama sekali? Apa kau dokter hewan?" ejek Arsen karena tak sabar.


"Sebentar Tuan," tutur Pedro.


Setelah beberapa saat memeriksa keadaan Amey. Ia segera memasukan beberapa alatnya di dalam koper kecil yang ia bawa. Amey dan Arsen memperhatikan segala gerak-gerik Pedro, berharap mereka mendengar kabar baik darinya.


Ehh, ada apa dengan tatapan mereka? batin Pedro.


"Dokter, apa aku hamil?" tanya Amey berterus terang.


"Benar, Nyonya. Usia kandunganmu memasuki dua minggu. Selamat ya!" ucap Pedro.


"Suamiku ..." tersenyum lebar sembari melebarkan tangannya untuk memeluk Arsen.


"Memey, kau sedang mengandung anakku. Selamat ya Sayang. Aku sangat bahagia mendengarnya." Arsen pun membalas pelukan Amey dengan hangat.


"Pedro, katakan apa-apa yang harus aku lakukan untuk menjaga Memeyku di masa kehamilannya."


"Gampang saja, Tuan. Anda hanya perlu menuruti segala keinginan Nyonya Amey, dan jangan lupa juga untuk selalu memberikan kasih sayang Tuan pada Nyonya. Biasanya wanita hamil butuh perhatian lebih dari suaminya."


Brakkkk!


Arsen menendang kaki Pedro. "Kau pikir aku tidak perhatian sama Istriku, hah?!" celutuk Arsen, lagi-lagi emosi.


"Sayang, sudah tenang. Aku tau kok, kalau kamu sangat perhatian padaku," mencium pipi Arsen agar amarahnya kembali meredah.


Ohh goshhh! Kenapa aku yang mewek melihat keromantisan Tuan dan Nyonya ini. Batin Pedro.


Pedro memanglah satu server dengan Mark. Kutukan yang mereka alami pun sama persis, yaitu jomblo abadi. Hanya saja umur Pedro dua tahun lebih tua dari Mark. Kehidupan mereka jauh dari kata pacaran. Bagaimana bisa berpacaran, kalau dekat sama wanita pun tidak pernah.


"Pedro, tugasmu sudah selesai. Kembalilah ke rumah sakit. Ohya panggilkan Mark untuk kemari sekarang juga."


"Siap Tuan." Pedro menunduk dan meninggalkan kamar.


Sesaat kemudian muncullah Mark dari balik pintu. Ia memandangi Arsen dan Amey yang sedang berpelukan. Dari wajah mereka terlihat, jika kedua orang itu sedang bahagia. Mark menebak dalam hatinya mengenai hal apa yang membuat majikannya itu bisa sesenang itu.


"Ada apa Tuan?" tanya Mark.


"Mark, buat pengumuman resmi!"


"Dalam hal apa Tuan?"


"Memeyku hamil. Katakan pada semua pelayan untuk memasak makanan yang banyak. Karena aku akan mengadakan pesta keluarga pukul tujuh nanti malam."


"Wahhhh, Nyonya Muda hamil? Selamat Nyonya, semoga Nyonya dan calon bayi selalu sehat."


"Amin. Trima kasih Mark." Amey tersenyum.


"Mark, katakan juga pada Kaisar dan Jayden untuk hadir."


"Baik Tuan."


Mark pergi meninggalkan pasutri itu dan segera memberi tahu kepala pelayan agar menyiapkan makanan yang banyak dan lezat untuk pesta keluarga sebentar malam.


Kabar kehamilan Amey pun tersebar pada semua penghuni rumah besar itu. Tak terkecuali Zoey dan Soffy. Kedua orang yang sementara berjemur dibawah terik mentari pagi sembari menikmati jus buah ikut melonjak kegirangan setelah Elis memberitahu kabar baik itu.


"Huhhh akhirnya menantu gila itu berguna juga. Haha! Semoga cetakannya mantul. Supaya aku bisa mendapat cicit bule, hihihi!" gumam Soffy cengengesan.


"Kakak ipar hamil, yeayyy!" teriak Zoey tak kalah senang dengan Soffy.


"Bocil, ini sudah jam berapa. Kau 'kan harus bersiap-siap ke kampus?" tukas Soffy menghentikan kegirangan Zoey.


"Astaga dragon! Aku hampir lupa," menepuk jidatnya.


"Ey, itu milikku." Soffy memanyunkan bibir karena mendengar Zoey menyebutkan dua kata sakralnya.


"Ya aurel Nek! Gegara Nenek, aku jadi ikutan tuh."


"Ya sudah jangan lamban. Kau harus cepat nanti terlambat. Aku tidak akan mengantarmu lagi jika kau terlambat masuk kelas."


"Nenek juga siap-siap sana. Nenek 'kan yang paling lama berdandan. Kayak anak zaman now saja!"


"Dapalia kurang power so kwa ini diri?!" (Memangnya diri ini terlihat kurang power?!)


Zoey berlari menuju kamarnya dan segera bersiap menuju ke kampus. Jadwal kuliah Zoey hari ini sedikit pagi dibandingkan hari yang lain. Dan Nensilah yang selalu mengantarkan Zoey ke kampus.


***


(Satu jam kemudian)


"Gimana Bocil, penampilan Nenek? Keren 'kan?"


"Astaga! Ada apa dengan riasanmu Nek?"


"Rock n Roll !" Soffy melepas kacamata hitamnya.


Zoey memutar bola mata dengan malas. Tentu saja karena melihat dandanan Soffy yang layaknya personil kuburan band. Baju yang serba hitam, sepatu bot hitam, ditambah lagi dengan lipstik hitam membaluti bibirnya.


"Nek, kau membuatku malu saja," gumam Zoey memelas.


"Bocil, ayo berangkat!"


To be continued ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘


Follow ig : @stivaniquinzel